Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Pengantin Baru Cia dan Juna


__ADS_3

Kini Cia dan Juna sudah menjadi sepasang suami istri, di dalam kamar mereka sesekali saling melirik. Mereka masih malu-malu kucing. Pakaian mereka pun masih belum berganti dari acara resepsi. Akhirnya Cia memberanikan diri untuk meminta izin kepada Juna. Cia ingin membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


"Kak, aku mau bersih-bersih dulu ya, di kamar aku tidak ada kamar mandi seperti kamarnya Kak Amanda. Jadi mandinya di luar kamar, boleh aku keluar kamar Kak?" Cia izin kepada Juna.


"Iya kamu boleh kok bersih-bersih, nanti habis kamu baru aku ya untuk bersih-bersih. Tubuh aku juga sudah terasa lengket," ucap Juna.


Cia keluar kamar, dia melihat kamar samping yaitu kamar Amanda dan Alif. Kamar mereka masih tertutup. Cia memilih kamar mandi yang berada di bawah, lantai. Kaila melihat Cia turun dari tangga.


"Cia kamu mau mandi?" tanya Kaila.


"Iya Mah, badan aku udah lengket banget dari acara resepsi kan belum ganti baju," jawab Cia.


"Juna mana?" tanya Kaila.


"Masih di kamar Mah, katanya gantian mandinya. Habis aku baru kak Juna. Aku mandi dulu yah Mah, takut Kak Juna nungguin kelamaan," ucap Cia.


Kaila setelah berbicara kepada Cia, dia menghampiri Andi.


"Mas, sepertinya kalau pengantin baru nggak enak deh kamar mandi di luar kamar Mas pasti Juna canggung banget," ucap Kaila.


"Itu sudah aku pikirkan Mah, kamu tenang aja untuk Amanda biar dia dan Alif tinggal di rumah ini, tapi untuk Cia dan Juna aku sudah menyiapkan sesuatu," ucap Andi.


"Siapkan apa kamu Mas?" tanya Kaila. Andi mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia memberitahu kepada Kaila bahwa ia sudah booking hotel 3 hari 3 malam sebagai hadiah untuk pernikahan Cia dan Juna.


"Kok kamu nggak bilang-bilang aku sih Mas?" tanya Kaila.


"Ini mendadak gitu di pikiran aku, karena aku kan laki-laki pasti akan sangat canggung jika mandi di luar kamar. Apalagi pengantin baru Mah." Andi tersenyum kepada Kaila.


"Cia pasti senang deh nerima hadiah ini dari kamu," ucap Kaila.


"Ya sudah kamu berikan ini kepada Cia, agar mereka bisa langsung bersiap-siap ke hotel," ucap Andi.


"Lah kok aku sih yang kasih? Kamu lah yang kasih sebagai ayahnya, pasti dia lebih senang jika kamu yang memberikan langsung kepada Cia." Kaila menolak agar Cia bisa merasakan bahwa dia sangat sayang kepada Cia.


Andi menunggu Cia keluar dari kamar mandi, sekitar 15 menit Cia sudah selesai bersih-bersih dan mengganti pakaian yang baru. Andi menghampiri Cia.


"Ayah ada apa? Ada yang mau dibicarakan?" tanya Cia.


"Ayah sudah booking kamar hotel, hadiah dari Ayah untuk kamu dan Juna. ini dimulai hari ini, sampai dua hari ke depan. Jadi ayah sudah booking 3 hari. Kamu pakai ya dan setelah Juna bersih-bersih berangkatlah. Ini bukti pembayarannya." Andi memberikan bukti pembayaran kepada Cia.

__ADS_1


"Ayah terima kasih banyak." Cia langsung memeluk Andi. Andi membelai kepala Cia.


"Dulu kamu masih kecil Nak, sekarang sudah besar. Jadilah istri yang baik, yang patuh sama suami kamu. Sekarang kamu bukan anak-anak lagi, kamu bukan tanggung jawab ayah. Suami kamu yang memegang tongkat estafet dari ayah. Suami kamu yang akan bertanggung jawab atas kamu," ucap Andi sambil menitikan air mata.


"Ayah, Cia mohon maaf sebelum nikah Cia sudah berbuat salah sama Ayah. Cia malah mengucapkan bahwa Cia anak sambung padahal sebenarnya rasa kasih sayang Ayah melebihi rasa kasih sayang ayah kandung aku yang aku tidak pernah rasakan. Terima Kasih Ayah sudah membesarkan aku, walaupun aku bukan darah dagingmu." Ca menangis dan memeluk Andi. Andi memegang pipi Cia lalu Menyeka air mata Cia.


