
"Tempat ini tidak pernah berubah."
Ars duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya, perilakunya benar-benar tidak pantas. Namun, Marie tidak keberatan dan mempertahankan senyum ramah di wajahnya yang cantik.
"Ini semua karena kakek tidak mau mengubah dekorasi vila ini, katanya tempat ini penuh dengan kenangan.” kata Marie.
"Marie kecil, apa kamu tahu dulunya area vila ini dulunya adalah kawasan kumuh?"
"Aku tahu kakek mengubah kawasan kumuh menjadi vila ini, hanya itu yang aku tahu."
"Sebelum Nicholas mencapai puncak karirnya, ia tinggal di kawasan kumuh. Mungkin alasannya membangun vila disini karena merasa nostalgia."
"Ternyata seperti itu... Kakek tidak pernah bercerita ia berasal dari kawasan kumuh."
Marie baru pertama kali mendengar ini, jika pamannya tidak memberitahunya, ia tidak akan pernah tahu.
"Tidak mengherankan karena kamu tidak tahu, Nicholas tidak suka menceritakan kisahnya ketika dia miskin."
Ars mengingat kepribadian temannya dan sudah menduga keturunannya tidak mengetahui masa lalu sebenarnya kakek mereka.
Marie sangat ingin menanyakan identitas asli Ars, tapi ia menahan diri dan basa basi terlebih dahulu.
Saat keduanya sedang bercakap-cakap, Sebastian datang mendorong sambil troli.
"Maaf menganggu diskusinya, nona muda."
Sebagai kepala pelayan, ia menunjukkan etiket yang elegan.
"En, apa perjamuannya sudah siap?" Sedikit mengangguk, Marie bertanya.
"Koki dan staf lainnya bekerja semaksimal mungkin, mohon ditunggu sebentar."
Sebastian menaruh teh di meja, lalu menaruh sekotak cerutu bersama alat pemotong dan pemantik api di depan Ars..
Ars mengambil satu cerutu dari kotak, melihat mereknya, dia berkata sambil tersenyum.
"Louixs... Kamu sangat tahu cerutu kesukaan ku, Sebas. Tidak salah Nicholas memilih mu menjadi kepala pelayan waktu itu."
"Anda... Mungkinkah Tuan Ars?"
Tubuh tua Sebastian sedikit bergetar setelah mendengar kata-kata pihak lain. Jika sebelumnya dia masih memiliki keraguan, sekarang dia yakin pemuda di depannya itu benar-benar teman majikannya.
Ars tidak langsung menjawab, memotong ujung cerutu, membakar ujungnya, menghisap cerutu, lalu menghembuskan asap dari mulutnya.
"Lama tidak berjumpa, Sebas. Kamu sudah menua, aku hampir tidak mengenali mu lagi."
"Anda benar-benar Tuan Ars... Bagaimana mungkin... Penampilan anda masih sama seperti 20 tahun yang lalu."
Bahkan orang terlahir seperti Sebastian tidak bisa tidak syok setelah mendapat konfirmasi pihak lain.
"Itu pertanyaan yang Marie kecil tanyakan padaku, kamu juga ingin tahu?" Ars menikmati menghisap cerutu dan berkata ringan.
"Jika anda tidak keberatan." Sebastian berkata terus terang.
"Paman Ars, jangan membuatku penasaran lebih lama, apa rahasia awet muda mu?" Marie berkata dengan nada manja.
"Tidak ada rahasia."
"Eh?"
"Hm?"
Marie dan Sebastian tercengang, dalam pikiran mereka Ars mungkin telah meminum Air Mata Kehidupan, Elixir, Batu Filosfer, atau Ramuan Keabadian lainnya.
Jawaban itu sangat tidak terduga.
"Aku tahu kalian bingung, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Dari awal, aku bukan manusia seperti kalian."
Melihat reaksi bingung keduanya, Ars tidak terburu-buru mengklarifikasi, dan menghisap cerutu dimulutnya.
Ia seorang perokok aktif bahkan sebelum dirinya bereinkarnasi. Sekarang ia abadi dan tidak bisa menderita penyakit, dia merasa rugi kalau tidak memanfaatkan keabadiannya untuk merokok.
"Paman Ars tidak sedang berbohong, bukan? Makhluk abadi atau semacamnya, itu hanya dongeng pengantar tidur anak-anak." Marie cemberut dan merasa dipermainkan.
Sebastian tidak mengungkapkan pendapatnya, dan sabar menunggu penjelasan berikutnya.
