Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Meneliti Rasa


__ADS_3

"Sekolah di mana sekarang, Hafsah?" Tanya Kania pada adik perempuan nya Titan itu.


"MTs al Hidayah, Kak," sahut Hafsah malu-malu.


"Wahh.. keren. Dengar-dengar untuk masuk ke situ kan harus punya hafalan juz 30 kan ya?" Seru Kania dengan ekspresi takjub.


Hafsah hanya menganggukkan kepala nya pelan sekali. Sementara ia menghabiskan bubur di mangkok nya.


"Berarti kamu udah hafal tuh semua surat di juz 30, Haf?"


"Dek.. biarin Hafsah nya makan dulu dong. Kasihan kan kalau dia terus jawab pertanyaan kamu. Nanti bubur nya keburu dingin lagi," tegur Ranum pada adik nya.


"Eh! Iya ya. Maaf ya Hafsah," ucap Kania dengan wajah menyesal.


"Gak apa-apa, Kak," sahut Hafsah dengan suara teramat lembut.


Tari sedari tadi sibuk menghabiskan isi bubur di mangkok nya. Ia memang yang paling lelet jika soal makan. Karena Tari selalu mengunyah makanan nya di mulut dalam waktu yang lebih lama dibandingkan orang lain nya.


Sementara bubur milik Kania sudah sedari tadi habis dilahap nya sendiri.


Ranum memperhatikan orang-orang yang berjalan di depan warung. Hanya mata nya saja yang terlihat sibuk melihat. Padahal benak nya sudah mengabur entah ke mana.


Karena nya, saat ia mendengar namanya dipanggil cukup kencang oleh Kania, Ranum pun cukup terkejut.


"Kak Ranum!" Panggil Kania.


"Apa, Ya?" Tanya Ranum begitu tersadar dari lamunan singkat nya.


"Kebiasaan deh suka melamun. Itu Kak Titan dari tadi nanya malah Kakak kacangin," papar Kania menjelaskan.


Dan pandangan Ranum langsung saja beralih ke arah Titan.


"Maaf, Kak. Kakak bilang apa ya tadi?" Tanya Ranum dengan ekspresi bersalah yang bercampur pula dengan rasa malu.


"Kakak tadi nanya. Gimana kehidupan SMA nya? Seru?" Tanya Titan dengan wajah berhias senyuman.


"Oh.. Alhamdulillah lah ya, Kak. Seru. Teman-teman Anum juga baik-baik," sahut Ranum.


"Kak Titan juga gimana kuliah nya? Dengar dari Nia, katanya Kakak lagi nyusun skripsi ya?" Tanya balik Ranum.


"Hmm.. ya. Memang udah semester terakhir ya. Jadi fokus nyusun skripsi deh sekarang."


"Nyusun skripsi tuh susah atau gampang sih, Kak?" Tanya Kania ikutan nimbrung dalam obrolan.


"Lumayan gamsus, lah. Gampang-gampang susah."


"Gampang nya di mana, susah nya di mana, Kak?" Kejar Kania.

__ADS_1


"Gampang nya itu ya karena ada banyak buku dan bahan buat dijadiin referensi ya. Jadi ide sih ada aja untuk diketik."


"Wahh.. keren.. terus, susah nya dimana kak?" Kembali Kania bertanya kepada Titan.


"Susah nya itu menghadapi rasa malas pada diri sendiri. Juga menghadapi dosen pembimbing yang berkepribadian sulit."


"Maksudnya, berkepribadian ganda gitu, Kak?" Terka Kania dengan asal.


"Hahaha. Bukan, Kania. Maksudnya kepribadian sulit itu, ada kalanya dosen pembimbing susah banget dihubungi atau ditemui di kampus. Jadi kita harus bela-belain nemuin beliau ke rumah nya," ujar Titan menerangkan.


"Sampai sebegitu nya, Kak?" Kania terlihat tak percaya.


"Iya, Kania. Ada juga dosen yang susah banget ngasih approved untuk bab yang sudah ditulis. Bahkan terkadang ada kejadian satu bab aja harus direvisi sampai lebih dari lima kali," imbuh Titan lagi.


"Revisi itu apa sih, Kak?" Tanya Kania dengan pandangan tak mengerti.


"Revisi itu makaudnya diperbaiki. Jadi dalam setiap skripsi itu kan terdiri dari lima bab ya. Nah, biasanya kalau nyusun skripsi itu nulis dulu satu bab, terus minta tanda tangan persetujuan dari dosen pembimbing, bahwasanya bab itu udah lulus penilaian awal. Baru deh bisa lanjut menulis bab dua dan seterus nya. Begitu Kania.."


"Ooh.. hahh.. pusing juga ya berarti."


"Ya dinikmati saja ya, Nia. Ngomong-ngomong, kalian biasa joging setiap hari Minggu ke tempat ini?" Tanya Titan berganti topik.


Kembali, Kania lah yang menjawab pertanyaan dari Titan tersebut.


