Rasa Yang Asing

Rasa Yang Asing
Canda Adik dan Kakak


__ADS_3

"Lho? Kok mata kakak merah? Kakak habis nangis?" Tanya Kania yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Ranum terburu-buru langsung mengusap bekas tangis di wajah nya.


"Mm.. iya," gumam Ranum tak jelas.


"Memangnya Bunda ngomelin Kakak?" tanya Kania tiba-tiba.


"Tapi dulu Kania gak diomelin sih waktu haid pertama kali. Cuma dikasih nasihat aja. Sama ceramah juga sih.." lanjut Kania.


"Atau.. Apa Kakak dipaksa Bunda untuk pakai kerudung? Apa itu yang bikin Kakak jadi nangis??!" Tanya Kania dengan beruntun.


"Bukan, Dek..jangan su'udzon ah, sama Bunda! Mana ada Bunda maksa-maksa? Memang nya dulu kamu dipaksa Bunda apa?" Tegur balik Ranum pada adik nya itu.


Kania lalu duduk di dekat sang kakak. Ia mengangkat kedua kaki nya hingga tertekuk, lalu menyandarkan kepalanya di atas kedua lutut nya sendiri.


"Ya enggak sih. Tapi takutnya Bunda mungkin kesal karena gak berhasil nyuruh Nia pakai kerudung. Terus sekarang maksa Kakak gitu. Bisa aja kan?" Kania mengucapkan dugaan nya.


"Tuh! Masih juga su'udzon sama Bunda! Istighfar, Dek.. istighfar..!" tegur Ranum kembali pada sang adik.


"Eh.. iya. Iya. Astaghfirullah al 'azhiim.. jadi, Bunda gak maksa Kakak nih, beneran?" Tanya Kania minta diyakinkan.


Ranum lalu terlihat gusar saat mendengar ucapan adik nya itu. Sehingga detik berikutnya, ia tak segan-segan untuk mengancam sang adik.


"Sekali lagi kamu bilang soal maksa, Kakak kasih tahu lho nanti ke Bunda ya!" Ancam Ranum pada Kania.


"Iihh! Jangan lah Kak! Masa iya Kakak tega Nia diomelin sama Bunda sih?!" Kania terlihat panik dan memohon-mohon kepada Ranum.


"Yaudah. Kalau gitu jangan ngomong maksa lagi dong!" titah Ranum kemudian.


"Iya. iya. sensi banget sih, Kakak ini!" dumel Kania dengan suara pelan.


"Kamu bilang apa barusan, Dek?" tanya Ranum yang mengandung ancaman.


Dan Kania oun terburu-buru menjawab, "Gak apa-apa, Kak! Gak apa-apa!"


Setelah jeda beberapa waktu, Kania kembali bertanya kepada Ranum.


"Lha terus kenapa Kakak nangis coba?" Selidik Kania yang masih penasaran karena melihat mata kakak nya yang memerah.

__ADS_1


"Kakak itu cuma..eee... Terharu! Ya.. terharu," ucap Ranum sambil menundukkan mata nya.


"Idih.. masa iya bahas soal haid aja bisa bikin kakak jadi terharu, sih. Kakak lebay deh.." ledek Kania.


"Biarin ah! Oh ya, besok lusa kakak mau latihan SKJ lagi di rumah nya Adnan. Kamu mau ikut main?" Tanya Ranum mengalihkan perhatian.


"Wahh! Mau! Mau! Ehh,, yaahh.. tapi lusa nanti, Nia juga ada latihan SKJ bareng teman kelompok, Nia, Kak.." keluh Kania.


"Ohh.. hmm.. berarti kamu gak jadi bisa main ya."


Entah kenapa dalam hatinya Ranum merasa senang karena sang adik tak jadi main ke rumah Adnan.


"Bentar! Bentar! Atau gini aja deh. Rumah Adnan kan di Cicere ya, Kak?" Tanya Kania bersemangat.


"Iya..?" Sahut Ranum.


"Kalau gitu gini aja, Kak. Nia biar latihan SKJ dulu. Nanti baru jemput Kakak pulang. Gimana?"


"Memangnya kamu latihan SKJ nya di mana, Dek?" Kening Ranum terlihat berkerut.


"Lewat Cicere sedikit, Kak. Gak apa-apa nanti Nia jemput Kakak deh. Kakak biasanya pulang jam berapa?" Tanya Nia bersemangat.


