
Di tengah malam, di saat orang-orang tertidur pulas. Kaila mulai gelisah tidurnya, kandungannya sudah memasuki HPL. Dia memang sedang menunggu hari kelahiran. Perutnya terasa sakit, ia tahu saatnya akan melahirkan hari ini. Kaila membangunkan Andi yang tertidur pulas, karena kontraksi sudah terasa bagi Kaila.
"Mas... Mas Andi, bangun." Kaila menggoyangkan tubuh Andi, sekitar 1 menit Andi membuka mata, ia mengerjakan matanya karena matanya berat untuk di buka.
"Ada apa Mah kamu bangunkan aku?" tanya Andi.
"Mas perutku sakit Mas, sepertinya saatnya melahirkan," ucap Kaila dengan meringis kesakitan.
Andi panik, dia berlarian untuk mengambil tas yang sudah disiapkan untuk Kaila yang akan segera melahirkan. Ia memapah jalan Kaila. Kaila sudah meringis kesakitan, ia memegang perutnya. Andi berteriak untuk memanggil Mbak yang biasa bekerja di rumahnya.
"Mbak...Mbak...tolong jaga anak-anak ya, istriku ingin melahirkan," teriak Andi.
Mbak Ijah menganggukan kepalanya, dia membantu Andi untuk membawakan tas dan memasukkannya ke dalam mobil. Sopir pribadi Andi sudah bersiap untuk membawa majikannya ke rumah sakit. Di dalam mobil Andi mengusap-usap punggung Kaila. Kaila merasakan kontraksi yang begitu cepat karena terasa sakitnya dalam jarak waktu yang begitu cepat. Andi memeluk Kaila di dalam mobil, Kaila menggenggam tangan Andi karena ia merasakan kesakitan akibat kontraksi.
"Mas...sakit...." rintih Kaila.
"Pak Yudi jalannya lebig cepet ya. Ini istri saya sudah kesakitan," ucap Andi.
"Baik Pak," jawab Yudi.
Mobil Andi membelah jalanan kota Jakarta di tengah malam, pukul 12.00 malam. Kaila meringis kesakitan, punggungnya terasa panas. Andi mengusap-usap punggung Kaila. Jarak rumah Andi dengan rumah sakit kira-kira membutuhkan waktu 30 menit. Pak Yudi mengendarai mobil dengan kecepatannya yang lebih dari biasanya.
Sesampainya di rumah sakit, Andi langsung menggendong Kaila dan satpam rumah sakit membantu Andi. Bidan membawa branker ranjang pasien, Kaila langsung dibawa ke ruang persalinan. Empat bidan dan satu dokter masuk ke ruang persalinan, bidan langsung memeriksa Kaila.
"Pembukaan keempat Dok," ucap salah satu bidan.
Dokter mengecek detak jantung bayi Kaila yang ingin segera lahir.
Deg deg...
Suara bunyi detak jantung bayi Kaila dari alat yang diarahkan oleh dokter di perut Kaila. Kaila menahan rasa sakit. Dia berusaha untuk tidak mengejan karena belum waktunya. Kaila menggenggam erat tangan Andi. Andi merasakan rasa sakit Kaila.
"Allah..." ringis Kaila, sambil memegang perutnya.
"Sakit sekali sayang?" tanya Andi.
"Iya Mas, sangat sakit. Aku menahan untuk tidak mengejan karena belum saatnya." Kaila menutup matanya, ia menahan rasa sakit.
Saat kontraksi datang, Kaila akan meremmmass tangan Andi dengan kuat.
"Ssttt...Allah...." ucap Kaila.
Andi mengeringkan keringat di kening Kaila, Kaila sampai menangis karena menahan rasa sakit yang amat menyakitkan.
"Mas, sakit banget..." rintih Kaila.
"Iya sayang...sabar yah....." Andi mengecup pucuk kepala Kaila lalu ia membelai rambut Kaila.
"Mas...." Kaila meremmmass lengan Andi, sampai lengan Andi kemerahan karena sakin kuatnya Kaila mereemmas.
Bidan memeriksa kembali
"Pembukaan kelima Bu, sabar yah...jangan di mengejan dulu. Ini lahiran anak keberapa Bu?" tanya Bidan.
"Ke lima Bu," jawab Kaila.
"Lahiran sebelumnya normal semua?" tanya Bidan kembali.
"Iya semuanya normal," jawab Kaila.
__ADS_1
"Artinya sudah tahu rasanya yah Bu. Jangan mengejan yah belum waktunya agar tidak robek," ucap Bidan.
"Allah....," Kaila merasakan kontraksi kembali, ia meremmmass kembali tangan Andi.
