
Duduk bersila di atas batu besar, Ars memejamkan mata dan membiarkan air terjun menerjang tubuhnya.
Dia sedang bermeditasi demi memahami esensi teknik yang ingin dipelajarinya.
Idaten tidak membutuhkan makan, minum, tidur, bernafas, ekskresi, dan fungsi fisiologis manusia lainnya. Plus, mereka tidak pernah lelah dan memiliki energi yang tidak terbatas.
Sudah lebih 10 tahun dia bermeditasi disini.
Agar Rin tidak mencarinya, Ars telah memberitahunya meditasi yang ingin dilakukannya dan ia setuju.
Rin juga pernah bermeditasi melatih mentalnya, jadi ia tidak keberatan Ars pergi selama beberapa tahun dan ia fokus melatih Prontea.
"Apa itu ruang?"
"Ruang adalah kontinum tiga dimensi yang mengandung posisi dan arah. Dalam fisika klasik, ruang fisik sering dipahami dalam tiga dimensi linier."
"Fisikawan modern biasanya menganggapnya, dengan waktu sebagai bagian dari kontinum empat dimensi tanpa batas yang dikenal sebagai ruang waktu."
Ars masih memejamkan matanya dan berbicara sendiri tentang pemahaman yang ia pahami.
"Ruang itu sendiri adalah bentukan energi. Itu dapat mendominasi dan menciptakan kehidupan, dan juga dapat mendominasi dan memusnahkan kehidupan. Ketika diringkas menjadi ekstremitas, itu akan terdistorsi. Itu akan menahan semua yang ada di dalamnya seperti gravitasi, mencegah apapun untuk keluar."
"Jadi seperti itu... Aku mengerti sekarang."
Membuka kelopak matanya, kilatan inspirasi terlihat di mata Ars.
"Ha Ha Ha... Akhirnya aku berhasil! Setelah berlatih 50 tahun berlatih tanpa henti siang dan malam, aku telah menguasai Teknik Tak Terbatas (Limitless) Keluarga Gojo."
Ia tertawa terbahak-bahak dan sangat gembira karena kerja kerasnya membuahkan hasil.
"Setelah menguasai Teknik Tak Terbatas, pemahaman ku tentang ruang telah meningkat drastis. Kini bukan hal mustahil pergi ke dunia lain."
"Senior sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik, apakah sesuatu yang baik terjadi?"
Tiba-tiba ada orang lain menyela dialog Ars.
"Oh, ternyata Prontea. Lama tidak bertemu, kamu tidak pernah berubah."
Karena terlalu fokus, Ars tidak menyadari kedatangan pihak lain.
Prontea berdiri di atas permukaan air dan bertanya penasaran: "Pelatihan mu berhasil?"
"Iya."
Ars berdiri, menjentikkan jarinya, dan sebuah portal muncul di depan mereka.
"Wow, apa ini?"
"Ayo masuk."
Dia tidak memberikan penjelasan dan berjalan masuk ke portal.
Prontea tidak khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya dan memasuki portal. Begitu melewati sisi lain portal, ia kaget telah muncul di pulau tempat Rin menjaga segel yang menyegel Iblis berada.
"Ini hebat! Senior, aku juga ingin belajar kemampuan ini."
Lokasi air terjun dan pulau ini berjarak puluhan ribu kilometer, untuk dapat berpindah hanya dengan menjentikkan jari, Prontea sangat kagum.
"Ini tidak layak disebut, ini hanya kemampuan kecil dari Teknik Tak Terbatas."
Dipuji oleh juniornya, Ars merasa agak malu.
"Masih ada yang lebih hebat? Aku ingin lihat!" Prontea berkata bersemangat.
__ADS_1
"Baiklah, coba sentuh tangan ku." Ars mengangkat tangan kanannya.
"Seperti ini... Eh?'
Mengikuti arahan seniornya, Prontea mencoba menyentuh tangan Ars, tetapi ia merasa seperti ada lapisan tipis tak kasat mata yang menghalanginya.
"Kamu tidak bisa menyentuh ku, bukan? Ini adalah Ketidakterbatasan (Infinity). Teknik Tak Terbatas beroperasi dengan cara yang sama seperti barisan konvergen dan divergen dalam matematika. Ketidakterbatasan adalah konvergensi dari rangkaian yang tak terukur, apa pun yang mendekati ketidakterbatasan akan melambat dan tidak pernah mencapai pengguna."
Melihat ekspresi bingung Prontea, Ars menyederhanakan penjelasan, bahkan orang biasa bisa mengerti.
"Sederhananya, teknik ini mengambil jumlah ruang yang terbatas antara dua subjek dan membaginya dalam jumlah yang tidak terbatas. Meski tangan ku terlihat dekat, tetapi sebenarnya dipisahkan oleh jumlah tidak terbatas."
Ini hasil latihan Ars selama lebih 50 tahun dalam upaya meniru kemampuan Gojo Satoru.
Karena ia tidak mempunyai Mata Enam (Six Eyes) dan formula Teknik Tak Terbatas warisan Keluarga Gojo, ia harus memulai dari dasar.
Entah berapa kali ia terbunuh karena kesalahan saat berlatih. Jika bukan karena ia abadi, Ars tidak berani mencoba melakukan ini.
