
"Ars, pelan-pelan!"
Restia mengeluh karena kecepatan gerakan mereka terlalu cepat, dia bahkan tidak bisa membuka matanya karena tekanan angin.
Mendengar hal itu, Ars sedikit memperlambat kecepatannya, namun setiap kali ia melompat, tanah yang diinjaknya akan membentuk kawah dan sosoknya tidak terlihat dengan mata telanjang.
Hanya dalam beberapa menit, dia telah meninggalkan Kerajaan Zoldia. Ars tidak berhenti dan terus melesat maju.
Merasa tak berdaya, Restia memeluk Ars erat-erat seperti koala agar tidak terjatuh.
(Ini bukan reuni yang aku harapkan) Ia merasa risih mengingat reaksi Ars saat menyaksikan kematian Areishia.
(Perasaan apa ini... Dadaku terasa sesak...)
Restia tidak tahu dari mana perasaan ini berasal. Tanpa dia sadari, Ars tidak lagi melompat.
"Dimana ini?"
Di hutan yang tenang dimana sinar bulan menyinari dedaunan, Restia melihat danau jernih di depannya.
"Mau berapa lama lagi kamu memeluk ku?"
Suara Ars terdengar di telinga Restia.
"Ini pertemuan pertama kita setelah dua tahun, kamu memperlakukanku dengan sangat dingin, Ars."
"Sudahlah, suasana hati ku tidak bagus."
Melihatnya menolak melepaskannya, Ars mengangkat Restia dengan satu tangan dan menaruhnya di bahunya.
"Woah, kamu tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan lembut." Restia memeluk kepala Ars agar dia tidak terjatuh.
Ars tidak menanggapi godaannya, dia berjalan lebih jauh ke dalam hutan.
Mungkin karena aura haus darah padanya, tidak ada hewan liar berani mendekati Ars.
Hewan mempunyai naluri yang lebih tajam dibandingkan manusia, mereka dapat merasakan Ars sangat berbahaya dan bergegas menjauh darinya.
Restia juga tahu suasana hati Ars sedang tidak bagus, jadi dia tidak menggodanya dan bersikap patuh.
Setelah 30 menit berjalan, keduanya menemukan gua tersembunyi. Kemudian Ars memasuki gua tersebut.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Restia saat melompat turun.
"Pengasingan." Jawab Ars singkat.
"Jangan bilang kematian Ratu Suci membuatmu ingin menjadi seorang pertapa dan menghindari hal-hal duniawi? Ars, jangan lakukan hal bodoh! Hidup manusia itu singkat, jangan buang sisa waktumu dengan melakukan tindakan konyol ini!”
Restia mengira kematian Areishia membuat Ars trauma sehingga ingin hidup sendiri hingga akhir hayatnya.
"Tampaknya, kamu salah paham tentang ku, Restia. Pertama, aku bukan manusia dan masa hidup ku tak terbatas. Kedua, alasan ku melakukan pengasingan untuk memulihkan kekuatan sejati ku."
Dada Ars bersinar, dan Fisik Batinnya muncul, yang menerangi kegelapan gua itu.
"Itu—"
Pupil mata Restia mengecil. Sebagai Roh Kegelapan tingkat tinggi, dia merasa lemah dan tidak berdaya di hadapan Fisik Batin yang mengandung kekuatan suci melebihi apapun yang pernah dilihatnya. Bahkan dia yakin, Tuan Elemental Cahaya Alexandros tidak lebih murni dari hal di depannya.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya kamu, Ars..."
Restia memandangnya dengan tatapan rumit. Sayangnya, Ars tidak lagi mempedulikannya dan memasuki meditasi dengan Pedang Suci tertancap di sampingnya.
"Haaa... Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya tempat untuk pergi."
Duduk di sudut gua, Restia memeluk lututnya dan memikirkan masa depan.
...
Dunia tetap akan berputar meski tanpa kehadiran Raja Iblis dan Ratu Suci.
5 tahun kemudian.
Pada musim semi, Restia duduk di depan pintu gua dan menikmati keindahan bunga yang bermekaran. Menoleh ke belakang, dia melihat Ars masih mempertahankan posisi meditasi.
"Dia benar-benar bukan manusia... Dia tidak makan dan minum selama beberapa tahun. Tampaknya, dia tidak membutuhkan makanan seperti manusia."
15 tahun kemudian.
Pada musim panas, Restia menopang wajahnya dengan tangannya dan memusatkan perhatiannya pada Ars.
"Hei, Ars, mau berapa lama lagi kamu bermeditasi? Aku kesepian, lho!"
Dia mencolek pipinya berharap mendapat respon. Namun, Ars seperti patung batu dan tidak bereaksi. Restia bahkan menduga pria itu akan mati jika bukan karena dia masih bernapas.
"Sigh~... Kamu pria jahat, kamu mengabaikan ku. Tapi mengapa... Mengapa aku tidak bisa meninggalkan mu?"
