
Begitu Ars mendarat di tanah, hanya Byakuya yang berani mendekatinya.
"Wow, jika diperhatikan seksama, kamu punya wajah yang cukup tampan. Jangan salah paham, aku tidak iri padamu, di masa muda ku, aku tidak lebih buruk darimu."
Pembicaraan dibuka dengan Byakuya memuji pihak lain dan juga dirinya sendiri.
"Pffft..."
Lillian menahan tawanya mendengar itu.
"Apa yang dikatakan paman itu." Sudut mulut Shamil berkedut, dan yang lainnya tersenyum tak berdaya.
Dihadapan ekstensi tidak diketahui, Byakuya tidak menunjukkan rasa takut dan tetap bersikap seperti biasanya.
Ars sedikit mengagumi sikap Byakuya, karena pihak lain ramah, tidak ada alasan untuk bersikap acuh tak acuh.
"Halo, manusia. Tidak perlu waspada, aku datang dengan damai."
"Dari kata-kata mu seolah kamu bukan manusia."
Tidak ada orang dungu yang bisa menjadi astronot, meski Byakuya terlihat riang dan sembrono, kecerdasannya tidak perlu diragukan lagi. Hanya melalui pertukaran singkat, ia menyadari implikasi dari kata-kata pihak lain.
"Pikiran mu cukup tajam. Itu benar, aku manusia." Ars berterus terang.
"Lalu apa kamu, alien?"
Lillian berdiri disebelah Byakuya, dan menanyakan keraguannya.
Ars tidak langsung menjawab, merenung sejenak, dan memberikan jawabannya.
"Hmmm... Itu tergantung definisi alien itu sendiri. Jika didefinisikan sebagai kehidupan yang tidak berasal dari planet Bumi, kalian bisa menganggap ku alien, tapi aku menganggap dirimu musafir dari dunia lain."
"Musafir dari dunia lain?"
Byakuya dan Lillian saling memandang.
"Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang, kalau kamu tidak keberatan, silahkan datang ke pondok sederhana kami."
Menilai pemuda di depannya tidak bermusuhan dan ramah, Byakuya mengundangnya menjadi tamu.
"Tentu."
Ars menerima undangan tersebut.
Kemudian, Byakuya dan yang lainnya membawa Ars masuk ke pondok setengah jadi.
Di tengah pondok terdapat meja dan kursi yang terbuat dari kayu.
"Tempat ini baru setengah jadi, aku harap kamu tidak terganggu."
Byakuya menggaruk belakang kepalanya dan berkata sambil tersenyum.
"Tidak masalah, aku tidak peduli."
Ars sudah terbiasa tinggal di hutan belantara, baginya pondok ini cukup bagus.
"Silahkan duduk, aku akan mengambilkan minuman. Ayo pergi mengambil kelapa, Shamil, Yakov."
__ADS_1
"Kali ini giliran mu yang memanjat pohon, paman." Shamil melirik Byakuya.
"Eh, bukankah biasanya kita menggunakan batu gunting kertas untuk menentukan siapa yang memanjat pohon." Byakuya berkata enggan.
"Jangan berdebat, cepat pergi, tidak baik membuat tamu menunggu."
Sebagai yang tertua di kelompok, Yakov menghentikan adu mulut keduanya.
Setelah mereka meninggalkan pondok, hanya tiga wanita yang tersisa.
Tanpa kehadiran Byakuya, suasana menjadi canggung.
Darya dan Connie tidak berani mengambil inisiatif memulai pembicaraan.
"Oh, aku masih belum tahu nama mu." Lillian bertanya penasaran.
Dia pernah ke ruang angkasa, tapi tidak menemukan UFO, dan sekarang ada alien di depannya. Tentu saja ada banyak pertanyaan dibenaknya.
"Ars. Itulah namaku." Ars menjawab.
"Hanya Ars? Apa alien tidak punya nama keluarga?"
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku bukan alien sesuai kognitif kalian. Lebih tepatnya, aku individu dari dunia lain, bukan dari luar angkasa. Dan juga, aku tidak punya keluarga."
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menanyakan ini..."
""Tidak perlu minta maaf, bukan berarti keluargaku telah meninggal atau semacamnya. Metode kelahiranku berbeda dengan kalian manusia."
Lillian, Darya, dan Connie tidak terlalu paham dengan penjelasan Ars.
