Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Kebencian Cia


__ADS_3

Cia tidak mengatakan apapun ketika bertemu dengan Rangga, tatapan kebencian yang Cia berikan. Rangga menghampiri Cia tapi Cia memundurkan langkahnya kebelang tubuh Juna. Kaila melihat bahwa putrinya tidak nyaman berada di sini.


Andi berbasa basi untuk berbicara, setelah itu Kaila pamit untuk segera pulang.


"Abah, kami permisi dulu yah. Semoga Abah cepat sehat lagi," ucap Kaila. Kaila melirik Cia memberi kode untuk agar pamit.


"Kakek, aku dan suamiku permisi dulu. Cepat sehat lagi yah Kek," ucap Cia.


"Maafin Kakek Cia, keluarga dari Ayahmu tidak ada yang datang," ucap Abah Rangga.


"Iya Kek, nggak apa-apa sudah ada keluarga dari ayah Andi dan juga keluarga besar dari Mamah, itu sudah cukup bagi aku," ucap Cia. Rangga yang mendengar itu hatinya merasa teriris, perkataan itu terlontar dari Cia. Kalimat yang menandakan bahwa Rangga tidak diharapkan untuk datang ke pernikahan Cia.


"Rangga kami permisi dulu," ucap Andi. Mereka saling bersalaman. Kaila menyuruh Cia untuk mencium punggung tangan Rangga tapi ia menolaknya. Cia langsung keluar dari ruang rawat inap kakeknya, setelah ia mencium punggung tangan kakek dan neneknya. Cia menarik lengan Juna agar cepat keluar dari ruang rawat inap.


Kaila pun ketika melihat Cia sudah ikut keluar dari ruang rawat inap mantan mertuanya itu, mereka berjalan bersama di koridor rumah sakit untuk menuju tempat parkiran.


Tab Tab


Duara kaki berlari.


"Cia tunggu," teriak Rangga.


Kaila memberhentikan langkahnya, ia menarik dengan Cia agar ikut berhenti.


"Cia ayahmu memanggil kamu," ucap Kaila.


"Buat apa sih Mah dia memanggil aku?" Cia sangat tidak Rangga mengejarnya. Cia sangat membenci Ayah biologisnya itu.


"Turunkan amarah kamu Cia, walaupun bagaimana dia itu Ayah kamu," ucap Kaila.


Cia tidak mau membuat keributan karena ia yang tidak mau untuk menemui ayahnya. Akhirnya dengan terpaksa ia menunggu ayahnya untuk mendekatinya.


"Cia ini kado dari ayah, selamat ya kamu sekarang sudah menjadi istri. Jadilah istri yang baik," ucap Rangga.


"Insya Allah aku akan menjadi istri yang baik, tidak selingkuh seperti Mamah yang selalu setia." Rangga merasa tersentil dengan ucapan dari Cia.


"Ini suamimu? Namanya siapa? Ayah belum kenalan." Juna langsung mencium tangan Rangga.


"Aku Juna," ucap Juna.

__ADS_1


"Juna jaga Cia baik baik ya, jangan sakiti hatinya," ucap Rangga.


"Kak Juna sangat mencintai aku Ayah. Insya Allah dia akan menjaga aku dan tidak akan berpaling hatinya dengan wanita lain, dia tidak akan seperti ayah yang telah menelantarkan 4 anaknya, tidak memberikan uang pendidikan tidak memikirkan uang untuk makan anak-anaknya, tapi ayah sambunglah yang telah memberikan itu semua, aku dan keluargaku pulang dulu Ayah dan simpan kado itu untuk istri Ayah. Assalamualaikum." Cia langsung berjalan dengan bergandeng tangan dengan Juna.


Rangga terdiam mendengar ucapan dari Cia, anak pertamanya. Ia tertunduk ketika Cia berkata seperti itu, ada perasaan yang menyesal karena melakukan itu semua.


"Rangga aku pulang dulu ya, assalamualaikum." Kaila menggenggam tangan Andi lalu berjalan. Rangga memperhatikan punggung Kaila dan Andi. Dulu juga Rangga yang berjalan sambil bergandeng tangan, ia ingat ketika awal menikah dengan Kaila, hal itu ia lakukan juga.


Cia dan Juna sudah berada di dalam mobil dengan wajah cemberut. Juna menggenggam tangan Cia dan menepuk-nepuknya.


Istriku jangan cemberut, nggak enak dilihatnya. Di sampingmu ini kan suamimu, masak di samping suami muka cemberut seperti itu sih," ucap Juna. Cia menatap Juna dan tersenyum kepada Juna.


Andi dan Kaila masuk ke dalam mobil, mereka duduk di jok bagian depan. Andi menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit yang merawat Abah Rangga.


"Cia kamu sama Ayah kamu jangan bicara seperti itu," ucap Kaila.


"Biarkan saja Mah, memang itu kenyataannya kok. Ayah seperti itu," ucap Cia.


