Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Mempermainkan Tuan Suci Cahaya


__ADS_3

Melihat gadis yang dicintainya telah tiada untuk selamanya dan kini tubuhnya digunakan sebagai wadah oleh Tuan Elemental Cahaya, bagaimana mungkin Ars tidak merasa marah?


Tidak bertindak gegabah sudah menunjukkan kegigihan Hati Dao miliknya.


Itu bukan berarti Ars takut pada Alexandros, hanya saja ia tidak ingin pihak lain mati terlalu mudah.


*Tap Tap Tap*


Dengan suara langkah kaki, Ars maju melewati aula besar.


"Hmm... Kalau tidak salah, nama mu adalah Ars, bukan? Kamu Elementalis laki-laki disisi Areishia Idris. Bagaimana cara mu bisa hidup sampai sekarang?"


Rambut pirang berkilau. Armor kuno berkilau dengan kilau putih keperakan. Di tangannya ada pedang suci dengan gaya yang sama seperti Terminust Est. Alexandros menatap Ars seolah melihat hewan langka.


"Itu bukan urusan mu." Ars menjawab dingin.


Alexandros tidak marah, menopang pipinya dengan tangannya, dia tersenyum main-main.


"Sejujurnya, aku terkejut kamu masih hidup setelah satu milenium berlalu. Kamu adalah 'Irregular'. Seharusnya, selain Solomon Yerusian dan reinkarnasinya, tidak ada laki-laki lain yang bisa menjadi Elementalis. Pada awalnya, aku ingin menangkap dan membedah mu. Sayangnya, setelah kamu menghilang, aku tidak dapat menemukan keberadaanmu tidak peduli metode apa yang aku gunakan."


"Rahasiamu sangat menarik minatku. Karena kamu telah datang ke istanaku, jangan berpikir kamu bisa pergi dari sini."


Sebagai Tuan Elemental terkuat, Alexandros tidak pernah menempatkan Ars dimatanya. Bahkan Raja Iblis dan Ratu Suci adalah boneka yang dia siapkan.


Ars berhenti beberapa meter dari Alexandros, Pedang Suci dan Pedang Vorpal muncul di masing-masing tangannya.


(Ars, aku ingin menghancurkan pedang palsu itu.) Est menatap Pedang Suci di depan dengan permusuhan.


(Fufu, ada dua Pedang Suci. Tampaknya, Pedang Suci tidak terlalu berharga.) Restia tidak melewatkan kesempatan ini untuk menyindir saingannya.


(Huh, itu hanya imitasi. Barang palsu tidak akan sebagus aslinya.) Est terdengar tidak senang.


(Itu hanya membuktikan Pedang Suci mudah ditiru. Lihatlah aku, hanya ada satu Pedang Vorpal di dunia). Restia menyatakan dengan bangga.


(Cukup, berhenti berdebat dipikirkan ku.) Ars menghentikan mereka berdua. Lalu menatap Alexandros dengan suara dingin.


"Di kampung halaman ku, ada pepatah yang mengatakan bahwa penjahat mati karena terlalu banyak bicara. Itu deskripsi yang cocok untukmu, Alexandros."


"Menarik~ sudah lama sekali tidak ada yang menantang Tuan Elemental. Kamu bukan yang pertama dan juga bukan yang terakhir."


Alexandros tersenyum. Tidak ada sedikit pun kebencian dalam senyuman murni itu. Lalu dia berdiri dari kursi singgasananya.


"Baiklah, ayo cepat akhir ini. Setelah itu, aku akan menjadikan mu kelinci percobaan."


"Tidak heran Putri Gadis begitu angkuh, ternyata Tuan Elemental yang mereka sembah jauh lebih angkuh. Kalau begitu, akan aku perlihatkan perbedaan kekuatan kita."


Ars membuat pose provokasi agar pihak lain menyerang terlebih dahulu.


"Kamu akan menyesali kata-kata mu, semut."

__ADS_1


Pedang Suci di tangan Alexandros bersinar dengan cahaya putih keperakan.


*Whoosh*


Sosok Alexandros seolah berteleportasi, muncul di depan Ars, dan mengayunkan Pedang Suci tanpa ampun ingin memenggalnya.


*Clank*


Kecepatan reaksi Ars tidak lambat, dia menangkis serangan itu dengan Pedang Suci di tangan kanannya, dan diikuti dengan Pedang Vorpal di tangan kirinya, yang menebas ke depan.


*Clank Clank Clank...*


Di aula besar Istana, terdengar suara pedang beradu dengan keras.