"Ah, kami belum memperkarakan diri, namaku Lillian, gadis ini adalah Connie, dan wanita yang sedang hamil ini adalah Darya. Dan untuk para pria, orang yang berbicara dengan mu sebelumnya bernama Byakuya, paman berbadan besar adalah Yakov, dan pria pirang yang selalu memasang ekspresi cemberut adalah Shamil. Senang bertemu dengan mu, Ars."
"En." Ars menganggu sebagai tanggapan.
"Ars... Kalau kamu bukan manusia, lalu apa kamu? Jika kamu keberatan, tidak perlu mengatakannya."
Connie memberanikan diri bertanya. Setelah mengamatinya, dia merasa pemuda misterius bernama Ars sangat mudah diajak berkomunikasi, meski ekspresi agak datar.
"Idaten." Ars menjawab singkat, jelas, dan padat.
"Idaten? Apa itu sebuah ras tertentu?" Tanya Connie.
"Kami kembali."
Sebelum Ars menjawab, pintu pondok terbuka. Byakuya, Yakov, dan Shamil membawa kelapa di tangan mereka.
"Gunakan ini."
Menggunakan [Manifestasi Senjata], Ars menciptakan sebuah pisau dan menaruhnya di atas meja.
"Wow, darimana munculnya pisau itu, apakah kamu bisa sulap?" Byakuya tercengang melihat pemandangan yang tidak bisa dijelaskan sains.
"Bicara tentang itu nanti, sajikan kelapa dulu."
Lillian mengambil pisau itu dan memberikan kepada Byakuya.
Ars menyipitkan matanya, tindakan Lillian tampak seperti seorang istri berbudi luhur yang membantu suaminya dari sudut pandangnya.
__ADS_1
"Pisau ini sangat tajam!"
Seru Byakuya kagum karena dia dengan mudah membelah kelapa itu.
"Biar aku coba."
Shamil merasa bahwa Byakuya bereaksi berlebihan, mengambil pisaunya, dia membelah kelapa tanpa banyak usaha, yang membuatnya kaget.
"I-Ini tidak masuk akal... Bahkan pisau paling tajam di dunia tidak akan mampu mengiris kepala seperti ini.”
"Hati-hati menggunakan pisau itu, jika tidak sengaja memotong jari mu sendiri, itu bukan salah ku." Ars mengingatkan mereka.
Setiap senjata yang dibuat Idaten memiliki kualitas di atas yang diproduksi manusia. Itu seperti membandingkan antara langit dan bumi.
Dengan pisau yang diberikan Ars, mereka mengiris kelapa dan menyajikan di atas meja.
"Terima kasih untuk pisaunya, apa boleh untuk kami? Ini akan sangat membantu kehidupan sehari-hari kami."
Byakuya berterus terang menginginkan pisau itu. Lokasi mereka sekarang berada di pulau tidak berpenghuni, dan sangat kekurangan perkakas.
"Oi, paman."
Shamil melirik Ars, khawatir membuatnya marah.
"En, karena kamu menyukainya, ambil saja." Ars tidak keberatan.
"Terima kasih banyak..."
Tiba-tiba Byakuya menyadari belum mengetahui nama pemuda di depannya.
"Namanya Ars." Lillian mengingatkan.
"Terima kasih banyak, Ars. Kamu tidak tahu betapa sulitnya hidup di pulau ini." Byakuya berkata tulus.
"Silakan dicicipi, kelapa segar yang baru saja dipetik.”
Yakov menyodorkan kepala di depan Ars.
Mengambil kelapa, Ars meminumnya bersama semua orang. Menjilat bibirnya dan berkata: "Sudah 200 tahun lebih aku meminum air kelapa. Terima kasih atas keramahannya."
"Prrffffttt... Cough Cough Cough..."
Kata-kata santai Ars menyebabkan Byakuya memuntahkan air kelapa dari mulutnya saat dia tersedak.
"2-200 tahun?! Ars, kamu tidak bercanda, kan?"
Lillian dan yang lainnya menatap Ars dengan ekspresi kaget. Hari ini, entah berapa kali mereka kaget dan mungkin akan terus bertambah.
""Apakah aku terlihat bercanda? Juga, umurku sudah lebih dari 200 tahun." Ars berkata dengan tenang.
"Mungkinkah semua Idaten berumur panjang dan awet muda?"
"Idaten? Apa itu, Lillian?"
Ini pertama kalinya Byakuya, Shamil, dan Yakov istilah itu.
"Ars mengatakan rasnya adalah Idaten, aku sendiri juga tidak terlalu mengerti."
__ADS_1
Lillian memandang Ars, menunggunya memberikan penjelasan pada semua orang.