Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Iris


__ADS_3

Setelah membantai Putri Gadis di sisinya, kemarahan Ars sedikit mereda. Segera setelah dia berbalik, sosok Est sudah tidak ada disana melainkan sebuah pedang yang tertancap di lantai.


Rupanya Est tidak kuat secara psikologis setelah mengetahui kebenaran kalau penyebab kematian Areishia adalah karena dirinya. Oleh karena itu, dia menyegel dirinya sendiri.


"Haaa... Pahlawan yang kukenal berakhir tragis."


Ars mengira hanya dirinya yang tersisa di Istana Zohar.


"Selamat atas kemenangan mu, Ars."


Sebuah suara wanita terdengar di belakang. Berbalik, Ars menemukan pedang hitam yang digunakan Solomon, melayang di udara. Saat berikutnya, pedang itu berubah menjadi seorang gadis cantik dengan sepasang sayap hitam di punggungnya.


Melihat gadis itu, Ars syok dan heran melihatnya disini.


"Res... tia? Apa itu kamu?!"


"Mungkin kamu sudah melupakanku? Apakah aku satu-satunya yang menganggap hari-hari yang kita habiskan bersama berharga?"


Melangkahi mayat Solomon, Restia berlari dan melemparkan dirinya ke pelukan Ars.


"Jadi kamu Roh... Selain itu, kamu Roh Terkontrak Raja Iblis Solomon." Ars merasa pusing.


"Itu bukan keinginan ku! Solomon secara paksa mengikat kontrak dengan ku. Jika aku harus memilih, aku lebih suka menjalin kontrak dengan mu, Ars."


Tubuh mungil Restia gemetar, lengannya memeluk pinggang Ars semakin erat.


"Aku..."


Ars tidak bisa berkata-kata. Saat ini, suasana hatinya sedang kacau. Baru saja dia kehilangan wanita yang dicintainya, dan detik berikutnya, gadis lain ingin bersamanya.


Suasana hening itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba kristal transparan di dada Solomon melayang di udara.


Fenomena aneh tersebut langsung menarik perhatian Ars dari lamunannya. Melepaskan pelukan Restia, dia berdiri di depannya dan tampak waspada.


Restia sepertinya mengetahui sesuatu, dia berkata lembut: "Tenang saja, itu bukan ancaman."


Meski begitu, Ars tidak menurunkan kewaspadaannya. Dia belum sepenuhnya mempercayai Restia. Bagaimanapun, keduanya telah berpisah selama 2 tahun.


Dalam kurun waktu tersebut, karakter seseorang bisa berubah drastis. Terlebih lagi, sebelumnya Restia adalah Roh Terkontrak Raja Iblis Solomon.


Restia: "😔"


Merasakan ketidakpercayaan Ars padanya, Restia merasa sedih tapi dia merasa itu normal.

__ADS_1


Perhatian Ars tertuju pada kristal bercahaya warna-warni yang melayang di atas mayat Solomon.


Tak lama kemudian, terjadi perubahan warna-warni.


Di tengah kristal transparan, sesosok muncul dari cahaya... Itu adalah seorang wanita cantik, kulitnya seputih salju, mengenakan gaun dari kain tipis.


Dia tampak sedikit lebih tua dari Areishia. Wajahnya yang pucat dan cantik dibingkai oleh rambut hijau yang mengingatkan pada zamrud.


Matanya semerah darah. Garis anggun di telinganya berakhir dengan bentuk runcing.


Kecantikannya, sakral dan tak dapat diganggu gugat.


"Roh?" Ars mengerutkan kening.


Itu adalah Roh humanoid keempat yang Ars temui.


Terminus Est, Roh Pedang Suci Pembunuh Iblis.


Restia Ashdoll, Roh Pedang Vorpal.


Terakhir, ada Bahamut, Raja Naga Kekaisaran Dracunia. Masing-masing dari mereka adalah Roh tingkat atas dengan kekuatan luar biasa.


Kalau begitu, roh yang ada di hadapannya saat ini juga...


Di dalam kristal yang bersinar, bibir gadis itu bergerak dengan lembut.


"Elementalis laki-laki kedua... Aku akan menceritakan kebenaran agar kamu tidak mengalami tragedi serupa yang dialami Solomon."


Suaranya selembut suara seorang ibu, namun juga polos seperti suara seorang gadis muda.


Mendengar suara ini, yang menyentuh hati sanubari seseorang, Ars tidak menurunkan kewaspadaannya.


(Sepertinya dia mengira aku adalah Elementalis. Itu tidak mengejutkan, skala kekuatan dunia ini berorientasi pada Elementalis yang menggunakan kekuatan Roh.) Pikir Ars dalam benaknya.


Orang-orang dunia ini mengira kekuatan mistik Ars berasal dari Roh dan dia sendiri tidak pernah menyangkal kesalahpahaman mereka.


"Restia, siapa gadis itu?" Ars melirik Restia dan bertanya.


Restia mendekat ke telinganya.


"Dia adalah Roh Iris, satu-satunya Roh yang telah membuat kontrak dengan Raja Iblis Solomon sekaligus istrinya."


"Hah?!" Ars kaget mendengar kabar mengejutkan ini.

__ADS_1


"Bukankah Solomon membuat kontrak dengan 72 Roh Kelas Arcdemon? Mengapa kamu mengatakan dia hanya mengontrak satu Roh?"


"Kamu salah tentang itu. Raja Iblis Solomon hanya mengontrak satu Roh , Iris. Dia memperlakukan 72 Roh lainnya sebagai alat yang ampuh, bukan sebagai Roh Terkontrak. Dia mendominasi mereka dan tdak pernah peduli pada 72 Roh di hatinya."


"Jadi begitu... Terserah, itu semua tidak penting."


Setelah memahami salah satu rahasia terbesar dunia, Ars tidak menunjukkan minat. Tanpa Areishia disisinya, dia tidak peduli apapun lagi.


Saat Restia menjelaskan pada Ars, Iris memeluk mayat suaminya dengan penuh kasih sayang dan penyesalan.


"Apa tujuan mu muncul sekarang?" Tanya Ars.


Bahkan saat Solomon bertarung dan terbunuh, Iris tidak muncul.


Mengapa dia menampilkan diri sekarang?


"Karena ada hal yang harus aku sampaikan kepada" Ucap Iris, tidak melepaskan pelukannya.


"Ada yang ingin kau katakan padaku?"


"Ya. Aku hanya ingin menyampaikan kebenarannya kepada mu. Aku harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan."


'Dia' yang Iris maksud adalah Solomon.


"Tolong sentuh kristal itu, Ars."


Saat itu, Iris memanggil nama Ars untuk pertama kalinya.


"Jangan khawatir, ini hanya sementara, untuk menyinkronkan pikiranmu.” Restia juga mendorong Ars melakukannya.


"Baiklah, aku ingin tahu apa yang ingin kamu sampaikan."


Ars berjalan mendekati kristal itu, dia tidak takut Iris dan Restia memainkan trik padanya.


Jika itu terjadi, dia tidak keberatan melenyapkan kedua Roh humanoid itu.


Ketika ujung jarinya menyentuh permukaan kristal, cahaya warna-warni langsung bersinar lebih terang.


Pada saat yang sama, kenangan besar muncul di benak Ars.


"Tolong saksikan kebenaran sejati Solomon Yerusian... Dan jangan sampai kamu menjadi seperti dirinya."


Suara Iris terdengar di telinga Ars.

__ADS_1


__ADS_2