
Waktu berjalan begitu cepat, lusa Amanda dan Cia akan melakukan akad nikah. Kini mereka sedang di pingit tidak boleh berkomunikasi dengan pasangan mereka.
Kring Kring
Handphone Kaila berdering.
"Assalamu'alaikum Abah, ada apa telepon Neng? Nanti Neng jemput yah, agar Abah sama Bunda bisa melihat akad nikah cucu pertama Abah," ucap Kaila di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam salam, iya Abah, Bunda dan adik-adikmu sudah siap. Tapi ini Neng, ada Rangga di sini, alasan Abah telepon kamu karena Rangga ingin ngomong sama kamu. Mau telepon kamu tapi dia nggak tahu telepon Neng." Kaila mengerutkan dahinya, dia berpikir untuk apa Rangga ingin berbicara kepada Kaila.
"Hallo Kaila, maaf jika aku mengganggumu. Tolong kirimkan salam kepada Cia, aku minta maaf tidak bisa menjadi wali nikahnya. Aku sudah menulis surat untuk wali hakim nanti serahkan aja kepada wali hakim. Jadi Cia menikah dengan wali Hakim. Tolong salamkan ke Cia permohonan maafku. Bukan aku sengaja untuk tidak hadir tapi kondisi Abahku sedang sakit, sudah 3 bulan di rawat di rumah sakit. Ini aku bisa ke tanggerang karena bergantian dengan adikku untuk menjaga Abah. Terima kasih, tolong salamkan kepada Cia," ucap Rangga di ujung telepon.
"Insha Allah, aku akan bilang ke Cia. Semoga Abahku sehat kembali yah, maaf belum bisa jenguk Abah karena aku sedang mengurus pernikahan kedua putriku," ucap Kaila.
"Iya, nggak apa-apa. Assalamu'alaikum." Rangga langsung memberikan telepon kepada abah Kaila.
"Neng, Rangga langsung pamit, dia langsung ke rumah sakit katanya. Dan suratnya sudah Abah pegang," ucap abah.
"Oh iya Abah, besok pagi siap- siap. Pak supir akan jemput keluarga kita," ucap Kaila.
"Yah sudah dulu yah Neng, Abah tahu kamu lagi sibuk. Assalamu'alaikum." Abah Kaila menutup teleponnya.
Kaila menghela nafasnya.
'Mungkin ini takdir, memang Cia tidak mau di wali nikahkan oleh Rangga,' ucap batin Kaila.
Kaila berjalan ke kamar Cia. Kamar Cia sudah di hias menjadi kamar pengantin begitu juga Amanda.
Tok Tok
"Cia, boleh Mamah masuk?" ucap Kaila di balik pintu. Cia langsung membuka pintu untuk Kaila.
"Mamah kaya siapa aja, minta izin dulu sama Cia. Masuk Mah," ucap Cia memegang tangan Kaila dan Kaila duduk di kursi meja belajar Cia.
"Mamah mau ngomong sama kamu," ucap Kaila.
"Iya Mah, apa?" tanya Cia.
"Ayahmu tidak bisa menjadi wali nikahmu, jadi nanti akan digantikan dengan wali hakim. Eyangmu sakit, sudah 3 bulan di rawat di rumah sakit," ucap Kaila.
"Oh..." Cia hanya membalas 1 kata, wajahnya biasa saja malah bibirnya terlihat tersenyum.
__ADS_1
"Sayang, begitu bencinya kah kamu dengan ayahmu? Dia tetap Ayah kandungku." Kaila menyentuh tangan Cia, dia usap tangan Cia dengan lembut.
"Aku masih teringat Mah, di memory aku. Bagaimana Ayah memperlakukan kita begitu kejam. Aku masih kecil Mah ketika itu, umurku baru 6 tahun. Aku melihat dengan mataku sendiri, bagaimana Ayah memukul Mamah. Bagaimana Mamah berjuang ke rumah Kakek di Tangerang dengan kondisi hamil besar dan membawa 3 anak. Cia nggak akan lupa hal itu, adik-adik Cia pasti sama dengan Cia." Cia berbicara dengan sangat emosi karena harus mengingat hal yang menyakitkan itu.
"Yah sudah, Mamah nggak akan bahas lagi. Calon pengantin nggak boleh marah, nanti Aura pengantinnya hilang." Kaila memencet hidung Cia yang mancung membuat Cia tersenyum lebar diperlakukan seperti itu.
Kaila keluar dari kamar Cia. Ia menatap kamar Cia setelah pintu kamar di tutup dan Kaila mengeluarkan air mata. Tidak terasa dia akan melepas Kaila dengan laki-laki yang di pilih Cia. Ibu mana yang tak akan kehilangan ketika buah hatinya menikah. Mereka akan melepas status single dan akan berubah status menjadi menikah. Kaila menuruni tangga, ia melihat Andi sedang berada di ruang keluarga sendiri. Kaila menghampiri Andi dan duduk di sebelahnya. Andi menatap Kaila dan tersenyum lalu Andi menggenggam tangan Kaila. Kaila meletakkan kepalanya di bahu Andi.
"Mas, Cia nanti pakai wali hakim. Rangga nggak bisa datang." Kaila menceritakan apa alasan Rangga tidak bisa datang.
"Takdir yah sayang, memang itu yang Cia inginkan," ucap Andi.