"Ya pakai motor lah!" Ujar Kania dengan seringai lebar di wajahnya.


"Pakai motor? Memangnya kamu bisa naik motor? Terus pakai motor siapa?"Tanya Ranum kembali.


"Ya bisa lah! Kania gitu lho! Ihihi.. pakai motor nya Ayah lah, Kak! Masa iya motor Mang Uding, tetangga sebelah kita sih! Kakak suka lucu deh!" Seloroh Kania sambil terkekeh.


"Hah?! Sejak kapan kamu bisa naik motor, Dek? Kok kakak gak tahu sih?!" Ranum terkejut mendengar berita itu.


"Sejak minggu lalu! Kan Nia belajar dari teman Nia, Kak. Itu lho, yang suka anterin Nia pulang. Jadi Nia sekalian minta diajarin sama dia, Kak. Lumayan gampang lho ternyata naik motor itu!" Seru Kania bersemangat.


"Yang namanya naik motor itu ya memang gampang lah Dek. Yang susah itu tuh, mengendarainya!" Ujar Ranum berkelakar.


"Apaan sih, Kakak. Garing banget. Maksud Nia itu ya mengendarai motor lah Kak!" Gerutu Kania.


"Kamu beneran bisa bawa motor, Dek?" Tanya Ranum memastikan.


"Iya Kakak ku yang cantik.. Makanya nanti deh ya, Nia buktiin besok lusa!" Seru Kania.

__ADS_1


"Pakai motor Ayah?"


"Iya!"


"Memangnya Ayah udah tahu kamu bisa bawa motor? Kamu udah dikasih ijin sama Ayah, gitu?" Tanya Ranum kembali dengan beruntun.


"Soal itu.."


Kania terlihat menyengir malu. Dan tahulah Ranum bahwa adik nya itu belum memberi tahu pada Ayah mereka tentang kebisaannya menaiki motor.


"Kamu sendiri deh ya, Dek, yang bilang ke Ayah. Kakak gak mau ikut-ikutan," Ranum buru-buru berucap.


"Lho kok gitu sih Kak? Padahal kan tadinya Nia pingin Kakak bantuin Nia bilang ke Ayah dan Bunda soal pinjam motor nya.." keluh Kania.


"Enggak ah! Kamu aja yang bilang ya, Dek. Kan kamu yang bisa naik motor. Kamu juga yang mau pinjam motor. Jadi kenapa Kakak yang disuruh minta ijin untuk pinjam motor?" Elak Ranum.


"Iih.. Kakak suka gitu deh. Padahal kan Nia pinjam juga untuk jemput pulang Kakak nanti nya!" Keluh Kania lagi.


"Kamu tuh niatnya bukan jemput Kakak, Dek. Ngaku aja deh. Kamu kan memang modus mau ke rumah nya Adnan kan?" Tuding Ranum pada adik nya itu.


Yang dituding, malah menyengir kuda. Tahu, kalau ia tak bisa mengelak dari tudingan Ranum terhadap nya.


"Jadi, Kakak gak mau tolongin Nia nih?" Tanya Kania dengan wajah memelas.


"Enggak mau," jawab Ranum, singkat dan padat.


"Kok kakak gitu sih? Sekarang-sekarang ini, Kakak suka kejam gitu deh ke Nia.." ujar Kania dengan wajah yang semakin dibuat memelas.


Dan Ranum tahu, itu hanyalah trik adik nya itu agar ia kembali mengalah dan memenuhi keinginan Kania.


"Sekali enggak, ya tetap enggak, Dek. Maaf ya.. Kakak cuma mau ngajarin kamu, untuk berani bersikap dan bertanggung jawab atas apa yang mau kamu lakukan. Seperti kata Bunda. Belajar lah hidup mandiri. Iya kan?"


Ranum memberikan Kania senyuman termanis nya. Melihat itu, Kania jadi sebal. Ia pun melempar bantal guling nya ke arah sang Kakak. Yang kemudian langsung ditangkap oleh Ranum dengan begitu sigap.


"Eits! Makasih ya, Dek untuk bantal guling nya. Lumayan lah malam ini Kakak punya dua bantal guling untuk jadi ganjalan pan tat dan juga buat teman peluk.." ujar Ranum, mencandai sang adik.


"KAK ANUM JAHATT!!" Teriak Kania, yang diikuti oleh derai tawa Ranum pada nya.


***

__ADS_1


__ADS_2