Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Hadiah Perpisahan


__ADS_3

Hari itu, orang-orang di Pulau Harta Karun mengadakan pesta perpisahan untuk Ars.


Ketika Ruby mengetahui dia akan pergi dan kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu kembali, dia berlari sambil menangis.


"Ars, kejar dia!"


Melihat putrinya yang melarikan diri, Lillian khawatir dia akan melakukan tindakan ekstrim.


Ars menggelengkan kepalanya dan menolak.


"Tidak perlu, apapun yang Ruby pikirkan, itu tidak mengubah keputusan ku."


"Sigh..."


Lillian menghela napas tak berdaya, dia tahu tidak mungkin perasaan cinta putrinya akan terbalaskan.


"Aku akan mengejar Ruby."


Putra Shamil, Aqua mengejar arah Ruby berlari.


Mengangkat cangkir, Byakuya menaikkan kaki kanannya ke meja, dan berteriak keras.


"Ahem, karena ini terakhir kalinya kita melihat Ars, mari kita keringkan persediaan makanannya."


"Ooohhh!!!"


Yakov dan pria lainnya mengangkat cangkir mereka dan minum.


Semua makanan dan minuman di atas meja disediakan oleh Ars, sangat jarang mereka menyantap hidangan mewah seperti hari ini, jadi mereka tidak boleh melewati kesempatan yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.


"Makanlah sebanyak yang kalian bisa, aku tidak percaya kalian bisa menguras bahkan 1% persediaan makanan ku." Ars meremehkan.


Meskipun sudah ada 20 orang di Pulau Harta Karun setelah berkembang biak selama 15 tahun. Jangan lupa, Ars memiliki sumber daya makanan sebanyak satu dunia, jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung.


Bahkan jika semua orang makan dari pagi sampai malam, jumlahnya tidak terlalu signifikan.


"Oh, benar. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu."


Meneguk sampanye, Ars mengingat hal penting.


"Hic... Jangan bertindak misterius, memangnya apa yang ingin kamu berikan? Kamu sudah memberi kami terlalu banyak."


Efek alkohol pada minuman mulai bekerja, Byakuya mulai mabuk, dan cegukan saat berbicara.


"Ini mungkin akan sangat membantu di masa depan."


Menggunakan kemampuan [Manifestasi Senjata], Ars menciptakan dua pistol tipe Glock 17.


Seolah tidak melihat ekspresi terkejut Byakuya, Yakov, Shamil, Darya, Connie, dan Lillian. Dia menaruh pistol itu di atas meja, dan menjelaskan spesifikasi senjata api tersebut.


"Ini adalah Glock 17 kaliber 9x19 mm. Dilengkapi dengan tarik pelatuk 28N, memiliki panjang barrel 114 mm dengan berat total dengan peluru 915 gram."

__ADS_1


Ia seperti seorang salesman yang menjelaskan kepada pelanggan tentang keunggulan produk yang ditawarkannya.


*BAM*


Byakuya menggebrak meja dengan marah, dan melototi Ars.


"Untuk apa kamu menunjukkan pistol, tahukah kamu benda itu sangat berbahaya. Apalagi di zaman ini, jika jatuh di tangan orang yang salah, hanya akan ada tirani dan kediktatoran."


Di zaman umat manusia membatu, dan hanya sedikit orang yang bertahan, pistol tidak diragukan lagi menjadi benda paling berbahaya di dunia.


Alasan Byakuya marah karena ia khawatir pistol itu akan disalahgunakan oleh keturunan mereka, yang mungkin memiliki pikiran bengkok. Lagipula, tidak peduli seberapa baik ajaran mereka, tidak mungkin semua generasi mendatang akan menjadi orang yang baik.


"Simpan kembali pistol itu, kami tidak membutuhkannya... Cough Cough..." Shamil berkata sambil batuk.


"Byakuya, Shamil, tenanglah. Kalian berdua menakuti anak-anak." Yakov memperingati keduanya.


Keturunan mereka tidak mengerti mengapa benda hitam itu telah memicu kemarahan Byakuya, dan Shamil.


Ars mengabaikan Byakuya, dan Shamil, dan melanjutkan penjelasannya.


"Ngomong-ngomong, rata-rata amunisi Glock 17 berjumlah lima belas peluru. Namun, kedua pistol ini berbeda, masing-masing magazine memiliki 3700 peluru. Itu semua berkat sihir spasial yang aku terapkan pada pistol."


"Ars!"


Vena menonjol di dahi Byakuya.


"Tenanglah, Byakuya. Pasti ada alasan mengapa Ars memberikan itu kepada kita."


