Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Cia Kabur


__ADS_3

Sampai malam Cia tidak keluar dari kamarnya, Kaila sangat khawatir dengan keadaaan anak pertamanya. Apalagi Kaila tanpa sadar menampar Cia.


"Mas. sudah waktunya makan malam tapi Cia belum keluar," ucap Kaila.


"Coba kamu ke kamarnya," ucap Andi.


Kaila naik ke lantai dua, di mana kamar Cia berada. Dia mengetuk pintu kamar Cia.


"Cia...sayang...waktunya makan malam sayang," ucap Kaila. Tapi tidak ada sautan dari dalam kamar Cia. Kaila mencoba untuk membuka ternyata tidak di kunci, dan ia masuk ke dalam. Kaila tidak menemukan keberadaan Cia hanya secarik kertas di atas meja belajar. Kaila membacanya. "Aku pergi."


Tangan Kaila bergetar dia menangis di dalam kamar Cia.


"Cia, maafkan Mamah telah menampar kamu. Maafkan Mamah Nak," ucap Kaila di dalam tangisannya.


Andi yang menunggu Kaila di meja makan menunggu sangat lama, akhirnya ia menyusul Kaila ke kamar Cia.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Andi.


"Mas, Cia kabur," ucap Kaila.


Andi terkejut mendengar ucapan Kaila.


"Tenang sayang, coba telepon ibu kos. Mungkin Cia balik ke sana," ucap Andi.


Kaila menelepon, hati Kaila lebih khawatir karena Cia tidak ada di kos nya. Kaila juga sudah menelepon ke teman-temannya tapi merekapun tidak tahu keberadaan Cia.


"Apakah mungkin Cia bersama Juna?" tanya Andi.


"Sebenarnya aku sudah kenal Juna sejak lama Mas, mereka memang saling mencintai tapi Juna anak yang baik. Dia tidak mungkin membantu Cia untuk kabur," ucap Kaila.


"Coba dulu, mereka saling mencintai. Juna pasti akan menuruti apa yang Cia inginkan," ucap Andi.


"Aku pikir nggak Mas, Cia malu jika menelpon Juna karena lamarannya kita tolak," ucap Kaila.


"Tak ada salahnya untuk mencoba," ucap Andi.


Kaila mencoba menelepon Juna, Cia pernah memberikan nomor Juna kepada Kaila.


"Hallo, assalamu'alaikum Juna. Ini Mamahnya Cia," ucap Kaila di ujung telepon.


"Waalaikumsalam, iya ada apa Tante," jawab Juna.


"Cia ada bersama denganmu?" tanya Kaila penuh hati-hati.


"Jangan bercanda Tante, walaupun saya kurang kasih sayang dari orang tua saya, saya tahu adab, kami belum mahram. Apalagi ini sudah malam," ucap Juna.


"Maaf Juna, bukan Tante menuduh kamu. Tante hanya bertanya, karena Cia kabur dari rumah. Tante nggak tahu lagi kemana mencari Cia," ucap Kaila.


"Apa Tante, Cia kabur? Ya Allah, sekarang sudah malam dan paras Cia cantik. Aku takut terjadi apa-apa. Tante aku akan mencari Cia sekarang juga, aku sangat cemas dengan Cia," ucap Juna.


Kaila yang mendengar perkataan Juna, malah lebih panik. Ia tak mau anak gadisnya kenapa-kenapa.


"Terima kasih Juna atas bantuannya, maafkan kami akan penolakan hari ini," ucap Kaila.


"Iya Tante, aku tutup yah telepon nya. Assalamu'alaikum." Juna menutup telepon.

__ADS_1


"Izin kan aku naik motor Mas, aku ingin mencari Cia," ucap Kaila.


"Apa-apaan sih kamu, malah aku makin cemas lagi jika kamu naik motor. Kita cari Cia bersama-sama, ini juga salah aku menolak lamaran Juna untuk Cia." Andi menyesal akan tindakannya sebelumnya.


Tak mau buang waktu, Kaila dan Andi langsung mencari Cia. Mendatangi rumah teman-teman Cia. Tapi mereka nggak tahu, Kaila sudah menangis. Sudah pukul 12 malam tapi mereka belum menemukan Cia.


"Kita pulang yah Mah," ajak Andi.


"Terserah Ayah," jawab Kaila.


Terlihat Kaila tak henti-hentinya menangis, Andi memegang tangan Kaila tapi Kaila menghindar tangannya di sentuh oleh Andi.


"Kamu marah Mah?" tanya Andi. Kaila hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak marah tapi ia merasa bahwa akar dari permasalahan ini adalah Andi menolak lamaran Juna. Tanpa berdiskusi dengan Kaila sebelum mengambil keputusan.


