Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Kebaikan Seorang Dokter Menyentuh Hati Seorang Abadi


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Tubuh Ars telah sepenuhnya pulih.


"Ini mungkin pengalaman terburuk sejauh ini."


Setelah 100 tahun pelatihan seperti siksaan neraka, ia mempunyai toleransi rasa sakit yang tinggi. Namun, memutilasi tubuhnya menjadi banyak bagian telah mengingatkannya rasa sakit yang telah dia lupakan.


"Rin, ada sesuatu yang perlu aku urus, untuk sementara latihan ku ditunda."


Sebelum pergi, Ars berteriak ke arah Rin, yang berdiri diam tanpa bergerak di atas bukit, dan tidak memberikan tanggapan.


"Kalau begitu aku pergi."


Sudah terbiasa dengan sikap cuek Rin, Ars meninggalkan pulau terpencil.


Di atas bukit, Rin melihat sosok Ars melintasi permukaan laut dan sosoknya tidak lagi terlihat.


"Ia sangat sering mengunjungi pemukiman manusia, aku tidak mengerti apa menariknya dari manusia."


...


Hanya dalam beberapa menit, Ars tiba di Kota Mathias.


Berjalan di jalan, ia tidak menemukan suasana semarak seperti sebelumnya.


Jalanan sangat sepi tanpa pejalan kaki, mobil uap yang biasa memenuhi jalan raya kini sudah tidak terlihat.


"Ini tidak ada bedanya dengan kota mati."


Ars bisa merasakan tatapan orang-orang yang mengintip dibalik jendela rumah.


Semenjak wabah Demam Malam melanda seluruh dunia, tiap orang asing yang mengunjungi tempat baru akan diwaspadai masyarakat, karena takut orang tersebut membawa virus.


Dan benar saja, tidak lama setelah Ars tiba, beberapa orang mengenakan baju tebal dan topeng berbentuk paruh burung datang menghampirinya.


"Tuan, kenapa kamu tidak memakai masker! Itu membahayakan mu dan orang-orang disekitar."


Salah satu orang di kelompok itu maju dan memperingatkan keras.


"Siapa kamu?"


Ars tidak marah karena pengingat pihak lain, meski ia bukan lagi manusia, itu bukan berarti ia memusuhi mereka. Selama manusia itu ramah dan baik kepadanya, ia juga akan memperlakukan mereka dengan sopan.


"Aku dokter Arnold, aku bertugas merawat orang-orang yang mengalami Demam Malam, tapi aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, aku gagal sebagai seorang dokter."


Richard menyesali ketidakberdayaannya dalam menghadapi wabah.


"Oh, kebetulan sekali aku sedang mencari dokter, tanpa di duga menemukan satu hanya beberapa menit berjalan. Keberuntungan tidak terlalu buruk."


"Apa anda mengalami Demam Malam?"


Mendengar pihak lain datang mencari dokter, Richard dan rombongannya mundur beberapa langkah, mereka khawatir akan terinfeksi.


"Tidak, aku mencari dokter karena ingin membeli timbangan."


"Hah?"


Richard berpikir ia berhalusinasi karena kelelahan.


Seorang pemuda berjalan-jalan tanpa mengenakan masker hanya untuk membeli timbangan dari dokter?


Apa-apaan itu!

__ADS_1


"Cepat pakai masker ini sebelum kamu terinfeksi Demam Malam."


Richard mengambil masker berbentuk paruh burung, yang dibawah salah satu perawat dan memberinya ke pemuda di depannya.


"Tidak, terima kasih. Itu tidak diperlukan, aku lebih memerlukan timbangan, apa kamu punya?"


Ars mendorong masker itu dan bertanya.


"Jangan bercanda dalam situasi genting seperti ini, cepat dan gunakan ini sebelum terlambat!"


Richard terus memaksanya agar memakai masker, ia tidak ingin pemuda sehat di depannya terinfeksi Malam Demam hanya karena alasan konyol.


"Kamu dokter yang baik, aku suka sikap mu. Sebagai balasan kebaikan mu, aku akan mengabulkan satu permintaan mu."


Ars tidak membenci sikap keras kepala Richard.


"Omong kosong! Kamu pikir kamu dewa!" Richard berkata marah.


"Hmmm... Kamu tidak sepenuhnya salah, manusia zaman dahulu menganggap Idaten sebagai dewa."


"Gila, pasti ada yang salah dengan kepala mu." Richard menganggap Ars gila, lalu berkata kesal: "Jika kamu benar-benar dewa, sembuhkan semua pasien Malam Demam Malam di kota ini, aku sudah tidak tahan melihat ekspresi menderita mereka mengetahui kematian akan pasti datang di malam hari."


"Dokter..."


Orang-orang dibelakangnya merasakan perasaan yang sama dengannya, banyak petugas kesehatan meninggal saat merawat pasien Demam Malam, dan entah kapan giliran mereka.


"Kamu yakin ingin menggunakan permintaan mu demi menyelamatkan orang lain?" Ars bertanya untuk mengkonfirmasi.


"Jika kamu bisa melakukannya, aku akan mempercayai kamu benar-benar dewa."


Entah mengapa Richard mengatakan ini ke pemuda yang bahkan namanya tidak diketahui, mungkin ia hanya melampiaskan rasa frustasinya karena gagal menyelamatkan pasien.


