
"Aku tidak bisa terus menjadi beban Areishia. Pertama-tama mendapatkan kembali mobilitas ku."
Meski diasuh oleh gadis cantik merupakan pengalaman baru baginya, Ars tak mau merepotkan dermawannya. Apalagi setelah melihat kehidupan Areishia yang miskin.
Memejamkan matanya, ia mengolah bab Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan.
Dunia ini dipenuhi dengan Energi Spiritual, ini kabar baik bagi Ars yang tidak bisa mengakses energi tak terbatas Idataen.
Tubuhnya dengan rakus menyerap Energi Spiritual di udara, memasuki Fisik Batin dan perlahan memperbaiki retakan.
Ketika orang berkultivasi, mereka menjadi lupa berapa lama waktu berlalu.
Kultivasi Ars terganggu oleh suara-suara kambing di luar.
(Areishia sudah pulang. Aku harus membuat kemajuan, minimal menyembuhkan luka ku.)
Dia kesal karena dia tidak membuat kemajuan apapun setelah berkultivasi begitu lama, itu hanya membuktikan seberapa parah lukanya.
*Whoosh*
Ars mempercepat proses kultivasi, Energi Spiritual dalam radius 500 meter tersedot olehnya.
Energi Spiritual tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Paling-paling, mereka hanya merasakan angin bertiup cukup kencang.
"Kakak Ars, aku kembali. Apa kamu lapar?"
Masuk ke kamar, Areishia mengira Ars sedang tidur. Tidak ingin menganggunya, dia menutup pintu dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Di sisi lain, kerja keras Ars akhirnya membuahkan hasil. Perasaan jernih dan sejuk menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dia merasakan seluruh tubuhnya diselimuti kenyamanan. Itu adalah perasaan yang sama seperti berendam di aliran air panas setelah hari yang panjang dan melelahkan, menyebabkan semua pori-porinya terbuka dalam relaksasi.
Kemudian semua rasa sakit di tubuhnya menghilang.
"Terlalu lambat. Jika hanya mengandalkan Energi Spiritual di alam, butuh ratusan tahun memulihkan semua kekuatan ku... Biarlah, yang terpenting semua luka ku telah sembuh."
Ars merobek perban di tubuhnya saat jatuh ke tanah.
Areishia membuka pintu sekali lagi dan masuk sambil membawa roti yang baru di panggang.
Pandangannya tertuju pada mata Ars. Pupil matanya melebar saat senyumnya berubah menjadi kengerian ekstrim saat dia menjerit keras.
"Kyaaa~ Kakak Ars mesum!"
Dengan rona merah di wajahnya, Areishia berlari keluar seolah melarikan diri.
"Areishia?"
Melihat reaksinya, Ars bingung sejenak. Menunduk, dia menemukan dirinya tidak mengenakan pakaian!
"Tidak heran dia malu. Lagipula, dia gadis berusia 12, tentu saja dia akan malu melihat tubuh telanjang pria dewasa."
Dia memahami sebab dan akibat reaksi Areishia barusan. Kemudian Ars hendak mengambil pakaian di [Storage Magic].
"Haaa... Bahkan [Storage Magic] juga tidak bisa digunakan."
Mendesah dalam kekecewaan, dia mendapati dirinya tidak dapat menggunakan kemampuan mistik apapun. Dengan kata lain, dia tidak berbeda dengan manusia biasa!
Memeriksa kamar, selain pakaian lusuh gadis, Ars tidak menemukan pakaian pria.
*Knock Knock Knock*
__ADS_1
"Kakak Ars, aku membawakan mu pakaian, aku taruh di depan pintu. Dan maaf telah menyebut mu mesum."
Suara malu Areishia terdengar di balik pintu.
"Itu juga salah ku karena tidak memperhatikan, jangan terlalu dipikirkan."
Membuka pintu, Ars tidak melihat sosok Areishia, melainkan pakaian di lantai.
Mengambil pakaian itu, dia mulai berpakaian.
Pakaian terdiri dari kaos dan celana pendek. Kedua pakaian itu terbuat dari benang kasar dan sangat tidak nyaman dikulit. Meski begitu, Ars tidak mengeluh.
Setelah berpakaian, dia mencari Areishia dan menemukannya di dapur.
"Kakak Ars..."
Areishia tidak berani menatap langsung mata Ars, rona merah di pipinya belum hilang. Melihat pria telanjang terlalu berlebihan bagi gadis murni dan polos sepertinya.
"Apa makan malam sudah siap?"
"Ah, iya. Roti yang ku panggang hari ini harumnya enak. Kakak Ars pasti suka."
"Oh, kamu terlihat percaya diri. Baiklah, biar aku coba."
Karena tidak ada meja makan, mereka berdua makan di lantai.
"Bagaimana rasanya?"
"Um, tidak buruk."
"Hanya tidak buruk? Aku mengharapkan Kakak Ars bilang lezat."
"Apa boleh buat, aku tidak ada cukup uang membeli gula."
Ars menghabiskan rotinya dengan cepat, lalu menangkup pipi Areishia, sehingga mereka berdua saling menatap.
"Jangan tunjukkan ekspresi sedih seperti itu, itu merusak wajah imut mu. Sebagai ungkapan terima kasih karena telah membantuku tanpa pamrih, aku akan membantu dan selalu berada di sisimu sampai akhir hayat mu. Ini adalah janjiku sebagai Kaisar Abadi!" Dia berkata bersungguh-sungguh.
