
Pegunungan Kyria adalah gunung yang terletak di dekat perbatasan antara Kekaisaran Ordesia dan Kerajaan Suci Lugia.
Pegunungan Kyria adalah gunung paling berbahaya di benua itu, dengan hutan jenis konifera yang tumbuh di pegunungan, di sana hidup banyak binatang sihir yang ganas. Namun, tempat ini telah menjadi medan perang antara pasukan militer gabungan benua yang dipimpin Areishia untuk melawan pasukan Raja Iblis Solomon.
"ROOOOOOOAAAAAR...!"
Seekor binatang lupin raksasa dengan taring yang tak terhitung jumlahnya. Binatang berwarna darah itu melolong dan menerkam Areishia.
Areishia terjun ke tanah dan berguling, menghindar tepat pada waktunya. Sayangnya, Elementalis disekitarnya tidak seberuntung itu, mereka telah menghindar dan menemui ajal.
(Nyonya, saat berubah menjadi Elemental Waffe, pedang iblis itu mempertahankan sifat-sifatnya sebagai Roh.)
Suara Est terdengar di benak Areishia.
(Jadi itu adalah Elemental Waffe dan Roh pada saat yang sama. Aku harus cepat, atau akan lebih banyak korban.)
Areishia mencengkeram pedang bermata dua di tangannya dengan erat.
Elemental Waffe adalah bentuk pemurnian kedua yang dapat diambil oleh Roh di bawah Elementalist terkontrak mereka. Bergantung pada Roh terkontrak, Elementalist dapat mengakses bentuk kedua dari Elemental Waffe mereka, yang memungkinkan mereka untuk melakukan serangan yang lebih kuat dan melepaskan kekuatan roh mereka untuk waktu yang terbatas.
Saat ini Areishia dan pasukannya bertarung melawan 10 dari 72 Roh Terkontrak Raja Iblis Solomon. Roh yang dia lawan adalah Roh Iblis bernama Vlad Dracul.
"ROOOOAAAAAR!
Vlad Dracul mengeluarkan raungan aneh dan menyerang.
Areishia melompat ke udara, dia berbalik dan melepaskan kekuatan Ilahinya.
Kekuatan ilahi meletus secara eksplosif. Sambil turun dengan kecepatan ekstrim, dia mengayunkan pedangnya ke bawah.
Pedang menusuk Vlad Dracul, menjepit tubuh raksasa itu ke tanah. Seketika, binatang berwarna darah itu meleleh dan menghilang.
"Tidak baik, mundur semuanya!"
Merasa sesuatu yang salah, Areishia meminta Elementalis disekitarnya mundur, tapi dia terlambat selangkah.
Puluhan tombak darah melesat dari tanah dan menusuk puluhan Elementalist yang gagal merespon, hanya sedikit dari mereka yang berhasil melarikan diri dengan luka berat.
Bereaksi terhadap darah segar, Vlad Dracul berubah menjadi binatang haus darah untuk menggigit lengan Areishia.
Gigitan robek terjadi di lengan kanannya. Sesaat sebelum saraf di lengannya mati, Areishia menuangkan kekuatan Ilahi ke dalam Pedang Suci.
Pedang Suci menghilang sebagai partikel cahaya dan muncul di tangan kirinya, sebagai belati.
Dia langsung menggunakan belati untuk memotong kepala binatang itu.
Menendang tanah dengan keras, Areishia melompat mundur.
Sambil menciptakan jarak sejauh yang dia bisa, dia menilai kerusakan pada tubuhnya.
__ADS_1
Meskipun lengan kanannya masih terikat setelah digigit Vlad Dracul, jaringan sarafnya telah kehilangan kontak. Dia bahkan tidak bisa mengangkat satu jari pun.
(Nyonya, tangan kanan mu tidak bisa digunakan untuk sementara.)
Est berbicara melalui telepati.
(Tidak masalah, aku bisa menggunakan pedang dengan tangan kiri ku.)
Menahan rasa sakit akibat luka ditubuhnya, Areishia tidak berniat menyerah.
"ROOOOOOOAAAAAR...!"
Sembilan raungan binatang biasa lainnya terdengar di kejauhan.
(Dibandingkan situasi ku, kakak Ars menahan sembilan Roh sendirian. Aku tidak boleh kalah.)
Ars memanggil kesembilan Bijuu untuk menghadapi sembilan Roh Terkontrak Raja Iblis Solomon, dan memindahkan medan pertarungan sehingga Areishia dan Elementalis yang tergabung dalam pasukan militer bisa bertarung tanpa khawatir.
Mengkhawatirkan kondisi Ars, Areishia melepaskan kekuatan Ilahi, mengubah wujud Pedang Suci dan melompat.
Vlad Dracul berubah menjadi sekawanan serigala berwarna darah untuk menerkam Areishia.
