
Ars dan Saeko sangat berhati-hati dengan tiap langkah yang mereka ambil. Jika memungkinkan, mereka akan menghindari zombie yang berkerumun.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, Ars bisa melenyapkan semua zombie dan bahkan seluruh Kota Tokonosu. Namun, ia memainkan peran polisi biasa, dan tidak akan menggunakan kekuatan supernaturalnya.
"Ada banyak zombie di depan, kira-kira berjumlah dua puluh. Cari jalan lain atau kita hadapi, Busujima-san?"
Bersembunyi dibalik tembok bangunan, Ars mengamati gerombolan zombie di kejauhan, dan meminta pendapat Saeko.
"Hmmm... Menurutku kita harus menghadapi mereka, jika kita harus mencari jalan lain, hari semakin gelap, dan akan lebih beresiko melakukan perjalanan di malam hari."
Saeko menganalisis situasi dan memilih bertarung.
"Itu benar, mari basmi mereka. Ayo mulai."
Setelah memberi isyarat, Ars berlari menuju zombie dan Saeko mengejarnya.
Hanya bermodalkan linggis, Ars menghancurkan kepala zombie satu per satu, dan hanya dalam waktu setengah menit, dia telah membunuh sepuluh zombie. Ketika dia ingin membantu Saeko, ia menemukan gadis itu telah menyelesaikan bagiannya.
"Kerja bagus, Busujima-san."
"Ini biasa saja, justru Yamaguchi-san yang hebat karena mampu membunuh zombie lebih cepat dariku hanya dengan menggunakan benda tumpul seperti itu."
Saeko memandangi linggis di tangan Ars yang berlumuran darah.
"Sebenarnya aku juga ingin menggunakan katana, tapi aku tidak bisa menemukannya."
Ars mengayunkan linggis untuk membersihkan noda darah yang menempel.
Keduanya terus berjalan dan mencari mobil yang bisa menampung banyak orang.
Jepang terkenal dengan warga negaranya yang suka berjalan kaki, naik sepeda, dan naik transportasi umum. Ditambah, menyewa tempat parkir dan membeli mobil sangat rumit, sehingga orang Jepang jarang menggunakan mobil.
"Yamaguchi-san, bukankah itu bengkel mobil? Ada banyak mobil disana."
Tiba-tiba Saeko menarik baju Ars dan menunjuk sebuah bengkel yang tidak jauh dari mereka.
"Mari kita periksa." Kata Ars.
Mereka berdua mendatangi bengkel, melewati pintu masuk, situasi tak terduga terjadi.
Seorang pria berkepala botak tiba-tiba muncul mengarahkan pistol ke arah keduanya.
"Jangan bergerak! Terutama kamu petugas polisi, kalau aku melihat mu membuat gerakan mencurigakan, aku akan langsung melubangi kepala mu!"
Ars dan Saeko mengangkat tangan ke atas, menunjukkan tanda menyerah.
"Buang senjata kalian!"
Ars melepas ikat pinggangnya dan melemparkannya ke lantai, lalu linggisnya juga di buang.
Saeko ragu-ragu, dan memegang katana di tangannya dengan erat.
"Wanita, buang katana mu, ini peringatan terakhir ku!"
Pria botak itu menatap tubuh Saeko dengan keserakahan yang sangat jelas.
"Untuk sekarang ikuti saja perintahnya, aku jamin kamu akan baik-baik saja, Busujima-san."
__ADS_1
Faktanya, Ars bisa menundukkan pria botak itu, tetapi itu akan sangat membosankan.
"Baiklah, apa kamu puas?"
Melemparkan katana ke lantai, Saeko berkata dengan tenang.
"Kamu kesini." Perintah pria botak itu pada Saeko.
Saeko berjalan mendekati pria botak itu, kemudian dia dipeluk kasar olehnya sambil meraba dadanya.
"Untuk apa kamu melakukan semua ini? Dibandingkan mengungsi ke tempat aman, kamu malah melakukan kejahatan, apa kamu sudah gila?"
Hati Ars tidak berfluktuasi melihat Saeko mengalami pelecehan seksual. Meski gadis itu adalah salah satu heroine, dia tidak seperti Lin Fan yang ingin menjadikan tiap heroine sebagai wanitanya.
Baginya, protagonis dan heroine tak lebih dari hiburan untuk menghilangkan kebosanannya.
"Gila? Ha Ha Ha... Bukan aku yang gila, tapi dunia! Di dunia penuh monster ini untuk bertahan hidup, aku butuh seorang wanita. Ha Ha Ha Ha..."
Sambil tertawa terbahak-bahak, pria botak itu menjulurkan lidahnya dan menjilat wajah Saeko.
