
Rasanya Amanda ingin bertemu dengan Emir kembali, ia mencari waktu untuk pulang yang agak cepat dari waktu siang. Dia melihat tanggal kalender sekolah, ada jadwal rapat guru di minggu depan. Ia ingin melihat wajah Emir dari dekat, niatnya hanya ingin lihat saja karena dari cinta monyet di kelas 6 sampai terbawa di kelas 2 SMA ini. Pertemuan yang tidak disengaja melalui Facebook dan sedikit berkomunikasi membuat perasaan Amanda timbul kembali.
Mereka pun berangkat bersama-sama seperti seperti biasa. Andi membawa mobilnya sendiri mengantarkan Kaila, Adam dan Caca untuk pergi ke sekolah, sedangkan Amanda dan Cia dengan sopir waktu perjalanan mereka pun diselingi dengan obrolan.
"Kak mau kirim salam nggak sama Kak Emir?" ledek Cia.
"Ih kamu Cia, apaan sih orang Kakak nggak ada apa-apa kok sama dia," ucap Amanda.
"Ada apa-apa juga nggak apa-apa Kak, asal jangan pacaran," ucap Cia sambil tersenyum.
"Sudah ah, jangan bahas terus. Gih sana sudah sampai di sekolah kamu." Amanda mendorong bahu Cia.
"Oke deh, aku duluan ya Kak sayang." Cia mencubit pipi Amanda lalu ia bergegas keluar dari mobil. Cia melambaikan tangan kepada Amanda dan mobil Amanda pun berjalan. Amanda masih melihat Cia, dari kaca belakang mobil ia melihat di belakang Cia ada Emir yang baru datang, dia tersenyum melihat wajah Emir yang sudah 5 tahun dia tidak lihat
'Masya Allah Emir, semakin tampan,' ucap batin Amanda.
"Wah kebetulan nih bareng kita, masuk yuk bareng-bareng." Emir menepuk pundak Cia.
"Eh kak Emir, Kak Amanda baru jalan." Cia menunjuk mobil yang membawa Amanda.
"Yah aku telat, coba aja datang lebih cepat. Seenggaknya say hai sama kakakmu itu," ucap Emir.
"Kakak suka ya sama kak Amanda?" tanya Cia.
"Mau jawaban jujur apa nggak?" tanya Emir balik.
"Yah jujur lah Kak, masa iya enggak," jawab Cia.
"Sejak SD aku sudah suka dengan kakakmu," jawab Emir.
"What? sejak SD?" Cia terkejut dengan jawaban Emir.
Mereka masuk ke dalam sekolah bersama-sama, membuat banyak sepasang mata melihat keakraban mereka. Padahal Cia dan Amir sedang membicarakan tentang Amanda. Juna pun melihat itu yang membuat hatinya sangat panas. Ia berpikir bahwa sahabatnya itu menikung dia untuk mendekati Cia, padahal Emir sudah tahu bahwa Juna itu sangat menyukai Cia, dia tidak bisa move on dari Cia. Cia pun masuk kelas terlebih dahulu karena kelas Emir itu setelah kelas Cia.
"Dah Kak Emir..." Cia pun melambaikan tangannya.
"Kirim salam ya buat kakakmu," ucap Emir.
"Beres Kak." Cia mengangkat jempol untuk Emir.
Juna hatinya sudah panas ketika dia bertemu dengan Emir. Juna tidak berkata apa-apa karena dia menganggap Emir itu sudah menghianatinya. Dia sudah menikung dirinya untuk mendekati Cia dan dia lihat Cia tertawa ketika jalan berdua bersama Emir. Juna berpikir bahwa mereka sebenarnya sudah sangat dekat karena selama ini tidak ada yang bisa mendekati Cia berjalan berdua, dan membuat Cia tersenyum. Bahkan tadi Emil membuat Cia tertawa, jangankan Juna yang berpikir seperti itu, para cowok yang sempat menembak Cia pun berpikir bahwa Emir sudah jadian dengan Cia. Padahal sebenarnya Emir dan Cia baru komunikasi sedekat itu karena membahas Amanda. Apa yang dilihat itu tidak sama dengan kenyataan nya.
__ADS_1
Pulang sekolah Emir menunggu Cia, dia ingin bertanya sesuatu kepada dia tentang Amanda. Emir berniat untuk memberikan kado untuk Amanda.
"Cia tunggu, aku ingin bertanya sama kamu," teriak Emir dari kejauhan.
"Iya ada apa Kak Emir?" tanya Cia.
