Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Alkazard


__ADS_3

Setelah dua tahun, Areishia dan rombongannya hanya menyisakan kastil Raja Iblis sebagai medan perang terakhir.


Mengalahkan banyak musuh, tangan Areishia sudah berlumuran darah, tapi tetap saja dia tidak putus asa berkat Ars selalu disisinya.


Seperti biasa, Ars dan Areishia akan berhubungan intim untuk menghilangkan lelah dan letih.


"Ahhhh~ ❤️"


Setelah mencapai ******* untuk kedelapan kalinya, Areishia merebahkan diri di tubuh Ars sambil terengah-engah.


"Mari kita berhenti sampai disini. Besok ada pertarungan penting."


Sebenarnya Ars masih ingin melakukan beberapa ronde lagi, tapi dia menahan diri.


"Nah, kakak Ars, setelah semua ini selesai, dunia akan damai, kan?"


"Aku harap begitu."


Ars tidak berani menjamin apapun. Dia telah menyaksikan sifat manusia yang suka berperang. Bahkan jika Raja Iblis Solomon dikalahkan, dunia mungkin damai untuk sementara waktu, tapi tidak selamanya.


"Setelah perang ini selesai, aku ingin kembali ke kehidupan sehari-hari seperti sebelumnya."


Areishia lelah dengan pertumpahan darah. Dia lebih suka menjadi gadis gembala.


"Yeah, ayo kembali ke desa dan menghabiskan waktu kita dengan damai." Ars setuju.


Keduanya tidur bersama saat tubuh mereka masih bersama.


...


Hari berikutnya.


Negara yang dikuasai Raja Iblis Solomon disebut Kerajaan Zoldia.


Saat ini, Areishia dan selusin Elementalis memasuki ibukota Kerajaan Zoldia, Alkazard.


Saat mereka mencapai gerbang kota dengan berjalan kaki, fajar hampir menyingsing.


Pemandangan di depan Ars membuatnya takjub.


Dikelilingi oleh tembok kota yang kokoh, kota ini adalah kota metropolitan yang luar biasa besarnya. Dibandingkan ibukota negara lainnya seperti Kerajaan Suci Lugia, Kekaisaran Ordesia, Kekaisaran Dracunia, dan yang lainnya, itu seperti membandingkan langit dan bumi.


Melihat arsitektur disekitarnya, Ars bahkan percaya jika Solomon mengaku sebagai Reinkarnator atau Transmigrator, karena Alkazard lebih seperti kota peradaban modern.


Areishia dan para Elementalist lainnya juga terkesima melihat Alkazard, seolah-olah mereka adalah orang kampung yang baru pertama kali tiba di kota besar.


Sayangnya Alkazard sepi tanpa kebisingan aktivitas masyarakat pada umumnya.


"Tempat yang luar biasa." Areishia memuji sambil mencengkeram Pedang Suci lebih erat.


Suasana sepi dan sunyi membuat semua orang tegang, khawatir akan ada penyergapan yang menanti mereka.


Meski begitu, mereka masih melangkah memasuki gerbang.


Jalan utama yang membentang dari gerbang kota memiliki banyak tempat tinggal dan toko yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Semuanya tanpa kecuali kosong.


(Apakah Solomon mengevakuasi penduduk kota?) Ars merenung.


Mereka dengan cepat melewati jalan yang mengarah dari gerbang kota ke alun-alun. Melewati jalan utama yang berkanopi, mereka berjalan di bawah langit mendung yang menyembunyikan matahari.


"Mungkinkah itu istana Raja Iblis?" Areishia menunjuk sebuah bangunan.

__ADS_1


Sebuah bangunan raksasa berbentuk piramida berdiri di tengah kota, berwarna abu-abu, dan dindingnya berkilau metalik.


Dibandingkan dengan arsitektur kota yang modern, gaya bangunan bersejarah ini terlalu menonjol.


“Apakah itu… Situs bersejarah? Di tengah-tengah kota ini?”


“Saya belum pernah melihat situs semacam ini di tempat lain di benua ini.”


“Itu tidak terlihat seperti kastil.”


Para Elementalist mulai berdiskusi.


Bahkan di tahap akhir, mereka tidak berniat bergaul atau memperlakukan Ars setara dengan mereka. Menurut pendapat mereka, Ratu Suci telah ditipu olehnya. Mereka khawatir kesucian mereka ternoda jika menjalin hubungan baik dengan Ars.


"Kakak Ars, bagaimana menurut mu?" Tanya Areishia.


"Kemungkinan besar itu memang kastil Raja Iblis." Ars berkata.


"Kalau begitu, tujuan kita sudah jelas."


Mengabaikan peringatan para Elementalist, Areishia memimpin mereka ke kastil tersebut.


Ketika mereka sampai di depan kastil, mereka melihat tanda bertuliskan Istana Zohar.