Mobil Andi terus berjalan menuju rumah, sesampainya di rumah. Kaila langsung membuka pintu mobil tanpa dibukakan pintu oleh Andi dan berjalan mendahului Andi. Andi menghela nafasnya, baru kali ini Kaila bersikap seperti ini kepada dirinya.


'Ya Allah, istriku marah,' ucap batin Andi.


Andi memasuki kamar, ia pikir Kaila ada di dalam tapi ternyata tidak ada. Ia mencari di kamar Cia. ketika ingin membuka pintu kamar Cia, pintu terkunci.


"Mah, buka," ucap Andi.


"Maaf Ayah, biar aku istirahat di sini." Andi mendengar suara Kaila yang menangis, ia menjadi tambah khawatir. Andi memberikan waktu untuk Kaila agar ia bisa menenangkan dirinya.


***Noveltoon***


Pagi mulai menyingsing, semalaman Kaila tidak bisa tidur memikirkan keberadaan Cia, Kaila keluar dari kamar Cia untuk menunaikan salat subuh. Ia pun menolak untuk sarapan.


"Mah, makan dulu sedikit," bujuk Andi.


Kring Kring


Suara handphone Kaila berdering.


"Hallo assalamu'alaikum Bunda." Kaila mengangkat telepon dari orang tuanya.


"Waalaikumsalam, Cia ada di sini," ucap bunda Kaila di balik telepon.


"Alhamdulillah, aku cari kemana-mana. Ternyata di rumah Abah." Kaila bersyukur Cia tidak tidur di jalanan.


"Kenapa kalian menolak lamaran untuk Cia? Cia sudah menceritakan semua, bahkan kamu Kaila, menampar putrinya sendiri. Apakah ini didikan suamimu? Bunda nggak pernah satu kali pun menampar kamu. Kalian mau Cia berzina daripada menikah?" Bunda Kaila sangat marah cucunya diperlakukan tidak adil.


"Bunda, aku khilaf. Cia mengatakan bahwa Mas Andi pilih kasih karena bukan anak kandungnya," ucap Kaila.


"Iya memang pilih kasih, kalian berat sebelah. Biar Bunda yang menerima lamaran untuk Cia daripada cucu Bunda berzina," ucap bunda Kaila.


"Bunda, aku akan ke sana sekarang," ucap Kaila.


"Iya, kemarilah dan lihat kondisi putrimu sendiri. Cia sakit, demam 39,4 derajat," ucap Bunda.


Tut Tut Tut


Telepon di matikan secara sepihak, sepertinya bunda Kaila sangat marah karena Cia diperlakukan tidak adil.


"Mas, aku mau ke rumah Abah. Cia ada di sana. Bunda marah besar sama kamu Mas, karena menolak lamaran Juna," ucap Kaila.

__ADS_1


Andi mengusap wajahnya sangat kasar, ia tak berani menampakkan wajahnya di depan mertuanya.


"Mas, jika Mas nggak mau antar aku. Biar aku sendiri aja." ujar Kaila.


"Sayang, jangan lah. Aku akan tambah jelek lagi di mata mertua aku. Ayo kita jalan." Andi menggandeng tangan Kaila menuju mobil.


Sesampainya di rumah orang tua Kaila, Kaila dan Andi langsung masuk setelah memberi salam dan mencium punggung tangan kedua orang tua Kaila. Mereka menatap tajam kepada Andi dan Kaila.


"Kalian lihat kondisi Cia sekarang," ujar bunda.


Kaila dan Andi langsung melihat Cia di kamar lama Kaila. Terlihat Cia sedang menutup mata tapi matanya terus mengeluarkan air mata. Kaila menyentuh kening Cia.


"Panas Mas," ucap Kaila.


"Juna, maafkan aku. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Cia mengigau menyebut nama Juna. Ia takut jika Juna meninggalkan Cia karena lamarannya di tolak karena sebelumnya Cia lah yang memaksa Juna agar melamar dirinya. Kaila menangis melihat kondisi Cia.


"Mah, kita langsung bawa ke rumah sakit. Biar aku gendong Cia masuk ke dalam mobil, tolong kamu buka kan pintu mobil," ucap Andi.


Maaf yah up nya jadi nggak setiap hari, aku sedang sakit gejala tifus.


Bersambung


❤❤


Baca juga yuk cerita novel saya yang lain nggak kalah seru loh....




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar (on going)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan (On going)




Love dari author sekebon karet ❤💞

__ADS_1


__ADS_2