
(Benar saja, bayi itu bukan orang biasa)
Masih di tempat yang sama, Ars menyipitkan matanya, mengamati gerak-gerik bayi itu seolah sedang cemas.
(Reinkarnator? Transmigrator? Regressor? Returnee? Aku rasa bukan... Ayo lihat masa depan mu)
Setelah merenung sejenak, dia berhenti menebak-nebak. Dia menguasai Kitab Suci Takdir, baginya tidak ada yang bisa disembunyikan darinya jika dia benar-benar ingin tahu.
"[Membaca Takdir]" Kata Ars dalam benaknya.
Seketika ia melihat perjalanan hidup sang bayi hingga tumbuh menjadi kecantikan tiada tara yang akan diperebutkan oleh para pria di seluruh bangsa ini.
Aliran informasi mengalir ke otaknya. Jika orang biasa berada pada posisi Ars, orang tersebut akan menjadi vegetatif karena tidak dapat menerima informasi dalam jumlah besar sekaligus.
Butuh tiga menit baginya mencerna informasi tersebut.
(Jadi begitu... Putri Kaguya... Kaisar Murakami... Lima persyaratan mustahil... Bulan... Dan Ramuan Keabadian!)
Ars menatap Putri Kaguya yang masih bayi dengan tatapan membara.
Sebelumnya ia masih ragu apakah berada di dunia yang tepat. Setelah melihat masa depan Kaguya, Ars lega tidak melakukan kesalahan saat menggunakan kemampuan Kitab Suci Takdir.
Kitab Suci Takdir membimbingnya ke sini karena dunia ini memiliki sesuatu yang paling ia dambakan.
Ramuan Keabadian!
(Cepatlah tumbuh besar, Kaguya. Jangan mengecewakan ku)
Menenangkan antusiasme, Ars melirik Kaguya untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
(Aku telah mencari Ramuan Keabadian selama ribuan tahun, menunggu beberapa tahun bukan masalah besar)
Dengan pola pikir itu, dia kembali ke toko dengan suasana hati yang baik.
.....
Waktu berlalu begitu cepat tanpa disadari.
3 bulan kemudian!
Klub Perdagangan Takdir berdiri kokoh tanpa menunjukkan tanda-tanda pelapukan.
Duduk di kursi goyang, Ars membaca buku dengan Est tertidur dipangkuannya.
Membawa nampan kue, Restia berjalan dengan celemek yang belum dilepas.
"Cobalah cookies ini, baru matang dari oven."
Ars membuka mulutnya, membiarkan Restia menyuapinya, pandangan tidak beralih dari halaman buku.
"Rea, tidak perlu melakukan itu. Sudah aku bilang, tidak ada debu di rak."
__ADS_1
"Aku melakukannya karena aku suka, biarkan aku melakukannya. Jika aku tidak melakukan ini, aku merasa tidak memenuhi kewajiban ku."
Mengenakan seragam pelayan, Rea membersihkan rak dengan kemoceng di tangan kanannya.
"Lakukan sesuka mu." Ucap Ars sambil membalik halaman buku.
Ada array pembersihan yang secara otomatis membersihkan debu dan kotoran di toko. Sebenarnya Rea tidak diperlukan sebagai pelayan. Hanya saja, Ars tidak menerima pemalas.
"Terima kasih bos."
Sambil menyenandungkan lagu, Rea membersihkan rak-rak yang tidak berdebu.
"Hei, Ars, kamu yakin memiliki bakat berbisnis? Sudah 3 bulan, tapi selain Rea, tidak ada pelanggan yang datang." Restia berkata tak berdaya.
Mendengar itu, mata Ars berkedut, dan menjawab: "Aku juga ingin tahu mengapa belum ada pelanggan yang datang. Apakah ada yang salah dengan Token Perubahan Takdir?"
Tujuannya membuka Klub Perdagangan Takdir hanya sebatas hobi untuk mengisi waktu luangnya. Menurutnya, akan menarik mengubah takdir orang lain. Namun, seiring waktu berlalu, tidak ada satu pun pelanggan yang datang. Ars bahkan mempertimbangkan menutup Klub Perdagangan Takdir.
Lagipula, setelah tujuannya memperoleh Ramuan Keabadian selesai, ia akan melanjutkan perjalanannya ke dunia lain.
Dia tidak suka menetap di suatu dunia terlalu lama.
"Ketika aku berbelanja, aku mendengar banyak orang membicarakan tentang kecantikan Kaguya." Kata Restia tiba-tiba, lalu melirik Ars dengan tatapan penuh arti dan bertanya: "Bukankah itu gadis yang kamu incar saat ia masih bayi? Apakah kamu tidak khawatir ia diambil oleh pria lain?"
"Perhatikan kata-kata mu, Restia. Itu membuatku terlihat seperti bajingan tidak bermoral yang mengincar wanita sejak mereka masih bayi."
Ars memijat dahinya, merasa sakit kepala menghadapi lelucon kotornya.
Pertumbuhan Kaguya jelas tidak normal! Namun, tidak ada yang merasa aneh, kecuali Ars dan para gadis di Klub Perdagangan Takdir.
