
"Jadi gini, Nak. Akhir-akhir ini Bunda perhatikan penampilan Kania agak lebih mengkhawatirkan. Maksud Bunda, dari segi baju nya itu, lho, Num. Kamu paham kan maksud Bunda?" Ucap Bunda tiba-tiba.
Ranum langsung mengerti apa maksud sang Bunda. Karena ia pun menilai, akhir-akhir ini kania mulai senang ber-make up dan juga baju nya pun dibuat agak lebih ketat.
Sepertinya Kania telah mengecilkan ukuran baju nya itu di tempat jahitan yang lain. Yang jelas, ia mengecilkan nya bukan di Bunda atau Ayah. Karena Ayah dan Bunda selalu mengajarkan kami berdua untuk berpakaian sopan setiap berada di luar rumah.
"Iya, Bunda. Ranum paham maksud Bunda," sahut Ranum dengan wajah menyesal.
"Nah, Bunda minta tolong, Ranum tolong bantu mengingatkan Kania juga ya, Nak? Soalnya Bunda sudah beberapa kali menegur adik mu itu. Tapi seperti nya ucapan Bunda tak masuk ke hati nya," ucap Bunda dengan nada sedih.
Ranum meraih tangan Bunda nya.
"Iya, Bunda. Nanti Ranum akan bantu mengingatkan Kania," janji Ranum pada Bunda nya.
Nida tersenyum lembut ke arah Ranum.
"Makasih ya, Sayang. Maaf sudah buat Kakak jadi ikut repot."
"Gak apa-apa, Bunda. Ranum juga kan punya kewajiban untuk mengingatkan Kania. Seperti kata Ayah waktu itu. 'jagalah diri mu dan keluarga mu dari api neraka'."
"Itu adalah ayat al quran, Sayang.."
"Oh? Iya ya, Bund."
"Iya. Maksudnya tapi ya sama ya, Nak. Tentang kewajiban setiap orang untuk saling mengingatkan keluarga nya agar terhindar dari berbuat salah yang akan mengundang nya kelak masuk ke dalam api neraka. Naudzubillahi min dzaalik."
"Na'udzubillaahi min dzaalik, Bunda.."
Nida mengangguk pelan.
"Apa adik mu itu punya pacar baru ya, Num? Seperti dulu waktu dia dekat sama teman sekelasnya yang namanya siapa itu ya, Tegar?" Tanya Nida memastikan.
"Iya, Bunda. Pacar Kania yang dulu memang namanya Tegar. Tapi Ranum gak tahu juga sih, Bund. Kalau sekarang Nia punya pacar lagi atau enggak. Soalnya Kania juga gak cerita apa-apa sih ke Anum."
"Hh.. begitu ya?"
"Iya, Bunda. Tapi nanti Ranum akan coba cari tahu ya, Bund," janji Ranum yang kedua.
"Baiklah. Terima kasih ya, Nak." Ucap Bunda dengan pandangan berterima kasih.
"Sama-sama, Bunda.."
Setelah hening sejenak, percakapan pun kembali berlanjut.
"Kalau kamu sendiri, gimana, Nak? Apa anak lelaki gang tadi itu pacar Ranum?" Tanya Bunda menyelidik. Meski sebuah senyuman hangat masih terpatri di wajah nya.
"Bukan, Bunda! Ranum sih gak mau pacar-pacaran dulu. Ranum mau fokus belajar dulu, Bund," elak Ranum dengan segera.
Nida lalu menghela napas lega.
"Syukurlah.. semoga usaha Ranum dipermudah oleh Allah ya, Nak, dalam menggapai semua cita-cita Ranum. Bunda hanya bisa bantu mendoakan mu saja," tutur Bunda sambil mengelus kepala Ranum berkali-kali.
__ADS_1
"Aamiin.. makasih, Bunda.." sahut Ranum seraya tersenyum cerah pada Bunda nya.
