
"Ruby, sampai kapan kamu berada disana?"
Di depan Ars terdapat pohon besar, Aqua gagal membujuk Ruby kembali. Jadi, dia datang dan membujuknya.
"Tidak mau, aku tidak mau melihat paman."
Duduk di atas dahan pohon, Ruby memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya di lutut.
"Baiklah, karena Ruby tidak ingin mengantar kepergian ku, tidak ada pilihan lain."
Ars berbalik dan bersiap pergi.
Suasana hati Ruby semakin sedih karena pamannya tidak mencoba membujuknya. Mendengar suara langkah yang semakin jauh, dia menjadi panik dan berteriak.
"Tunggu!"
"Apa? Bukankah kamu tidak ingin melihat ku lagi?"
Ars berhenti, berbalik ke belakang dan menatap Ruby yang menangis.
Menyeka air mata di wajahnya, Ruby berjalan menuruni pohon dengan hati-hati, lalu berlari dan melemparkan dirinya ke pelukan Ars.
"Paman jahat, kamu jelas tahu bukan itu maksud ku."
Melampiaskan keluhannya, dia memukul dada Ars.
"Apakah paman tahu betapa sakitnya hatiku mendengar mu akan pergi dan tidak akan pernah bertemu lagi? Memikirkannya saja membuat dadaku terasa sesak dan membuatku sulit bernapas, bisakah kau tetap di sini? Aku selalu ingin bersama mu selamanya..."
Ruby menatap Ars dengan memohon. Sudut matanya merah karena menangis dan wajahnya terlihat sangat sedih.
"Maafkan aku, Ruby."
Ars menyentuh kepala Ruby dan mengusap rambutnya.
"Mengapa?"
Meski mengetahui dia tidak dapat mengubah pikirannya, Ruby ingin mencoba dan usahanya gagal.
"Ruby seharusnya menyadari aku berbeda dari yang lainnya, kan?"
"En. Penampilan paman tidak pernah dari dulu."
Ruby selalu penasaran mengapa Ars selalu terlihat sama, sedangkan ayah, ibu, dan yang lainnya perlahan menua. Selain itu, dia telah menyaksikan banyak hal yang dilakukan Ars, yang tidak dapat dilakukan orang lain.
Dia ingin menanyakan soal ini, tapi tidak berani bertanya.
"Aku bukan manusia dan juga makhluk dunia ini. Jadi, aku harus meninggalkan dunia ini cepat atau lambat." Ars tidak terlalu menjelaskan secara detail.
"Aku tidak peduli apakah paman manusia atau bukan! Setiap hari bersamamu sangat menyenangkan dan aku ingin bersamamu, apakah itu benar-benar mustahil?"
Ruby meneteskan air mata dan memeluk Ars lebih erat.
"Aku tidak bisa membalas perasaan mu, kita tidak ditakdirkan bersama."
__ADS_1
Mungkin Ruby tidak menyadari bahwa kata-katanya adalah sebuah pengakuan. Meski begitu, Ars tetap menolak.
Dia tidak ingin menjalin hubungan asmara dengan wanita manusia, karena dia bisa melihat hasil akhirnya. Yaitu, mereka dipisahkan oleh kematian.
Ars sudah merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh kenalannya. Jika sekadar kenalan saja telah membuatnya sangat sedih, lalu bagaimana jika wanita yang dicintainya meninggal?
Dia yakin kesedihannya akan berkali-kali lipat dan mungkin dia akan menjadi gila.
Oleh sebab itu, dia tidak akan pernah menjalin hubungan dengan wanita manusia, kecuali dia telah memperoleh Ramuan Keabadian, sehingga dia menjadikannya abadi seperti dirinya.
"Hic..."
Ditolak oleh orang yang disukainya, tubuh Ruby gemetar dan air matanya mengalir semakin deras.
Ars tidak terlalu pandai berurusan dengan wanita, dia hanya diam dan membiarkannya menangis di dadanya.
Setelah beberapa menit, tangisan Ruby berhenti.
"Maaf telah menyebabkan masalah, paman."
Mengambil beberapa langkah menjauh, dia menyeka sudut matanya dan menunjukkan senyum yang dipaksakan.
"Ayo kembali, ayah dan ibu mu mengkhawatirkan mu."
Ars mengulurkan tangannya di depan Ruby.
"Paman, tutup mata mu."
"Lakukan saja, ini pertemuan terakhir kita. Setidaknya kamu menuruti permintaan egois ku untuk terakhir kalinya."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan."
Ars sudah menebak apa yang ingin dilakukan Ruby, tetapi dia tidak menolak dan menutup matanya.
