
Shiyou adalah kota kecil yang terletak di kaki Gunung Fuji. Kota ini terkenal dengan keindahan alamnya, termasuk danau, hutan, dan air terjun.
Musim panas merupakan waktu liburan terlama bagi pelajar di Jepang.
Di pagi hari, sepasang saudara kandung sedang bermain-main di kota yang tidak terlalu banyak penduduknya akibat penurunan populasi yang drastis.
Sang kakak perempuan berusia 8 sampai sembilan tahun, mengenakan baju renang sekolah, rambut hitamnya diikat ekor kuda dengan pita berbentuk telinga kelinci, dan poninya menutupi mata kanannya.
Sedangkan sangat adik laki-laki tampak berusia 5 hingga 6 tahun, memiliki rambut cokelat, dan hanya mengenakan celana pendek. Dia berlari sangat gesit dengan ekspresi riang di wajahnya.
"Tempatnya disana!"
Sang adik laki-laki melompati pagar. Sayangnya, kakinya tersandung tali dan dia berguling ke bawah.
"Aaaahhh!"
"Hei, Tama!"
Melihat adik laki-lakinya terjatuh, sang kakak perempuan mengkhawatirkan kondisinya, dan buru-buru turun ke bawah.
"Eh... Tidak mungkin. Jawab aku, Tama."
Adik laki-laki bernama Tama berdiri tanpa terluka, dan dengan bangga menunjukkan alat kelaminnya kepada kakak perempuannya.
Ekspresi khawatir sang kakak perempuan berubah menjadi jijik. Kemudian dia menjentikkan jarinya pada telur Tama.
"Aduh, panas, panas, panas!"
Sambil memegangi selangkangannya, Tama mengerang kesakitan.
"Kenapa makhluk dengan belalai gajah itu menjijikkan..." Gumam sang kakak perempuan.
"Rai-Nee kejam!" Keluh Tama.
"Huh, siapa yang menyuruh mu mengeluarkan benda itu." Sang kakak perempuan bernama Rai tidak menunjukkan rasa bersalah.
Setelah lelucon, keduanya berjalan beriringan di rel kereta api yang sudah tidak digunakan lagi.
Tama berjalan sambil merentangkan tangan untuk menyeimbangkan badan dan berkata: "Kata nenek kemarin, harusnya ada disekitar sini."
"Kita sudah berjalan sekitar satu jam, kan? Ngomong-ngomong, siapa 'Orang putih' itu?" Tanya Rai sambil memandangi lingkungan yang sepi tanpa orang.
"Yang benar Penyihir Putih!" Tama mengoreksi, lalu menjelaskan pada kakak perempuannya yang terlihat tidak peduli.
"Nenek bilang, Penyihir Putih itu monster yang tinggal dekat sini. Katanya 'orang yang memelintir', 'penampakan manusia kutub selatan', dan 'manusia terbang:yang muncul tahun 2000an itu ulahnya. Biasanya dia baik hati dan sering mengabulkan permintaan orang yang menemuinya, tapi dia kalau dia marah... Dia akan memakan hati orang yang membuatnya marah."
"Hmm..."
"Hei, apakah kamu mendengar apa yang nenek katakan waktu itu?"
Tama kesal melihat ketidakpedulian kakak perempuannya.
"Bukankah itu terowongannya?" Rai menunjuk terowongan di kejauhan.
Keduanya bergegas ke terowongan tersebut.
__ADS_1
Berdiri di depan terowongan, keduanya terlihat takut.
Terowongan telah lama terlantar, dan tidak pernah digunakan.
"Terus, dari sini kita harus kemana?"
"Itu... Ke tembok yang kotor."
Tama memegang tangan Rai erat-erat, keberaniannya digantikan oleh ketakutan anak seusianya.
Memegang korek api, Rai menyinari dinding terowongan, dan gambar wanita menyeramkan seperti hantu terukir di dinding.
Awalnya, kedua berteriak ketakutan. Namun, Rai segera menemukan itu hanya kotoran yang menyerupai manusia.
"Tunggu sebentar, biar aku persiapkan ritualnya sebentar." Kata Tama, masih gemetar ketakutan, meski begitu dia tidak berbalik pulang.
"Memangnya perlu daun hydrangea?" Tanya Rai, melirik tindakan adik laki-lakinya.
"Katanya dia tertarik dengan aroma daun hydrangea yang segar..." Kata Tama sambil menyiapkan ritual.
Akhirnya, persiapan telah selesai tapi tidak ada terjadi. Hanya ada keheningan dan suara angin yang memasuki terowongan.
Rai menjadi tidak sabar dan mengajak adik laki-lakinya pulang.
