
Melihat keluar jendela, Ars menemukan semakin sedikit orang terlihat.
(Menarik, bocah ini membawaku ke tempat sepi, apa tujuannya sebenarnya?)
Mengetahui pihak lain merancang skema untuknya, itu tidak membuatnya gentar, dan malah membangkitkan minatnya.
Suasana di mobil itu sangat tenang, melihat Ars tidak tertarik mengobrol dengannya, Harry mengeluarkan telepon dan mengirim pesan teks ke bawahannya.
Kemudian ia menerima balasan yang mengatakan semua persiapan telah siap.
"Kita telah sampai ditujuan." Kata sopir.
"Mari turun."
Harry membuka pintu dan turun terlebih dahulu.
Ars tidak mengatakan apapun dan keluar mobil.
Mereka saat ini berdiri di depan sebuah bangunan terbengkalai.
"Maaf, Ars. Ada yang harus aku lakukan sebentar, jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu menunggu?"
Mengusap telapak tangannya, Harry berkata sambil tersenyum.
"Tentu, tidak masalah." Ars berkata tidak peduli.
Kemudian Harry memasuki bangunan kosong itu.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dan Ars telah dikelilingi oleh 20 pria yang memegang senjata api.
(Senjata api di tangan mereka mirip dengan AK-47 di dunia ku. Tidak buruk, perkembangan ilmu pengetahuan telah mencapai titik ini.)
Di hadapan senjata api yang ditujukan padanya, dia tidak merasa takut sama sekali, sebaliknya dia memuji perkembangan teknologi dunia ini.
*Tap Tap Tap*
Dari dalam bangunan terdengar suara langkah kaki lainnya, sosok Harry berjalan keluar bersama seorang pria botak yang memakai penutup mata disebelah kiri.
"Apa maksud semua ini, bocah." Ars bertanya dengan nada tenang.
"Tsk Tsk Tsk... Tidakkah kamu memahami situasi mu sekarang? Ibu terlalu melebih-lebihkan Idaten." Harry mencibir.
"Biar aku tebak, alasan mu melakukan ini semua demi mengetahui rahasia keabadian ku, kan?"
"Tampaknya kamu tidak terlalu bodoh. Iya, aku ingin mengetahui sumber keabadian mu! Manusia itu rapuh, sebuah virus kecil bisa membunuh ratusan juta manusia, aku tidak ingin mati konyol seperti itu. Ars, cepat katakan rahasia dibalik keabadian, jika tidak mereka akan menembak mu!"
Harry membenarkan tebakan Ars dan menatapnya dengan serakah.
"Kamu dungu, karena kamu tahu aku abadi, kamu harusnya menyadari senjata api tidak bisa membunuh ku."
Perilaku Harry telah mengecewakan Ars, jika ia mau, ia bisa memusnahkan semua orang disini hanya dalam sekejap mata. Alasannya bertele-tele karena ia tidak ingin ini cepat berakhir.
"Beraninya kamu menyebutku dungu! Aku adalah Harry Astrea, orang yang berada di puncak hirarki, kamu hanya rakyat jelata belaka yang kebetulan menemukan rahasia keabadian, jangan terlalu sombong."
__ADS_1
Tendon muncul di dahi Harry begitu disebut dungu. Sebagai anggota Keluarga Astrea, kemanapun dia pergi, dia akan selalu dihormati dan orang-orang akan bersikap seperti anjing yang mengibaskan ekornya.
"Hanya karena kamu abadi, kamu pikir dirimu tak terkalahkan? Pemikiran dangkal, aku yakin kamu bisa merasakan rasa sakit, aku tidak percaya kamu tidak akan berbicara setelah menderita rasa sakit yang begitu hebat."
"Semuanya, cepat tembak bajingan itu sampai dia sekarat!"
Harry memerintahkan bawahannya memulai serangan.
*ᡕᠵ᠊ᡃ່࡚ࠢ࠘ ⸝່ࠡࠣ᠊߯᠆ࠣ࠘ᡁࠣ࠘᠊᠊ࠢ࠘𐡏*
*ᡕᠵ᠊ᡃ່࡚ࠢ࠘ ⸝່ࠡࠣ᠊߯᠆ࠣ࠘ᡁࠣ࠘᠊᠊ࠢ࠘𐡏*
*ᡕᠵ᠊ᡃ່࡚ࠢ࠘ ⸝່ࠡࠣ᠊߯᠆ࠣ࠘ᡁࠣ࠘᠊᠊ࠢ࠘𐡏*
Menerima perintah bos, semua orang di tempat itu menarik pelatuk dan senjata api memuntahkan timah panas dari moncong.
Suara keras tembakan memenuhi bangunan itu.
Tempat itu telah disiapkan Harry dari lama, sehingga tidak akan ada warga sipil dan polisi tidak akan datang.
"Ha Ha Ha... Inilah akibatnya menentang ku..."
Tawa Harry berhenti, matanya terbelalak menyaksikan adegan di depannya.
