Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Permainan Lempar Batu


__ADS_3

Di era Sengoku, orang-orang tidak menyebutkan nama klan saat berkenalan, karena ada kemungkinan ada permusuhan diantara klan mereka.


Itulah sebabnya Madara dan Hashirama hanya mengatakan nama tanpa menyebutkan nama klan.


"Jadi siapa nama mu, saudara?"


Hashirama duduk disisi lain Ars dan melakukan hal yang sama, memasukkan kaki ke air sungai.


"Lihat itu, Madara. Inilah sopan santun."


"Tsk."


Madara mendecakkan lidah sambil membuang muka.


Ars melihat Hashirama yang masih muda, dan mengulang perkenalan dirinya.


"Kamu bisa memanggil ku Ars."


"Nama yang tidak biasa." Kata Hashirama.


"Aku juga merasa nama paman ini sangat aneh." Madara sangat setuju.


"Terserah."


Ars terlalu malas untuk mengoreksi penyebutan Madara tentang dia.


Berbeda dengan Hashirama yang tampak santai, Madara terlihat waspada seolah siap menyerang kapan saja jika pihak lain melakukan pergerakan mencurigakan.


(Haaa... Bahkan anak-anak berpartisipasi dalam peperangan. Ini bukan tahun yang aman bagi anak-anak.)


Ars telah melihat banyak anak saling membunuh hanya karena perbedaan klan.


"Mau minum?"


Diam-diam membuka [Storage Magic], lalu mengambil tiga botol coca cola dingin, dan menawarkan pada mereka berdua.


"Tidak, terima kasih."


Madara menolak. Dia tidak mau menerima makanan dan minuman dari orang tidak di kenal.


Bagaimana jika itu beracun?


"Wow, ini pertama kalinya aku melihat wadah seperti ini."


Dibandingkan sikap hati-hati Madara, Hashirama tidak menolak dan mengamati botol di tangannya dengan penasaran.


"Seperti ini cara membukanya."


Ars mendemonstrasikan membuka tutup botol, lalu minum coca cola.


Hashirama menirunya, dan mulai minum.


"Ini rasa yang belum pernah aku rasakan... Meski agak aneh, tapi sangat enak."


Kemudian ia minum sehingga hanya menyisakan setengah botol.


*Gulp*


Melihat Hashirama tidak terlihat keracunan, dan memasang ekspresi ketagihan. Madara menelan ludah.


Ars memperhatikan ini, dan melemparkan coca cola ke arahnya.


"Tenang saja, ini hanya minuman biasa. Lihatlah Hashirama, dia baik-baik saja setelah minum, kan? Coba saja, aku jamin kamu pasti akan suka."


"Hmph, aku tidak minta. Tapi itu akan mubazir jika dibuang."


Membuat alasan untuk dirinya sendiri, Madara membuka botol dan minum.


Setelah menyesapnya, matanya berbinar cerah dan seperti Hashirama, dia minum dengan lahap.

__ADS_1


"Minuman ini terbuat dari apa ini? Kenapa ada sensasi menusuk saat meminumnya." Dia berkata heran.


"Coca cola adalah minuman berkarbonasi." Jawab Ars.


"Coca cola? Sungguh nama yang aneh, seperti nama mu, paman."


"Kata-kata mu sangat berbisa, bocah nakal."


"Tapi yang Madara katakan ada benarnya, baik itu saudara dan minuman ini, namanya terdengar unik."


"Bahkan Hashirama juga..."


Ars mengaku namanya berbeda dengan nama orang-orang di dunia ini yang memiliki unsur Jepang.


"Membosankan hanya duduk, ayo bermain!" Hashirama berdiri dan mengajak mereka bermain.


"Bermain? Memangnya kamu anak-anak." Madara bersikap sok dewasa.


"Kamu memang masih anak-anak." Ars memutar matanya kepadanya


Hashirama mengambil batu di tanah, dan menjelaskan permainan yang dipikirkannya.


"Kami bermain lempar batu. Cara bermainnya mudah, kita melempar batu ke sungai, dan pemenangnya adalah orang yang batu lemparannya paling banyak memantul di permukaan air. Bagaimana?"


"Tentu, aku juga bosan." Ars setuju.


Kemudian mereka berdua melihat Madara.


"Baiklah, aku hanya harus bermain bersama. Ini adalah permainan yang sepele, aku akan menunjukkan kepada kalian berdua kehebatanku."


Madara mengambil batu, dan melemparkannya.


(Cara dia melempar baru itu, dia pasti biasa memegang Shuriken.) Pikir Hashirama setelah pengamatan singkat.


Batu itu hanya memantul empat kali sebelum tenggelam.


