
*Bang*
Suara tembakan memecah kesunyian malam.
"Orang dungu mana yang menggunakan senjata api melawan zombie?"
Para zombie di dunia ini sangat peka terhadap suara, dan mereka akan langsung menuju ke arah sumber suara tersebut. Itu sebabnya Ars mengejek orang yang menembak.
Pergi ke ruang tamu, dia melihat Saeko, Takashi, dan Kohta berkumpul di balkon.
"Apa yang sedang terjadi?"
"Yamaguchi-san lihat sendiri."
Kohta meminjamkan teropong pada Ars.
"Oh, ada orang yang mencari kematian."
Melalui teropong, Ars melihat seorang pemuda yang memegang shotgun, karena tindakan bodohnya, kini dia dikelilingi zombie dan tidak bisa melarikan diri.
Hasilnya, pemuda itu di gigit zombie dan menjadi salah satu bagian dari mereka.
"Sial! Ada terlalu banyak! Yamaguchi-san, ayo selamatkan orang itu!"
"Hentikan, Komuro-kun, orang itu sudah tidak bisa diselamatkan."
"Bukankah tugas polisi melindungi masyarakat! Kenapa kamu hanya diam melihat kejadian ini!"
Takashi masih naif, ia menyalahkan Ars karena berhati dingin.
"Jangan salah paham, polisi bukan pahlawan keadilan. Jika kamu sangat ingin menjadi pahlawan keadilan, lakukan sendiri."
"Yamaguchi-san..."
Takashi sangat marah karena pengabaian itu.
"Berhenti, Komuro-kun. Yang Yamaguchi-san ada benarnya, sudah terlambat untuk membantu. Dan apakah kamu lupa? Zombie bereaksi terhadap suara, yang dilakukan pemuda itu hanyalah menarik zombie di sekitarnya dan berkumpul di sini."
Memasuki ruang tamu, Saeko mematikan lampu, dan ruangan hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
"Saeko Senpai..."
Takashi mengepalkan tinjunya, ia tidak bisa membantah pernyataan itu.
"Tidak perlu merasa bersalah, pemuda itu hanya bisa menyalahkan diri sendiri atas perbuatannya. Komuro-kun, kamu bukan pahlawan seperti yang ada di manga shounen, tidak mungkin kita menyelamatkan hidup semua orang."
Ars memainkan peran polisi yang peduli pada generasi muda, menepuk bahu Takashi beberapa kali untuk menenangkannya.
Takashi menundukkan kepalanya dan terdiam.
__ADS_1
Saeko memberikan teropong pada Takashi agar melihat situasi disekitar dan terbiasa. Melirik Ars di balkon, dia ke dapur untuk mematikan lampu.
Ars tidak kembali ke kamar dan duduk di sofa, ia tahu acara selanjutnya akan terjadi sebentar lagi.
Lima menit kemudian, dia pergi ke balkon setelah melihat gerak-gerik Takashi yang sepertinya menemukan sesuatu.
Menggunakan teropong lainnya, Ars melihat pria paruh baya dan gadis kecil membuka pagar, dan memasuki pekarangan rumah yang lampunya masih menyala.
(Hm? Lin Fan akhirnya bergerak...)
Menoleh ke belakang, dia melihat Hisashi berjalan sambil mengenakan pakaiannya, mengambil linggis, dan pergi ke luar tanpa memberitahu siapapun.
(Kemungkinan dia melakukan misi dan itu terkait dengan gadis kecil itu.)
Ars menebak tujuan pihak lain, lalu mengalihkan pandangan ke teropong.
Disisi lain, Hisashi menuruni tangga, menaiki pagar beton, dan menunggu kematian ayah gadis kecil itu.
"Aku hampir melewatkan misi, aku sangat bersenang-senang dengan Rei sehingga aku lupa waktu. Imbalan misi kali ini cukup besar, aku yakin bisa menerobos Ranah Xiantian. Pada saat itu, bahkan senjata api tidak lagi mengancam ku." Hisashi menyeringai lebar.
Ada lima ranah kultivasi menurut Sistem Bela Diri Tak Terkalahkan. Dimulai dari Ranah Houtian, Ranah Xiantian, Ranah Grandmaster, Ranah Raja, dan Ranah Kaisar. Selain itu, tiap ranah dibagi tiga tahap, yaitu awal, menengah, akhir.
Setelah mencerna Pil Pembersih Sumsum dan Pil Penguatan Tubuh, basis kultivasi Hisashi berada di Ranah Houtian Tingkat Akhir, hanya selangkah lagi menerobos Ranah Xiantian.
Dari evaluasi yang sistem berikan, dia bisa mengalahkan 50 tentara elit dengan tangan kosong.
"Dengan kekuatan ku, sangat mudah membuat para heroine terkesan. Cepat atau lambat, mereka akan menjadi wanita ku."