Ars berdiri ditempat dan membiarkan peluru menghujani tubuhnya, tapi tidak ada satupun peluru yang bisa menembus kulitnya.
Setelah beberapa menit menembak, senjata api telah kehabisan peluru.
"Sudah selesai?" Ars berkata acuh tak acuh.
Harry mundur beberapa langkah, kepercayaan dirinya telah hilang dan digantikan rasa takut.
Selama ini dia selalu berpikir Idaten tidak lebih dari orang-orang yang kebetulan menemukan Ramuan Keabadian atau semacamnya, dan kekuatan mereka tidak layak disebut.
Jika Idaten benar-benar kuat seperti yang digambarkan ibunya, mengapa mereka tidak menguasai dunia alih-alih manusia?
Karena pemikiran itu, ia berani merencanakan skema untuk mengetahui rahasia Keabadian Idaten.
Ars menatap Harry yang mundur ketakutan dan berkata tanpa emosi: "Kamu pikir Keluarga Astrea begitu hebat? Jika bukan karena aku membantu leluhur mu, keluarga mu mungkin masih tinggi di area kumuh."
"Kamu bohong! Keluarga Astrea adalah salah satu kekuatan teratas di dunia ini dan kekuatan paling berpengaruh."
Harry menyangkal, ia tidak percaya keluarga yang dia banggakan memiliki asal usul rendahan.
""Terserah, aku tidak peduli apakah kamu percaya atau tidak. Sekarang, kamu harus membayar harga untuk apa yang kamu lakukan."
Sebuah katana muncul di tangan Ars.
"Kenapa kalian hanya berdiri saja, serang dia!"
Harry membangunkan bawahannya yang tertegun di tempat.
Mereka mengisi ulang senjata api dan hendak menembak.
__ADS_1
"Lambat."
Ars mengayunkan katana secara horizontal. Kemudian, tubuh semua orang di tempat itu terpotong menjadi dua bagian dan hanya Harry yang tersisa.
"Hiiii!!!"
Pemandangan berdarah ini membuat lutut Harry lemas dan ia terjatuh ke lantai.
"Nah, apa yang harus aku lakukan pada mu, bocah tengik."
Ars muncul di depan Harry.
"J-Jangan bunuh aku, selama kamu mengampuni ku, aku akan memberikan semua yang kamu mau. Harta, tahta, wanita? Aku akan memberikannya selama kamu mengampuni hidup ku."
Di situasi hidup dan mati, kesombongan dan kepercayaan Harry sebelumnya telah menghilang, dan sifat pengecutnya muncul.
"Haaahhh... Bagaimana bisa Marie kecil mempunyai anak seperti mu."
Perilaku Harry membuat Ars jijik.
"Lupakan saja, aku punya janji dengan ibumu, aku tidak akan membunuhmu."
"Terima kasih banyak."
Harry sangat senang dimaafkan, dia tidak tahu janji apa yang dimaksud pihak lain, tapi itu tidak masalah. Selama dia masih hidup, dia akan membalas penghinaan ini berkali-kali di masa depan.
"Tapi... Selalu ada harga yang harus dibayar tiap kegagalan, bukan?"
"T-Tentu saja, apa yang kamu inginkan? Dengan sumber daya Keluarga Astrea, aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
"Ah, kamu tipe orang yang berpikir uang bisa menyelesaikan semua masalah. Baiklah, hari ini aku akan mengajari mu bahwa uang bukan segalanya."
Ars mengayunkan katana ke bawah.
"ARGHHHHH!!! Tanganku!!!"
Harry berteriak keras ketika kedua tangannya di potong, suara jeritannya seperti babi yang disembelih.
Rasa sakit dari kedua tangan yang terpotong itu di luar toleransinya, dan beberapa saat kemudian dia pingsan.
"Keturunan mu terlalu mengecewakan, Marie kecil. Hanya Emily yang layak, sisa anak mu hanyalah sampah."
Perilaku pengkhianatan Harry layak dihukum, tetapi Ars hanya memotong kedua tangannya sebagai hukuman.
Ini bukan pertama kalinya dia dikhianati oleh orang-orang terdekat. Di reinkarnasi kelimanya, dia merasakan sakit dan kekecewaan karena dikhianati oleh umat manusia yang dia lindungi.
Alasan Harry melakukan ini demi mengetahui sumber keabadiannya, Ars tidak heran tentang ini.
Orang yang paling takut mati bukanlah orang miskin, tetapi orang kaya dan berkuasa. Tidak peduli seberapa kaya dan berkuasanya mereka, mereka pada akhirnya akan meninggalkan segalanya ketika mereka mati. Ketika mereka mengetahui bahwa keabadian itu nyata, keserakahan mereka sangat wajar.
"Jika aku membiarkannya begitu saja, bocah ini akan mati kehabisan darah."
Ars menarik kerah Harry dan menyeretnya ke rumah sakit dengan kecepatan tak terlihat oleh mata manusia.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah sakit, dia melempar Harry seperti membuang sampah.
Semua urusannya sudah selesai, dan ia pergi mengelilingi dunia.