Dan benar saja, sensasi lembut dan basah terasa di bibirnya.
Membuka matanya, dia melihat Ruby menciumnya dengan wajah merah merona.
Sesi ciuman itu tidak berlangsung lama, Ruby mundur beberapa langkah sambil menyentuh bibirnya.
"Jadi seperti ini rasanya berciuman... Ayah pernah mengatakan bawah ciuman pertama perempuan sangatlah berharga dan harus diberikan kepada laki-laki yang paling berharga untuknya."
"Aku memberikannya pada paman, itu hadiah perpisahan dariku."
Setelah mengatakan itu, menahan keinginan untuk menangis, Ruby berlari meninggalkan Ars, yang berdiri linglung di tempat.
"Byakuya mengajarkannya kebudayaan Jepang, huh..."
Kembali ke akal sehatnya, Ars tersenyum kecut.
"Dalam tujuh kehidupan reinkarnasi ku, ini adalah pertama kalinya aku berciuman. Pada akhirnya, ciuman pertama ku dicuri oleh gadis berusia 14 tahun. Ini seperti pepatah Cina, sapi tua memakan rumput muda."
[Catatan Penulis: Sapi tua memakan rumput muda berarti hubungan antara dua orang yang terpaut usia sangat jauh]
__ADS_1
Ars kini berusia 215 tahun, sedangkan Ruby baru berusia 15 tahun. Perbedaan usia mereka terpisah beberapa generasi, pedofil tidak bisa lagi menggambarkannya.
"Lupakan saja, perasaan yang dimiliki Ruby hanya sementara. Aku yakin setelah kepergian ku, dia akan melupakan ku seiring waktu berlalu."
Tidak lagi memikirkan topik ini, dia kembali ke desa.
...
Pesta itu berlangsung hampir seharian dan hanya berhenti ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Byakuya, Shamil, Yakov, Lillian, Connie,, Darya, beserta semua keturunannya berkumpul dan menyaksikan kepergian Ars.
"Ini sudah waktunya, saatnya aku berangkat." Ars mengangguk kepada semua orang.
"Dunia macam apa yang akan kamu datangi?" Byakuya bertanya penasaran.
"Tanpa adanya koordinat, aku sendiri tidak tahu akan tiba di dunia macam apa. Mungkin dunia fantasi pedang dan sihir, dunia primitif, dunia peradaban maju, dunia kiamat, dll. Sederhananya, aku hanya bisa bergantung pada keberuntungan."
Tiap dunia di Kekosongan Tak Berujung tidak menunjukkan perbedaan, itu semua terlihat seperti bola cahaya raksasa. Jadi, Ars benar-benar tidak tahu dunia macam apa yang dipilihnya sampai dia tiba.
"Jadi begitu, aku hanya bisa berdoa kamu tiba di dunia yang kamu harapkan." Byakuya tersenyum lebar.
"Semoga perjalanan mu lancar." Lillian menunjukkan senyum lembut.
"Rahasiakan keabadian, itu akan menarik perhatian orang-orang serakah." Shamil mengingatkan.
"Meski kamu kuat, tidak ada yang tahu keberadaan macam apa yang bersembunyi, jadi pastikan kamu berhati-hati, Ars." Connie berkata disebelah suaminya.
"Jangan lupa membantu orang yang membutuhkan pertolongan jika kamu bebas." Yakov ingin melihat Ars menjadi orang baik.
"Jika kamu memutuskan tinggal di masyarakat, jangan lupa mengikuti kebiasaan manusia seperti makan, tidur, dan mengganti pakaian mu setiap hari agar tidak mencolok." Darya berkata tak berdaya.
"Akan aku ingat." Ars mengangkat bahu dan berkata tenang.
Kemudian, keturunan astronot mengucapkan salam perpisahan dan yang terakhir adalah Ruby.
"Selamat tinggal, paman. Semoga kamu menemukan kebahagiaan mu."
"Terima kasih banyak, Ruby."
Ars menyentuh kepala Ruby untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, semuanya. Waktu yang aku habiskan bersama kalian sangat menyenangkan."
Melambaikan tangannya, lingkaran sihir ungu muncul di bawah kakinya. Beberapa saat kemudian, sosoknya berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang.
"Paman..."
Melihat Ars benar-benar pergi untuk selamanya, Ruby tidak bisa menahan air matanya dan mulai menangis di pelukan ibunya.
"Sigh~ Ars, kamu sungguh pria berdosa."
Byakuya menghela napas, dan tidak tahan melihat putrinya menangis.
__ADS_1