Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Akhir Tragis Para Pahlawan


__ADS_3

"Apakah bangsawan Kerajaan Ordesia hanya tahu bagaimana berbicara buruk di belakang punggung orang lain?"


Suara pemuda menyela para bangsawan yang mencoba mempengaruhi pola pikir Areishia.


Ketika Olivia Laurenfrost dan yang lainnya berbalik, ekspresi angkuh mereka berubah menjadi jijik disertai rasa takut.


Mengenakan setelan formal, Ars menatap para bangsawan itu dengan ekspresi muak.


"Masih ada yang harus aku lakukan, aku mohon pamit, Ratu Suci."


"Ah, aku sedikit mabuk. Aku mau mencari udara segar."


"Kepalaku pusing, aku mau beristirahat disana."


Satu per satu para bangsawan meninggalkan Areishia saat Ars mendekat.


Tidak peduli seberapa rendah mereka memandang rendah Ars, kekuatannya tidak dapat disangkal. Mereka telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa kuatnya kekuatannya.


Bahkan jika semua Elementalist dan Putri Gadis (Princess Maiden) di Istana Nefescal bekerja sama melawan Ars, mereka tidak percaya diri untuk memenangkan pertempuran.


Justru karena Ars kuat, mereka takut padanya. Mereka takut dia akan menjadi Raja Iblis Solomon dan akan mengubah keseimbangan dunia.


Jika di masa depan bisa menjadi Elementalis seperti Solomon dan Ars, para wanita khawatir mereka tidak akan lagi menikmati status sosial yang tinggi seperti sekarang.


"Kakak Ars, kamu datang. Coba ini, rasanya lezat."


Memegang sepiring tumis daging bebek, Areishia ingin menyuapi Ars.


Ars membuka mulutnya dan memakan daging bebek itu.


"Tidak buruk."


"Kakak Ars selalu mengatakan itu... Padahal, menurutku cukup lezat."


Memasukkan daging bebek ke dalam mulutnya, Areishia terlihat sangat menikmatinya.


"Makanan di sini tidak sebagus makanan yang kamu buat, Areishia."


"Benarkah? Makanan ku biasa-biasa saja. Kakak Ars tidak perlu berbohong agar aku senang, lho."


Areishia sama sekali tidak percaya pada pujian Ars.


Bagaimana bisa masakannya lebih enak dari masakan koki istana Kekaisaran Ordesia? Apalagi ia memasak dengan bahan dan bumbu ala kadarnya.


"Aku tidak berbohong. Bagiku, masakan Areishia berkali-kali lipat lebih enak dari koki lain karena kamu hanya memasak khusus untukku. Berbeda dengan koki yang memasak untuk semua orang."


Setelah hidup lebih dari satu milenium, kemampuan Ars untuk membual telah mencapai puncaknya.


"Fufu, kakak Ars terlalu berlebihan, tapi aku senang mendengarnya."


Menutup mulutnya, Areishia tertawa kecil.


"Ngomong-ngomong, dimana Est?" Ars tidak melihat sosok gadis kecil berambut perak disekitar.

__ADS_1


"Est tidak mau keluar. Dia tidak terlalu menyukai berinteraksi dengan para bangsawan."


Areishia tersenyum kecut sambil membela Segel Roh di punggung tangannya.


"Kebetulan sekali, aku juga tidak menyukai mereka."


Mengambil segelas sampanye dari pelayan laki-laki yang lewat. Ars mengosongkan isi gelar dalam sekali teguk.


"Kakak Ars, mereka—"


Areishia tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu konflik antara para bangsawan dan Ars. Lebih tepatnya, para bangsawan sangat memusuhi dan membenci Ars.


Sejujurnya, dia tidak suka melihat mereka menjelek-jelekkan Ars di depannya. Namun, tidak peduli bagaimana Areishia mencoba mengubah pandangan para bangsawan terhadap Ars, itu sia-sia.


"Jangan katakan apa-apa lagi, Areishia. Ini bukan salah mu, jangan merasa terbebani rasa bersalah."


Ars menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi ketidakpedulian.


Jika dia mau, dia bisa menjadikan seluruh dunia sebagai musuhnya seperti Raja Solomon. Bagaimanapun, meski sebagian kekuatannya masih terkunci, hanya mengandalkan ketangguhan Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan Ranah Empyrean dan Eternal Mangekyo Sharingan, dia hampir tidak terkalahkan di dunia ini.


Dia rela menerima tatapan merendahkan dan penghinaan dari para bangsawan itu karena tidak ingin Areishia sedih.


Ars tahu betapa baiknya hati Areishia, tidak berlebihan jika menyebutkan sebagai orang suci.


*🎶🎶🎶*


Alunan melodi lagu berubah, para tamu yang hadir mulai berdansa dengan pasangan masing-masing.