Nids menatap lekat wajah putri sulung nya itu. Dan sebentuk wajah lain pun tiba-tiba saja muncul di benak nya. 'Rahayu..' gumam batin nya Nida, membaitkan satu nama.
"Oya, Bund. Tadi itu kan anum latihan di rumah Adnan ya. Terus pas mau pulang, Anum ketemu mama nya Adnan. Orang nya cantiikk banget. Rasa-rasa nya Anum pernah ngelihat Mama nya Sdnan. Tapi Anum lupa."
"Oh ya? Mungkin tetangga lama kita, Num?" Terka Nida.
"Iya mungkin ya, Bund. Tapi tadi kayak nya Mama dan Papa nya Adnan juga ngelihatin Ranum kayak gimanaa gitu. Mungkin tebakan Bunda benar kali ya. Bisa jadi dulu kita pernah tetanggaan sama mereka?" Gumam Ranum dengan suara pelan.
"Iya. Tapi mereka bersikap baik ke Ranum?" Tanya Nida.
"Iya. Baik sih. Tapi Anum agak-agak takut juga sih ke Papa nya Adnan. Soal nya dia ngelihatin Anum kayak gimanaa gitu, Bund," ungkap Ranum jujur.
"Hush! Jangan su'udzon, Nak. Senantiasa lah berprasangka baik. Sesuai dengan perintah Allah swt dalam surat Al Hujurat ayat 12. Di mana kita diminta untuk menghindari prasangka buruk. Karena sebagian dari prpasangka buruk itu adalah dosa," papar Nida mengingatkan.
"Astaghfirullah.." Ranum spontan beristighfar.
"Jadi kita harus selalu berpikiran positif ya, Nak. Karena dengan pikiran yang positif itu lah, insya Allah kebaikan pula yang akan kembali kepada kita," imbuh Nida menambahkan.
Dan Ranum menatap Bunda nya dengan pandangan hikmat.
"Ya sudah. Bunda mau mandi dulu ya. Sudah waktu ashar."
"Iya, Bund. Kalau gitu Anum mau nyapu rumah dulu ya."
"Ya. Kania belum pulang ya?" Tanya Nida sambil beranjak berdiri.
"Ooh.. nanti kalau Nia sudah pulang, ajak makan ya, Num. Bunda sudah menghangatkan lauk nya tadi."
"Iya, Bund.."
Dan keduanya pun menyibukkan diri dalam kegiatan nya masing-masing.
***
Sementara itu di rumah Adnan..
Rahayu atau yang juga biasa dipanggil dengan nama Mama Ayu, kini sedang membersihkan sisa make up nya di depan meja rias.
Sementara suami nya, Papa Adit sedang duduk berselonjor kaki di atas kasur. Sebuah laptop berada di pangkuan lelaki itu.
Setelah beberapa lama, Adit merasa ada yang tak biasa dengan istrinya saat ini. Karena biasanya Ayu selalu bersenandung pelan setiap kali ia duduk di meja rias nya. Namun saat ini ia bekum mendnegar istri nya itu bersenandung.
Adit lalu menghentikan kegiatan nga mengecek laporan di layar lap top. Kemudian melihat pada istri nya.
Dilihat nya pandangan Ayu yang nampak seprtti sedang melamun. Meski tangan nya masih bergerak mengusapkan kapas yang telah dibasahi dengan krim pembersih ke kukit wajah nya.
"Kenapa, Ma?" Tanya Adit perhatian.
kepada Rahayu, Adit selalu menggunakan nada suada yang lemah kembut. Dan memang hanya pada istri nya saja Adit menunjukkan sisi lembut dalam diri nya. Sementara kepada yang lain, Adit telah dikenak sebagai sosok yang pendiam, strict, ambisius, dan angkuh.
__ADS_1
Bahkan kepada Adnan, putra angkat nya pun Adit bersikap dingin.
"Ma?" Adit mengulang panggilan nya pada sang istri. Kali ini dengan volume yang kebih tinggi. Sehingga tak lama kemudian Ayu pun tersentak dari lamunan nya.