"Seolah-olah kamu bisa melakukannya lebih baik dariku!" Madara berkata kesal.


"Setelah melihat lemparanku, kau akan menyadari betapa payahnya dirimu, anak nakal."


Ars memainkan batu di tangannya.


Meski usianya sudah lebih dari 1000 tahun, dan telah mengalami pasang surut kehidupan, dia masih mempertahankan mentalitas pemuda.


Sikapnya sedikit berubah dibandingkan sebelum setelah bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Dia tidak lagi acuh tak acuh seperti dulu.


Dia tidak ingin menjadi makhluk abadi lainnya yang apatis terhadap semua hal.


"Perhatikan ini."


Menahan kekuatannya ke tingkat orang biasa, Ars melempar batu di tangannya.


Batu itu memantul di atas permukaan air hingga tiba diseberang sungai.


Ars mengangkat dagunya dan memasang ekspresi sombong di depan Madara.


"Aku ingin memukulnya."


Madara mengepalkan tinjunya sambil menggertakkan gigi.


"Hashirama, giliran mu!" Dia mengalihkan perhatian pada Hashirama.


"Ah, oke."


Hashirama melemparkan batu, dan hasilnya sampai di seberang sungai.


"Kau harus punya sasaran yang lebih tinggi saat melempar. Begitu caranya." Dia menjelaskan.


"Huh, aku tahu. Kalau aku serius pasti bisa melempar dengan tepat." Madara membuat alasan.

__ADS_1


"Kalau begitu coba lakukan lagi, mari kita lihat lemparan serius mu." Ars sengaja memprovokasi.


Mempermainkan Madara sangat menyenangkan. Setidaknya, di masa depan sifatnya akan berubah. Jadi Ars ingin menikmati momen singkat ini.


"Lihat, kali ini aku pasti bisa." Madara berkata dengan percaya diri.


Alhasil, lemparannya seperti sebelumnya.


"Sial, kalian berdua berdiri dibelakang ku untuk mengalihkan perhatian ku, kan?"


Madara mencari alasan atas kegagalannya.


"Eh?"


Hashirama terkejut tiba-tiba disalahkan, dan terduduk dengan depresi.


"Maafkan aku."


"Pada akhirnya kamu hanyalah anak-anak." Ars menggelengkan kepalanya.


"Errr... Kau tidak perlu sedepresi itu. M-maaf, itu tadi hanya alasan." Madara merasa agak bersalah.


Sambil memeluk lututnya, Hashirama menatap Madara dan berkata: "Aku tidak tahu kau punya gejala subjektif menyebalkan."


"Aku tidak tahu kau orang baik atau jahat. Brengsek." Teriak Madara kesal.


"Ahahaha! Tapi kau tahu aku lebih baik darimu saat melempar batu."


"Nanti kau yang aku lempar!"


Mereka berdua bertengkar seperti anak kecil pada umumnya.


"Kalian berdua lanjutkan bermain. Aku harus segera pergi." Ucap Ars.


Di kejauhan, ia memperhatikan mayat pria mengambang di sungai. Karena jaraknya agak jauh, Madara dan Hashirama belum menyadari itu. Namun, hanya masalah waktu sebelum mayat itu terbawa arus air dan muncul di depan mereka.


"Sudah mau pergi? Saudara, apakah kamu masih punya minuman tadi? Aku ingin memberikannya untuk adik laki-laki ku."


Hashirama ingin adik laki-lakinya mencicipi coca cola.


"Berikan aku satu. Aku juga punya adik laki-laki." Madara meminta dengan tidak sopan.


"Pertemuan kita bisa dianggap takdir. Baiklah, ambil ini."


Ars berpura-pura mengambil coca cola dari balik jubahnya. Padahal, ia diam-diam membuka [Storage Magic]. Kemudian dia memberi mereka berdua masing-masing dua botol coca cola.


"Nah, aku harus pergi."


Dia menggunakan Teknik Tak Terbatas (Limitless) untuk teleportasi ke lokasi lainnya.


"Ninjutsu ruang dan waktu?"


"Sangat cepat!"


Madara dan Hashirama tercengang melihat kepergian Ars.


Awalnya mereka berdua mengira dia hanya orang biasa, tetapi setelah melihat caranya menghilang, perspektif mereka berubah.


"Apa itu?"


Hashirama melihat mayat mengambang di atas sungai, lalu mendekat dan memerisaknya.


"Apakah kau seorang Shinobi?"


Melihat Hashirama berjalan di atas air, Madara mengkonfirmasi dugaannya.


"Sebentar lagi perang akan sampai kesini. Pulanglah, aku harus pergi, sampai jumpa." Ucap Hashirama.


Kemudian mereka berdua berpisah.

__ADS_1


__ADS_2