
Tim penyerang terdiri dari Ars, Saeko, Kohta, Takashi, Rei, dan Hisashi (Lin Fan). Mereka membersihkan zombie disekitar apartemen dalam rentang waktu tujuh menit.
Shizuka membuka pintu apartemen menggunakan kunci yang disembunyikan di bawah salah satu pot bunga.
(Sangat mudah ditebak.) Pikir Ars karena pikiran Shizuka terlalu sederhana.
“Ayo masuk, lepaskan sepatu kalian, jangan mengotori lantai. Dan juga, kamar mandinya cukup besar, siapa yang mau mandi bersama ku.”
Melepaskan sepatunya, Shizuka membanggakan rumah temannya.
“Kalau begitu aku menerima tawaran Sensei.” Saeko menjawab sambil tersenyum.
“Aku juga mau mandi, aku berkeringat seharian, semoga saluran airnya masih berfungsi.” Saya khawatir tidak ada air.
“Untungnya kita telah mengambil handuk di toko serba ada.”
Rei melihat anggota laki-laki memindahkan barang-barang yang mereka jarah ke dalam ruangan.
“Kalian mandi duluan, nanti giliran kami laki-laki.” Hisashi berkata seperti pria lurus.
“Ayo, aku sudah tidak tahah.”
“T-Tunggu Marikawa Sensei, jangan menarik ku!”
Mengabaikan protes Saya, Shizuka menariknya ke kamar mandi.
“Marikawa Sensei sangat riang.” Saeko menyusul keduanya.
“Aku duluan, Hisashi.” Rei berkata pada pacar laki-lakinya.
“Jangan pedulikan aku, nikmati waktu mu.” Hisashi melambaikan tangannya.
Membawa kardus, Takashi melihat interaksi dua sejoli itu, dan merasa dadanya sesak.
“Komuro, jangan menghalangi pintu.”
“Ah, maaf.”
Takashi memberi jalan untuk Kohta dan Ars lewat.
“Ada apa, Takashi, kamu terlihat melamun?”
“Tidak ada, mungkin aku hanya kelelahan. Daripada memperdulikan ku, lebih baik menghibur Rei. Dia pasti sangat mengkhawatirkan orang tuanya.”
“Tenang saja, Rei adalah pacar perempuanku, aku akan menjaganya dengan sangat baik.”
Hisashi menepuk pundak Takashi, dan mengambil barang di bagasi mobil.
(Huh, kamu bukanlah protagonis dunia ini, kamu tidak layak bersaing denganku. Rei dan heroine lainnya hanya layak menjadi wanita ku.)
Hisashi menyeringai lebar. Dia tidak sabar bersenggama dengan Rei, meski telah menyentuh tubuhnya, ia masih belum puas.
Disisi lain, Ars melihat interaksi kedua itu.
(Protagonis melawan protagonis. Mengingat Lin Fan mempunyai jari emas berupa sistem, Komuro Takashi tidak mempunyai peluang.)
Ars sangat terhibur dan menantikan apa yang akan terjadi di masa depan.
__ADS_1
“Apartemen yang sangat mewah, teman Marikawa Sensei pasti orang kaya.” Kohta mengenali banyak barang mahal, yang berada di ruangan itu.
“Aku ingin tahu apa pekerjaan pemilik apartemen ini.” Ars menanggapi.
Proses memindahkan barang diselesaikan dengan cepat.
Ars berdiri di balkon, menikmati hembusan angin malam, dan lingkungan sangat sepi.
“Masih ada beberapa orang hidup di beberapa rumah, tetapi mereka terlalu takut untuk keluar. Cepat atau lambat, pasokan makanan akan habis, dan mereka terpaksa keluar untuk mencari makanan.”
“Apa-apaan ini!”
Mendengar suara kaget Takashi, Ars berbalik dan melihat kedua pria itu menemukan kotak amunisi peluru.
Kohta dan Takashi terlihat sangat syok, hanya Hisashi terlihat cuek, karena dia sudah mengetahui hal itu.
“Yamaguchi-san, coba lihat ini.” Takashi memanggil Ars.
Ars mendatangi mereka, dan berpura-pura terkejut.
“Wow, ini amunisi asli. Siapa sebenarnya teman Marikawa-san, apakah dia penyelundup senjata api?”
“Kupikir teman Marikawa Sensei bekerja di bidang militer. Misalnya, seorang penembak jitu.”
Hisashi tidak setuju, dan mengatakan informasi yang sebenarnya.
“Mhm, mungkin kamu ada benarnya.” Ars mengangguk.
“Jika ada amunisi, maka ada senjata api! Teman-teman, bantu aku mencarinya. Selama aku mempunyai senjata api, itu akan meningkatkan peluang kita bertahan hidup.” Kohta berkata dengan mata berbinar.
“Komuro...”
Kohta terharu oleh kata-kata Takashi.
“Kamu bagian dari tim, kami pasti akan membantu mu.”
