Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Menjalin Kontrak Dengan Pedang Suci


__ADS_3

Akhirnya, setelah satu milenium meditasi yang tak kenal lelah, Ars memulihkan Fisik Batinnya ke kondisi sempurna.


Kekuatan 100% pulih!


Saat Ars membuka matanya, yang muncul adalah seorang pemuda yang secara paksa membuat kontrak dengan Est.


Hal itu menyebabkannya sedikit marah.


Areishia mewariskan Terminust Est kepadanya. Bagaimana mungkin Ars membiarkan orang lain merebut Est?


Meski begitu, dia tidak langsung membunuh pemuda tersebut. Terlepas dari kematian Areishia, Hati Dao Ars tidak mudah terguncang.


Alhasil, tekanan tak kasat mata menghempaskan pemuda tersebut hingga membentur batu.


Ars sudah menunjukkan belas kasihan. Jika tidak, pemuda itu sudah meledak menjadi kabut darah.


"Siapa kamu?"


Menghadapi pertanyaan gadis kecil berambut merah itu, Ars dengan mata merah menyala menatapnya tanpa ada perubahan emosi dalam suaranya.


"Ars."


"Ars... Aku belum pernah mendengar nama itu. Yang lebih penting, apakah kamu yang menyerang Kamito?" Ini pertama kalinya Claire mendengar nama itu.


"Cough Cough... Claire, hati-hati, orang itu berbahaya."


Sambil batuk darah, Kamito mengingatkannya. Intuisinya sebagai mantan pembunuh mengingatkannya bahwa orang di depannya adalah monster berkulit manusia.


"Benar. Selain Areishia, tidak ada yang layak menjadi kontraktor Pedang Suci."


"Areishia... Mungkinkah yang dimaksud adalah Ratu Suci?! Apakah itu berarti pedang itu adalah Pedang Severian dalam legenda!"


Mendengar ini, Claire tercengang. Tatapannya pada Pedang Suci disebelah Ars semakin panas.


Dia ingin menjadi kuat secepat mungkin untuk mencapai tujuannya, itu sebabnya dia bersedia mengambil risiko datang kesini. Kini mengetahui itu adalah Pedang Severian, tekadnya ingin memilikinya semakin kuat.


Melepaskan Kamito, Claire berdiri dengan tangan di pinggul dan berkata agresif: "Ratu Suci telah meninggal 1000 tahun yang lalu. Dengan kata lain, siapapun bisa menjadi pemilik Pedang Severian. Apa hak mu melarang ku?"


"Claire, jangan memprovokasinya!" Kamito berkata tak berdaya. Dia merasa gadis ini keterbelakangan mental.


Tanpa mengubah ekspresinya, Ars berkata acuh tak acuh: "Yang kamu katakan benar. Tapi... Menurutmu kamu layak? Ketahuilah tempatmu, gadis kecil.”


Kemudian Ars mengarahkan 0,000001% aura Kaisar Abadi kepada Claire.


"Argghhh."


Seolah gravitasi bertambah ratusan kali, Claire tidak bisa mempertanyakan postur angkuhnya dan dia berlutut ke tanah tanpa bisa mengangkat kepalanya.


"Meow!!!"


Roh api berwujud kucing bernama Scarlet tidak tahan melihat pemiliknya ditindas, ia melompat ke arah Ars dan ingin mencakarnya.


"Hmph."


*BOOM*


Hanya dengan dengusan dingin dari Ars, Scarlet meledak berkeping-keping dan kembali ke Astral Zero.


"Scarlet!!!" Teriak Claire sedih, lalu melototi Ars.


"Aku tidak akan memaafkanmu." Dia berteriak dengan marah.


"Ingatlah perasaan ini. Jangan menantang yang kuat saat kamu masih lemah." Ars tidak peduli.


*BAM*


Kamito di titik buta Ars, dia melancarkan pukulan ke kepala, tapi tangannya seolah menabrak dinding tak kasat mata.


"Percuma saja, kamu tidak akan bisa merusak bahkan sepotong pun pakaianku." Ars menatap ke arah Kamito dengan ekspresi jijik.


Alasan kegagalan serangan Kamito dikarenakan Ars telah mengaktifkan [Mugen (Infinity)].


Dengan [Mugen], apapun yang mendekatinya melambat dan terus melambat hingga benar-benar tak akan sampai ke Ars.


"Aku tidak percaya."


Mengeluarkan belati di pinggangnya, Kamito terus menerus menyerang berbagai titik vital. Namun, tidak peduli bagian mana yang dia serangan, serangannya tidak bisa mengenai lawan.

__ADS_1


"Pernah dengar Paradoks Zeno? Ah, lupakan saja yang aku katakan. Orang primitif seperti kalian tidak akan mengerti bahkan jika aku menjelaskan."


Setelah mengatakan itu, Ars melambaikan tangannya. Detik berikutnya, Kamito sekali lagi terhempas. Kali ini, dia menabrak Claire yang tidak bisa bergerak.


Kedua orang itu mengerang kesakitan saat bertabrakan.


Keberuntungan Protagonis aktif.


Entah sengaja atau tidak, tangan kanan Kamito mendarat di dada kecil Claire, kakinya membuka paha gadis itu, dan bibir keduanya saling menempel.


"Apa-apaan keberuntungan mesum ini... Apakah kamu Yuuki Rito?" Ars tak bisa berkata-kata.


"Kyaaa! Cabul, mesum, kotor, hewan buas!"


Setelah sadar, Claire menodong tubuh Kamito dan menampar wajahnya.


"Itu tidak sengaja, aku bersumpah ini kecelakaan." Sambil memegang pipinya, Kamito terbata-bata membuat alasan.