Selama beberapa detik, Ayu memandang takut pada Aditya. Tapi kemudian ia tersadar dan pandsngan nya mulai fokus dan memandang Adit dengan tatapan bingung.
Untuk sesaat, kilau mata Aditya sempat mengeras saat melihat binar takut di mata sang istri.
Binar ketakutan yang dulu seringkali diterima nya dari Ayu, sebelum kejadian kecelakaan beberapa tahun silam. Karena semenjak kecelakaan itu, Ayu kehilangan ingatan nya. Sehingga Aditya pun berusaha mengisi memori sang istri dengan kenangan palsu.
Tentang betapa mereka saling mencintai. Dan betapa mereka selalu hidup dalam nuansa damai dan penuh cinta. Meski pada kenyataannya, adalah hal sebaliknya yang terjadi.
"Ya? Pa?" Tanya Rahayu bingung.
"Mama kenapa? Apa ada yang mengganggu Mama?" Tanya Aditya kembali dengan lemah lembut.
"Mm.. itu. Remaja putri yang tadi.. temannya Adnan itu loh, Pa.." tutur Rahayu mengawali.
Seketika itu pula, sebuah alarm bahaya berdengung di kepala Aditya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Aditya pura-pura tak tahu.
"Rasanya Mama mengenal remaja putri tadi. Apa Papa juga mengenal nya, Pa?" Tanya Rahayu dengan pandangan serius.
"Ah. Papa baru tadi bertemu dengan nya, Ma. Mungkin itu hanya perasaan Mama saja. Mungkin karena Mama terlalu letih setelah acara berbagi di yayasan tadi pagi. Jadi pikiran Mama langsung menyambung-nyambungkan wajah anak tadi dengan salah satu anak-anak di yayasan?" Aditya mencoba mengarang alasan.
"Hmm.. mungkin begitu ya, Pa. Tapi.. gak tahu kenapa. Mama ngerasa pingin ngenal anak yang tadi deh."
"Karena dia yang paking cantik di antara yang lain mungkin, jadi dia terlihat paling menarik," tukas Aditya kembali.
"Ah. Enggak juga, Pa. Anak tadi penampilan nya biasa aja deh kayak nya. Rambut nya dikuncir belakang dan baju nya juga agak longgar. Gak kayak anak cantik yang satu nya. Rambut nya kelihatan banget di curly, terus pakai lip balm juga," tutur Rahayu menyanggah pendapat Aditya.
Aditya mulai merasa cemas. Sebenarnya, saat tadi melihat wajah remaja putri yang bernama Ranum itu, sebuah dugaan muncul di benak nya.
Wajah gadis bernama Ranum itu memiliki banyak kemiripan dengan wajah Rahayu saat istri nya masih muda dulu.
Dulu, saat ia bertemu Rahayu untuk pertama kali nya, wajah istri nya itu pun terlihat mungil dan segar. Terutama segaris senyuman tipis milik Rahayu, pun jua ia temukan di wajah remaja putri tadi.
Terlebih saat Aditya mendengar nama orangtua Ranum. Nanda dan Nida. Itu adalah dua nama sahabat di masa kecip nya sang istri dulu.
'Apa jangan-jangan Ranum itu..' Aditya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehingga ia tak menyadari ketika Rahayu sudah duduk di samping nya, di atas kasur.
"Pa? Papa?" Rahayu menggoyangkan lengan Aditya dengan pelan.
"Ya? Ya Ma?"
Aditya mengerjapkan kedua mata nya berkali-kali. Ia lalu mendapati sang istri tengah tersenyum sangat manis kepada nya. Sebuah senyuman yang mampu mencairkan dinding es di dalam hati nya. Seketika itu pula, hati Aditya serasa menghangat.
"Papa kok malah bengong? Minum obat sekarang ya?" Tanya Rahayu menawarkan obat rutin milik sang suami.
"Ya.. boleh, Ma.."
__ADS_1
***