"K-Kita tidak seharusnya lepas tangan saat melakukan ritual!" Teriak Tama panik.
"Ah?"
"Bukan malah 'ah'! Cepat pegang tangan ku lagi."
"Eh, tapi... Apakah ada daunnya yang pernah digigit?"
"Ku Ku Ku Ku Ku... Siapa itu~"
Suara wanita bergema di terowongan, yang membuat sepasang saudara kandung itu takut.
"Siapa... Yang membuat ku terbangun dari tidur ku...?"
Ekspresi Rai dan Tama seketika pucat saat melihat seorang wanita muncul di depan mereka.
Wanita itu mengenakan gaun panjang penuh yang sepertinya menutupi seluruh kakinya, memakai topeng kayu yang menyerupai tanaman mandrake dalam mitos, dan seluruh rambutnya bewarna putih.
"Apa yang kalian inginkan...?"
Selangkah demi selangkah, wanita itu berjalan mendekat.
"Uhh.. Ummm... Tama dan aku... Cuma jalan-jalan..." Kata Rai yang telah kehilangan keberaniannya.
"Tidak, bukan itu! Ummm, aku... Ingin... Kamu mengabulkan permintaan ku!!!"
Bahkan dalam situasi menakutkan, Tama bersikeras ingin keinginannya terkabul.
"Oh? Permintaan...? Kalau begitu, beritahu apa keinginan mu..." Tanya sosok wanita mengerikan itu.
"Iya! Aku ingin punya semua stempel premium seri 'Zombie Watch'" Kata Tama dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Aku... Umm... Aku ingin bisa dekat dengan Mochida-kun dari kelas..." Rai juga mengatakan keinginan terpendamnya.
Setelah diam sejenak, wanita menakutkan itu berkata: "Baiklah... Akan aku kabulkan permintaan kalian berdua... Tapi... Salah satu dari kalian... Harus mempersembahkan tubuh mu untuk aku makan."
"Eh!" Rai syok mendengar itu.
"Itu berbeda dari yang aku dengar sebelumnya!" Tama protes, lalu tanpa ragu mengorbankan kakak perempuannya.
"Kalau begitu, aku persembahkan pantat Rai-Nee."
"Le-Lelucon macam apa itu!!!" Rai tidak menyangka adik laki-lakinya begitu kejam.
Keduanya mulai berdebat sengit. Setelah itu, wanita menakutkan itu mulai tidak sabar dan mendesak mereka berdua.
"Cepat... Berikan padaku."
"Kalau begitu, aku persembahkan belalainya Tama!"
"Eh!?"
Rai menurunkan celana pendek adik laki-lakinya hingga ************ Tama terlihat jelas di wajah wanita menakutkan itu.
"Hyaaaaa!!!"
Wanita menakutkan itu menjerit histeris dan sosoknya menghilang.
Memanfaatkan kesempatan itu, Rai dan Tama berlari meninggalkan terowongan itu.
"Kenapa kau berhenti? Terus berlari!" Kata Tama.
Tidak mendengarkan kata adik laki-lakinya, Rai samar-samar melihat sosok wanita yang duduk di atas terowongan. Berbeda dari penampilannya yang menakutkan sebelumnya, wajah wanita itu sangat cantik.
Di sisi lain, wanita itu melihat keturunan dari temannya melarikan diri sambil bergumam menyesal.
"Aku belum berterima kasih atas daun hydrangea segar yang kalian berdua bawakan."
"Titipkan salam ku pada nenek kalian, oke?"
Setelah mereka berdua menghilang, wanita itu menyaksikan pemandangan Kota Shiyou dengan tatapan nostalgia.
Kenalannya perlahan menua dan meninggal, sementara dia tetap hidup. Meski begitu, dia tidak menyalahkan pria yang membuatnya hidup seperti ini, karena dia mencintainya.
"Apa itu?"
Wanita itu melihat benda bercahaya di rerumputan. Karena penasaran, ia melompat turun dan kesana.
Dia melihat benda berbentuk prisma tergelatak di tanah. Ada keinginan kuat didalam dirinya untuk mengambil benda itu.
"Klub Perdagangan Takdir?"
Ia heran kenapa ia bisa membaca tulisan di sana, padahal baru pertama kali ia tidak mengenali bahasa yang tertulis di sana.
Saat dia mengulurkan tangannya dan mengambilnya, tiba-tiba sebuah pintu emas muncul di hadapannya.
"Pintu apa ini? Apa mungkin pintu ini terkait dengan benda ini?"
__ADS_1
Setelah ragu-ragu untuk waktu yang lama, wanita itu memutuskan membuka pintu.
Catatan: Ada yang bisa tebak siapa itu cewek?