
Serangan itu berhasil.
"Bagaimana, Nyonya?"
Suara Est terdengar sedikit bangga.
"Iya, seperti yang diharapkan dari Est... Hmm, eh?"
Pada saat ini, Areishiamenyadari sesuatu.
"E-Est... K-Kau terjebak!"
'...!?'
Dengan separuh bilahnya tertanam di dinding, Pedang Suci itu tidak bisa bergerak sedikit pun.
Di belakang, Ars menahan tawanya saat dia melihat Est tersangkut di dinding.
"Kuharap kita tidak dalam masalah..."
'...Nyonya, selamatkan aku.'
Dalam momen yang jarang terjadi, suara Est terdengar sedikit cemas kali ini.
"Tunggu, aku akan segera menarik mu keluar..."
Areishia meletakkan satu kakinya di dinding dan mendorong dengan kuat, mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya untuk mencabut Pedang Suci itu.
Akhirnya, Pedang Suci berhasil dicabut dari dinding.
"Fiuh~, itu membuatku takut." Areishia menghela napas lega.
"Serahkan tugas ini padaku."
Menepuk bahu Areishia, Ars menyerang dinding menggunakan Balmung.
Setelah mengayunkan pedang beberapa kali, sebuah lubang besar muncul di dinding kokoh itu. Kemudian, mereka memasuki Istana Zohar.
Sepanjang jalan, mereka melihat langit-langit dengan kristal roh tak terhitung jumlahnya tertanam dan aula yang besar. Tiang-tiang batu berat berjajar di tengahnya sementara patung-patung relief yang rumit diukir di dinding.
Mereka berjalan sepanjang koridor yang sepertinya tak ada habisnya. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, sebuah gerbang batu muncul di hadapan mereka.
Tertanam di tengah gerbang adalah kristal besar. Areishia meletakkan tangannya di atas dan gerbang itu perlahan terbuka, kedua pintunya terbuka ke samping.
Di dalam gerbang itu ada kegelapan.
Saat mereka memasuki aula, kristal menyala menerangi kegelapan aula.
"Aku sudah lama menunggumu Ratu Suci."
Orang yang berbicara adalah seorang pemuda yang duduk di kursi singgasana dan ditemani oleh dua belas wanita muda dan cantik.
Dia adalah pemuda tampan, rambut hitam panjang, dan mengenakan mantel berwarna merah darah.
Solomon Yerusian... Elementalist paling kuat dalam sejarah, yang telah membawa teror dan kekacauan ke benua.
Dia memancarkan aura yang menindas, cukup untuk menakuti Putri Gadis yang biasanya meremehkan laki-laki.
"Kamu adalah Raja Iblis Solomon?" Areishia tanpa rasa takut mengarahkan Pedang Suci ke arah musuhnya.
"Jika bukan aku, mungkin pria di belakang mu? Ini pertemuan pertama dan akan menjadi terakhir. Kalian tidak datang kesini untuk mengobrol, ayo mulai bertarung sampai mati."
Solomon mendarat dengan ringan di tanah. Racun kegelapan yang pekat langsung keluar dari seluruh tubuhnya.
"Areishia, kamu fokus saja melawan Solomon, biar aku yang menghadapi Putri Gadis Raja Iblis." Kata Ars sambil memandangi kedua belas gadis dengan pesona berbeda.
__ADS_1
Raja Iblis Solomon secara paksa menikahi putri-putri dari negara-negara yang ditaklukkannya, dan menjadikan mereka sebagai miliknya.
Terlebih lagi, dia telah memilih gadis-gadis dengan bakat luar biasa untuk menjadi Elementalist dari antara para putri dan memberikan kekuatannya kepada mereka.
Para putri yang menerima kekuatan Raja Iblis dikenal sebagai 'Putri Gadis Raja Iblis'. Bersama dengan 72 Roh, mereka telah meneror pasukan penyelamat dunia Ratu Suci.
Selama dua tahun berperang, Areishia dan Ars sudah sering menghadapi Putri Gadis Raja Iblis hingga hanya tersisa dua orang saja.
"Pertama, musnahkan serangga yang merusak pemandangan." Tatapan Solomon melirik Putri Gadis di sisi Areishia.
Suara kebencian itu sepertinya mengutuk seluruh ciptaan.
Dia perlahan mengulurkan tangan kanannya.
"Bakar semua jiwa, guntur hitam— Hell Blast."
Petir kegelapan yang dilepaskan dari Solomon datang dalam bentuk arus deras yang mengamuk.
"Tidak akan aku biarkan!"
Pedang Suci bersinar cerah saat Areishia mengirimkan kekuatan Ilahi, kemudian dia menangkis serangan itu.
*BOOOOMMM*
Hanya gelombang kejutnya saja yang membuat para Putri Gadis terhempas mundur. Terbukti, di pertarungan terakhir, mereka hanya menjadi beban.
"Bagaimana bisa Raja Iblis sekuat ini?"
"Inikah kekuatan Elementalis laki-laki?!"
"Sangat kuat... Hanya Ratu Suci yang bisa melawannya."
Baru sekarang mereka menyadari betapa kuatnya Solomon, laki-laki yang selalu mereka pandang rendah.