Ars menduga ada suatu kekuatan yang memanipulasi akal sehat semua orang di Heian-kyo, sehingga tidak mempertanyakan pertumbuhan tidak wajar Kaguya.
"Fufufu~ tapi perkataan ku tidak sepenuhnya salah, kan?" Restia terkekeh.
"Tenang saja. Kaguya tidak akan menikah dengan siapapun. Selain itu, kamu tahu alasan ku mengawasinya bukan karena kecantikannya."
Mengabaikan ejekannya, Ars terus membaca dengan kecepatan konstan, tanpa terganggu oleh membaca dan mengobrol pada saat yang bersamaan.
"Ars, menurut mu mana yang lebih cantik, aku atau Kaguya?"
Restia mengibaskan rambut panjangnya, memamerkan lekuk tubuhnya yang telah berhenti berkembang.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Ars melirik Restia sekilas, lalu melanjutkan membaca.
"Kamu tahu, berita kecantikan Kaguya tersebar ke seluruh negeri. Pria dari berbagai kalangan, mulai dari bangsawan hingga rakyat biasa, semuanya ingin menikahi Kaguya. Mereka datang berturut-turut ke rumah Kaguya untuk meminangnya, tetapi terus menerus ditolak olehnya. Dengan kejadian tersebut, Kaguya secara massal diakui sebagai wanita tercantik di negeri ini."
"Lalu?"
"Apakah Ars tidak terpikat oleh kecantikan Kaguya atau kamu sudah terbiasa dengan wanita cantik di sekeliling mu sehingga kebal terhadap pesonanya? Jadi aku ingin tahu pendapat mu. Siapa paling cantik diantara kami berdua."
Restia menatap langsung ke mata Ars dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kalian berdua sama-sama cantik.”
"Itu sama sekali bukan jawaban yang aku inginkan."
"Nah, aku hanya menjawab jujur."
Meski kecewa tidak mendengar jawaban sesuai harapannya, Restia menyuapi Ars seperti sebelumnya.
Ia bukan wanita tidak masuk akal yang akan merajuk seperti wanita modern, yang menuntut laki-laki minta maaf meskipun itu bukan kesalahannya.
"Berbicara tentang Kaguya, apakah menurut bos ada seseorang yang bisa memenuhi persyaratan itu?" Rea ikut berdiskusi.
Setelah tinggal disini selama tiga bulan, ia memahami karakter bosnya dan bisa diajak mengobrol tanpa perlu bersikap formal.
"Mustahil. Tidak ada manusia fana yang bisa memenuhi persyaratan Kaguya." Ars menjawab tanpa ragu.
"Aku juga berpikir begitu." Rea mengangguk setuju.
Para pria yang ingin menikahi Kaguya terus bertahan di sekeliling rumahnya. Satu per satu dari mereka akhirnya menyerah, dan tinggal 5 orang pria yang tersisa, yang semuanya pangeran dan pejabat tinggi.
Mereka tetap bersikeras ingin menikahi Kaguya, sehingga Kakek Okina membujuk Kaguya. Lagi, di era feodal, tidak ada banyak hal yang bisa wanita lakukan selain menikah dan punya anak.
Di bawah bujukan Kakek Okina, Kaguya setuju untuk menerima lamaran pernikahan dari pria yang bisa membawakan barang yang mustahil didapat, yaitu mangkuk suci Buddha, dahan pohon emas berbuah berkilauan, kulit tikus putih asal kawah gunung berapi, mutiara naga, dan kulit kerang bercahaya milik burung walet.
"Bos, apakah barang-barang itu benar-benar ada, atau hanya karangan Putri Kaguya agar tidak menerima lamaran pernikahan?" Tanya Rea penasaran.
Bosnya adalah entitas misterius yang memiliki kekuatan di luar akal sehat manusia, jadi dia tidak secara langsung memveto keaslian kelima item tersebut.
"Itu nyata. Kaguya tidak sembarangan memberi persyaratan. Semua barang tersebut berada di Pulau Horai (Pulau Penglai)."
"Jadi itu benar-benar ada..."
Rea sama sekali tidak meragukan klaim Ars.
"Ars tahu lokasi Pulau Horai?" Restia bertanya.
"Tahu." Jawab Ars singkat.
"Bukankah itu hal mudah bagi mu mengumpulkan kelima barang tersebut? Kamu bisa dengan mudah menikahi Kaguya~"
"Berhenti bercanda, Kaguya baru berusia 3 bulan. Meskipun pertumbuhannya menyebabkan ia tampak seperti gadis berusia 16 tahun, itu tidak mengubah fakta usia aslinya. Bahkan hati nurani seorang pedofil akan merasa bersalah jika menargetkan gadis berusia 3 bulan."
Menanggapi godaan Restia, Ars menjentikkan jari di dahinya.
"Ouch, kamu sangat kejam, Ars." Keluh Restia sambil menutupi dahinya.
*Ding*
Tiba-tiba suara bel pintu terdengar, dan seorang pemuda berusia 20an masuk dengan ragu-ragu.
Melihat pelanggan kedua tiba, mata Ars berbinar.
__ADS_1