
Memeluk jasad Areishia dalam gendongan putri, Ars berjalan keluar dari portal yang menghubungkan Astral Zero dengan sebuah bukit yang terletak di perbatasan Kekaisaran Dracunia.
Mengikuti dibelakangnya adalah Restia dan Est.
"Ini adalah... Kampung halaman Ratu Suci?"
Mengamati sekeliling, Restia bisa melihat desa di kejauhan. Dibandingkan satu milenium yang lalu, populasi desa itu telah bertambah banyak.
"Ini tempat kesukaan Areishia."
Melihat bukit yang dipenuhi bunga di depannya, Est teringat momen mereka bertiga menjalani kehidupan yang damai.
"Ini akan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya."
Ekspresi dingin Ars berubah lembut saat melihat wajah damai Areishia.
*Gemuruh*
Tanah di depan mereka terbelah hingga membentuk lubang persegi panjang. Kemudian, berbagai jenis bunga indah secara ajaib tumbuh memenuhi lubang tersebut.
Tentu saja ini perbuatan Ars yang menggunakan Dao Penciptaan dan Dao Kehidupan dengan bantuan Kehendak Surga. Mustahil baginya untuk menciptakan makhluk hidup selayaknya dewa, tapi tidak masalah memanipulasi hal kecil seperti ini.
Jasad Areishia melayang ke udara, memasuki lubang, dan mendarat pelan di dalamnya.
"Areishia... Ini semua salah ku."
Melihatnya terbaring di tumpukan bunga, Est tidak bisa menahan kesedihannya dan mulai menangis.
"Jangan menyalahkan diri mu sendiri, Est. Areishia tahu menggunakan mu akan menyebabkan kematiannya, tapi dia tetap melakukannya. Ini keinginannya tanpa paksaan, dia pasti sedih melihat mu menangis."
Menepuk kepala Est, Ars mencoba menghiburnya saat air mata juga mengalir di sudut matanya.
"Jangan berpura-pura tegar, tidak ada orang selain kita di sini. Siapa bilang pria tidak bisa menangis? Jangan memendam perasaanmu, Ars. Kemarilah."
Berdiri di depan Ars, Restia merentangkan tangannya.
"Ugh... Hic..."
Karena perbedaan tinggi badan, Ars menurunkan lututnya ke tanah, lalu membenamkan wajahnya di dada Restia. Dia menangis dalam diam.
"Yosh Yosh Yosh... Lupakan semua kesedihan mu, Ars sudah melakukan yang terbaik."
Sambil membelai rambut Ars, Restia menghiburnya seperti seorang ibu.
Setelah 15 menit berlalu, suasana hati Ars agak membaik.
"Cintaku untukmu akan selalu ada, bahkan setelah kau pergi. Selamat tinggal, Areishia."
Menatap Areishia untuk terakhir kalinya, Ars melambaikan tangannya. Detik berikutnya, lubang perlahan-lahan menutup.
Menggunakan keterampilan bawaan Idaten, yaitu [Manifestasi Senjata]. Ars menancapkan salinan Pedang Suci Severian ke tanah sebagai batu nisan.
"Masih belum cukup."
__ADS_1
Ars sekali lagi menggunakan kekuatan Kehendak Surga.
Selanjutnya, formasi pelindung berbentuk oktagram menyelimuti seluruh bukit.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Restia.
"Ini adalah pelindung yang akan melindungi makam Areishia. Pelindung ini akan bertahan hingga dunia ini berakhir atau seseorang lebih kuat dariku menghancurkannya." Ars menjawab.
Dia tidak ingin ada orang yang merusak makam itu ketika dia telah meninggalkan dunia ini. Selain itu, Ars juga memberkati semua bunga yang ada di bukit tersebut agar tidak pernah layu selamanya.
"Kalian berdua kembali ke Segel Roh." Kata Ars.
"Baiklah."
Restia mengangguk, lalu berubah menjadi cahaya hitam dan masuk ke Segel Roh di tangan kiri Ars.
Menatap makam Areishia, Est tidak berkata-kata apa dan juga kembali ke Segel Roh di tangan kanan Ars.
"Ayo penuhi janji ku sebelum pergi."
Kemunculan formasi pelindung tersebut begitu mencolok hingga menarik perhatian warga desa yang datang untuk melihatnya.
Meskipun Ars telah tinggal di desa tersebut, dia tidak berniat menyapa siapapun. Bagaimanapun, warga desa yang dikenalnya telah lama meninggal.
Mengabaikan mereka, dia membuka portal dan berjalan masuk.