Areishia dan Solomon telah memulai konfrontasi jarak dekat.
Alf Laylah Wa-Laylah, memanggil Roh yang tak terhitung jumlahnya.
Void, Roh Iblis yang mengendalikan badai.
Ifrit, Roh Api yang mengendalikan berbagai jenis api.
Sphinx, Roh dengan kepala manusia, tubuh singa, dan sayap elang, yang memiliki kekuatan fisik luar biasa.
Selain itu, Putri Gadis Raja Iblis lainnya menggunakan Roh dalam bentuk Elemental Waffe.
Dantalion, Belial, Barbatos, Naberius, Sabnock, Shax, Orias, dan Zagan.
Ars sendirian melawan dua belas Putri Gadis Raja Iblis yang mengendalikan Roh Terkontrak Salomo.
Tidak ada Putri Gadis yang membantunya, sebaliknya mereka berharap dia akan mati di sini bersama Raja Iblis Solomon.
Jadi, Putri Gadis yang seharusnya membantu Areishia, malah menyaksikan pertarungan itu dari pinggir lapangan.
"Tsk, seharusnya Areishia tidak membawa mereka." Ars bergumam kesal sambil terus melawan balik serangan sengit para Putri Gadis Raja Iblis.
*Whoosh*
Dia memenggal Putri Gadis Raja Iblis yang mengendalikan Alf Laylah Wa-Laylah. Tanpa adanya Roh yang tak terhitung jumlahnya, beban pertarungannya menjadi lebih ringan.
"Tidakkah kalian marah melihat salah satu rekan kalian terbunuh oleh ku?"
Sayangnya, perkataan Ars tidak ditanggapi siapapun dan mereka terus menyerangnya dengan mengorbankan nyawa mereka.
"Apa yang Solomon lakukan pada kalian sehingga kalian sangat putus asa."
__ADS_1
Melihat mata Putri Gadis Raja Iblis, yang hampa dan kosong. Itu adalah mata orang-orang yang sudah menyerah pada dunia dan hanya menginginkan kematian.
*JELB*
"Beristirahat dalam damai." Ars berbisik di telinga Putri Gadis Raja Iblis, yang jantungnya tertusuk oleh Balmung.
"Terima... Kasih..." Ucap gadis itu lemah, lalu tubuhnya yang tak bernyawa terjatuh ke lantai yang dingin.
"Tersisa 10 lagi."
*Ting*
Ars memblokir pedang yang menyerang secara diam-diam dari belakang. Kemudian, dia melanjutkan pertarungan sambil sesekali melihat pertarungan antara Areishia dan Solomon.
Solomon mengulurkan kedua tangannya kali ini. Matanya bersinar dengan cahaya yang menakutkan.
"Eternal... Sleep—Cocytus."
Terselubung dalam kabut putih, segala sesuatu dalam radius yang berpusat pada Solomon membeku.
Dari tanah, tumpukan es yang tak terhitung jumlahnya menjangkau Areishia.
Areishia melepaskan kekuatan Ilahi sekaligus.
Kilatan pedang putih yang tak terhitung jumlahnya meninggalkan bayangan pedang satu demi satu, dia bergegas maju seperti angin puyuh.
Dihadapkan dengan lengan es yang menyerang dari segala arah, Areishia menghancurkan, memotong, atau mematahkannya dengan setiap gerakannya.
Menginjak bongkahan es raksasa yang jatuh ke tanah, Areishia melompat ke udara.
Dampak jatuhnya komet mengguncang udara.
Bersama dengan pakaian hitamnya, tubuh Solomon terbelah menjadi dua. Retakan raksasa muncul di tanah.
Areishia tidak merasa senang, karena tidak merasakan serangan itu mengenai Solomon.
Dia segera melompat ke samping. Di saat yang sama, sebilah pedang hitam melintas, tepat di atas kepalanya.
(Roh Bayangan, huh?)
Solomon mengangkat tangan hitam kurusnya. Cincin emas di jarinya langsung bersinar biru mengerikan.
(Nyonya, hati-hatilah. Dia akan memanggil Roh!)
Est mengeluarkan peringatan.
Cincin itu adalah Cincin Solomon.
Artefak legendaris yang mampu mengendalikan 72 Roh Kelas Archdemon.
"Dari bawah tanah, ayo... Antekku—Midgardsormr."
*Gemuruh*
Disertai gempa bumi yang dahsyat, tanah di Ragna Ys terbelah.
Muncul dari celah di tanah yang hancur.
Seekor ular raksasa yang semuanya ditutupi sisik seperti baja yang tak terhitung jumlahnya.
"Sepertinya aku harus mengerahkan segalanya..." Areishia mencengkeram Pedang Suci di tangannya dengan erat, sedangkan tangan kirinya mengusap perutnya.
"Est, ini akan menjadi pertarungan terakhir kita. Pinjami aku kekuatan mu."
"Ya, Nyonya. Aku adalah pedang mu, aku akan melakukan apa pun untuk mu."
__ADS_1
Est merespon.
Kemudian, pertarungan yang akan dicatat dalam sejarah dimulai.