Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Taketori Monogatari


__ADS_3

Hukum poligami di Jepang diubah menjadi monogami pada tahun 1947, setelah Perang Dunia II. Perubahan ini dilakukan sebagai bagian dari reformasi hukum yang bertujuan untuk mengadopsi nilai-nilai Barat, termasuk kesetaraan gender dan hak asasi manusia.


Jepang Zaman Heian masih menerapkan poligami. Poligami adalah praktik memiliki lebih dari satu pasangan suami atau istri pada saat yang bersamaan. Di Jepang periode Heian, poligami diizinkan untuk pria, tetapi tidak untuk wanita.


Jadi tidak ada yang merasa aneh saat melihat satu orang pria berjalan bersama tiga wanita disaat bersamaan.


Mereka adalah Ars yang mengajak Restia dan Est, plus Rea jalan-jalan.


Untuk menghindari menarik perhatian, Ars memasang ilusi pada dirinya dan para gadis.


Dari sudut pandang orang luar, ia tampak seperti pria feodal yang sedang berjalan dengan istri dan selirnya.


"Woah, semuanya terlihat tradisional dan kuno."


Melihat lingkungan sekitarnya, Rea merasa sedang melakukan wisata sekolah di kyoto.


"Bagaimanapun ini adalah tahun 935. Biasakanlah diri mu." Ucap Ars.


"Dimengerti bos."


"Um."


Mungkin karena dia telah mengasingkan diri dari masyarakat terlalu lama, Rea merasa nyaman di keramaian. Apalagi, tidak ada yang mempertanyakan penampilannya.


"Ngomong-ngomong, tempat ini benar-benar biasa dibandingkan dunia asal ku. Hanya ada manusia biasa." Restia berkomentar, mendongak menatap Ars, dan bertanya: "Ars, kamu yakin takdir menuntun mu ke dunia ini?"


Setelah tiga bulan disini, ia belum menemukan keberadaan supernatural lainnya.


"Tentu saja. Tidak mungkin aku salah." Ars menjawab penuh keyakinan.


"Ars sebelumnya mendatangi dunia yang salah." Est berkata tanpa maksud menyindir.


"Cough Cough... Oke, aku akui sebelumnya kesalahan teknis. Lagipula, itu pertama kalinya aku mencoba kemampuan Kitab Suci Takdir. Jangan khawatir, kita berada di dunia yang tepat."


Untuk menutupi rasa malunya, Ars mengusap rambut perak Est hingga membuatnya nyaman.


Karena tidak memiliki tujuan spesifik, mereka berempat berjalan-jalan mengunjungi banyak tempat.


Meskipun Ars dan rombongannya telah tiba di dunia ini tiga bulan yang lalu, ia belum meninggalkan toko sekali pun. Baginya yang memiliki [Divine Sense] untuk melihat segala sesuatu di ibukota, tidak perlu berjalan-jalan.


Tapi sekarang berbeda, toko memiliki penghuni baru, yaitu gadis zombie yang naif, Sanka Rea.


Memang benar Rea bekerja sebagai pembantu, tapi Ars tidak membatasi kebebasannya. Merasa waktunya tepat, dia mengajak ketiga gadis itu berkeliling Kyoto.


Melirik Rea dibelakang, Ars berkata padanya: “Jika ada sesuatu yang kamu minati, jangan ragu untuk memberitahuku. Setidaknya aku tidak kekurangan uang.”


"Bos tidak perlu membeli apa pun untuk ku. Bagaimanapun, fungsi fisiologis tubuh ku sudah lama tidak berfungsi. Aku tidak butuh apa pun." Rea mengatakan sesuatu yang menyedihkan sambil tersenyum.


"..."


Melihat kimono putih Rea yang sudah usang, Ars memutuskan untuk membelikannya kimono baru.


Dia tidak memberitahunya agar gadis itu tidak menolak. Memegang tangan Restia dan Est, Ars menemukan toko pakaian melalui [Divine Sense].

__ADS_1


Dalam jangkauan [Divine Sense], tidak ada yang tidak bisa dilihatnya. Dia bahkan melihat lokasi paling dijaga ketat, yaitu Istana Kekaisaran. Saat ini, Kaisar Suzaku sedang bercocok tanam di tempat tidur bersama dua wanita.


"Ikuti aku." Kata Ars singkat.


"Mau kemana?" Tanya Restia pemasaran.


"Nantikan saja."


Tanpa memberikan jawaban, Ars tersenyum tipis.


Setelah 10 menit berjalan kaki, mereka tiba di toko pakaian.


"Selamat datang."


Begitu masuk toko, Ars disambut ramah oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik toko.


"Aku ingin kamu membuatkan satu set kimono untuknya."


Berbicara dengan pemilik toko, Ars menunjuk Rea dibelakangnya.


"Eh?" Rea kaget mendengar itu, lalu dia menggelengkan kepalanya dan menolak.


