Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Memulihkan Sedikit Kekuatan


__ADS_3

*🏊*


Di aliran sungai yang airnya jernih terlihat hingga ke dasarnya, Ars berenang hanya dengan celana pendek.


Tidak jauh darinya, sekelompok perempuan desa sedang mencuci pakaian di tepi sungai, dan Areishia salah satu dari mereka.


"Tidak peduli berapa kali aku melihatnya, Ars memiliki tubuh yang sempurna. Aku benar-benar ingin menyentuh otot-otot itu."


"Itu benar. Ars adalah pria paling panas di desa kita."


"Sudah dua tahun dia tinggal di rumah Areishia, kalian berdua tidak melakukan hal-hal aneh, kan?"


Sambil mencuci pakaian, para gadis desa bergosip untuk menghilangkan kebosanan, salah satu gadis melirik Areishia dengan senyum menggoda.


"Apa yang kamu bicarakan, Julia! Aku dan kakak Ars tidak memiliki hubungan semacam itu." Areishia menjawab malu.


Julia adalah salah satu gadis di desa yang seumuran dengannya.


"Kamu tidak bohong, kan, Areishia? Wanita dan pria lajang tinggal satu atap lebih dari dua tahun, siapa yang percaya tidak ada sesuatu yang terjadi." Julia menatap temannya dengan cermat, ingin melihat apakah dia berbohong.


"Kakak Ars selalu memperlakukan ku sebagai adik perempuannya...." Areishia menundukkan kepalanya dan mempercepat gerakan mencuci pakaian.


"Jadi begitu. Jika aku mengejar Ars, tidak apa-apa, kan?"


"Eh? Maksud mu?"


Areishia mendongak dan menatap Julia dengan kaget.


"Tahun ini kita sudah berusia 14 tahun, ini sudah waktunya mencari laki-laki dan menikah. Lihat saja teman kita, Amelia, dia sudah menikah tiga bulan yang lalu dan aku dengar dia sudah hamil. Ars tampan, mempunyai tubuh yang bagus, dan baik. Dia adalah kandidat terbaik calon suami ku."


Di dunia ini, anak perempuan di usia 14 tahun sudah dianggap dewasa. Apalagi gadis-gadis di desa, biasanya mereka akan langsung menikah begitu mencapai usia tersebut.


Julia sudah lama mengarahkan pandangannya pada Ars sebagai calon suaminya.


"Mn, kamu harus menanyakan pendapat kakak Ars."


Saat mengatakan itu, Areishia menggigit bibir bawahnya, dan hatinya merasa tidak nyaman.


"Terima kasih, Areishia. Doakan aku berhasil, aku pasti mengundang mu ke acara pernikahan ku nanti."


"Aku sudah selesai, aku duluan."


Kata-kata Julia seperti jarum, Areishia memasukkan cucian ke dalam keranjang bambu, dan pergi.


Disisi lain, Ars melihat Areishia berjalan menjauh, dia berenang ke tepi sungai dan menyusulnya, tapi di halangi Julia.


"Hai, Ars, ibu ku memasak makanan terlalu banyak, mau makan siang ke rumah ku?"


"Maaf, ada yang harus ku lakukan sore ini. Terima kasih telah mengundang ku."


Dengan sopan menolak, Ars mengambil bajunya di tanah, dan mengejar Areishia yang sosoknya sudah menjauh.


Melihatnya pergi, Julia mendesah kecewa, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Kemudian dia melanjutkan mencuci pakaian sambil mengobrol dengan wanita lainnya.


"Areishia, tunggu aku."

__ADS_1


Areishia berpura-pura tidak mendengar seruan itu dan terus berjalan tanpa memperlambat langkahnya. Tiba-tiba tangannya di pegang.


"Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuat mu marah? Jika ada, aku minta maaf."


Ars bukan pria bebal. Biasanya Areishia akan memanggilnya jika dia sudah mencuci pakaian, tapi kali ini berbeda, tidak hanya dia meninggalkannya, tapi juga mengabaikannya.


Meskipun dia belum pernah berpacaran, bukan berarti dia tidak memiliki pengetahuan teoritis tentang hubungan pria dan wanita.


"Kakak Ars tidak melakukan apapun, aku tidak marah."


"Kalau begitu, tatap aku dan katakan bahwa kamu tidak marah."


"Aku harus menjemur pakaian, kakak Ars cepat keringkan badanmu, atau nanti kamu masuk angin."


Areishia menarik tangannya dan berlari meninggalkan Ars.


"Areishia..."


Menggaruk kepalanya, Ars benar-benar tidak tahu apa yang membuat gadis itu merajuk.


"Oh, benar. Hari ini ulang tahunnya. Mungkin suasana hatinya akan menjadi lebih baik setelah diberi hadiah dan kue."


Kemudian dia bergegas kembali ke rumah, dia melihat Areishia yang sedang menjemur pakaian di halaman.


Masuk ke rumah, Ars mengeringkan badannya, dia berpakaian dengan cepat.


"Areishia, aku pergi sebentar. Tidak perlu menyiapkan makan siang ku, aku akan kembali sore."