Lillian menghampirinya dan menahannya agar tidak memulai perkelahian.


"En, tebakan Lillian benar. Pistol itu tidak dimaksudkan digunakan saat ini, melainkan di masa depan yang jauh. Ngomong-ngomong, kedua pistol ini tidak akan rusak atau berkarat dimakan waktu, jadi kalian bisa menyimpannya ke kotak harta karun."


Kedua pistol itu disiapkan Ars untuk Senku dan rombongannya untuk menghadapi Dr. Xeno di tahap akhir plot. Ditambah sebagai asuransi jika peserta Ruang Dewa Utama datang disaat dia sudah tidak ada di dunia ini.


"Jadi kamu tahu tentang kotak harta karun?" Tanya Byakuya.


Kotak harta karun merupakan kapsul soyuz, yang menyimpan berbagai logam berharga seperti emas, berlian, safir, platina, dll. Semua ini sumber daya yang disiapkan olehnya dan para astronot lainnya untuk putranya, Ishigami Senku. Dia percaya putranya akan menyelamatkan umat manusia dari pembatuan.


"Kamu pikir aku buta? Aku memang malas, tapi bukan berarti aku tidak tahu situasi yang terjadi di pulau, oke?"


Ars memutar matanya dan merasa diremehkan.


"Jadi kamu berencana memberikan pistol itu untuk Senku dan rekannya..."


Byakuya tidak menentang seperti sebelumnya dan merenung.


"Bagaimana menurut kalian?"


Dia menatap Yakov dan yang lainnya.


"Aku tidak tahu apa yang akan dihadapi putramu di masa depan, kita harus menyimpan senjatanya di dalam kapsul untuk berjaga-jaga."

__ADS_1


Shamil menimbang pro dan kontra, dia menganggap layak menyimpan pistol itu untuk Senku.


"Aku setuju dengan Shamil, mungkin Senku akan melawan dalang dibalik pembatuan umat manusia. Mempunyai senjata api lebih baik daripada tidak sama sekali."


Connie setuju dengan suaminya.


"Keberadaan senjata api di zaman batu memang agak berisiko, tapi aku pikir kita layak mengambil risiko itu. Dengan adanya senjata api, mereka memiliki alat untuk melawan jika sesuatu yang buruk terjadi."


Yakov mengelus jenggot panjangnya dan mengatakan pendapatnya.


"Pistol itu mempunyai 3700 peluru, itu jumlah yang sangat banyak. Selain untuk membela diri, itu juga bisa digunakan untuk berburu hewan. Itu akan sangat bermanfaat untuk putra mu, Byakuya."


Darya juga mengatakan persetujuannya.


"Bagaimana pendapat mu, Lillian? Haruskah kita menyimpan pistol itu?"


Mendengar semua orang setuju, Byakuya menanyakan wanita yang telah melahirkan lima orang anaknya.


"Aku percaya pada apapun keputusanmu, Byakuya," kata Lillian dengan senyum indah.


Ars tidak menganggu diskusi mereka, dia menyaksikan dengan tenang sambil memakan sate ayam.


"Maaf sudah membentakmu, Ars. Aku sedikit emosi, sungguh memalukan pria tua seperti ku bersikap seperti itu."


Menggaruk belakang kepalanya, Byakuya meminta maaf padanya.


"Tidak masalah, aku sama sekali tidak marah."


Ars diam-diam mengejek Byakuya di dalam hatinya.


Pria tua?


Itu omong kosong!


Tidak ada pria tua yang begitu bersemangat bersenggama setiap malam!


Itu dapat dilihat Byakuya memiliki anak terbanyak dibandingkan Shamil dan Yakov.


"Kalau begitu aku akan menyimpannya, terima kasih banyak."


Byakuya berhati-hati memegang pistol, khawatir dia akan menarik pelatuknya.


"Nah, diskusinya sudah selesai. Jika membicarakan pesta, tentu saja harus ada musik, bukan? Biarkan aku menyanyikan beberapa lagu."


Setelah suasana tegang mereda, Lillian bertepuk tangan dan semua orang memperhatikannya.


"Biar aku menyiapkan alat perekam."


Connie berinisiatif mengambil alat perekam, yang merekam musik lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Lillian.


Tentu saja Ars yang mencarikan alat perekam itu beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Kemudian, Lillian mulai bernyanyi, dan semua orang mendengarkan dengan khidmat.


Di zaman batu seperti sekarang, hiburan sangatlah langka. Jadi, tiap kali Lillian menyanyi, itu hiburan yang tak ternilai harganya di mata semua manusia yang tersisa.


__ADS_2