"Wajar kamu tidak percaya, lagipula sudah 500 tahun sejak kemunculan Iblis, orang-orang yang mengetahuinya telah lama mati, dan mereka tidak meninggalkan sejarah untuk generasi berikutnya."
__ADS_1
"Baiklah, biarkan aku menceritakan kisah yang dikubur oleh leluhur manusia."
Ars mulai menceritakan kisah Iblis yang hampir membasmi umat manusia 500 tahun lalu, dan Idaten yang menghentikan mereka. Tentu saja cerita ini didasarkan versi yang diketahui dari Rin.
Ia sering ke pemukiman manusia untuk bermain, melalui buku-buku di perpustakaan, ia tidak menemukan buku yang mencatat sejarah invasi Iblis 500 tahun yang lalu. Tidak hanya itu, ia tidak pernah mendengar manusia membahas tentang Iblis, seolah-olah mereka tidak mengetahui keberadaan Idaten dan Iblis.
Ia menduga manusia yang hidup zaman itu tidak ingin generasi masa depan tahu penderitaan yang mereka alami, sehingga mereka sepakat tidak meninggalkan informasi apapun tentang Iblis dan Idaten.
Lagipula sejarah ditulis oleh pemenang, meski bukan manusia yang mengalahkan Iblis, melainkan Idaten. Namun, Idaten yang tersisa, yaitu Rin, ia tidak mengetahui masalah ini, bahkan jika ia tahu, ia tidak akan peduli.
10 menit kemudian, cerita berakhir.
Marie dan Sebastian yang mengetahui kebenaran menjadi terdiam.
Jika orang lain memberitahu mereka kisah ini, orang itu akan dianggap gila. Tapi keduanya harus percaya karena Ars telah menunjukkan bukti keabadiannya.
"Pasti Tuan Ars merasa sangat sulit."
Sebastian memandang Ars dengan pandangan berbeda.
"Mengapa kamu mengatakan itu?" Ars bertanya bingung.
"Idaten tidak hanya menyelamatkan umat manusia, kalian adalah penyelamat dunia, tapi tidak ada manusia generasi selanjutnya yang mengetahuinya, ini sangat ironis." Sebastian mengatakan isi pikirannya.
Bahkan Marie memandang Ars dengan rasa malu, karena perilaku leluhur manusia yang tidak menghargai penyelamat mereka.
"Ah, kalian berdua tidak perlu bermasalah. Meski aku mengatakan Idaten berperang dan berakhir dengan mengorbankan diri untuk menyegel Iblis, aku tidak berpartisipasi perang 500 tahun yang lalu, karena aku baru di generasi damai."
Ars meluruskan kesalahpahaman.
"Eh?"
Marie dan Sebastian saling menatap.
"Paman Ars sudah hidup berapa lama?" Tanya Marie penasaran.
"Hmmm.... Sulit menghitung secara akurat, kurasa sekitar 80 tahun. Aku belum terlalu tua, bahkan Nicholas lebih tua dariku."
"80 tahun... Paman Ars sama sekali tidak terlihat seperti orang berusia 80 tahun."
"Aku juga ingin selalu awet muda."
Marie sedikit iri pada bakat rasial Idaten.
Pintu ruangan terbuka, dan seorang pelayan cantik mengatakan persiapan perjamuan telah siap.
"Nona muda, Tuan Ars, mari datang ke ruang makan."
Di depan pelayan lainnya, Sebastian kembali ke mode kepala pelayan.
"Ayo pergi, Paman Ars."
"En."
Mereka pergi menuju ruang makan.
Tiba di ruang makan, Ars melihat meja besar yang dipenuhi banyak makanan, yang bisa memberi makan sepuluh orang.
"Bukankah ini terlalu boros hanya untuk makan siang?" Ars melirik Marie yang sudah duduk di kursi.
"Ini semua disiapkan khusus untuk Paman Ars." Marie menutup mulutnya dan tertawa kecil.
"Tuan Ars selalu makan banyak, jadi aku memutuskan menyiapkan banyak hidangan." Menyentuh dadanya, Sebastian berkata ringan
"Itu sudah lama sekali, kamu masih ingat."
Ars ingin duduk, tapi seorang pelayan menarik kursi untuknya, kemudian ia duduk.
"Silahkan dinikmati, Paman Ars, semoga rasanya cocok dengan selera mu."
Menggunakan pisau dan garpu, Marie mulai memakan steik.
Ars mencicipi hidangan lobster terlebih dahulu, setelah makan, ia memberikan pujiannya.
"En, ini lezat."
