
Kebun bunga di Istana Alkazard.
Bunga yang tadinya mekar sempurna kini telah hancur akibat pertarungan sengit antara Ars dan dua belas Putri Gadis Raja Iblis.
Beberapa mayat gadis cantik tergeletak di hamparan bunga dan taman bunga ini telah menjadi kuburan mereka.
Darah segar mereka membasahi tanah dan bunga-bunga indah berlumuran darah.
*Clank Clank Clank*
Di tengah taman bunga, suara benturan pedang terdengar jelas.
"Mengapa kamu berjuang begitu keras? Menyerahlah, kamu tidak punya peluang untuk menang."
Balmung di tangan Ars menangkis serangan Putri Gadis Raja Iblis terakhir yang tersisa.
*Whoosh*
Gadis itu tidak menanggapi, pedang di tangannya membentuk afterimage sehingga sulit membedakan serangan sebenarnya.
"Karena itu pilihanmu, maka matilah."
Mengetahui tidak ada gunanya terus berbicara, Ars melompat ke depan, menerobos serangan musuh, dan menusuk dada gadis itu.
Menarik Balmung yang ternoda darah, Ars hendak pergi ke lokasi pertempuran Areishia, tetapi gadis itu berbicara untuk pertama kalinya.
"Ini semua... Bukan salah Solomon... Dia... Pria yang menyedihkan..."
Setelah mengatakan itu, tubuh gadis itu terjatuh ke tanah, dan meninggal.
"Apa yang ingin dia sampaikan? Lupakan saja, itu bukan urusan ku."
Menggelengkan kepalanya, Ars bergegas memasuki Istana Zohar.
Selama pertarungannya melawan dua belas Putri Gadis Raja Iblis, Ars menjauhkan mereka dari aula singgasana agar Areishia bisa bertarung tanpa diganggu.
Bahkan baginya, cukup sulit melawan mereka. Bagaimanapun, Fisik Batinnya dipenuhi retakan dan dia hanya bisa mengakses sedikit kekuatannya. Jika dia dalam kondisi prima, sekali pandang saja sudah cukup membunuh mereka.
Karena keterbatasan tersebut, Ars menghabiskan waktu setengah jam dalam pertarungan berlarut-larut tersebut.
Saat Ars tiba di aula singgasana, pertarungan telah mencapai tahap akhir.
Suara Areishia terdengar melalui aula singgasana.
"Est, pinjamkan aku kekuatanmu!"
"Ya Nyonya!"
Pedang Suci terkuat yang digenggam di kedua tangannya mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.
Mendorong kembali kegelapan, Areishia berlari sambil mengincar jantung Solomon.
"Est, ini terakhir kalinya aku menggunakan mu sebagai pedang. Itu sebabnya—"
Semuanya terjadi dalam sekejap.
Pedang Suci bersinar dan menghancurkan jantung Solomon dalam sekejap.
"ARHHHHHHHHHHHHH!!!'
Memberikan teriakan kesakitan yang mematikan, Solomon ditaklukkan dari dunia ini.
"Hah hah hah......"
Bermandikan darah hitam Solomon, Areishia terjatuh ke tanah.
"Nyonya?"
Pedang Suci bertransformasi ke wujud gadis kecil berambut putih, Terminust Est.
"Tidak apa-apa... Est..."
Untuk menenangkan Est yang khawatir, Areishiamenepuk kepalanya.
"Fua... Nyonya... Tolong hentikan."
"Fufu, kamu suka ini, Est."
"Tolong jangan menggodaku."
Meski Est tetap memasang wajah tanpa ekspresi, dia menoleh dengan pipi yang sedikit memerah.
__ADS_1
Ini pertama kalinya sejak Areishia bertemu dengannya Est menunjukkan reaksi seperti itu.
Areishia senang dengan itu.
Bagi gadis yang perlahan-lahan mematikan emosi kemanusiaannya sejalan dengan ekspektasi masyarakat terhadap dirinya sebagai Ratu Suci, ini salah satu penghiburan baginya.
"Maaf, Est... Sebenarnya, aku ingin menepuk kepalamu seperti ini lagi......"
Berlumuran darah hitam, suara Areishia bergetar.
"Nyonya.... Apa yang kamu katakan?"
"Sungguh, aku minta maaf."
"Nyonya?"
Detik berikutnya, jari Areishia mengeluarkan suara kaku dan hancur.
"Areishia!"
Mendengar seseorang memanggil namanya, Areishia melihat ke arah sumber suara, dan melihat Ars berlari ke arahnya dengan ekspresi cemas.
"Kakak Ars..." Suara Areishia gemetar.
Ars tiba di samping Areishia, melihat tubuhnya mengkristal menjadi batu, dia memegang tangannya yang tadinya halus kini sekeras batu.
"Apa yang terjadi padamu, Areishia?! Apakah Solomon meninggalkan kutukan padamu sebelum dia mati?”
Ars merasakan aura Areishia semakin lemah dengan cepat.
"Nyonya..."
Untuk pertama kalinya, Est menunjukkan kepanikan di wajahnya yang selalu datar.
"Kakak Ars, Est, jangan memasang wajah seperti itu."
Tangan kanan Areishia bergerak menyentuh pipi Ars dan tangan kirinya menyentuh pipi Est, dan dia mencoba berbicara.
“Aku tahu tentang ini sejak awal.”
Dia memasang ekspresi dewasa meski baru berusia 16 tahun.
Kutukan ini adalah gabungan kebencian dari para Roh yang telah dibunuh oleh kekuatan Pedang Suci sejauh ini.