Areishia mengayunkan Pedang Suci dan membantai sekawanan serigala. Kini hanya dia satu-satunya orang yang masih bisa bertarung, sedangkan Elementalis tersisa sudah tidak bisa bertarung.
Para Elementalis itu hanya bisa menyaksikan Ratu Suci bertarung sengit melawan Vlad Dracul.
Mengapa kekuatan itu bukan milik mereka?
Saat pikiran itu muncul, skema jahat muncul di pikiran salah satu Elementalis yang merupakan Putri Gadis (Princess Maiden) yang melayani Tuan Elemental Api.
...
Di medan perang lainnya, Ars berdiri di atas kepala Kyubi, sedangkan matanya dalam mode Eternal Mangekyo Sharingan untuk mengendalikan Bijuu lainnya.
Saat ini dia menghadapi Roh Api terkuat, Laevateinn yang mengambil bentuk raksasa humanoid.
Hujan badai api mulai turun.
Ars melapisi Kyubi dengan Susano’o, sama seperti pertarungan Madara dan Hashirama di Lembah Akhir. Meski berhasil menahan badai api, itu tidak bisa menahan suhu panas.
"ROOOOOOOAAAAAR...!"
Laevateinn meraung marah, lalu menembakkan bola api raksasa dari mulutnya.
Tidak mau kalah, Kyubi menembakkan Bijudama.
*BOOM*
Kedua serangan itu bertabrakan dan membentuk ledakan dahsyat yang menimbulkan gelombang kejut.
__ADS_1
Di bawah kendali Ars, Kyubi dan Laevateinn melakukan konfrontasi pertempuran jarak dekat.
Pakaian Ars telah basah oleh keringatnya sendiri karena suhu panas yang bisa membakar orang biasa menjadi abu dalam sekejap. Namun, api terkuat di dunia manusia tidak bisa membakarnya. Bagaimanapun, Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan Ranah Empyrean bukan sekedar pajangan.
"Tidak heran tidak ada satu pun negara yang berhasil mengalahkan Raja Iblis Solomon. Jika Roh Terkontraknya saja sudah sekuat ini, lalu bagaimana kekuatannya?" Gumam Ars sambil mengobrol Hachibi yang sedang bergulat melawan Bandersnatch.
Pertarungan di sisi Ars berlangsung setengah jam sebelum dia berhasil mengalahkan kesembilan Roh Terkontrak Raja Iblis Solomon.
"Hah Hah Hah... Itu menguras banyak energi ku."
Ars bernapas berat sambil membatalkan pemanggilan kesembilan Bijuu, mereka kembali ke Kalung Penekan Monster Berekor.
"Bagaimana pertarungan di sisi Areishia…”
Karena [Divine Sense] masih terkunci, dia hanya bisa ke sana untuk melihat dengan matanya sendiri.
*Whoosh*
Tanah yang diinjaknya hancur membentuk kawah, dan sosok Ars melesat ke arah Areishia.
Ars tiba di lokasi dan menemukan banyak mayat wanita (Elementalis) tergeletak dalam genangan darah di tanah, hanya beberapa wanita yang masih bernapas lemah dan tidak mampu berdiri.
Kemudian Ars melihat sosok gadis yang dicarinya.
Areishia berdiri lama sekali di dataran pegunungan yang luas, pedangnya tertancap ke tanah.
Kondisinya saat ini tidak seperti Ratu Suci yang diketahui orang-orang. Armor putih bersihnya berlumuran darah dan kotoran, sementara optimismenya yang biasa tidak dapat ditemukan.
Areishia bertarung melawan musuh yang lebih besar dari sekedar pasukan Raja Iblis.
Dia juga harus menghadapi kemenangan dan kekalahan tanpa akhir, skema dan pengkhianatan. Baru saja, salah satu Elementalist memanfaatkan keadaan lemahnya dan melakukan serangan diam-diam padanya.
Secara refleks, Areishia mengayunkan Pedang Suci dan tidak sengaja membunuh Elementalis yang menyerangnya.
Kini tangannya tidak lagi murni, tetapi telah ternoda darah manusia.
"Areishia, kamu baik-baik saja?"
Mendengar suara itu, Areishia berbalik dan melemparkan dirinya pada Ars sambil meneteskan air mata dalam diam.
Saat Ars ingin bertanya apa yang terjadi, dia menerima telepati dari Est yang menjelaskan situasi sebelumnya.
Mengetahui semua itu, mata Ars memancarkan kilau dingin, melirik mayat gadis yang terbelah menjadi dua bagian di tanah, dia tidak mengatakan apa-apa dan mengelus rambut pirang Areishia.
"Ayo kembali."
"Um."
Catatan Penulis : Komentarlah gan, biar penulis bersemangat.
__ADS_1