Reinkarnasi Ketujuh

Reinkarnasi Ketujuh
Sikap Penduduk Desa


__ADS_3

*🪓*


Di belakang rumah, Ars memegang kapak ke atas, lalu mengayunkannya ke bawah dan membelah balok kayu menjadi dua bagian.


Tidak jauh darinya, ada seorang gadis kecil berambut perak yang sangat lucu. Dia mengambil kayu dan meletakkan batang kayu baru di depan Ars.


*🪓*


Ars mengayunkan kapak untuk membelah kayu dan Est akan membantunya dari samping.


Keduanya berkoordinasi dengan baik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kakak Ars, sudah waktunya makan siang!"


Berjalan ke luar rumah, Areishia memanggil.


"Oh, ternyata sudah siang."


Ars menyeka keringat yang tidak ada di dahinya.


"Cukup, Est. Kita sudah punya banyak kayu bakar. Persediaan ini cukup untuk sebulan."


"Iya." Est berkata singkat, lalu menghampiri Areishia.


Ars menancapkan kapak ke tanah, mendongak ke langit mendung, dia menyipitkan matanya.


"Semoga hanya perasaan ku saja."


Sambil menggelengkan kepalanya, dia bersama dua gadis mulai makan siang.


Di meja makan yang dibuat Ars, dia melirik ke telinga Areishia yang menggantung sepasang anting kuning.


"Kakak Ars? Apa ada terjadi sesuatu di wajah ku?" Areishia memiringkan kepalanya dan bertanya.


"Tidak, hanya saja kamu terlihat cantik menggunakan anting itu, Areishia." Ars mengatakan yang sebenarnya.


Dibandingkan dengan aktris Korea Selatan yang memperoleh kecantikan melalui operasi, kecantikan alami Areishia mengalahkan mereka semua, meskipun dia tidak berdandan dan merawat wajahnya.


"Kakak Ars terlalu berlebihan, dibandingkan gadis lainnya, aku hanya biasa saja."


Meski begitu, Areishia justru senang menerima pujian itu.


"Kata-kata Nyonya dan perasaannya tidak cocok... Mengapa Nyonya berbohong?"


"Ah, Est. Jangan mengungkapkannya."


Diungkap oleh Est, Areishia menutupi wajahnya dengan malu.


"Nyonya berperilaku aneh."


Sebagai Roh Terkontraknya, Est merasakan perasaan sebenarnya Areishia. Dia tidak terlalu memahami manusia, itulah mengapa dia bingung.


"Est, terkadang terlalu banyak bicara bukan hal baik." Ars bertindak seperti seorang ayah menasihati putrinya.


"Manusia terlalu rumit."


Tidak mengerti apa yang terjadi, Est melanjutkan makan roti dengan mulut kecilnya.


Roh Tingkat Tinggi tidak perlu memakan makanan manusia. Namun, dia diperintahkan oleh Areishia, sehingga Est tidak dapat menolak.


Suasana dibuat canggung oleh tindakan polos Est.

__ADS_1


Ars dan Areishia makan dalam diam dengan pikiran mereka masing-masing.


(Frekuensi kemunculan Roh Pemberontak semakin meningkat akhir-akhir ini. Aku ingin tahu apakah situasi ini hanya terjadi di sini atau tempat lain juga mengalami hal serupa.)


Ars memakan roti buatan Areishia sambil merenungkan kejadian baru-baru ini.


Sudah tiga hari sejak Areishia mengikat kontak dengan Roh, Terminust Est.


Selama rentang waktu itu, desa tersebut telah berkali-kali diserang oleh Roh Pemberontak, desa akan menemui kehancuran jika bukan karena Areishia memegang Pedang Suci dan mengalahkan semua Roh Pemberontak.


Namun, bukannya rasa terima kasih yang ia terima, ia malah dijauhi dan dikucilkan oleh penduduk desa.


Alasan sederhana, yaitu iri.


Areishia yang semula gadis gembala kini memiliki kekuatan tak tertandingi di mata semua orang. Tentu saja beberapa orang akan cemburu dan dengki.


Mengapa Areishia?


Mengapa bukan diri mereka?


Terutama para wanita yang merasa merasa dirinya lebih baik dan layak daripada Areishia.


Alhasil, mereka mempengaruhi penduduk desa lainnya dan menyebarkan desas-desus buruk tentang Areishia.


Jangan remehkan kecemburuan wanita!


Sekarang, penduduk desa mengambil kembali kambing mereka dan tidak membiarkan Areishia menjadi gembala lagi. Selain itu, penduduk desa akan menolaknya bekerja dengan mereka.


Selain Ars dan Est, tidak ada yang mau berinteraksi dengan Areishia.


*Knock Knock*


Suara ketukan pintu terdengar.