"Ugh... Kau sudah gila!"
Saeko merasa sangat jijik.
"Busujima-san, kamu sudah boleh melawan."
"Hah, apa maksud mu---"
Sebelum pria botak itu mengerti, sebuah batu melesat memukul tangannya, yang menyebabkan pistolnya terjatuh.
Memanfaatkan kesempatan ini, Saeko memukul dagu pria botak itu, lalu menendang perutnya.
Terkapar di lantai, pria botak itu terbatuk parah, yang dia lihat hanyalah seorang petugas polisi menodongkan pistol ke arahnya.
*Bang*
Ars menarik pelatuk pistol, dan menembak pria botak itu tepat di dahinya..
Timah panas membuat lubang kecil di kepala pria botak itu, sekaligus mengakhiri hidupnya.
"Kamu baik-baik saja, Busujima-san?"
"Aku baik-baik saja, terima kasih telah menolong ku."
Memungut katana-nya, Saeko tampak tenang meski ada pembunuhan yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Yamaguchi-san bisa mengalahkan orang itu dari awal, kan?"
"Oh, mengapa kamu berpikir seperti itu?"
"Sikapmu terlalu tenang untuk seorang polisi baru, biasanya pemula tidak akan setenang kamu dalam situasi itu. Namun, kamu sangat tenang dari awal hingga akhir, seolah semuanya sudah ada di telapak tanganmu. Yamaguchi-san, kamu bukan polisi."
Saeko menarik katana dengan sangat cepat dan mengarahkannya ke leher Ars.
"Siapa sebenarnya kamu?"
Ketenangan Ars tidak terganggu dan bibirnya membentuk senyuman.
__ADS_1
"Kamu wanita yang cerdas, Busujima Saeko. Setidaknya kamu tidak termasuk dalam kategori wanita berpayudara besar tanpa otak. Sebagai imbalan telah membongkar identitas palsu ku, aku akan menjawab pertanyaan mi."
"Aku adalah penonton."
"..."
Saeko mengerutkan keningnya, dia tidak merasa seperti sedang dibodohi pihak lain.
"Penonton? Jawaban macam apa itu? Jangan bercanda di situasi seperti ini."
"Fakta berbicara lebih keras daripada kata-kata. Biar aku tunjukkan sedikit kemampuan ku."
*Click*
Ars menjentikkan jarinya, menggunakan Teknik Tak Terbatas, dia mendistorsi ruang. Saat berikutnya, keduanya berpindah di tempat lain.
"Tempat ini..."
Pupil mata Saeko menyusut, melihat ke kiri dan ke kanan, dia mengetahui lokasi mereka sekarang.
"Tempat parkir Akademi Fujimi."
Bus yang mereka tumpangi untuk melarikan diri berasal dari sini, tentu saja dia masih mengingat dengan jelas.
Mengabaikan Saeko yang masih linglung, Ars menggeser bilah tajam katana hanya menggunakan jari telunjuknya menjauhi lehernya.
"Aku tidak hanya bukan petugas polisi, aku bukan manusia sejak awal. Ini imbalan mu karena telah meragukan ku."
"Apakah kamu dewa?"
"Tidak, aku bukan dewa, hanya organisme yang berbeda dari manusia."
Ars tidak terkejut Saeko mengaitkan dirinya sebagai dewa, kemampuan yang ditunjukkan sudah tidak bisa lagi dijelaskan dengan akal sehat.
"Mari kembali. Jika tidak, Lin Fan akan curiga."
*Click*
Jentikkan jarinya membawa mereka kembali ke bengkel.
"Masukkan katana mu ke sarung, aku tidak akan melakukan hal buruk pada mu."
Setelah merenung sejenak, Saeko mengikuti kata-kata Ars dan menyarungkan katananya.
"Pilihan tepat, jika kamu terus keras kepala, entah apa yang terjadi."
Ars tersenyum tipis dan mulai mencari mobil yang masih berfungsi.
Mungkin karena keberuntungan yang dimiliki heroine, Ars menemukan mobil Toyota Alphard.
"Ayo naik."
Duduk di kursi pengemudi, Ars membukakan pintu untuk Saeko.
Tanpa banyak bicara, Saeko duduk disebelahnya tanpa rasa khawatir. Dia sadar jika pihak lain ingin menyakitinya, dia tidak mampu melawan balik.
Ars meliriknya sangat tenang bahkan setelah melihat hal-hal diluar akal sehat, dia tidak bisa tidak memuji mentalitasnya.
__ADS_1
"Tidak buruknya."
Menginjak pedal gas, mobil melaju meninggalkan bengkel.