"Tidak perlu, bos. Kimono ku masih cukup bagus. Aku tidak perlu yang baru."


"Jangan menolak. Ini perintah." Ars berkata dengan dominan dan tidak peduli dengan penolakannya.


"Tapi—"


"Cukup!"


"Tunjukkan kain berkualitas terbaik milik mu."


"Ah, baiklah."


Pemilik toko tercengang melihat interaksi aneh mereka, setelah mendengar perkataan pemuda di depannya, ia bersemangat.


Kemudian dia menunjukkan berbagai macam kain yang di pajang di lemari.


Meski disebut toko pakaian, namun lebih tepat disebut toko jahit. Jika seorang wanita ingin membeli kimono baru, mereka harus memilih bahan yang disediakan oleh toko dan kemudian bahan tersebut dijahit menjadi kimono.


Tidak ada toko yang menjual kimono siap pakai, namun harus dipesan terlebih dahulu.


"Kamu mau juga, Restia?"


Melihat Rea memilih bahan kimono, Ars bertanya pada Restia.


"Lupakan saja. Pakaian bernama kimono ini terlihat menyulitkan saat berjalan. Jika aku mau, aku bisa menggunakan Kekuatan Ilahi saya untuk menciptakannya."


"Jadi begitu. Bagaimana dengan mu, Est? Kamu tertarik?"


Kemudian Ars menatap Est disebelah kanannya.


"Tidak. Aku menyukai pakaian ku." Jawab Est sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Kedua Roh Senjata tersebut tidak menyukai estetika berpakaian Jepang di Zaman Heian.


"Bos, aku sudah selesai. Kata pemilik toko, kimono-nya akan selesai dalam waktu seminggu." Rea datang dan memberitahu Ars.


"Apa ini cukup?"


Ars mengeluarkan sebatang emas seberat 100 gram ke tangan pemilik toko.


"I-Ini emas?" Tanya pemilik toko tak percaya dengan suara gemetar.


"Apa? Tidak cukup?"


"Tidak, tidak, tidak. Ini lebih dari cukup. Tunggu sebentar, pelanggan. Aku akan mengambilkan uang kembaliannya."


"Tidak perlu. Ambil saja. Minggu depan aku akan kembali."


Setelah mengatakan itu, Ars dan para gadis meninggalkan toko dengan sikap menyanjung pemilik toko.


(Tidak peduli dunia mana, emas tetap merupakan benda berharga universal) Pikir Ars.


"Ars, aku ingin makan itu?"


Est tiba-tiba berhenti dan menunjuk sebuah tempat makan.


"Tentu, ayo kesana."


Jarang bagi Est menunjukkan keinginannya, Ars setuju tanpa ragu.


Setelah masuk, ia baru mengetahui itu restoran tahu mochi.


Karena ini bukan jam makan siang, hanya ada beberapa pelanggan di restoran.


"Paman, aku pesan empat porsi tahu mochi."


Setelah duduk, Ars memesan.


"Dimengerti, akan segera datang." Ucap pemilik toko yang merupakan pria kekar.


Saat sedang menunggu, Ars mendengar percakapan dua pria, yang menarik perhatiannya.


"Hei, apa kamu sudah dengar, Okina-san menemukan bayi perempuan dari dalam bambu!" Ucap Pria A.


"Ini masih siang hari, kamu terlalu banyak minum." Pria B tidak percaya.


"Omong kosong! Aku tidak mabuk! Yang aku katakan benar. Bukan hanya aku, tapi kabar ini telah menyebar ke seluruh kota dan banyak orang yang ke rumah Okina-san untuk mengkonfirmasi kebenaran kabar tersebut." Pria A tersinggung dianggap mabuk oleh temannya.


"Benarkah? Menemukan bayi di dalam bambu, itu tidak mungkin. Coba beritakan lebih jelas." Pria B mulai ragu.


"Seperti yang kamu tahu, Okina-san adalah penebang bambu yang terkenal baik hati dan mudah akrab dengan siapapun. Tiga hari lalu, dia sedang menebang bambu di hutan seperti biasa. Tiba-tiba, ia melihat cahaya dari salah satu bambu. Ia menebang bambu tersebut dan menemukan seorang bayi perempuan di dalamnya. Bayi itu sangat kecil, hanya sebesar ibu jari."


"Okina-san dan istrinya, Ouna-san, sangat senang dengan kelahiran bayi tersebut. Karena keduanya tidak memiliki anak, mereka memutuskan merawatnya dan menamai bayi perempuan tersebut Kaguya."


Pria A menceritakan kabar yang dia dengar dari orang lain.

__ADS_1


(Penebang bambu... Kaguya... Kalau tidak salah, ini adalah Taketori Monogatari?) Pikir Ars dalam benaknya.


Pikirannya terganggu oleh pesanan makanan yang tiba, mengesampingkan masalah ini, ia mulai makan bersama ketiga gadis yang terdiri dari dua Roh Pedang, dan satu zombie.


__ADS_2