"Kesukaan Kakakmu apa? aku ingin memberi kado buat dia," tanya Emir.
Cia berpikir sejenak, ia mengingat-ingat apa yang Amanda sukai.
"Kak Amanda suka baca novel Kak, kalau makanannya dia suka coklat," jawab Cia.
"Terima kasih ya Cia atas informasinya," ucap Emir dengan senyumannya.
Juna melihat kedekatan mereka dan hatinya sangat panas, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun melihat Cia tersenyum kepada Emir. Juna langsung menarik tangan Emir dan meninju wajah Emir. Emir terselungkur jatuh, Emir tidak paham kenapa Juna memukul dirinya.
"Kak Juna apa-apaan sih kamu? kenapa kamu mukul Kak Emir?" tanya Cia.
"Kamu membelanya Cia? jadi benar kalian sudah berpacaran. Kamu mengaku tidak mau pacaran dari SMP dengan aku. Tanpa status kita berkomunikasi di WhatsApp, tapi kenyataannya kamu sudah jadian dengan Emir," ucap Juna sangat marah.
"Apa Kak? jaga ucapanmu ya. Aku tidak pacaran dengan Kak Emir dan aku tidak pernah pacaran dengan siapapun," teriak Cia.
"Juna kamu salah paham aku dan Cia tidak ada apa-apa," ucap Emir
"Jangan banyak bicara kamu." Juna ingin menendang Emir tapi Cia langsung menarik tangan Juna dan membantingnya. Cia keluarkan jurus karate yang dia pelajari. Cia tidak mau Juna semena-mena karena Juna sudah salah paham dan orang lain yang jadi korbannya.
"Jaga sikap Kak Juna yah, aku makin benci sama kamu Kak. Kamu ini berpikir pendek kamu tidak memahami aku sungguh sekarang aku benci sama kamu kak Juna." Cia berlari, ia langsung masuk ke dalam mobil dan mobilnya langsung melesat berjalan.
Emir memegang pipinya yang bekas tonjokan Juna. Emir menggelengkan kepalanya dan melihat Juna dengan tatapan yang kecewa, ia berdiri ketika Emir melangkah kakinya untuk pulang Juna berteriak.
"Ini belum selesai, ayo lawan aku siapa yang menang itu yang akan dapatkan Cia," teriak Juna.
"Percuma Juna Cia itu udah benci kamu. Itu kesalahan kamu sendiri, aku deket sama Cia karena aku mau mendeketi Kakaknya, namanya Amanda. Kakaknya Cia itu temen aku waktu SD. Aku sudah menyukai Kaknya Cia dari SD. Aku bukan suka sama Cia nya, kamu paham. Sekarang jangan cari aku lagi untuk meminta bantuan untuk mendeketi Cia. Aku nggak mau bantu kamu lagi," ucap Emir.
Juna terdiam dia sudah salah paham dengan apa yang ia lihat dan kini Cia sudah semakin membenci Juna. Ia pun bingung harus bagaiman lagi harus mendekati Cia seperti dahulu.
Di dalam mobil Cia sangat kesal dengan apa yang dilakukan Juna yang langsung memukul Emir tanpa ada kejelasan yang pasti, sampai di sekolah Amanda Cia tidak sadar bahwa Amanda sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. Amanda memperhatikan wajah Cia yang matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis, Amanda langsung memegang tangan Cia dan Cia baru menyadari bahwa Amanda sudah ada di sampingnya.
"Kamu kenapa Cia?" tanya Amanda.
"Kak Juna memukul Kak Emir Kak, ia salah paham menganggap aku pacaran dengan Kak Emir padahal Kak Emir itu tadi menanyai kabar Kak Amanda doang," ucap Cia bibirnya mengerucut.
__ADS_1
"Apa? Emir dipukul Juna? lalu bagaimana Cia? Emir nya?" tanya Amanda sangat khawatir.
"Kok kakak lebih sayang Kak Emir sih daripada sama aku?" ucap Cia matanya sudah menangis.
"Eh bukannya seperti itu Cia, ih kamu sensi banget sih. Kakak sayang kok sama kamu, Kakak hanya ingin tahu aja keadaan Emir," ucap Amanda.
"Kakak tanya aja sendiri nanti di messenger facebook, Kakak sudah bertemanan kan di facebook tadi Kak Emir sudah cerita dengan aku, kalau kakak dan Kak Emir bertemu di Facebook," ucap Cia.
Amanda menelan ludahnya, karena Cia sepertinya sudah tahu semua tentang dia dan Emir. Seketika Amanda langsung diam.
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet ❤💞💝
__ADS_1