"Tapi dia itu kan ayah kandung kamu," ucap Kaila.


"Tapi dia tidak menganggap mempunyai anak Mah, lagi Mamah ngapain pikirin dia?" tanya Cia.


"Mas sepertinya Abah Rangga sakitnya bukan sakit biasa deh Mas, masa ada bercak-bercak merah gitu seperti Cia waktu dia terkena guna-guna," ucap Kaila.


"Ah mungkin itu demam berdarah kali, demam berdarah kan ada bercak-bercak merah gitu." Andi membuang pikiran yang negatif.


Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk ke dalam rumah.


"Mah, Ayah, aku dan kak Juna langsung ke atas ya mau membereskan barang Mah karena sebentar lagi kan aku kuliah, dan tinggal di kontrakan." ucap Cia.


"Kalian rencananya bagaimana kedepannya?" tanya Kaila.


"Aku akan usaha Mah, aku kan suami Cia, tetap harus memberikan nafkah kepada Cia. Aku akan berusaha untuk membuat Cia bahagia," ucap Juna.


"Ayah sudah membayar kontrakan di dekat kampus kalian, kalian nanti langsung masuk aja." ucap Andi.


"Kami baru mau mencarinya Ayah. Ayah sudah mencari duluan. Kenapa tidak memberitahu aku terlebih dahulu?" tanya Cia.


"Ayah ingin kamu hidup yang berkecukupan walaupun kamu sudah menikah. Ayah sudah melunasi 2 tahun kosan itu. Itu adalah waktu 2 tahun untuk kamu belajar di UI, setelah itu kan kamu menjadi dokter koas, Juna tinggal setahun lagi kan kuliahnya. Tolong walaupun kamu menjadi dokter koas, luangkan waktu untuk Cia," ucap Andi.

__ADS_1


"Iya Ayah Insya Allah aku akan selalu meluangkan waktu untuk istriku," jawab Juna. Cia dan Juna langsung menaikkan tangga untuk pergi ke kamar mereka, ketika mereka ingin masuk Amanda baru keluar dari kamarnya.


"Kalian habis ke mana tadi? aku cariin Mamah sama Ayah juga nggak ada," tanya Amanda.


"Aku ke rumah sakit jenguk kakekku." Cia melihat rambut Amanda yang basah lalu dia mendekati kakaknya tersebut.


"Ehem habis keramas ya Kak," ledek Cia kepada Amanda. Amanda langsung menatap Cia dan mencubit pinggang Cia


"Jangan ngeledek kamu, kamu juga kan sering keramas," ucap Amanda.


"Au sakit Kak, " ucap Cia.


"Kak ada yang aku ingin omongkan Kak, kita bisa ke balkon berdua nggak?" tanya Cia.


Ketika Cia mengajak Amanda Alif keluar dari kamar.


"Aku mau bicara dulu dengan Cia ya Kak, Kakak mau ke mana?" tanya Amanda.


"Kak Juna mau di kamar atau mau ngobrol sama Kak Alif? Aku ada suatu hal yang ingin dibicarakan sama Kak Amanda," ucap Cia.


"Aku ngobrol aja deh sama Kak Alif." Alif langsung mengajak Junake ruang keluarga di sana juga ada Andi dan Kaia mereka akan berbincang-bincang di sana.


Cia dan Amanda pergi ke balkon hanya berdua, dia ingin membicarakan sesuatu dengan Amanda.


"Kak Kakak jangan kaget ya, jika aku cerita ini," ucap Cia.


"Memangnya kamu mau cerita apa? Apa ada yang aku tidak tahu tapi harus aku tahu," tanya Amanda.


"Kedua orang tua Kak Emir datang kemari Kak. Meminta mencabut laporan yang dibuat oleh Ayah, tapi Ayah menolaknya dengan tegas, karena Ayah berpikir Kak Emir keterlaluan sudah menyakiti Kakak," cerita Cia kepada Amanda.


"Lalu mereka langsung pulang ketika ayah menolak?" tanya Amanda.


"Iya mereka langsung pulang tapi sebelum pulang mereka mengatakan bahwa akan menghancurkan bisnis ayah, mereka mengancam seperti itu Kak," jawab Cia.


"Aku nggak habis pikir keluarga Emir ternyata seperti itu. Aku bersyukur tidak menikah dengan Emir, karena keluarga Kak Alif sangat menyayangi aku dan juga menerima aku apa adanya," ucap Amanda.


"Aku takut ada apa-apa dengan Ayah. Karena kelihatannya perusahaan ayah Kak Emir itu lebih kuat dari perusahaan Ayah, nanti jika ada sesuatu tolonglah Ayah Kakak, kan Kakak orang hukum. Kak Alif juga sedang mengambil S2 hukum," ucap Cia.


"Iya benar juga katamu. Kakak akan selalu memantau bisnis Ayah walaupun Kakak ada di Jogja," ucap Amanda.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2