Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Roh


__ADS_3

Ketika Ars membuka matanya, dia mendapati dirinya terbaring di dalam gubuk kayu kecil dan tua.


Di sisinya ada perabotan sederhana dan polos. Panci berkarat dan berbintik-bintik tergeletak di atas meja saat mengeluarkan uap.


"Sepertinya aku selamat..."


"Ugh."


Rasa sakit mengaliri seluruh tubuhnya dengan menyakitkan saat dia jatuh kembali ke tempat tidur tanpa daya.


Ars menyadari bahwa seluruh tubuhnya terbungkus seperti mumi. Bau obat yang tajam dan tidak enak tercium dari dalam bungkusnya.


"Tunggu dulu, kenapa luka ku belum sembuh?"


Dia terkejut menemukan luka di tubuhnya tidak sembuh. Lagipula, dia Idaten, dia sudah abadi sejak lahir. Ini pertama kalinya lukanya tidak segera sembuh.


Dia mencoba menggunakan [Divine Sense] untuk memeriksa kondisinya, tapi dia kaget tidak bisa menggunakannya.


"Eh, apa yang terjadi pada ku?"


Ars beberapa kali mencoba mengaktifkan [Divine Sense], tapi gagal.


"[Water Ball]."


Tidak ada yang terjadi.


"[Fire Arrow]."


"[Ice Hammer]."


"[Light of Saber]."


Dia mencoba menggunakan beberapa sihir dan berakhir dengan kegagalan.


"Jadi begitu... Ada energi asing di tubuh ku yang mencegah ku menggunakan energi tak terbatas ku. Sebelum aku menghilangkan energi asing itu, tidak hanya aku kehilangan kekuatan magis ku, tetapi Faktor Penyembuhan tidak bisa berkerja dengan baik."


Ars telah hidup lebih dari satu milenium. Dia tidak akan panik hanya karena kehilangan kekuatannya.


Dadanya memancarkan cahaya murni dan Fisik Batinnya muncul.


Melihat Fisik Batin dipenuhi retakan di mana-mana seolah-olah bisa hancur dengan satu sentuhan, Ars tersenyum kecut.


"Basis kultivasi ku hampir hancur, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikannya seperti semula? Biarlah, yang terpenting aku masih hidup meski dalam kondisi buruk, itu yang terpenting."


Memasukkan kembali Fisik Batin ke dadanya, Ars tidak terlalu peduli. Kemudian dia mengamati kamar dan menentukan pemilik rumah ini orang miskin.


Tentu saja dia tidak akan memandang rendah pihak lain yang telah membantunya.


"Tidak ada satu pun peralatan elektronik. Entah pemilik rumah itu terlalu miskin atau peradaban dunia ini tidak terlalu maju."


Ars tidak bisa membuat kesimpulan sebelum melihat tempat lainnya.


Pintu berderit terbuka, saat sosok mungil berjalan melewati pintu.


"Eh, kamu sudah bangun?"


Suara manis dan merdu dari seorang gadis berbicara mengalir melalui telinganya.

__ADS_1


Ars mendongak untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik.


Gadis mungil yang berdiri di hadapannya itu cantik. Kulitnya putih dan halus, rambutnya yang berwarna emas cemerlang jatuh dengan ringan di pundaknya. Mata bulatnya memancarkan kepolosan dan kejernihan.


(Sangat cantik... Dia tampak berusia 11 hingga 12 tahun.)


Bahkan bagi Ars yang telah melihat banyak wanita cantik sepanjang hidupnya, dia terpikat oleh kecantikan sederhana gadis mungil itu selama beberapa detik.


Melihat Ars telah terjaga, sudut mulut gadis mungil itu untuk mengungkapkan senyum seperti malaikat.


"Jadi kamu akhirnya bangun. Kemarin, aku pergi ke padang rumput untuk membawa kembali kambing dan melihat kamu tidak sadarkan diri di tanah, dan seluruh tubuhmu berlumuran darah."


"Terima kasih telah menolong ku. Aku Ars, siapa nama mu." Ars berterima kasih padanya.


"Nama ku Areishia Idriss. Panggil saja Areishia, apa kondisi kakak Ars baik-baik saja?"


Gadis mungil bernama Areishia mengamati kondisi Ars dengan tatapan khawatir.


"Luka ku sudah mulai menutup, tapi aku belum bisa duduk."


Ini pertama kalinya Ars di panggil kakak dan dia merasa nyaman. Dari sudut pandang Areishia, ia berusia 20an, jadi memang tidak salah memanggilnya kakak.


"Ah, cerobohnya aku. Kakak Ars sudah tidak sadarkan tiga hari. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan makanan."


Areishia menepuk dahinya, lalu buru-buru mengambil makanan di dapur.


"Areishia Idriss... Itu nama yang belum pernah ku dengar. Entah dunia macam apa yang aku datangi."


Setelah mencoba menentukan asal usul dunia ini, Ars menyerah karena kekurangan informasi.


Tidak lama kemudian, Areishia kembali ke kamar, dan tangannya membawa semangkuk bubur dan segelas susu.


