
Sebenar nya Ranum pun tadi nya hendak menelepon keluarga nya dengan ponsel milik nya sendiri. Sayang nya ponsel Ranum ternyata low baterai. Ponsel itu langsung mati di detik pertama ia melakukan panggilan telepon ke nomor Bunda nya.
Akhirnya diputuskan kalau Ranum akan pulang bersama Kak Titan.
Setelah menunggu hampir sekitar satu jam lama nya, sebuah mobil berhenti di dekat ketiga nya di jalan raya depan pelabuhan. Dari dalam mobil itu keluarlah Rahayu dan juga Aditya.
Rahayu yang melihat Ranum dan juga Adnan, langsung saja berteriak dan berlari menghampiri kedua anak nya itu.
"Syukurlah, Tuhan! Kalian selamat! Kalian selamat!" Puji syukur Rahayu berulang kali.
Saat menerima pelukan dan ciuman dari Rahayu, Ranum sebenarnya merasa canggung. Karena ia belum mengetahui pasti apakah benar Rahayu adalah ibu kandung nya atau bukan?
Namun, pernyataan Rahayu kemudian membuat Ranum dan juga Adnan tersadar. Bahwa apa yang dikatakan Jeff kepada Ranum siang tadi, memang benar ada nya.
"Maafkan Mama, Sayang. Karena Mama baru bisa menemukan kalian sekarang. Maafkan Mama, Sayang. Karena kita harus terpisah bertahun-tahun lama nya.. maafkan Mama juga karena telah melewatkan banyak hal dalam kehidupan kalian.. tapi tolong ingat satu hal saja, Nak.. Mama sangat mencintai kalian.. Kalian adalah anak Mama. Cinta nya Mama di dunia ini.. Mulai saat ini, akan Mama pastikan kalau kita akan selalu bersama-sama ya, Nak.." ucap Rahayu panjang lebar.
Titan terlihat bingung saat menyaksikan reuni ibu dan anak di depan nya itu. Ia heran karena mendengar Rahayu menyebut Ranum sebagai anak nya. Padahal yang ia tahu, Ranum adalah putri dari tetangga nya dulu, Pak Nanda dan Bu Nida.
Meski bingung, Titan memutuskan untuk tetap diam saja. Yang utama bagi nya adalah wanita di depan nya itu tak punya maksud buruk kepada Ranum.
"Bagaimana kalian bisa selamat? Apa.. maaf. Saya baru menyadari Anda. Apa Anda yang sudah menolong kedua anak saya?" Tanya Rahayu, mengalihkan mata nya ke arah Titan.
Ditatap langsung oleh wanita cantik di depan nya itu, Titan sempat tertegun. Entah kenapa ia menemukan kemiripan di antara wajah wanita itu dan juga wajah Ranum.
Tapi Titan buru-buru memfokuskan perhatian nya kembali. Pertanyaan-pertanyaan terkait identitas wanita di depan nya itu bisa dipikirkan nya lain kali.
Dengan lugas, Titan menjawab pertanyaan dari Rahayu.
"Iya, Tante. Saya menemukan Ranum dan juga Adnan di rumah kosong di dekat pantai sana," ucap Titan sambil menunjuk ke satu arah.
"Bagaimana dengan penculik nya?! Apa mereka masih mengejar kalian?!" Tanya Rahayu dengan sisa cemas yang masih terlihat jelas.
"Hanya ada satu penculik saja yang saya temukan, Tante. Dan saya sudah mengikat nya aman di depan rumah itu. Seperti nya Ranum dan Adnan sengaja ditinggalkan di rumah tadi. Karena saat saya ke sana, tak ada penculik lain nya yang berjaga di sana," tutur Titan, kembali menjelaskan.
__ADS_1
"Oh! Syukurlah.. terima kasih kalau begitu, Nak.. maaf. Tante belum tahu nama kamu."
"Nama saya Titan, Tante. Saya tetangga nya Ranum dulu di kota X," jawab Titan memperkenalkan diri.
"Sebaik nya kita segera pergi dari tempat ini, Dek. Hari semakin malam," ucap Aditya tiba-tiba.
Tersadar dengan keberadaan Aditya, Ranum kembali teringat dengan cerita Jeff. Bahwasanya lelaki itu lah yang menjadi bos Jeff selama ini.
Tanpa sadar, Ranum berusaha menyembunyikan diri nya dari pandangan Aditya. Sayang nya ia terlambat. Netra Ranum tertangkap basah sedang melihat tepat ke mata milik lelaki itu.
Hati Ranum berdesir oleh rasa takut. Tubuh nya sedikit tersentak. Dan itu disadari oleh Rahayu yang masih setengah memeluk nya.
"Kamu kenapa, Num? Kamu kedinginan ya?" Kalau begitu, ayo Mas kita segera pulang. Anak-anak pasti sudah sangat kelaparan dan kedinginan saat ini!" Ujar Rahayu kemudian.