Di sisi lain, Claire menyilangkan tangan di depan dada, wajahnya memerah, ada air mata di sudut matanya, dan dia terlihat seperti korban pemerkosaan.


"Aku sudah dinodai... Bagaimana jika aku hamil."


"Omong kosong! Kamu tidak akan hamil hanya karena itu."


"Tapi buku bilang—"


"Buku itu tidak benar, jangan membaca buku semacam itu dimasa depan."


Kamito dan Claire mulai bertengkar, melupakan Ars di samping.


Ars: "😐"


Melihat yang satu menyalahkan dan yang lain membela diri, Ars tak mau menonton pertunjukan konyol itu.


Menggunakan [Mukagen (Limitless)], dia memanipulasi ruang di sekitar mereka berdua. Kemudian, keduanya diteleportasi ke lokasi acak, yang bahkan Ars sendiri tidak tahu di mana.


"Akhirnya, kedua pembuat onar pergi."


Dia melihat Segel Roh berbentuk bulan sabit di punggung tangan kirinya. Ars tidak berniat membangunkan Restia dari hibernasi. Setidaknya, tidak sekarang.


Di dalam kesadarannya yang telah tenggelam dalam kegelapan, Ars menemukan seorang gadis sedang duduk sambil memeluk lututnya.


Rambut putih keperakannya bersinar cemerlang bahkan dalam kegelapan.


"Est."


Ars meletakkan tangannya pada pipi Est yang telah menutup hatinya.


Mata ungu misterius itu melebar karena terkejut.


"Ars..."


"Est, aku mohon padamu, jangan menyiksa dirimu sendiri. Jika Areishia mengetahui ini, dia pasti akan sedih."


Beralih ke Est yang berjongkok, Ars duduk disebelahnya.


Tapi Est menggelengkan kepalanya tanpa berkata-kata.


"Ars, aku minta maaf. Aku tidak bisa menjadi pedang mu."


Est tentu saja ingin memenuhi permintaan terakhir Areishia, tapi dia takut, takut hal yang sama terjadi pada Ars.


"Suatu hari nanti, aku mengambil nyawa Ars."


Pada saat itu, sesuatu yang dingin terasa di ujung jari Ars.


Itu adalah air mata.


Est pernah menjadi Roh Pedang yang tidak menunjukkan satu emosi pun. Namun, seiring interaksinya dengan Ars dan Areishia, emosi manusia perlahan-lahan bangkit di dalam dirinya.


Justru karena dia memiliki emosi, Est merasa sedih dengan kematian Areishia yang disebabkan olehnya, dan takut Ars akan mengikuti jejak Areishia, jika dia menjalin kontrak dengannya.


"Aku tidak berhak menjadi pedang Ars."


Est sendiri yang telah mencuri nyawa Areishia dengan kutukannya.


Itu sebabnya dia menutup hatinya.

__ADS_1


Selama ratusan tahun, dia terus memisahkan diri dari mereka yang ingin mengontraknya.


Jadi dia tidak akan disentuh oleh orang lain lagi.


Ars mengusap ujung mata Est.


"Jika itu yang kamu takutkan, kamu tidak perlu khawatir, kutukan mu tidak efektif terhadap ku."


Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan Ranah Empyrean bukan sekedar hiasan semata!


Fisik ini membuat kultivator kebal terhadap Dao, Hukum Jasa, racun, sihir, kutukan, dan efek negatif lainnya.


Bahkan jika kutukan yang melekat pada Est sangat kuat, itu hanya terbatas di dunia ini.


Ars percaya diri kutukan Est tidak akan mampu merusak Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan miliknya.


"Kamu tidak bisa......Jika kamu terus menggunakan Pedang Iblis sepertiku, aku akan mencuri nyawamu!"


Sayangnya, Est tidak mengetahui fakta itu, dan tetap menolak.


Ars meletakkan tangannya di kepala Est.


"Aku tidak akan kalah dengan kutukan seperti itu."


Dia mengusap rambut putih keperakan yang indah itu.


"Fuaa.... Ars... Berhenti, kumohon...."


"Tidak akan. Sampai kamu berhenti menangis."


"Ars...."


"Est, kutukan mu dan takdirmu sebagai Pedang Iblis, aku akan menerima semuanya."


Kemudian, Ars memeluk tubuh kecil Est.


"Jadilah Roh ku, Est!"


"Tidak... Aku akan melakukannya, pada Ars..."


Untuk menghentikan kata-kata itu, Ars memeluk Est dan menutup bibirnya dengan bibir miliknya.


"!?"


Mata Est terbuka karena terkejut.


Itu adalah ritual untuk mengontrak Roh tingkat atas.


Ciuman Sumpah.


Ars dengan lembut memisahkan bibir mereka.


"Aku akan mengatakannya sekali lagi, Est. Jadilah Roh ku."


Dia memegang erat tubuh halusnya.


"Jadilah Roh ku, Est!"


Menanggapi kata-kata Ars....


"Ars, aku---"


Rambut putih keperakan Est bersinar.


...


Di realitas nyata.


Ars membuka matanya dan menemukan di tangan kanannya terdapat sebuah lambang dua pedang yang saling bersilangan telah terukir di atasnya.


Di tangannya memegang pedang panjang satu tangan berwarna putih dan biru dengan gagangnya sebagian berwarna emas.


"Tenang saja, Est. Hari dimana kamu melihat ku mati karena kutukan mu tidak akan pernah datang." Ars berbicara lembut, hari-hari yang mereka bertiga habiskan muncul di benaknya.


"Aku adalah Roh Terkontrak Ars. Melindungi mu adalah tugasku."


Suara Est terdengar langsung dipikirkan Ars.

__ADS_1


__ADS_2