"Baiklah, untuk menghargai kepedulian terhadap orang lain tanpa pamrih, aku akan mengabulkan permintaan mu."


Tindakan dan perkataan Ars hanya meyakinkan Richard dan rombongannya bahwa dia adalah orang gila.


Ars tidak peduli tatapan keraguan, hinaan, sinis, cibiran, dan emosi negatif lainya dari orang disekitarnya.


Apakah manusia peduli ditatap semut?


Di tangannya muncul lingkaran sihir putih dan memancarkan aura suci, yang membuat orang-orang ingin berlutut.


"[Cure Poison]."


Ars menembakkan cahaya dari tangannya ke udara.


Cahaya terbang di atas kota, lalu meledak seperti kembang api dan menjadi hujan cahaya, yang menyelimuti seluruh Kota Mathias.


"Ini..."


Dibalik masker, mata Richard terbelalak melihat pemandangan yang tidak bisa dijelaskan sains.


"Nah, sudah selesai. Aku telah memurnikan racun di seluruh Kota Mathias, kamu dapat melepaskan masker mu, semuanya sudah baik-baik saja."


Sihir yang barusan Ars gunakan adalah Sihir Suci, yang biasanya digunakan oleh Imam Agung (Arch-Priest) di dunia [Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo!].


Akademi Penjara Merah tidak hanya menyimpan sihir penghancur, tetapi ada banyak jenis sihir lainya, dan Sihir Suci adalah salah satunya.


Menurutnya, virus bekerja seperti racun, keduanya sama-sama merusak tubuh. Ketika wabah Demam Malam baru menyebar di beberapa negara, Ars telah melakukan beberapa melakukan uji coba, ia menggunakan berbagai mantra Sihir Suci, dan menemukan [Cure Poison] sangat efektif membunuh virus dan bakteri, selain mendetokfisasi racun.


"Ini pasti trik, tidak mungkin kamu bisa melakukan itu."


Richard tidak percaya, dan yakin pemuda di depannya bermain trik.

__ADS_1


"Dokter Richard!"


Tiba-tiba seorang pemuda berkacamata berlari sambil memegang masker di tangannya.


"Abel, kenapa kamu melepas masker mu!"


Melihat muridnya mendatanginya tanpa memakai masker, Richard menjadi cemas, dan memarahinya.


Abel adalah murid dan penerusnya, jika ia mati saat menangani wabah Demam Malam, Richard telah menyiapkan penggantinya.


Tiba di depan gurunya, Abel bernapas berat setelah berlarian dari rumah sakit ke sini, mengambil beberapa tarikan nafas, ia berkata dengan bersemangat.


"Dokter, kita tidak perlu memakai masker lagi. Semua pasien di rumah sakit yang terinfeksi Demam Malam tiba-tiba sembuh setelah cahaya barusan!"


"Apa!"


Richard dan rombongannya tercengang mengetahui kabar ini.


Ini terlalu sulit dipercaya.


"Apakah itu semua benar, Abel? Kamu tidak membohongi ku, kan?"


Memegang pundak muridnya, Richard memastikan kebenaran kabar tersebut.


"Aku tidak berani membuat lelucon tentang ini, semua yang aku katakan benar, dewa telah menurunkan mukjizat di Kota Mathias!"


Abel berbicara sama menangis.


Itu bukan air mata kesedihan seperti biasanya, tetapi air mata kebahagiaan!


Menyaksikan orang-orang meninggal satu per satu di depan matanya, dan ia hanya bisa menyaksikan. Sebagai seorang dokter, hati nuraninya sangat sakit.


Lalu, Richard berbalik dan melihat pelaku utama pembuat mukjizat masih berdiri di depannya, tanpa ragu ia berlutut.


Tidak hanya dia, para perawat yang menemaninya berpatroli juga melakukan hal yang sama


"Eh, apa yang kalian lakukan?" Abel bingung melihat tindakan semua orang.


Melepaskan masker di wajahnya, Richard mengungkap penampilan pria paruh baya berusia 40an.


"Ya Tuhan, terima kasih atas anugerahmu, semua orang di Kota Mathias telah terselamatkan."


"Terima kasih, dewa." Teriak para perawat serempak.


"En, bangun. Aku melakukannya bukan demi menyelamatkan manusia, melainkan aku tersentuh oleh kebaikan mu padaku. Dan jangan panggil aku dewa, aku tidak mahatahu dan mahakuasa seperti yang kalian semua pikirkan."


Ars tidak pernah menganggap dirinya sebagai dewa. Menurutnya, Idaten hanyalah ras unik yang ada di dunia ini, bukan dewa sejati.


Setelah semua orang berdiri, dia mengingatkan semua orang tentang tujuannya datang ke sini.


"Apa rumah sakit mu punya timbangan?"


"Iya, ada banyak timbangan digudamg rumah sakit, silahkan ambil seberapa banyak yang anda inginkan." Richard berkata penuh hormat.


"Pimpin jalannya."


"Silahkan ikuti saya."


Ars mengikuti Richard dan rombongannya ke rumah sakit.


Sepanjang jalan, mereka menemui banyak orang di jalan. Mereka adalah orang yang yang sebelumnya telah terinfeksi Demam Malam dan hanya bisa menunggu kematian datang.


Setelah sembuh, mereka tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan orang yang mereka cintai.

__ADS_1


Tindakan santai Ars telah mengembalikan suasana semarak Kota Mathias seperti sedia kala.


__ADS_2