"Kamu mengembangkan kemampuan aneh lainnya, Ars."
Entah kapan Rin muncul di depan mereka berdua.
"Ah, Rin. Aku membawa senior seperti yang kamu minta."
Tubuh Prontea menjadi kaku, berbalik dengan badan gemetar dan ekspresinya terlihat tidak wajar.
Faktanya, ia menghormati sekaligus takut pada Rin setelah menjalani pelatihan tidak manusiawi.
Prontea tidak mempunyai ketabahan seperti Ars, yang tetap acuh meski telah dimutilasi oleh Rin tiap kali pelatihan.
"Kamu mencari ku, Rin?" Tanya Ars.
"En, mari uji kekuatan tempur mu dulu, sejauh mana perkembangan mu setelah meditasi."
"Kalau begitu aku permisi."
Melihat pertempuran akan dimulai, Prontea bijak pergi dan menonton dari jauh.
"Kamu bisa menyerang duluan, Rin." Ars tersenyum percaya diri.
"Oh, kamu menjadi sangat berani."
Sosok Rin menghilang dan dalam sekejap mata ia muncul di depan Ars dan memukulnya.
*BOOM*
Terdengar suara ledakan, gelombang kejut pukulan itu meniup debu puluhan meter dibelakang Ars.
"Tidak terluka? Menarik."
Rin menemukan pukulan itu tidak mengenai Ars, dan malah menghantam penghalang tipis tak terlihat.
*BOOM BOOM BOOM*
Rentetan pukulan membombardir Ars, tapi ia berdiri di tempatnya tanpa mundur satu langkah pun berkat Ketidakterbatasan.
Tiap pukulan Rin akan terbagi tak terhingga ini akan melambat hingga tampak berhenti total.
"Aku harus meminta senior mengajari ku!"
Menonton di kejauhan, mata Prontea berbinar melihat serangan Rin tidak efektif.
Sebelumnya, ia dan Ars selalu dipukuli sampai mati, ini telah meninggalkan trauma mendalam padanya. Sekarang, Ars berhasil selamat dibawah pemukulan Rin, Prontea sangat kagum.
__ADS_1
"Tidak buruk, kamu mempelajari kemampuan yang bagus."
Untuk pertama kalinya Rin memuji hasil penelitian Ars.
Ini tidak seperti ia belum melihat kemampuan aneh yang dikembangkan Ars. Hanya saja, ia menganggap semua kemampuan itu tidak layak.
"Mari kita lihat, apakah kamu bisa menahan serangan ini."
Tiba-tiba sebuah perang muncul di tangan Rin.
Ini adalah [Manifestasi Senjata] dan merupakan salah satu kemampuan Idaten yang bisa digunakan setelah menjalani pelatihan sampai tingkat tertentu.
"Ayo, aku juga ingin menguji batas Teknik Tak Terbatas." Kata Ars.
Dia percaya tidak ada teknik tidak terkalahkan, itu hanya berarti belum ada kekuatan yang cukup kuat untuk menghancurkan teknik tersebut.
Ia ingin tahu daya tahan Teknik Tak Terbatas dibawah serangan Rin, yang Ars anggap individu terkuat yang ditemuinya sejauh ini.
*Slash*
Rin mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah.
Tebasan tak terlihat menghantam Ars.
"Cough."
Ars memuntahkan seteguk darah.
"Tebasan itu bisa memotong sebuah kota manusia. Kamu hanya sedikit terluka, kamu sudah bertambah kuat, Ars."
Hasil ini membuat Rin terharu, ia terlihat seperti seorang ibu yang melihat putranya wisuda setelah sekian lama kuliah.
"Tampaknya Ketidakterbasan masih belum sempurna."
Ars mengusap darah di mulutnya, ia tidak terkejut penghalang tak terlihatnya berhasil dipatahkan oleh Rin. Lagipula, ia baru saja memahami Teknik Tak Terbatas dan belum terbiasa, malahan hasilnya cukup bagus karena mampu menahan satu ayunan pedang dari Rin.
"Kerja bagus, Ars. Kamu telah menjadi Idaten yang dewasa, kamu yang sekarang tidak akan kalah melawan Iblis." Rin tersenyum tipis.
"Itu berarti..."
Ars memahami implikasi dibalik kalimat itu.
"En, mulai hari ini kamu telah lulus dari pelatihan mu."
"Terima kasih banyak, Rin. Meski pelatihan mu kejam dan tanpa ampun, aku menjadi kuat karena dirimu adalah kebenaran tak terbantahkan. Untuk semua usaha mu selama 200 tahun ini, aku sangat bersyukur dari lubuk hati ku yang terdalam."
Ars menundukkan kepalanya seperti kebiasaan orang Jepang.
"En, aku menerima rasa terima kasih mu."
Rin membantu Ars bangun.
"Prontea, karena pelatihan Ars telah selesai, aku akan meningkat intensitas pelatihan mu."
Melihat Prontea di kejauhan, Rin berkata.
"Tidak!!!"
Mengetahui pelatihannya semakin lama, Prontea berteriak ke langit dengan sedih.
Disisi lain, Ars merasa geli melihat kelakuan Prontea.
"Target selanjutnya, perjalanan ke dunia lain." Gumamnya pelan.
__ADS_1