"Iya Mas, seperti Allah memberikan kado pernikah kepada Cia. Karena Cia selalu menjaga jarak dengan laki-laki, sekalinya cinta malah minta di nikahin," ucap Kaila dengan tertawa ringannya.
"Iya sayang, putri kita nanti akan di bawa oleh masing-masing pasangannya. Semoga mereka bahagia yah dan Allah menjaga rumah tangga Cia dan Amanda." Andi sangat berharap bahwa kedua putrinya bisa hidup bahagia.
"Amin," ucap Kaila.
"Duh Mamah sama Ayah mesrah banget," ucap Cia dan Amanda bersamaan.
"Loh kalian nggak tidur?" tanya Andi.
"Ayah, kami culik Mamah dulu yah. Malam ini kami mau tidur bareng sama Mamah. Aku sudah bersihkan kamar tamu. Hanya ada waktu sekarang, karena besok pasti sudah banyak orang. Keluarga berdatangan." Kaila di tarik tangannya dan Amanda melambaikan tangannya ke arah Andi. Andi menghela nafas dengan kedua putrinya itu. Karena malam ini Andi tidur sendirian.
"Mah, terima kasih sudah menjadi Mamahku. Sejak aku dilahirkan aku tidak bisa merasakan kehangatan kasih sayang Ibu dari Mamahlah aku bisa merasakan kasih sayang itu." Amanda mencium pipi kanan Kaila.
"Mah, terima kasih telah menjadi wanita yang kuat dan berjuang untuk hidupku dan adik-adikku. Terima kasih Mah, Mamah tidak pernah menyerah dengan keadaan." Cia mencium pipi kiri Kaila.
***Noveltoon***
"Saudara Alif Arkana Mahawira bin Musthofa Mahawira, saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan anak perempuan saya Amanda putri Andi binti Andi Prayoga dengan mas kawin lima puluh juta dan seperangkat alat salat di bayar tunai." Andi menghentakkan tangan Alif.
"Saya terima nikah dan kawinnya Amanda putri Andi binti Andi Preyoga dengan mas kawin tersebut tunai." Alif mengucapkan dengan lancar.
"Sah?"
"Sah...Sah..."
Saudara Dirga Juna Saputra bin Fariz Ilmi , Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Cia Hana Permana binti Rangga Permana yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda dengan mas kawin seratus juta rupiah dan sebuah Al quran dibayar tunai.” Penghulu menggentarkan tangan Juna.
"Saya terima nikah dan kawinnya Cia Hana Pramana binti Rangga Praman dengan mas kawin tersebut tunai." Juna menghela nafasnya, ia lancar mengucapkan kabulnya.
__ADS_1
"Sah?"
"Sah...sah..."
Semua bernafas lega melihat ijab kabul dari kedua pengantin pria. Doa bergema di dalam madjid tempat ijab qobul dan selanjutnya mereka langsung melaksanakan resepsi di gedung yang sudah di sewa dalam 1 tempat itu. para undangan berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin. 3 jam mereka berdiri untuk menyambut para tamu. Rasa lelah, lega dan bahagia di hati 2 pasang pengantin. Sesuai perjanjian mereka akan pulang terlebih dahulu ke rumah Andi setelah itu besoknya akan di boyong ke rumah para mertua Amanda dan Cia. Amanda akan di bawa ke batu Malang dan Cia ke Jakarta.
***Noveltoon***
Di dalam kamar Amanda.
Alif ingin melakukan 1 hal ini sejak Amanda di lecehkan oleh Emir tapi ia menahannya. Alif ingin bercumbu dengan Amanda.
"Sayang sini." Alif langsung menarik lengan Amanda dan mengunci pintu.
"Kak, nggak ganti baju dulu biar bersih-bersih," ucap Amanda. Ia sedikit terkejut dengan aksi Alif.
"Nanti aja sayang, aku sudah menunggu momen ini," ucap Alif.
"Momen apa?" tanya Amanda heran.
"Mencium kamu, boleh?" tanya Alif. Amanda sedikit kikuk dengan permintaan Alif. Tapi ia berpikir sekarang Alif adalah suaminya. Amanda menganggukan kepala.
"Just kiss yah, after that aku mau mandi dan ganti baju," ucap Amanda.
"Iya istriku," jawab Alif.
Tanpa aba-aba, Alif langsung menempelkan bibirnya ke bibir Amanda. Hal ini ia lakukan pertama kali seumur hidupnya. Awalnya hanya diam tapi Amanda lah yang mulai bergerak, Alif pun dengan instingnya memimpim ciuman pertamanya. Alif merasakan manis ketika melakukan itu dengan istrinya.
"Kak...Kak...sudah aku mau mandi dulu." Amanda mendorong dada Alif.
"Maaf sayang terlalu cepat yah, sekarang jejak Emir sudah aku hapus dengan bibirku," ucap Alif lirih dengan nafas yang turun naik.
"Kak, dengan Emir aku tidak merasakan apapun. Tapi denganmu aku merasakan ada sengatan listrik di dadaku," ucap jujur Amanda.
"Aku mandi dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi." Amanda pergi ke kamar mandi dan mengedipkan matanya.
Di dalam kamar mandi.
"Aku nggak menyangka Kak Alif main sosor, aduh jantungku apa kabar?" gumam Amanda.
Amanda melihat kaca.
__ADS_1
"Juna sama Cia lagi melakukan apa yah di kamar?"
bersambung