Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Sesuatu yang tertunda


__ADS_3

Cia menenggelamkan wajahnya di dada Juna. Ia ingin puas untuk memeluk Juna, waktu yang ia harapkan sejak lama kini menjadi kenyataan.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu sayang, sampai peluk aku seperti ini," ucap Juna.


"Memang aku nggak boleh peluk erat Kakak." Cia langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Juna.


"Yah kok di lepas pelukannya?" tanya Juna.


"Males ah peluk Kakak." Cia merajuk kepada Juna. Juna yang akhirnya memeluk tubuh Cia.


"Kalau aku yang memeluk, aku jadi ingin lagi deh," ucap Juna. Mata Cia membola mendengar ucapan Juna.


"Perih Kak, masih perih di sana. Semalam Kakak nggak kasih aku istirahat. Aku jalan memaksakan untuk jalan normal, malu aku sama Mamah dan Ayah jika jalanku aneh," ucap Cia.


"Bercanda sayang, istirahat yah nanti sore kan jenguk kakakmu," ucap Juna mencium pipi Cia.


Tok Tok Tok


Ada ketukan di kamar Cia. Cia merasa kesal, ia baru ingin memejamkan mata tapi ada yang mengetuk pintunya. Ia malas untuk membuka pintu, ia diamkan saja dan kembali memejamkan mata.


"Sayang, ada yang ketuk pintu itu," ucap Juna.


"Ngantuk Kak, cuekin aja. Paling Kak Amanda yang baru pulang olah raga sama suaminya, biasa dia pasti mau tanya tentang kita. Kak Manda kepo. Sudah istirahat aja dulu Kak, jangan perdulikan." Cia mengeratkan pelukannya ke Juna.


Amanda yang berada di luar depan pintu Cia bergidik kesal karena Cia tidak membukakan pintunya, akhirnya ia berjalan menuju kamarnya.


"Si Cia capek banget apa? Kata Mamah baru 30 menit pulang juga," decak kesal Manda.


KLEK


Pintu kamar terbuka, Alif ternyata baru selesai mandi, ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan belum memakai baju hanya memakai celana santai. Amanda ketika masuk melihat tubuh Alif yang atletis, ia membalikkan tubuhnya agar tidak melihat tubuh Alif.


"Sayang, katanya tadi mau ketemu Cia," ucap Alif.


Suara Alif membuyarkan lamunan Amanda yang masih tidak berani menatap Alif.


"Kamu kenapa?" tanya Alif.


"Kak, pakai baju," perintah Amanda.


Alif bukan mengambil baju, ia malah berjalan menghampiri Amanda lalu memeluknya dari belakang. Amanda terdiam, tubuhnya semakin mematung.


"Kak, kok peluk aku?" protes Amanda.


"Memang nggak boleh suami peluk istrinya? Kamu kenapa tidak menatap aku? Memangnya nggak suka dengan tubuhku?" tanya Alif.

__ADS_1


"Cukup Kak, pakai baju dulu oke nanti aku peluk Kakak," ucap Manda.


Alif tidak mendengarkan Manda, ia malah membalikkan tubuh Amanda kini netra mata mereka bertemu, Alif tersenyum menatap Amanda.


"Istriku cantik," ucap Alif.


"A...Aku mau mandi Kak," ucap Manda terbata.


Alif malah memajukan wajahnya.


"Aku ingin menciummu boleh?" izin Alif.


Seperti terhipnotis dengan tatapan Alif, Amanda menganggukan kepalanya. Alif langsung mencium bibir Amanda dengan lembut, kedua insan yang baru menikah 3 hari itu sudah di selimuti nafsu. Alif membawa Amanda untuk ke atas ranjang, Manda kini sudah di bawah kungkungan Alif. Alif terus saja memberikan kecupan hangat, mereka saling merasakan aliran cinta. Alif turun ke jenjang leher Amanda. Terasa geli yang Manda rasakan kala itu.


"Ka...Kak, stop," suara Amanda memohon terbata-bata dikala ia sudah merasakan kenikmatan dari kecupan Alif. Amanda sedikit mendorong dada Alif.


"Kenapa? Kamu masih belum siap?" tanya Alif yang kecewa dengan Amanda. Amanda melihat wajah Alif yang langsung berubah karena dirinya meminta Alif untuk berhenti.


"Kakak marah?" tanya Amanda yang masih di bawah kungkungan Alif.


"Kenapa kamu selalu tidak mau ketika aku sentuh? Sudah 3 hari kamu menolaknya, kamu selalu bilang belum siap," ucap Alif. Amanda meletakkan kedua tangannya di pipi Alif.