"Enggak Kak. Baru kali ini aja nih kita joging bertiga. Kak Anum nya kan agak mager ya orang nya. Jadi ya susah deh kalau diajak keluar.." ucap Kania mengkambing hitamkan Ranum, tanpa merasa bersalah.


"Ihihi.. bercanda aja, Kakak ku yang cantik.. tapi omongan Nia ada benar nya juga kan, Kak?" Tanya Kania lagi sambil memberikan Ranum pandangan jenaka.


Dan Ranum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya saja kala menghadapi sikap adik nya itu.


"Kalian masih sama aja ya. Gak dulu, gak sekarang," tutur Titan dengan tiba-tiba.


"Maksudnya, Kak?" Tanya Ranum dan Kania berbarengan.


"Ya kompak. Ya Kania yang agak jahil. Juga Ranum yang penyabar," ujar Titan menerangkan.


"Lho, kok Kak penilaian Kak Titan kayak nya lebih pro ke Kak Ranum sih? Gak adil itu! Lagian kan Kania tuh gak jahil, Kak. Cuma suka bercanda aja. Ya kak, Ya?" Kania meminta pertolongan Ranum.


Ranum tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar saat melihat sikap sang adik satu-satu nya itu. Ia pun akhirnya meng iya kan saja ucapan Kania.


"Iya.. iya.."


Ranum lalu merasakan lengan baju nya ditarik seseorang. Ternyata Tari lah yang menarik nya.


Ia lalu mendekatkan kepalanya ke arah Tari. Sehingga ia bisa mendengar jelas ucapan Tari yang mengajak mereka untuk pulang.


"Pulang sekarang yuk, Num?" Ajak Tari.

__ADS_1


"Oke. Sebentar!" Ranum lalu beralih ke Kania.


"Dek, kita pulang sekarnag yuk. Kak Titan, kita duluan pulang ya!" Pamit Ranum seraya beranjak berdiri.


"Lho, kok udah mau pulang? Enggak lanjut olah raga?" Tanya Titan dengan senyuman ramah.


"Wahh.. kita sih udah olahraga macam-macam dari tadi pagi tuh Kak!" Imbuh Kania dengan tiba-tiba.


Saat Ranum dan Kania sudah beranjak bangun, Titan tiba-tiba saja menahan langkah mereka.


"Oya, Num. Bisa minta nomor telepon nya? Takut kapan-kapan ibu mau main dan ketemu Mama kamu. Mereka kan dulu lumayan akrab.." Titan beralasan.


"Oh? Iya kak. Ini nomor Ranum. 081234567890.."


"081234567890?"


"Iya. Kalau gitu, kita duluan pulang ya, Kak Titan, Hafsah. Assalamu'alaikum!" Sapa Ranum, Tari dan Kania berbarengan.


"Wa'alaikum salam..warohmatullah.."


Titan terlihat memandangi kepergian Ranum cs cukup lama. Hingga sosok ketiga gadis itu menghilang di tikungan jalan, baru lah Titan kembali duduk di samping adiknya, Hafsah.


Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara lembut Hafsah yang membuka percakapan.


"Kakak sepertinya suka sama Kak Ranum ya?" Tanya Hafsah dengan pandangan serius.


Titan tersentak kaget. Ia tak menyangka kalau Hafsah akan bisa memberikan penilaian setepat itu. Sejak meninggalnya Bapak, Hafsah memang perlahan berubah jadi lebih pendiam. Sikap nya pun dinilainya lebih dewasa dibandingkan anak-anak seumur nya.


Hafsah lebih senang menyendiri di kamar untuk menghafal al quran. Sebuah impian lama almarhum bapak yang begitu ingin diwujudkan oleh adik nya itu. Agar kelak bapak bisa memiliki seorang anak penghapal al quran.


Jadi sejak meninggal nya Bapak, Hafsah pun mulai berubah dari ceria, jadi pendiam.


Tapi diam nya Hafsah menurut Titan bukan lah diam nya orang yang kosong. Karena diam nya Hafsah dinilai Titan sebagai bentuk usaha Adik nya itu dalam menempa diri jadi pribadi yang lebih baik lagi.


'Ucapkan lah hal yang baik. Jika tak bisa, maka diam lah,' begitu kiranya slogan hidup Hafsah kini.


Saat ini, Titan memandang Hafsah dengan pandangan yang tak kalah serius. Perlahan, ia lalu mengusap lembut kepala Hafsah yang tertutupi jilbab instan berwarna pink. Paras ayu sang adik sungguh mengingatkannya pada keteduhan yang selalu dilihatnya pada wajah almarhum bapak, dulu.


"Jangan berprasangka yang tidak-tidak, Sah. Kamu cukup fokus dengan hafalan mu saja ya. Urusan pacar dan suka-suka an itu jangan lah kamu pikirkan dulu," tegur Titan pada sang adik.


Hafsah mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Sebelum akhirnya mengangguk, dan mengiyakan ucapan Kakak nya tadi.


"Baik, Kak."


Sementara dalam benak nya, Titan kembali sibuk mempelajari rupa rasa yang dimilikinya terhadap gadis yang baru saja ditemuinya tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2