"Oh, kamu masih hidup. Kupikir kamu sudah pergi, mengingat kamu belum menunjukkan kehadiranmu di dunia selama satu milenium."
Begitu Ars melewati portal, dia disambut oleh seorang gadis telanjang yang diikat oleh akar pohon, yang menatapnya sambil tersenyum.
"Um, benar-benar terlalu lama. Tampaknya kamu datang dengan tangan kosong kali ini."
Bahamut agak kecewa melihat Ars tidak membawa kue. Meski begitu, dia tidak menunjukkannya.
"Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada Areishia Idriss."
"Um." Ars mengangguk.
Menciptakan kursi dan meja melalui Dao Penciptaan, dia menaruh berbagai macam kue yang diambil dari [Storage Magic].
*Gulp*
Melihat kue di depannya yang terlihat lezat, Bahamut menelan ludahnya dengan keras dan air liur mengalir di sudut mulutnya. Namun, yang paling mengejutkannya adalah kutukan yang telah mengikatnya selama ribuan tahun dihancurkan oleh Ars hanya dengan lambaian tangannya.
Karena tidak siap, Bahamut mendarat di tanah dengan wajahnya terlebih dahulu. Sebagai Raja Naga, dia tidak terluka sama sekali.
Menatap dirinya yang telah terbebaskan, dia masih tidak dapat mempercayainya.
"Jangan hanya linglung, cepat kenakan pakaianmu, atau kamu lebih suka telanjang?"
"Ars, bagaimana kamu melakukannya?"
Bahamut tidak peduli tubuh bugilnya dilihat, lagipula ini bukan pertama kalinya Ars melihatnya.
__ADS_1
"Dengan lambaian tangan ku."
"Aku juga tahu itu, yang aku maksud metode mu."
"Sederhananya, kutukan itu tidak bisa menahan kekuatan ku dan hancur. Apa itu memuaskan mu?"
"Seberapa kuat sebenarnya kamu, Ars?"
"Hmm... Bahkan Tuan Elemental Cahaya terbunuh oleh ku."
"Benarkah?"
Mendengar itu, Bahamut tercengang. Dia tahu betapa kuatnya Tuan Elemental, khususnya Tuan Elemental Cahaya, yang terkuat diantara Tuan Elemental lainnya.
"Bukankah kamu ingin makan kue? Cepat makan sebelum rasanya berkurang."
"Ah, oke."
Kekuatan Ilahi menyelimuti Bahamut, lalu pakaian indah tiba-tiba muncul di tubuhnya. Duduk di kursi kosong, dia mulai mencicipi kue satu per satu di atas meja.
"Woah, ini sangat manis~. Ini pertama kalinya aku makan kue selezat ini."
Kebahagiaan terlihat jelas di wajah Bahamut. Tak hanya lolos dari kutukan, ia juga memakan kue pemberian Ars.
"Nyam nyam nyam... Kamu bilang kamu membunuh Tuan Elemental Cahaya, apa alasannya?" Bahamut bertanya.
"Semuanya bermula... Bla Bla Bla..."
Ars tidak menyembunyikan apapun, dia menjelaskan sebab dan akibat tindakannya.
Setelah mendengar ceritanya, Bahamut merasa marah.
"Hmph, Alexandros pantas mati. Bajingan itu menggunakan Areishia sebagai wadahnya dan juga membuka gerbang agar Kegelapan Dunia Lain tiba ke dunia ini."
Disisi lain, Ars mulai merokok.
Mengembuskan asap, dia memberikan peringatan.
"Bahamut, secepatnya kamu harus memilih pewaris mu untuk mengambil alih Kekaisaran Dracunia."
"Mengapa?"
"Karena dunia akan memasuki periode kekacauan."
"Periode kekacauan? Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan, Ars?"
Bahamut menyipitkan mata, firasat buruk muncul dihatinya.
"Huffff... Roda selalu berputar, sudah terlalu lama perempuan menjadi hegemoni dunia. Sudah saatnya para pria mengambil peran sebagai hegemoni." Ars berkata acuh tak acuh.
Selama milenium terakhir, hanya ada sedikit kemajuan dalam peradaban. Dunia mengalami stagnasi dan tetap berada di era abad pertengahan.
Para wanita yang berkuasa tidak pernah berkembang dan berinovasi, mereka terlalu konservatif.
__ADS_1
Minum teh, jamuan makan, berbelanja, menindas pria, dll. Mereka sama sekali tidak peduli dengan ilmu pengetahuan.
Sebelum memulai perjalanan selanjutnya, Ars ingin mengubah tatanan dunia ini.