Setiap kali bilah saling bersilangan, percikan api biru-putih beterbangan.


Daripada percikan api yang dihasilkan oleh gesekan antara baja, ini berasal dari sejumlah besar kekuatan ilahi yang mengalir melalui kedua pedang.


"Apakah hanya ini yang mampu kau lakukan, Elemental Master Cahaya?"


Ada sarkasme dalam suara Ars.


"Jangan senang terlalu cepat, ini bahkan belum pemanasan."


Itu bohong.


"Ini mengecewakan."


Menggunakan Pedang Suci untuk mengambil inisiatif sebagai serangan pertama, Ars kemudian mengeksekusi tebasan dengan cepat menggunakan Pedang Vorpal.


Petir hitam legam yang dilepaskan dari pedang itu menyapu tanah, langsung menuju ke arah Alexandros.


"Cahayaku, hapus kegelapan malam— [Sanctum Guard]."


Sambil menangkis serangan yang datang, Alexandros melafalkan Sihir Roh.


Seketika, armor emasnya diselimuti cahaya suci yang menyilaukan, menetralkan petir iblis hitam legam.


(Tsk, bajingan ini menggunakan teknik pedang milik Areishia. Kematian instan terlalu murah untuknya.)


Setelah konfrontasi singkat, Ars menemukan teknik pedang yang diperlihatkan oleh Alexandros adalah apa yang telah dilatih oleh wadahnya, Areishia Idriss.


Dengan skala kekuatannya, Ars bisa saja mengakhiri pertarungan ini hanya dalam sekejap mata. Namun, dia tidak melakukannya. Dia ingin menghancurkan harga diri pihak lain ketika dikalahkan dengan telak.


Selain itu, Ars tidak ingin melukai tubuh Areishia.


*Clank*


"Apakah hanya ini yang bisa kamu lakukan? Laki-laki misterius."

__ADS_1


Dengan dua pedang terkunci di antara mereka, dua tatapan saling bersilangan.


"Bodoh." Ars berkata jijik.


Jika bukan karena dia menahan diri, apakah Alexandros masih bertahan hingga sekarang?


Serangannya yang diberkati dengan Kehendak Surga sudah cukup baginya untuk melenyapkan planet ini dari alam semesta. Apalagi seorang Tuan Cahaya belaka.


Ars mengerahkan lebih banyak tenaga ke Pedang Suci dan Pedang Vorpal. Alhasil, Alexandros terlempar ke belakang, yang meninggalkan retakan pada armornya.


"O cahaya pembunuh iblis, sucikan kegelapan kuno!"


Alexandros menciptakan pedang cahaya yang tak terhitung jumlahnya, menembakkannya ke arah Ars yang tidak bergerak dari posisinya berdiri.


"Trik murahan."


*Swoosh*


Ars mengayunkan kedua pedangnya secara bersamaan yang menghasilkan gelombang yang meniadakan pedang cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian, dia melesat ke depan menuju Alexandros.


*Clank Clank Clank*


Dua kilatan cahaya, satu putih dan satu hitam, terus berkejaran dan berbenturan, begitu cepat hingga membingungkan untuk dilacak dengan mata telanjang.


Serangan pedang berbenturan, secara instan menciptakan percikan api dan dentang logam dari bilahnya.


(Apakah dia benar-benar manusia?)


Saat terlibat dalam pertarungan sengit, Alexandros bertanya-tanya dengan bingung. Setiap serangan yang dilancarkan olehnya terbaca seluruhnya. Dia selalu dirugikan, yang membuatnya meragukan dirinya sendiri.


Namun, dia menyadari satu hal penting. Pihak lain tidak melukai tubuh ini. Memikirkan hal ini, sebuah rencana terbentuk di benak Alexandros.


"Areishia Idriss adalah Putri Gadis terbaik sepanjang sejarah manusia. Ini juga salah satu alasan kenapa aku memilih dia sebagai wadah.”


Perkataan itu menyebabkan Ars sedikit goyah, dan serangannya melesat.


Tidak melewatkan kesempatan, Alexandros menebas dengan sekuat tenaga. Sayangnya, pedang itu tidak melukai lawan sedikit pun.


Fisik Ketidaksempurnaan Kekosongan menunjukkan ketangguhannya!


"Keparat!"


*BAM*


Ars menendang Alexandros sehingga dia terbang ke belakang dan menabrak salah satu singgasana hingga hancur.


"Cough Cough Cough... Kamu monster sialan."


Mengusap darah di bibirnya, Alexandros tidak berani lagi meremehkan lawannya.

__ADS_1


__ADS_2