30 tahun kemudian.
"Berapa lama lagi dia mau mengurung diri di gua?"
Memetik buah-buahan di pohon, Restia kembali ke gua, berharap Ars akan bangun dan memakan makanan yang disiapkan olehnya. Meski sebagian besar buah-buahan akan membusuk karena tidak ada yang memakannya.
50 tahun kemudian.
Pada musim dingin, Restia menyalakan api di dalam gua, dia melakukan ini agar Ars tidak kedinginan. Lagi pula, dia tidak tahu apakah pihak lain benar-benar memiliki umur tak terbatas seperti yang dia klaim.
"Semoga ini membuat mu lebih hangat."
Restia menggunakan sayap hitamnya membungkus tubuh Ars.
"Aku harap kamu cepat bangun, Ars. Aku kesepian tanpa mu."
Memejamkan matanya, dia memeluknya dengan erat.
Gua itu sunyi, hanya terdengar suara api membakar kayu dan angin dingin yang masuk dari pintu gua.
Tiba-tiba, Ars membuka matanya setelah 50 tahun meditasi.
"Butuh 50 tahun untuk memulihkan Rinnegan, keberuntungan ku tidak bisa diandalkan."
"Ars! Akhirnya, kamu bangun!"
Mendengar suara itu, Restia membuka matanya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kegembiraan.
"Mata mu..."
__ADS_1
Saat dia melihat matanya, ia tercengang melihat perubahan pada mata Ars. Itu bukan merah darah dengan tiga tomoe seperti sebelumnya, melainkan pola riak yang menyebar diseluruh bola mata.
"Terima kasih telah menemani ku, Restia." Ars berbicara lembut.
Meski memasuki meditasi, Ars tidak memutus persepsinya terhadap dunia luar. Dia bisa merasakan semua perlakuan Restia padanya.
Sejujurnya hatinya sangat tersentuh. Jika bukan karena Areishia yang telah mengisi hatinya, Ars pasti sudah jatuh cinta pada Restia.
"Bodoh bodoh bodoh! Kamu pria jahat, kejam, tak berperasaan! Kamu membiarkan ku menunggu 50 tahun!"
Restia memukul dada Ars tanpa banyak tenaga, itulah caranya melampiaskan keluh kesahnya selama ini.
"Seharusnya kamu pergi saja dan tinggalkan aku. Tidak perlu bagi mu menderita selama ini..." Ars merasa bersalah.
Restia mendongak menatap mata Ars dengan serius.
"Hei, Ars, jadikan aku Roh Terkontrakmu."
"Tidak perlu, kamu telah diperalat Solomon. Kami telah bebas, tidak perlu terikat dengan siapapun lagi." Ars menggelengkan kepalanya dan menolak.
Faktanya, Ars tidak perlu mengandalkan Roh untuk memperoleh kekuatan. Bagaimanapun, kekuatannya sudah sangat dikuasai, tidak perlu menjalin kontrak dengan Roh.
Saat ini, dia berhasil memulihkan 22% kekuatan sejatinya, dan retakan pada Fisik Batin berangsur-angsur menghilang.
"Bukankah kamu bilang kamu bukan dari dunia ini? Bawa aku pergi dari dunia ini, aku ingin bersamamu dan mendapat kesempatan pergi ke berbagai dunia. Tidak ada tempat bagiku di dunia ini, lebih baik bersamamu, bukan?"
Cengkeraman Restia pada pakaian Ars menjadi lebih kuat. Jika ditolak, kemungkinan besar dia akan lari dan menangis.
"Baiklah, jangan menyesalinya di masa depan."
Mengingat Restia menemani selama 50 tahun, Ars tidak tega menolak permintaannya.
(Anggap saja dia teman perjalananku. Senang rasanya memiliki seseorang yang menemani keabadian ku)
Kemudian, mereka berdua segera menjalin kontrak.
Segel Roh berbentuk bulan sabit muncul di punggung tangan Ars, sedangkan Restia bertransformasi menjadi Pedang Vorpal yang menampilkan kemegahan halus.
Pedang lurus untuk penggunaan satu tangan.
Menimbulkan kekaguman akan keindahannya pada orang yang melihatnya, namun meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan.
"Saatnya membangkitkan Areishia."
Pedang Vorpal di tangan Ars menghilang, dia membiarkan Restia tetap di Segel Roh untuk sementara.
"Areishia kita akan segera bertemu."
Dipenuhi antisipasi, Ars membuat cetakan tangan.
"Rinne Tensei no Jutsu (Samsara of Heavenly Life Technique)."
Detik berikutnya, dari dalam tanah muncul Raja Neraka. Namun, tidak ada yang terjadi.
"MENGAPA!!!"
Teriakan penuh amarah Ars terdengar oleh semua orang di Kekaisaran Ordesia.
__ADS_1