"Jangan menangis sayang, ya sudah kamu kembalilah ke kamar. Juna pasti menunggu kamu di kamar," ucap Andi. Cia menganggukan kepalanya lalu ia berjalan ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamar. Juna sudah menunggu Cia cukup lama.


"Maaf Kak, nunggu lama ya, tadi aku berbicara sama Ayah setelah mandi dan Ayah memberikan hadiah kepada kita. Ayah sudah booking hotel Kak untuk kita 3 hari 3 malam." Cia memberikan bukti pembayaran hotel tersebut kepada Juna.


"Ayah booking hotel dimulai hari ini?" tanya Juna.


"Iya Kak, setelah Kakak bersih-bersih katanya kita langsung aja ke hotel," jawab Cia.


"Ya sudah aku mandi dulu ya, kamu siap-siap aja bawa pakaian untuk 3 hari ke depan." Juna mencium kening Cia. Pipi Cia langsung merah, pertama kali Juna melakukan itu.


15 menit Juna selesai mandi. Cia sedang memasuki pakaiannya di dalam koper dan Cia menanyakan Juna ingin membawa pakaian yang mana. Juna mengambil dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper yang sama dengan Cia.


"Ayo berangkat." Juna menjulurkan tangannya dan Cia langsung menggenggam tangan Juna, mereka berdua keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper. Kaila dan Andi sudah menunggu di lantai bawah.


"Mama, Ayah, kami berangkat dulu ya," ucap Juna.


"Terima kasih banyak Ayah untuk kado pernikahan kami." Juna langsung mencium punggung tangan Andi dan juga Kaila diikuti oleh Cia.


Mereka masuk ke dalam mobil. Juna menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju hotel yang sudah di booking oleh Andi. Sesampainya di hotel mereka menunjukkan struk pembayaran dan mereka diantar oleh office boy untuk ke kamar mereka.


Kamar mereka sudah dihiasi oleh bunga, ternyata Andi tidak hanya membooking kamar hotel, tapi juga mendesain kamar hotel untuk pengantin baru.


"Aku nggak menyangka Ayah menyiapkan ini semua," ucap Cia.


"Ya udah ayo masuk." Juna menggenggam tangan Cia, mereka langsung duduk di atas ranjang. Sama-sama merasa sangat canggung. Keduanya kini ada di dalam satu kamar, Cia merasa gugup ketika berdekatan dengan Juna. Tangannya sudah dingin, Juna melihat kegugupan Cia. Juna menggenggam tangan Cia.


"Kamu gugup sayang? Jangan gugup ya kita sudah halal, jadi jika bersentuhan sudah tidak dosa lagi, ketika aku menggenggam tangan kamu seperti ini maka aku mendapatkan pahala," ucap Juna. Cia tersenyum menatap Juna.


"Boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Juna.


"Apa itu Kak?" tanya Cia.


"Aku sudah menjadi suamimu, tapi aku belum pernah lihat rambutmu,"ucap Juna. Cia pun baru tersadar bahwa Juna belum melihat rambutnya, dengan rasa malu Cia membuka jilbabnya dan meletakan jilbab tersebut di hanger. Juna tidak berkedip melihat Cia. Cia mempunyai rambut yang panjang dan hitam, sangat dirawat. Tanpa disadari oleh Cia, Juna mendekatinya lalu memeluk Cia dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Cia.

__ADS_1


"Ya Allah Istriku cantik sekali ,rambut kamu wangi sayang." Juna menghirup aroma sampo yang Cia gunakan sebelum berangkat ke hotel, wajah Cia sudah sangat merah ketika dipeluk Juna seperti itu.


"Kak aku malu, lepaskan aku Kak," minta Cia. Bukannya dilepaskan Juna malah membalikkan tubuh Cia agar bisa menatap wajah Cia. Kini wajah Cia sangat dekat, Juna tersenyum ketika tatapan mereka beradu.


"Boleh aku menciummu?" Juna minta izin kepada Cia walaupun mereka sudah halal tapi Juna tidak mau sembarangan untuk menyentuh Cia, karena akan terasa canggung mereka baru sah menjadi suami istri. Pertanyaan Juna tidak dijawab oleh Cia, Cia hanya terdiam tapi menatap Juna. Juna memberanikan dirinya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Cia. Ia mendaratkan bibirnya ke bibir Cia. Pengalaman pertama yang mereka rasakan, mereka hanya terdiam merasakan kulit bibir yang saling menyentuh.


Bersambung


❤❤❤


Baca juga yuk cerita seru di novel yang lainnya karya author.




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar(Tamat)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2