Ranum menahan bahu nya yang hendak dituntun oleh Rahayu menuju mobil mereka. Dengan terbata-bata, Ranum pun berkata.
"Anum.. Anum mau pulang ke rumah Ayah Bunda sama Kak Titan Tante.. tadi kita nungguin Tante untuk jemput Adnan aja di sini. Habis ini, Anum pulang sama Kak Titan," ucap Ranum dengan pandangan sedikit menunduk.
Mendengar Ranum memanggil nya Tante, Rahayu jadi merasa sedih. Ia tahu kalau Ranum mungkin belum mengetahui hasil tes DNA yang dilakukan oleh mereka kemarin. Tapi tetap saja.. rasa nya cukup menyakitkan juga mendengar panggilan "Tante" itu keluar dari mulut putri kandung nya sendiri.
Langsung saja, Rahayu mengoreksi ucapan Ranum saat itu juga.
"Akan panjang cerita nya buat Mama menceritakan kejadian yang sebenar nya, Nak.. tapi Mama akan mengatakan secara singkat kepada kalian. Bahwa karena satu dan lain hal yang sudah terjadi, Mama pernah terpisah dengan dua anak kembar Mama dulu sekali. Bertahun-tahun yang lalu,"
"Tapi lalu Mama sangat beruntung karena takdir mempertemukan Mama dengan kedua anak Mama lagi. Dan anak kembar itu adalah kalian, Sayang.. Ranum.. dan juga Adnan. Sekarang, kita pulang dulu ya ke rumah. Mama akan menjelaskan nya nanti kepada kalian," ucap Rahayu kembali.
"Tapi.. ayah dan Bunda pasti khawatir sama Anum.." ucap Ranum kemudian.
"Mama akan memberi kabar kepada Ayah dan Bunda kamu, Nak. Kalau malam ini kamu akan menginap di rumah Mama. Bagaimana, Sayang?" Tanya Rahayu penuh harap.
"Tapi kak Titan.." ucap Ranum lagi.
Titan langsung cepat tanggap bicara.
__ADS_1
"Kakak sih terserah Anum aja. Kalau Anum mau ikut sama Tante ini juga gak apa-apa. Kalau Anum mau Kakak anterin pulang ke rumah Om Nanda juga gak apa-apa," ucap Titan berdiplomasi.
"Nak Titan rumah nya di mana?" Tanya Rahayu kemudian.
"Di Cirayut, Tante.." jawab Titan.
"Berarti itu lumayan nyebrang jauh ya dari rumah nya Ayah Bunda. Kasihan Nak Titan kan Num kalau dia harus antar kamu pulang dulu ke rumah.." ujar Rahayu membujuk Ranum.
"Gak apa-apa, Tante. Saya udah biasa bawa motor kok," sahut Titan lagi.
Mendengar alamat Titan yang ternyata bersebrangan dari rumah Ayah Bunda nya, pada akhirnya Ranum memutuskan untuk menerima usulan Mutia.
"Kalau begitu, Anum ikut Tante deh.." ucap Ranum pada akhir nya.
Rahayu yang kembali mendengar panggilan Tante dari mulut Ranum, sempat kembali dibuat bersedih. Meski begitu ia mencoba menabahkan diri.
Pikir nya, Ranum tentu membutuhkan waktu untuk membiasakan diri memanggil nya Mama. Jadi tak apa-apa. Ia harus bersabar untuk sementara waktu.
"Kalau begitu, kita berpisah sampai di sini dulu ya, Nak Titan. Terima kasih sudah menolong Ranum dan juga Adnan. Jasa Nak Titan akan selalu Tante ingat. Tolong hubungi nomor Tante atau Om Adit kalau kamu perlu bantuan apa pun. Kapan-kapan kita bertemu lagi ya!" Pamit Rahayu pada pemuda berwajah sederhana itu.
Aditya lalu mengulurkan kartu nama milik nya. Di mana pada kartu itu terdapat nomor telepon beserta alamat kantor nya. Ia sempat menjabat tangan Aditya sebelum pergi meninggalkan pemuda itu.
"Datang lah ke alamat ini, besok. Saya tunggu Anda!" Ucap Aditya cukup singkat.
Titan melepas kepergian Ranum dan yang lain nya dengan perasaan lapang. Se-iya nya, dia kini sudah bisa memastikan kalau Ranum berada bersama orang-orang yang dikenal oleh gadis itu.
Belum lama berpisah dari Ranum, tahu-tahu Titan kembali merasakan rindu yang ditujukan nya pada gadis itu.
Titan menatap mobil yang membawa Ranum pergi. Hingga wujud mobil itu tak lagi dapat dilihat oleh nya.
"Hhh.. aku harus bersabar dua tahun lagi. Baru aku bisa siap meminang Ranum nanti nya," bisik Titan kepada sayup angin malam yang terasa begitu dingin.
***
__ADS_1