Tentu saja Hisashi tidak akan menolak, dia tahu betul kemampuan penguasaan senjata api Kohta sangat hebat. Meski dia ingin membangun harem, dia membutuhkan antek untuk melayaninya.
“Tidak perlu mencari, aku rasa senjata apinya tersimpan di sini.”
Ars berdiri di depan loker besi.
“Sial, ini terkunci.”
Takashi mencoba membuka pintu loker, tetapi gagal.
“Ayo cari kuncinya, mungkin ada disekitar sini.” Hisashi menyarankan.
Dia yakin bisa membuka paksa loker itu menggunakan tangan kosong, tetapi dia menyembunyikan kekuatannya dan ingin pamer di depan para gadis.
Mereka mencari ke berbagai sudut ruangan, tetapi tidak menemukan kunci loker. Takashi bahkan menanyakan tempat dimana kunci itu ditaruh pada Shizuka, tapi dia juga tidak tahu.
“Tidak ketemu, mungkin kuncinya dibawa pemilik apartemen ini.” Takashi menebak.
“Yamaguchi-san, apakah kamu bisa membuka loker ini tanpa menggunakan kunci?” Tanya Kohta.
Dari pengalamannya bersama instruktur menembak, tentara dan pasukan khusus memiliki kemampuan membuka sesuatu tanpa perlu kunci. Tapi polisi beberapa, kebanyakan mereka tidak bisa melakukan itu. Jadi, ia menanyakan apakah Ars bisa melakukannya atau tidak.
__ADS_1
“Aku bisa, lihat saja dari samping.”
Ars berlutut satu kaki di depan loker, hanya bermodalkan peralatan sederhana, tidak butuh waktu lama membuka loker.
“Sangat cepat! Sepertinya Yamauchi-san bukan polisi biasa.”
Ini pertama kalinya Takashi melihat adegan yang biasanya muncul di film terjadi di dunia nyata.
“Masalah kecil, tidak layak disebutkan.” Ars membuka pintu loker dan mereka melihat senjata api tertata rapi di dalamnya.
Ekspresi culun Kohat sontak berubah menjadi mengerikan dengan seringai lebar.
“Sudah kuduga ada!”
Mengambil salah satu senjata api, dia melakukan penyesuaian dan membuat pose membidik.
“Springfield M1A1 Super Match, huh... Ini semi auto. Yah, bagusan ini daripada M1R seris full-auto, yang boros peluru. Bahkan pelurunya bisa sampai 20, ini ilegal di Jepang!”
Takashi dan Hisashi tidak mengerti apa yang dikatakan Kohta, hanya Ars yang telah membaca ratusan buku senjata api di perpustakaan terbesar di Amerika Serikat, yang memahami omongannya.
Ars tidak hanya berdiri diam, melihat senjata api di depannya, dia juga mengambil satu.
“Knight’s SR-23 sniper riffle... Ini senjata yang cocok untuk ku.”
“Oh, Yamaguchi-san ternyata juga tahu senjata itu.”
“Jangan meremehkan polisi, Hirano-kun. Aku sedikit tahu tentang beberapa tipe senjata api.”
“Yamaguchi-san, kita akan bisa akrab.”
Kohta sangat senang menemukan orang yang mempunyai hobi yang sama.
“Mungkin.” Ars tersenyum tipis, lalu berkata: “Kalau begitu aku mengambil ini, sisanya terserah kalian mengatur pembagiannya. Aku mau mencoba lensanya dulu.”
Setelah mengatakan itu, Ars ke balkon, dan mencoba melihat melalui lensa.
“Lensanya dilengkapi penglihatan malam. Tidak buruk.”
Wanita mandi lebih lama dibandingkan pria, sambil menunggu mereka selesai mandi, Ars, Takashi, dan Hisashi membantu Kohta memasukkan amunisi ke magasin.
Ars susah tahu caranya, jadi Hirano hanya mengajari Takashi dan Hisashi.
Melihat ekspresi cemberut Hisashi, Ars bisa menebak mengapa orang itu kesal.
Protagonis dari Tiongkok sangatlah sombong saat memiliki kekuatan, mereka tidak suka diperintahkan orang lain. Lin Fan bersemayam di tubuh Hisashi, kepribadian angkuhnya perlahan terlihat.
“Kalian lakukan sendiri, aku harus melakukan sesuatu.”
Meletakkan shotgun, Hisashi pergi tanpa menunggu jawaban mereka.
“Ada apa dengan Igou, dia terlihat tidak senang.” Kohta berbisik.
“Entahlah, mungkin dia ingin kencing.” Takashi membuat alasan untuk temannya.
(Kepribadian yang sebenarnya mulai terungkap... Lagipula, kepribadian Hisashi adalah orang yang baik dan ramah. Sangat sulit bagi Lin Fan untuk terus meniru kepribadiannya. Aku mah tahu seberapa dia bisa memainkan peran sebagai Igou Hisashi.)
Sambil mengisi magasin, Ars tersenyum tipis.
__ADS_1