"Bisa."


Ars menahan rasa sakit saat mencoba duduk. Akibatnya, lukanya terbuka dan perban di tubuhnya menjadi merah oleh darah.


"Jangan memaksakan diri, kakak Ars, luka mu belum sembuh. Dokter bilang setidaknya butuh satu bulan agar luka-luka mu sembuh."


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil."


"Ini sama sekali bukan luka kecil!"


Areishia membantu Ars duduk, dia tidak peduli tangganya kotor.


"Biarkan aku menyuapi kakak Ars."


"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri."


"Tidak apa-apa, kakak Ars, buka mulut mu."


Mengabaikan penolakannya, Areishia meniup sendok berisi bubur, lalu mulai menyuapinya.


Melihat sikap keras kepalanya, Ars menyerah dan membiarkan Areishia menyuapinya.


"Mengapa kakak Ars bisa berada di padang rumput dengan luka seperti itu?"


"Jika aku mengatakan aku adalah Musafir dari dunia lain dan tidak sengaja tiba di dunia ini, apa kamu percaya? Areishia."

__ADS_1


"Fufufu... Kakak Ars pembohong yang buruk. Tidak apa-apa jika tidak mau bilang."


Karena Areishia tidak mempercayainya, Ars tidak menjelaskan lebih jauh.


Selain itu, ia menemukan fakta Areishia berbicara dengan bahasa tidak diketahui. Itu bukan bahasa Jepang, Inggris atau bahasa yang ada di bumi.


Jadi Ars menyimpulkan dia berada di dunia anime yang tidak berbasis di bumi.


Beruntung dia tidak memiliki kendala bahasa karena Idaten memiliki kemampuan bawaan untuk memahami semua bahasa manusia. Selama itu manusia, Ars akan mengerti bahasa mereka.


Selama percakapannya dengan Areishia, tidak ada banyak informasi yang di peroleh karena dia tinggal di desa tak bernama di perbatasan.


Ars tidak tergesa-gesa mengumpulkan informasi. Prioritas utamanya sekarang mendapatkan mobilitasnya terlebih dahulu.


"Kakak Ars mau tambah?" Tanya Areishia sambil mengelap bibir Ars dengan lengan bajunya.


"Tidak, aku sudah kenyang. Terima kasih, Areishia. Makanan mu enak."


Sebenarnya Ars belum kenyang, tapi dia tidak mengatakannya. Dia tidak ingin membebani Areishia.


"Aku harus membawa kembali kambing, kakak Ars istirahatlah."


Melihat sebentar lagi akan senja, Areishia bersiap menjemput kambingnya.


"Hati-hati, Areishia."


"En. Aku pergi dulu."


Menunjukkan senyuman manis, ia membawa piring kotor dan meninggalkan kamar.


"Haaa... Gadis yang malang, dia harus hidup sendiri di usia mudanya. Tampaknya dunia ini tidak sesederhana."


Melalui percakapan barusan, Ars tahu Areishia berusia 12 tahun. Dia menjadi yatim piatu di usia 9 tahun. Kematian kedua orang tuanya disebabkan oleh Roh Pemberontak (Revolting Spirits).


Untuk mencari nafkah, Areishia menjadi pengembala dan mengurus kambing warga desa.


Kemudian Ars menanyakan apa itu Roh Pemberontak dan menerima tatapan aneh Areishia.


Di dunia ini, ada ras lain selain manusia, yaitu Naga, Raksasa, dan Roh.


Roh tinggal di Astral Zero dan untuk datang ke dunia manusia, mereka harus melewati Gerbang Astral.


Setiap Roh memiliki kekuatan dan sifat unik yang berkaitan dengan elemen tertentu, seperti api, air, angin, atau tanah.


Manusia dapat membentuk kontrak dengan Roh dan menggunakan kekuatan mereka. Orang-orang itu disebut Elementalis.


Apa yang paling membuat Ars tidak bisa berkata-kata, hanya wanita yang bisa menjadi Elementalis.


Akibatnya, kedudukan pria di dunia ini sangat rendah dan menganut sistem matriarki.


Adapun mengapa hanya wanita yang bisa menjalan kontrak dengan Roh, alasannya tidak diketahui. Namun, para wanita menganggap pria itu kotor dan hina sehingga tidak di terima Roh.


Ideologi ini menyebar ke seluruh dunia yang mengabaikan kesenjangan sosial bagi laki-laki. Hanya sedikit wanita yang memperlakukan pria baik. Misalnya Areishia.


Kebanyakan wanita merasa jijik terhadap pria dan melihat mereka hanya sebagai alat reproduksi.


Kembali ke topik utama, yang dimaksud Roh Pemberontak merujuk Roh liar yang tidak menjalin kontrak dengan Elementalis, dan mereka datang ke dunia manusia untuk membuat kerusakan.

__ADS_1


"Dunia di mana laki-laki didiskriminasi oleh perempuan, huh. Sepertinya aku datang ke dunia yang menarik." Ars tersenyum tipis.


__ADS_2