Andi membisikkan doa-doa di telinga Kaila. Untuk jenis kelamin Andi dan Kaila tidak mau tahu ketika Kaila di USG. Agar menjadi kejutan pas lahir.
"Mas...ahh Ya Allah...sakit banget Mas," ucap Kaila.
Andi sangat kwatir akan kondisi Kaila yang meringis kesakitan. 11 tahun lalu dia tidak bisa menemani istrinya ketika Amanda lahir. Saat itu dia sedang ada bisnis di Singapura. Untuk Kaila, Andi mengosongkan jadwalnya saat HPL Kaila. Ia baru pertama kali melihat perjuangan seorang wanita yang sedang melahirkan Anaknya.
"Mah, maafkan aku yah. Aku sering buat kamu kesal." Andi menangis melihat Kaila yang meringis kesakitan.
Kaila membelai wajah Andi.
"Aku juga minta maaf Mas, tolong maafkan atas semua kesalahnku....Ah...sttt...Allah..." ucap Kaila sambil meringis kesakitan.
"Mas, tolong usap-usap punggungku, panas Mas," pinta Kaila.
Andi mengusap punggung Kaila.
"Masih sakit sayang?" tanya Andi.
"Sakitnya datang tiba-tiba Mas, jika kontraksi. Sekarang lagi reda," ucap Kaila.
Andi terus mengusap punggung Kaila. Ia merasakan punggungnya seperti terbakar dan tulang belakang seperti dipatahkan.
"Mas, terus usap-usap Mas, pinggangku sakit," ringis Kaila.
Andi menuruti kemauan Kaila, ia terus mengusap punggung Kaila.
Bidan datang kembali dan memeriksa pembukaan Kaila. Kaila merasakan kontraksi kembali. Kali ini kontraksinya lebih menyakitkan. Kaila makin meremmmass lengan Andi.
"Astagfirullah...Astagfirullah...Mas...Mas Andi..." panggil Kaila.
"Iya sayang, aku akan selalu menemanimu," ucap Andi.
"Panggilkan dokter, aku sudah terasa ada yang mau keluar," ucap Kaila.
"Ngghhhh...." Kaila mengejan tanpa aba-aba dari dokter.
"Sabar sayang....Dok...Dok..." teriak Andi.
Andi semakin panik, Kaila mengeluarkan banyak darah. Dokter bergegas menghampiri Kaila dan ia memeriksanya.
"Pembukaan sudah lengkap Bu," ucap Dokter.
"Tolong siapkan semuanya." Dokter memerintahkan para Bidan. Dokter merentangkan paha Kaila, ia tekuk lutut Kaila.
"Pak tolong topang tubuh Ibu, jadi posisi agak duduk," titah dokter.
Andi melakukan sesuai perkataan dokter.
"Nggggaahhhhhh.... Allah...Mas sakit," Kaila mengejan. Ketuban Kaila pecah.
"Ayo Bu tarik nafas, mengejan seperti seseorang ingin membuang air besar," ucap Dokter.
"Nggggggaahhhhhh..." Kaila mengejan..Ia menarik nafas dalam, dalam lalu mengejan kembali.
"Nggghhhhh...Ahhh....Allah," teriak Kaila.
__ADS_1
Andi panik, tangan kanan menopang punggung Kaila dan tangan kirinya menggenggam tangan Kaila.
"Iya Bu, bagus...." ucap Dokter.
"Ngggaahhh....Ya Rabbi....," teriak Kaila.
"Tarik nafas dalam-dalam, mengejan dengan sekuat tenaga Bu. Ayo semangat..." ucap dokter.
Melihat perjuangan Kaila, Andi berjanji di dalam hatinya tidak akan menyakiti hati Kaila dan ia akan selalu menjaga Kaila dengan tangannya sendiri.
Kaila menarik nafas dalam, lalu ia mengejan dengan sekuat tenaga
"Nggghhhh...."
"Nggghhhh Allah...." Kaila berteriak.
"Ngghhhhh....." Kaila mengejan dengan sekuat tenaga.
"Oooeee...ooeee..." suara tangis bayi meledak, menggema di ruang persalinan.
"Alhamdulilah...selamat Bu, Pak, bayinya berjenis kelamin laki-laki," ucap Dokter.
Andi sangat senang, Kaila melahirkan bayi laki-laki. Ia sangat bersyukur atas karunia ini.
"Terima kasih sayang." Andi mengecup kening Kaila.
"Beratnya 3,2 kg, panjang 49 cm waktu melahirkan pukul 3.45 menit," ucap bidan yang mencatat.
Bayi Kaila diletakkan di atas dada Kaila, sang bayi mencari sumber makanannya. Andi menangis melihat anaknya yang baru saja lahir. Sambil IMD, Andi mengazani putranya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipi Andi.
Bersambung
βββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