"Um, hati-hati di jalan, kakak Ars."


Bahkan dalam suasana hati yang buruk, Areishia tidak lupa menunjukkan kepeduliannya.


Setelah berpamitan, dia meninggalkan desa tersebut. Dia berjalan cukup jauh hingga yakin tidak ada penduduk desa yang akan melihat aksinya.


"Seharusnya cukup jauh."


Menggigit jari jempolnya hingga berdarah, dia melakukan cetakan tangan, lalu memukul tanah.


"[Kuchiyose no Jutsu (Summoning Technique)]."


*Poof*


Rune hitam tersebar di tanah dari telapak tangan Ars. Saat berikutnya, asap putih tiba-tiba muncul dan seekor kumbang hijau raksasa berekor tujuh terlihat setelah asap menghilang.


"ARS, kau manusia hina!!!"


Raungan kemarahan keluar dari mulut makhluk itu. Kemudian ekornya mencambuk ke arah Ars tanpa belas kasihan.


*BAM*


Ars memegang ekor raksasa itu hanya dengan satu tangan.


Makhluk itu tidak lain adalah Shichibi atau bernama Chomei, salah satu diantara sembilan Bijuu.


"Mengapa kalian para Bijuu begitu membenci ku?"

__ADS_1


"Jangan berpura-pura bodoh! Kamu jelas tahu apa yang kamu telah lakukan pada kami."


"Bukankah aku mengumpulkan kesembilan Bijuu di satu tempat? Harusnya kalian berterima kasih pada ku. Jika bukan karena aku, kalian masih akan digunakan sebagai alat di medan perang."


"Huh, kamu tidak jauh berbeda dari mereka."


Kompresi chakra berkumpul di mulut Shichibi, dan bersiap menembakkan Bijuu (Tailed Beast Balls).


"Jangan membuat masalah."


Tiga tomoe di mata Ars berputar. Saat berikutnya, Shichibi menghentikan aksinya.


Genjutsu Sharingan bahkan berpengaruh pada Kyubi. Shichibi tak berdaya dipengaruhi Genjutsu.


"Selalu menggunakan Genjutsu tiap kali mengendalikan para Bijuu, mereka tidak bisa diajak kerja sama."


Ars menggelengkan kepalanya dan melompat ke kepala Shichibi.


Di bawah kontrolnya, Shichibi mengepakkan sayap dan terbang ke langit.


Agar tidak terhempas oleh angin, Ars memegang erat tanduk Shichibi.


"Biasanya aku tidak peduli dengan hambatan udara dan bisa terbang secepat yang aku mau. Tapi dalam keadaanku saat ini, itu tidak mungkin."


Mengingat energi asing di tubuhnya, Ars tersenyum tak berdaya.


Dia telah hidup di dunia ini selama dua tahun. Tidak pernah sekali pun dia melewatkan meditasi untuk mengusir energi asing tersebut. Namun, dia hanya berhasil memulihkan 1% kekuatannya.


Kini ia bisa menggunakan kekuatan Sharingan tiga tomoe. Adapun Eternal Mangekyo Sharingan? Itu masih terkunci seperti kekuatan lainnya.


Meski dalam keadaan lemah, bukan berarti Ars benar-benar tidak berdaya.


Kesembilan Bijuu yang tersegel di Kalung Penekan Binatang Berekor telah terikat kontrak dengan Ars, sehingga dia bisa memanggil mereka kapanpun dia mau. Sebelumnya dia khawatir mereka akan lepas kendali, oleh sebab itu dia tidak pernah menggunakan Bijuu. Kini berbeda, dengan adanya Sharingan, itu bukan lagi masalah.


Kabar baik lainnya adalah bahwa ketangguhan dan daya tahan Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan bersifat pasif. Selama Fisik Batinnya tidak sepenuhnya hancur, Ars memiliki tubuh tiada tara.


Itu sumber utamanya tidak merasakan ancaman apapun. Dia seperti Saitama yang menggunakan kekuatan fisik murni untuk melawan musuh.


"Oh, ada wyvern. Karena kalian telah bertemu denganku, itu artinya keberuntungan kalian telah habis."


Menyipitkan matanya, Ars melihat lusinan wyvern terbang ke arahnya dengan sikap agresif.


"Shichibi, gunakan tembakan beruntun Bijudama."


Mengikuti perintahnya tanpa bisa menolak, Shichibi segera menembakkan Bijudama dari mulutnya seperti senapan mesin ke arah sekelompok wyvern.


*BOOM BOOM BOOM*


Wyvern di ledakan di udara sebelum bisa mendekati Ars.


Adegan ledakan seperti kembang api menarik perhatian orang-orang di permukaan, khususnya para Elementalis.


Elementalis yang memiliki Roh tipe udara, mereka terbang mendekat.


Ars tidak peduli dengan mereka dan terus memerintahkan Shichibi terbang.

__ADS_1


"Elementalis tak dikenal, cepat berhenti!"


Suara angkuh wanita terdengar.


__ADS_2