Itu bukan hanya janji lisan, tapi etiket kekaisaran.
Untuk Kaisar Abadi, pengkhianatan jelas tidak diperbolehkan. Kaisar Abadi bisa tanpa ampun membunuh banyak orang, tetapi mereka tidak akan pernah bisa mengkhianati.
Ars tidak terkecuali. Dia telah berjanji, maka dia harus menepati janjinya dan tidak berkhianat. Pada umumnya, Kaisar Abadi tidak akan dengan mudah memberikan janji.
Itu dapat dilihat dia sangat menghargai Areishia dari lubuk hatinya.
Dia mungkin kehilangan kekuatan mistiknya. Tapi dia tidak kehilangan kemampuan untuk menilai orang lain. Sepanjang hidupnya selama satu milenium, Ars belum pernah bertemu satu orang pun yang semurni Areishia.
"Kata-kata Kakak Ars seperti lamaran pernikahan." Areishia tidak tahu betapa berharganya janji seorang Kaisar Abadi.
"Bodoh, kamu terlalu muda untuk ku." Ars menjentikkan dahinya sambil tersenyum tipis.
"Aduh, Kakak Ars sangat kejam."
Memegang dahinya, Areishia pura-pura kesakitan. Entah mengapa, dia merasa sangat nyaman berinteraksi dengan pria yang baru dia temui.
(Mungkin karena aku kesepian.) Pikirnya dan menikmati mengobrol dengan Ars.
Dia bahkan lupa bertanya mengapa luka Ars tiba-tiba sembuh.
...
__ADS_1
Malam.
Tidak ada hiburan di desa ini. Apalagi hiburan, kegelapan malam hanya diterangi cahaya lilin. Sayangnya, Areishia tidak mempunyai uang untuk membeli lilin dan rumahnya gelap gulita.
Mungkin karena dia masih anak-anak, dia merasa mengantuk dan langsung tidur.
"Selamat malam, Areishia. Semoga mimpi indah."
Dalam kegelapan, Ars menarik selimut menutupi tubuh Areishia. Kemudian keluar rumah.
Kegelapan malam tidak mempengaruhi indera penglihatannya. Dia mengamati lingkungan desa.
Selain suara jangkrik dan burung hantu, desa itu sangat sepi. Namun, dengan indera pendengarannya yang tajam, Ars bisa mendengar suara ******* wanita dan pria.
Meskipun dia perjaka selama satu milenium, dia tahu banyak tentang aspek seksual melalui video dan manga.
"Nah, mengingat tidak ada hiburan di desa ini, tidak heran jika **** adalah satu-satunya pelipur lara mereka.”
Mengabaikan ******* dari beberapa rumah, Ars menjelajah desa tersebut. Setelah menemukan tidak ada hal aneh, dia meninggalkan desa dan menuju hutan.
Dia sangat ini melihat Roh Pemberontak (Revolting Spirit) dengan kedua matanya.
"Aku mau tahu, mana yang lebih kuat antara Bijuu dan Roh Pemberontak."
Dia mengusap Kalung Penekan Monster Berekor di lehernya.
Beberapa menit kemudian, Ars tiba di hutan. Dia berjalan tanpa tujuan sambil melihat ke kiri dan ke kanan seperti orang tersesat.
"Oh, apa yang manusia lakukan di tengah hutan pada malam hari. Tidakkah kamu takut di serang hewan liar atau Roh Pemberontak?"
Suara gadis menarik perhatian Ars.
Dia menoleh untuk melihat sumber suara.
Duduk di dahan pohon, seorang gadis cantik mengenakan gaun hitam gelap, rambut hitam panjang berkilau yang mencapai panjang pinggang dan mata berwarna senja yang seolah-olah menarik jiwamu ke dalamnya.
Dan bagian yang paling menonjol tentang gadis itu adalah sepasang sayap hitam yang tumbuh dari punggungnya. Dia sangat mirip dengan Malaikat Jatuh dalam legenda.
(Apakah wanita di dunia ini sangat cantik? Bahkan artis Korea Selatan yang telah melakukan operasi plastik, tidak ada apa-apanya dibandingkan Areishia dan gadis di depan ku.) Pikir Ars menganggumi tingkat kecantikan wanita di dunia ini.
"Jika gadis kecil seperti mu bisa datang kesini, mengapa aku tidak?" Ars berkata ringan.
"Gadis kecil? Maksud mu aku? Fufufu... Kamu mengatakan hal yang menarik, manusia. Aku mungkin jauh lebih tua dari mu, lho." Gadis itu cekikan.
Ini pertama kalinya dia menjumpai manusia yang tidak takut padanya.
Ars mengangkat alisnya dan berkata: "Ingin membandingkan usia dengan ku? Kamu terlalu cepat 1000 tahun, gadis kecil."
Dia kini berusia 1118 tahun, dia tidak yakin gadis kecil itu lebih tua dari dirinya, meski pihak lain bukan manusia.
"Manusia yang menarik. Siapa nama mu?"
"Bukankah tidak sopan menanyai orang lain sebelum memperkenalkan diri."
"Benar juga."
Gadis kecil itu merenung sejenak dan mengangguk. Berdiri, dia mengangkat sedikit ujung roknya dan bersikap elegan.
"Namaku Restia Ashdoll, salam kenal manusia pemberani."
"Aku Ars, senang bertemu dengan mu, Restia."
__ADS_1