Sudah lama sejak seseorang datang, Areishia dengan bersemangat membuka pintu.


"Haaa..."


Melihat perilaku kekanak-kanakannya, Ars menghela napas.


"Siapa kamu?"


Areishia tidak mengenali pria paruh baya di depannya.


"Namaku Aelric Farnham, apa benar ini tempat tinggal Elementalis?"


Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya sebagai Aelric dan wajahnya yang lelah dipenuhi dengan secercah harapan.


"Ada urusan apa mencari ku?" Areishia bertanya penasaran.


Mendengar jawaban itu, Aelric menginformasikan gadis di depannya adalah orang yang di carinya. Tanpa ragu, dia berlutut dan meminta bantuan.


"Nona, tolong selamatkan kami! Desa ku telah diserang Roh Pemberontak. Aku mohon bantu kami semua. Jika tidak, semua orang akan mati."


"Paman, jangan berlutut, cepat berdiri."


Melihat pria paruh baya itu berlutut di depannya, Areishia membantunya berdiri.


"Jika kekuatan ku bisa membantu, aku akan membantu mu, paman." Dia setuju tanpa keraguan sedikit pun.


"Terima kasih banyak, nona. Ayo pergi sekarang, desa masih di serang."

__ADS_1


"Seberapa jauh desa itu dari sini?"


"Itu... 30 menit naik kuda."


Aelric cemas tidak datang tepat waktu.


Areishia juga mengerti ini, lalu dia menoleh ke Ars.


"Waktu sangat mendesak... Apa kakak Ars punya cara agar kita bisa ke sana secepatnya?"


Dia tahu Ars bukan orang biasa. Jadi, dia menggantungkan harapannya padanya.


"Karena ini permintaan mu, bagaimana mungkin aku mengatakan tidak?"


Ars menghampirinya bersama Est.


"Aku tahu kakak Ars selalu dapat diandalkan. Aku serahkan pada mu." Areishia menunjukkan senyuman cemerlang.


"Kamu adalah..." Aelric menatap Ars dengan skeptis.


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pria lemah dan tidak memiliki kekuatan magis apapun. Itu reaksi normal saat mendengar seorang pria mengatakan hal absurd seperti itu.


Ars terlalu malas menjelaskan pada Aelric. Dia berjalan cukup jauh dari rumah, lalu ketiga tomoe di matanya berotasi dan menyatu menjadi bentuk batu.


Eternal Mangekyo Sharingan!


Kemudian, di sekitar Ars muncul energi ungu berbentuk tulang rusuk. Tidak berhenti di situ, energi ungu terjalin membentuk serat otot dan akhirnya membentuk raksasa setinggi 150 meter yang mengenakan baju besi, katana di pinggangnya, dan sepasang sayap di punggungnya.


Susano'o bentuk sempurna!


Ars berada di dalam pentagon yang terletak di dahi Susano’o.


Karena ukuran Susano'o yang besar, semua penduduk utama dapat melihatnya. Mereka memasang ekspresi ngeri dan tidak berani bergerak sedikit pun, takut akan membuat marah raksasa itu.


Di sisi lain, Aelric sudah lama jatuh dengan pantat menyentuh tanah. Matanya membelalak dan mulutnya terbuka.


"Wow, kakak Ars luar biasa! Aku tidak tahu kamu bisa melakukan hal seperti ini."


Areishia berseru kaget, tapi tidak ada rasa takut seperti penduduk desa lainnya. Hanya ada kekaguman di matanya yang indah. Sedikit yang dia sadari, Est yang selalu tanpa emosi, sekarang memiliki fluktuasi di matanya


Ars mengontrol Susano'o, tangan besar itu turun ke tanah.


"Naiklah, kita akan terbang."


"Ini akan menjadi pengalaman terbang pertama ku, ayo naik, Est."


Areishia meraih tangan Est, dan menariknya melangkah ke telapak tangan itu.


Aelric ragu-ragu dan takut, menggertakkan giginya, dia memberanikan diri dan menahan rasa takutnya.


Setelah semua orang lain, Susano’o mengepakkan sayap di punggungnya, dan mulai terbang di udara.


"Tunjukkan arahnya." Kata Ars.


"I-Iya..." Aelric menjawab grogi.


Dengan kemampuan terbang Susano'o, mereka tiba dalam beberapa menit di desa yang dimaksud Aelric.


Kemudian Areishia dengan Terminust Est mendarat di tanah dan mulai mengalahkan Roh Pemberontak di desa tersebut.


Sedangkan Ars, dia membunuh Roh Pemberontak di udara.

__ADS_1


Dengan kerja sama mereka, semua Roh Pemberontak yang menyerang desa berhasil di musnahkan.


__ADS_2