"Saya akan menyampaikan pujian Tuan Ars kepada koki."
__ADS_1
Sebastian sedikit membungkuk dan berkata hormat.
"Nyam... Nyam... Nyam..."
Idaten dapat hidup walaupun tidak makan, tapi itu tidak berarti mereka tidak bisa makna. Ars menikmati makanan di meja, dan sebagian besar makanan dimakan olehnya.
...
"Fiuh~... Aku kenyang, terima kasih atas keramahannya."
Di pintu masuk vila, Ars menepuk perut datarnya, meski telah banyak makan, perutnya tidak menjadi buncit.
"Tidak, tidak, tidak, justru aku senang dapat menjamu Paman Ars, silahkan datang lain kali."
Marie ingin menjaga hubungan baik dengan makhluk diluar nalar manusia, Idaten.
"Nah, Marie kecil memperlakukan ku sangat baik dibandingkan ayah mu." Kata Ars.
Nicholas mempunyai seorang putra bernama Hendrik. Ars tidak terlalu menyukainya, karena bocah itu tidak mewarisi sifat bijaksana ayahnya, dan sifatnya sangat arogan dan hedonis.
Ia bahkan meragukan Hendrik adalah putra kandung Nicholas atau tidak. Jika bukan karena belum ada alat untuk memeriksa DNA, Ars akan meminta temannya untuk melakukan tes.
"Ha Ha Ha... Ayah hanya agak eksentrik..." Marie tertawa hambar mengenai perilaku tidak bermoral ayahnya.
Ars ingin pergi, menepuk dahinya, ia ingat belum mengatakan sesuatu yang penting.
"Oh, benar. Aku lupa menyampaikan ini, sebagai hadiah pertemuan dariku, aku akan memberi Marie kecil sebuah janji."
"Janji?"
Mata Marie berbinar cerah. Sebuah janji dari Ars lebih berharga dari emas dan berlian, lagipula keluarganya sudah sangat kaya.
"Yeah, aku akan melindungi keluarga mu selama tiga generasi. Selama periode waktu itu, tidak ada yang akan bisa menganggu keluarga mu, tidak peduli siapa! Jadi, gunakan waktu itu untuk berkembang dengan baik."
Ars tidak ingin keluarga temannya dihancurkan oleh kebobrokan penerusnya, oleh karena itu dia membuat janji ini.
"Terima kasih banyak, Paman Ars."
Sebagai wanita cerdas, Marie mengetahui betapa berharga janji itu, jadi ia tidak perlu khawatir serangan dari keluarga atau faksi lainnya, yang ingin menghentikan keluarga mereka berkembang.
Tanpa sadar ia melompat ke pelukan Ars.
"Ngomong-ngomong, Sebas, kamu tahu lokasi Kota Sodom?"
Mendorong Marie yang memeluknya karena kegembiraan, Ars menoleh ke Sebastian dan bertanya.
"Saya tahu, Tuan Ars ingin ke sana? Dari kabar yang aku dengar, Kota Sodom merupakan tempat kaum penyuka sesama jenis berkumpul, itu bukan tempat yang bagus."
Sebastian mengatakan apa yang diketahui dan menyarankan tidak pergi.
"Aku tahu, alasanku ke sana bukan mau berlibur, melainkan menghancurkan Kota Sodom."
Kilau berbahaya melintas di mata Ars.
Meski hanya sekilas, Marie dan Sebastian merasa betapa menakutkannya kemarahan Ars.
"Kota Sodom berjarak 1000 kilometer dari Kota Mathias, silahkan gunakan peta ini."
Sebastian mengambil peta dari balik jasnya, dan memberikannya ke Ars.
Membuka peta, Ars melihat jalur menuju Kota Sodom.
"En, kalau begitu aku pergi dulu."
Memegang peta, Ars mengucapkan selamat tinggal, dan sosoknya menghilang secepat langit.
"Paman Ars terlihat sangat marah."
Marie penasaran apa yang dilakukan orang-orang di Kota Sodom sehingga membuat Ars marah.
"Saya tidak tahu, nona muda mau menyelidikinya?" Tanya Sebastian.
"Tidak perlu, kirim seseorang untuk melaporkan kehancuran Kota Sodom, aku ingin tahu bagaimana kota itu dihancurkan Paman Ars."
Marie berjalan masuk ke dalam rumah, ia tidak meragukan apakah Ars bisa menghancurkan sebuah kota atau tidak, ia hanya penasaran metodenya.
"Dimengerti, akan saya laksanakan." Sebastian menjawab.
__ADS_1