Itu telah terkumpul hingga batasnya dan mengikis tubuh Areishia.
Pembunuh Iblis adalah pedang yang menghancurkan semua kutukan.
Namun kutukan itu tidak hilang dari dunia ini. Pedang Suci yang telah menyerap berbagai kutukan itu suatu hari nanti akan meneruskannya kepada penggunanya.
Senjata Roh, Terminus Est bukanlah Pedang Suci.
Mengambil nyawa pengguna sebagai imbalan atas pemberian kekuatan yang sangat besar tidak salah lagi merupakan sifat dari Pedang Iblis.
"Est, katakan pada ku, apa ada cara mengangkat kutukan ini? Cepat beri tahu aku, sebelum semuanya terlambat!"
Setelah mendengar penjelasan Est, Ars memegang erat bahu gadis kecil itu, Eternal Mangekyo Sharingan di matanya otomatis aktif, menandakan emosinya yang tidak stabil.
"Ars, Nyonya! Aku tidak tahu! Bahwa aku—"
"Aku tahu, Est."
Areishia tersenyum dan menatap Est dengan lembut, lalu melirik Ars dengan senyum minta maaf.
"Kakak Ars, jangan salahkan Est. Aku tahu ini akan terjadi, itu sebabnya ini bukan salah Est."
"Kamu tahu akan menjadi seperti ini, lalu mengapa... Mengapa kamu terus berjuang, Areishia..."
Memegang tangan Areishia yang mengkristal, air mata tanpa sadar mengalir di kelopak mata Ars.
"Seperti yang kakak Ars katakan benar. Aku bukan pejuang pemberani ataupun tokoh utama dalam cerita. Pada akhirnya, aku hanyalah gadis biasa."
Saat menghadapi kematian, tidak mungkin Areishia tidak takut.
Itu sebabnya dia tidak seperti Ratu Suci.
Dia hanyalah seorang gadis normal berusia 16 tahun.
"Setelah aku tiada, Est harus membuat kontrak dengan kakak Ars. Ini permintaan terakhir ku."
Sambil menepuk rambut putih keperakan Est, Areishia perlahan mengangguk.
__ADS_1
Tapi suaranya bergetar dan air mata mengalir di matanya.
"Nyonya..."
"Selamat tinggal, Est. Satu-satunya temanku."
"Selamat tinggal, kakak Ars. Pria yang aku cintai."
"Tidak, kamu tidak bisa... Nyonya!"
Sebuah suara kecil keluar dari bibir Est.
"Tidak... Arei... Shia...!"
"Itu pertama kalinya kamu memanggil namaku. Aku senang... Sejujurnya, aku tidak ingin menjadi Ratu Suci.”
Dengan suara yang jelas, leher Areishia mengkristal. Kemudian seluruh tubuhnya yang telah mengkristal hancur dan berubah menjadi serpihan bubuk yang terbang ditiup angin.
Est tidak bisa berbuat apa-apa selain menonton.
"Areishia!"
Air mata panas jatuh ke pipi Est. Ratapan menggema di seluruh kastil Raja Iblis.
"Areishia, tunggu aku... Aku pasti akan membangkitkan mu."
Melihat gadis yang dicintainya mati di depan matanya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, Ars mengertakkan gigi dan mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
Meskipun suasana hatinya berantakan, dia tetap menjaga ketenangannya.
Rinnegan Jalan Luar, [Gedō — Rinne Tensei no Jutsu (Saṃsāra of Heavenly Life Technique)]!
Ars berencana membangkitkan Areishia dengan teknik terlarang tersebut.
"Yang terpenting saat ini adalah memulihkan kekuatan ku secepatnya." Ars mengusap air mata di wajahnya.
Tiba-tiba momen menyedihkan itu dirusak oleh Putri Gadis yang memanfaatkan keadaan Ars yang tidak waspada.
Berbagai macam serangan menyerang punggung Ars.
*BOOM BOOM BOOM*
Serangan itu menghasilkan asap hitam sehingga mereka tidak melihat situasinya dengan jelas.
"Apa kita berhasil?" Tanya salah satu gadis.
Saat asap menghilang, sosok Ars dilindungi kerangka raksasa yang terbuat dari energi ungu.
"Tidak baik, semuanya mundur!"
Mengetahui serangan mereka gagal, salah satu Putri Gadis memerintahkan mundur. Mereka tahu bukan tandingan Ars.
"Enyah!"
Ars benar-benar marah saat ini. Tidak apa-apa jika mereka tidak membantu melawan Solomon, bukan saja mereka tidak membantu, tetapi mereka justru menyerang dia yang berada di pihak mereka.
Dia sudah kehabisan kesabaran. Tanpa ada Areishia yang menahannya, Ars tidak bisa lagi mentolelir perilaku mereka.
"[Hinokagutsuchi]!"
Amaterasu muncul di tubuh kesepuluh Putri Gadis dan membakar mereka hidup-hidup.
"Argggghhhh!"
"Selamat aku!"
"Panas!"
"Api aneh macam apa ini?"
"Ini tidak bisa bisa dipadamkan?!"
"Tolong ampuni aku!"
"Kamu pria sialan! Kamu akan mati dengan menyedihkan."
Mereka menunjukkan reaksi yang berbeda. Ada yang menangis kesakitan, memohon, ketakutan, dan ada juga yang mengutuk Ars.
Namun, tidak peduli apa, mereka berubah menjadi abu dalam hitungan detik.
Mereka mati tanpa meninggalkan mayat.
__ADS_1