"Kak, saat ini aku jujur juga menginginkannya. tapi..." ucap Amanda terpotong.


"Aku bersih-bersih dulu Kak, kita melakukan dengan cara islami. Ini yang pertama bagiku, islam mengajarkan kita cara untuk berhubungan intim agar jika kita punya keturunan akan mendapatkan keturunan yang soleh dan solehah. Aku bukan menolak Kak saat ini, tapi aku ingin kita melakukan itu sesuai aturan yang sudah agama kita ajarkan," ucap Amanda.


"Maaf sayang, aku begitu tidak sabar," ucap Alif. Amanda bangun, ia bergegas untuk membersihkan diri, setelah selesai mandi Amanda langsung mengambil air wudhu. Amanda keluar, ia melihat Alif sudah menggunakan baju koko dan 2 sajadah sudah ia siapkan untuk dirinya dan juga Amanda.


"Aku sudah wudhu di kamar mandi luar," ucap Alif.


Mereka melakukan step by step sunnah yang telah mereka pelajari. Setelah selesai Alif langsung menggendong tubuh Amanda ke atas ranjang. Alif membacakan doa dan meniupkan di ubun-ubun kepala Amanda.


"Bismillah," ucap Alif lirih.


"Tolong lakukan pelan-pelan yah Kak, katanya untuk yang pertama kali sakit," bisik Amanda di telinga Alif. Alif menganggukan kepalanya dan tersenyum menatap Amanda. Alif memulai untuk membawa Amanda ke nirwana, ia melakukan sangat lembut. Sampai Amanda sangat menikmati senduhan-sentuhan dari Alif.


"Kak sakit, Allah." Amanda meremas sprai ketika merasakan sakit untuk pertama kalinya.


"Maaf," ucap Alif.


Setelah itu Alif benar-benar melakukannya dengan hati-hati. Amanda menutup mulutnya karena ia tidak mau suaranya terdengar oleh Cia yang kamarnya berada di sebelah.


"Alhamdulilah," ucap Alif ketika merebahkan tubuhnya di samping Amanda. Mereka menyelimuti tubuh mereka. Keringat sudah bercucuran, nafas yang tersenggal-senggal.


"Sakit yah sayang?" tanya Alif.

__ADS_1


"Perih Kak, tapi..." jawab Amanda.


"Tapi apa?" tanya Alif kembali.


"Aku tidak bisa mendeskripsikannya, aku suka caramu membawa aku terbang ke atas kenikmatan untuk yang pertama kalinya untukku," bisik Amanda di telinga Alif. Alif membelai pipi Amanda.


"Terima kasih sayang, sudah menjaganya dan akulah pria yang mengambil itu," ucap Alif.


Tubuh sudah terasa lelah, mereka memutuskan hanya bersih-bersih dan berwudhu setelah itu mereka tertidur. Mereka akan mandi wajib setelah beristirahat.


***


Cia dan Alif sudah bersiap, mereka bergegas untuk berangkat menjenguk kakak Cia, Ayah dari Rangga. Kaila dan Andi sudah menunggu mereka di bawah.


"Kak Amanda, sejak aku bangun nggak keluar kamar," ucap Cia.


"Mereka kan pengantin baru sayang, seperti nggak merasakan aja. Seperti kita lengannya nempel terus," ucap Juna.


"Apa sih Kak." Cia mencubit pinggang Juna.


"Sakit sayang," protes Juna.


"Manja, nggak sakit juga." Cia mengecup pipi Juna lalu ia berjalan menuruni tangga. Juna mengejarnya dan menggandeng tangan Cia.


"Ayo berangkat," ajak Kaila.


Mereka berangkat dalam 1 mobil, perjalanan membutuhkan waktu 2 jam. Mereka sampai di rumah sakit X. Mereka langsung berjalan menuju ruang rawat inap.


"Assalamu'alaikum," keluarga Kaila masuk ke ruang rawat inap kakeknya.


Kaila menyuruh Cia dan Juna untuk mencium tangan Kakeknya. Mereka menurut apa yang Kaila ucapkan. Cia hanya terdiam, di sana juga ada Rangga. Rangga tersenyum kepada Cia tapi Cia acuh kepada Rangga.


"Cia, salim sama ayahmu," perintah Kaila.


"Jangan paksa aku Mah, aku nggak mau," ucap Cia lirih tapi Rangga masih bisa mendengarnya.


Keadaan hening, tidak ada kata-kata.


"Cepat sehat yah Pak," ucap Andi mencairkan suasana.


"Terima kasih," jawab Kakek Cia.


Rangga menatap Cia, tapi Cia membalas tatapan Rangga dengan kebencian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2