"Istana Zohar, sungguh nama yang jelek." Salah Elementalis mencibir.


Dia adalah Victoria Saint Leisched, pemimpin Tim Ksatria Roh Suci dari Kerajaan Suci Lugia. Dia bergabung dengan pasukan penyelamat untuk mengalahkan Raja Iblis Solomon.


Dia ingin maju, tapi langkahnya dihentikan oleh penghalang tak terlihat.


"Ratu Suci, sebuah penghalang telah didirikan. Izinkan aku menghancurkannya." Victoria melaporkan situasinya dan mengajukan diri.


"Um, aku serahkan pada mu, Victoria."


"Dimengerti."


Kemudian Victoria mulai melantunkan Bahasa Roh.


"O Ksatria Suci Ganelon, tanamkan kemuliaanmu pada pedangku—Namamu Murgleis!"


Memegang pedang dengan atribut suci, Victoria menebas penghalang di depannya.


Kemudian menghilang tanpa jejak.


"Tidak mungkin!"


Victoria tercengang melihat serangannya tidak menimbulkan kerusakan apapun.


"Sepertinya penghalang ini mampu menghilangkan serangan serius dari Roh Tingkat Tinggi." Areishia menganalisa dengan cepat.


"Aku tidak percaya!"


Victoria merasa terhina. Sebagai pemimpin Tim Ksatria Roh Suci, harga dirinya tidak membiarkannya mengalami kegagalan.


Dia terus menyerang penghalang itu dengan sekuat tenaga, tapi semuanya sia-sia.


"Biarkan aku yang melakukan—"


"Tidak, Areishia harus menyimpan kekuatannya. Aku yang akan menghancurkan penghalang ini."


Areishia tidak marah karena diinterupsi, dia membiarkan Ars mengambil tindakan.

__ADS_1


"Hufttt..."


Menghembuskan nafas, Ars menarik Balmung dari [Storage Magic]. Kemudian mengirim energi ke Balmung.


Gelombang energi membuat gadis-gadis di sekitar menjaga jarak. Ekspresi mereka menunjukkan kengerian dan ketakutan. Dalam hati mereka, ancaman Ars setara dengan Raja Iblis Solomon.


Beberapa gadis mulai menyusun intrik dan skema untuk menghadapi Ars jika Raja Iblis Solomon telah dikalahkan.


Ars tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Meski dia tahu, dia tidak peduli. Di hadapan kekuasaan absolut, skema tidak layak untuk disebutkan.


"Balmung!"


*Whoosh*


Meriam cahaya menghantam penghalang yang melindungi Istana Zohar.


*Crack Crack Crack*


Terdengar suara seperti kaca retak. Beberapa saat berikutnya, penghalang benar-benar hancur.


*Crush-Bang*


Kini semua orang melihat penghalang telah hancur.


"Ayo bergegas, aku yakin orang-orang di dalam sudah menunggu kita." Ars membangunkan semua orang dari linglung.


Areishia mengangguk, lalu memimpin semua orang memasuki Istana Zohar.


Piramida itu dikelilingi oleh sebuah taman besar, mereka berjalan berkeliling di sekitar, tapi apalagi sebuah pintu masuk, Areishia bahkan tidak bisa menemukan satu celah pun di dinding.


Dihadapkan pada bangunan yang sangat besar ini, Areishia sama sekali tidak tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut. Dia menoleh pada Ars untuk meminta bantuan.


"Aku juga tidak tahu." Ars mengangkat bahu.


Jika dia bisa menggunakan [Divine Sense], ini bukan masalah sulit. Sayangnya, tidak ada kata 'jika' di dunia ini.


"Apakah ada kata sandinya…? Atau kondisi tertentu yang harus dipenuhi untuk bisa masuk?” Victoria melihat sekeliling.


Gadis lainnya juga mencari-cari mekanisme tersembunyi. Namun, mereka tidak menemukan apapun.


"Karena tidak ada pintu, buatlah sendiri!” Areishia menyarankan.


Berpikir seperti itu, Areishia menoleh ke arah Pedang Suci di tangannya.


"Est, bisakah kamu mengurus ini?"


"Ya, aku adalah pedang mu, Nyonya. Oleh karena itu, tidak ada apapun di dunia ini yang tidak dapat aku belah."


Suara Est terdengar percaya diri di pikiran Areishia.


"Aku mengandalkan mu, Est."


Areishia tidak menuangkan banyak kekuatan suci ke dalam Pedang Suci.


"Kalau begitu ayo mulai."


Dia mengambil langkah menuju dinding.


"Haaaaaah!"


Dia mengerahkan kekuatannya dan mengayunkan Pedang Suci dengan kuat.

__ADS_1


*Claaaaaang!*


Dengan suara yang memekakkan telinga, bilah Pedang Suci, bersinar putih keperakan, mengiris dinding piramida.


__ADS_2