Sedangkan untuk Rei? Hisashi baru saja berhubungan badan dengannya, dan dia akhirnya melepaskan status perjakanya. Karena itu, dia terlalu terlena dan hampir melupakan misi penting.
Di balkon, Ars tidak tahu seberapa kuat Hisashi (Lin Fan) sekarang, tetapi dia yakin bisa mengalahkan pihak lain dengan mudah.
Dia bersama Takashi dan Kohta menonton pria paruh baya itu mengetuk pintu rumah, dan memohon dibiarkan tinggal, tetapi pemilik rumah malah mengusir.
Pria paruh baya itu putus asa, mengangkat perkakas di tangannya, ia mengancam akan menghancurkan pintu jika tidak dibiarkan masuk. Pemilik rumah itu menyerah dan membukakan pintu. Namun, sebelum pria paruh baya itu mengucapkan terima kasih, dadanya ditusuk oleh pisau yang diikatkan ke batangan besi.
Melihat ayahnya meninggal di depan matanya, gadis kecil itu menangis sangat keras sehingga menarik perhatian para zombie.
Saat zombie mendekati gadis kecil itu, satu per satu mereka mati ditembak di kepala.
Orang yang menembak tidak lain adalah Kohta.
"Padahal belum pernah aku pakai senjata ini, tapi langsung dapat headshot. Sudah aku duga, aku ini jenius. Nah, wajar karena tidak begitu jauh."
Kepribadian Kohta berubah saat mulai menembak, membidik zombie, dan menarik pelatuk.
"Aku akan pergi."
Takashi yang berdarah panas ingin bergegas ke sisi gadis kecil itu dan menyelamatkan.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu pergi."
"Kenapa kamu memblokirku, Yamaguchi-san. Apakah kamu tega melihat gadis kecil itu terbunuh di depan mata Anda! Maaf, tapi aku tidak bisa hanya duduk dan menonton ini."
Takashi menatap marah Ars, ini kedua kalinya dia dihentikan menolong orang lain. Kejadian sebelumnya memang tidak terhindarkan karena tidak cukup waktu menyelamatkan pemuda itu, tetapi situasi gadis kecil itu berbeda, mereka dapat menolongnya.
"Kamu salah paham, kamu tidak perlu ikut campur. Sudah ada orang yang mengambil tindakan, jadi kedatangan mu tidak diperlukan."
Mengambil Knight’s SR-23 sniper riffle, yang tergeletak di lantai, lalu mulai menembaki zombie.
"Wow, kemampuan menembak Yamaguchi-san sangat hebat. Aku sangat terbantu."
Kohta kagum melihat akurasi tembakan Ars, yang selalu headsot.
"Yamaguchi-san, siapa orang yang kamu maksud?" Tanya Takashi bingung.
"Lihat sendiri."
Tiap jarinya menekan pelatuk, akan ada zombie yang memiliki kepala berlubang.
"Hisashi?! Kapan dia turun?"
Takashi tercengang melihat sosok temanya berlari di atas tembok menuju lokasi gadis kecil itu berada.
Berkat kerjasama Ars dan Kohta. Gadis kecil itu bersama seekor anak anjing yang melindungi, tidak ada zombie yang berhasil mendekatinya.
"Kenapa aku tidak tahu Hisashi bisa parkour?"
Takashi merasa iri dan cemburu pada sahabatnya. Tidak hanya Hisashi berkencan dengan Rei, tetapi dia lebih unggul darinya dalam banyak aspek.
"Apa yang terjadi?"
Saeko datang setelah mendengar suara tembakan.
"Ini yang terjadi... Bla Bla Bla..."
Takashi menjelaskan situasinya pada Saeko. Karena Hisashi sudah mengambil tindakan, tidak perlu baginya bertindak.
"Igou-kun sangat terampil."
Melalui teropong, Saeko melihat Hisashi mengendong gadis kecil itu di punggungnya dan berjalan kembali ke apartemen.
(Gerakannya bukan sesuatu yang bisa dilakukan siswa sma biasa, itu seperti ahli bela diri yang sangat berpengalaman. Jadi yang Yamaguchi-san benar, Igou Hisashi bukan lagi dirinya, melainkan individu bernama Lin Fan.)
Jika sebelumnya Saeko 90% mempercayai penjelasan Ars, kini ia 100% percaya.
Ayahnya mempunyai dojo, jadi Saeko telah melihat banyak seniman bela diri.
Dari yang dia ketahui dari Takashi, Hisashi tidak pernah belajar seni bela diri, jelas ada sesuatu yang salah!
__ADS_1
(Plot telah melenceng dari lintasan aslinya. Tapi perubahan ini membuatnya semakin menarik) Pikir Ars sambil menembak sebagai penembak jitu.
Pada akhirnya, Hisashi berhasil membawa gadis kecil dan anak anjing ke apartemen.