Ars tidak terlalu tertarik untuk berdansa, tapi melihat Areishia menatapnya dengan penuh arti, dia menghela nafas dalam hatinya.


"Maukah kamu berdansa denganku?"


"Aku? Tapi aku tidak bisa berdansa."


Meskipun Areishia sangat ingin berdansa dengan Ars, tapi dia tidak tahu cara berdansa, mengingat dia hanya seorang gadis gembala empat bulan lalu.


"Kalau begitu, aku akan mengajarimu!”


Ars belajar banyak keterampilan biasa selama tinggal di Dunia [Dr. Stone] untuk menghabiskan waktu luangnya.


"Jika kakak Ars baik-baik saja dengan ku, maka aku mengandalkan mu.”


Areishia mengeluarkan suaranya dengan gembira.


Ars dengan lembut memegang tangan anggun Areishia yang ditutupi oleh sarung tangan putih.


“…I-Ini adalah tangan kakak Ars….”


Areishia tersipu.


Kemudian mereka berdua mulai berdansa dibawah tatapan orang-orang disekitarnya. Lagipula, Areishia adalah pusat perhatian pesta ini, setiap tindakannya akan menarik perhatian.


...

__ADS_1


Pesta itu berlangsung selama dua jam, sekitar jam 11 malam, para tamu yang hadir mulai pulang.


Setelah mengucapkan selamat tinggal pada anggota keluarga Kekaisaran Ordesia, Areishia kembali ke kamarnya di temani Ars dan dua ksatria wanita yang mengikuti dibelakang.


Berjalan melewati lorong panjang yang dilapisi karpet merah dan dekorasi mewah, Ars tiba-tiba bertanya: "Nah, Areishia, apakah kamu benar-benar ingin menjadi pahlawan?"


Areishia menggelengkan kepalanya dan menjawab jujur: "Aku sama sekali tidak berniat menjadi pahlawan. Jika aku bisa menyelamatkan semuanya, aku akan melakukannya."


Melihat tatapan tegasnya, Ars tahu tidak ada gunanya membujuknya menyerah.


"Kamu bukan pejuang pemberani atau tokoh utama dalam cerita. Pada akhirnya, kamu hanyalah gadis biasa... Jangan merasa bertanggung jawab atas semua kejadian malang di dunia ini, mengerti, Areishia?'


Ars benar-benar tidak ingin Areishia menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia. Lagipula, akhir dari para pahlawan tidak seindah di dongeng.


Di reinkarnasi kelima, dia menjadi pahlawan yang menerima berkah dewa dan dewi, lalu mengalahkan Raja Iblis. Namun, apa yang diterimanya hanyalah akhir yang tragis.


Raja kerajaan manusia takut pada kekuatannya dan memfitnah dengan segala macam hal buruk sehingga dia menjadi musuh umat manusia. Pada akhirnya, Ars di eksekusi di depan orang-orang yang pernah dia lindungi.


Dengan kata lain, pahlawan di era damai sudah tidak lagi berguna, sebaliknya mereka adalah ancaman terhadap umat manusia itu sendiri.


Sebagian besar para pahlawan akan menemui akhir tragis. Ars tidak ingin Areishia mengalami hal itu


"Um, aku tahu. Aku tidak pernah menganggap diriku sebagai pahlawan." Areishia menjawab sambil tersenyum ceria.


(Aku harap kamu bisa terus mempertahankan senyuman murni mu di masa depan, Areishia.) Pikir Ars.


Setelah sampai di kamar Areishia, Ars kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar, Areishia melemparkan dirinya yang lelah ke kasur, tiba-tiba Est keluar dari Segel Roh dan muncul.


"Est, kamu akhirnya keluar. Aku merindukan mu."


Areishia langsung mengelus kepala Est.


"Nyonya, mengapa kamu berjuang untuk orang-orang ini?"


ini adalah pertama kalinya Est merasakan keingintahuan apa pun terhadap hal-hal seperti itu. Khususnya setelah mendengar percakapan Ars barusan.


"Karena ini adalah sesuatu yang hanya bisa kulakukan, karena itu aku harus berjuang."


"Aku tidak mengerti maksud Nyonya. Tapi karena aku adalah pedang mu, aku akan melakukan permintaan mu, Nyonya."


"Est... Jangan mengatakan hal yang menjengkelkan seperti itu, lagipula kamu adalah satu-satunya temanku."


"Teman? Bagaimana dengan Ars?"


"Kakak Ars... Dia spesial."


Est mengangguk tanpa ekspresi.


Namun, orang bisa mengamati sedikit kebingungan di wajahnya.


Dalam hatinya muncul kedipan yang sangat kecil, sesuatu seperti emosi.

__ADS_1


__ADS_2