Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Kekesalan Sukma


__ADS_3

Sukma sangat kesal karena rencananya gagal. Bahkan sekarang dukun yang bekerja sama dengannya tidak bisa menembus keluarga Kaila kembali. Jin yang di kirim ke rumah Andi tidak bisa masuk, di rumah Andi seperti ada yang menjaga berbaju putih dan bersorban. Setiap teluh dan santet yang di kirim akan berbalik lagi ke dukun tersebut. Sukma semakin gusar karena dia memikirkan siapa tumbalnya kembali.


Tepat di malam jumat kliwon, sukma bermandikan air kembang 7 rupa. Untuk melayani hasrat suami alam gaibnya. Setiap dia pergi pasti mengajak Rangga karena media jin tersebut adalah Rangga. Rangga seperti sudah tersirap, dia tidak bisa melawan kehendak sukma. Rangga di dudukan di sebuah kuburan kramat lalu Sukma mengucapkan mantra-mantra. Angin bertiup kencang, bunyi burung hantu saling bersahutan, suara ranting berbunyi seperti langkah seseorang yang menginjak ranting. Tiba-tiba bau kemenyan bercampur amis tercium di hidung Sukma.


Itu artinya suami gaibnya sudah datang. Rangga tak bergerak, dia dijadikan media oleh suami gaib Sukma. Tubuh Rangga dimasukan jin suami gaib Sukma. Setelah jin itu masuk, mata Rangga terbuka dan berubah menjadi merah. Ia sudah tersenyum melihat Sukma. Mereka melakukan hubungan intim di tengah kuburan kramat. Setiap malam jumat kliwon Sukma harus melakukan hal seperti itu. Ketika berhubungan intim pasti tubuh sukma ada yang tercabik, suami gaibnya menjilati darah Sukma. Rasa yang berbeda ketika berhubungan normal dan dengan alam gaib.


"Tubuhku kok sakit-sakit yah, bangun tidur seperti remuk," ucap Rangga.


"Kamu kurang istirahat mungkin," ucap Sukma.


"Dada kamu kenapa itu? kok seperti cakaran?" tanya Rangga.


"Ini kemarin, aku gendong kucing kampung. Eh dia berontak, aku kena cakarannya," jawab Sukma.


"Aku rasanya tak sanggup kerja, tulangku seperti remuk dan tenagaku seperti habis rasanya ingin tidur terus," ucap Rangga.


"Yah sudah, nanti aku izinkan. Bahwa kamu sedang sakit," ucap Sukma.


Sukma akhirnya berangkat sendiri ke kantor tanpa Rangga. Karena ini pun dia gagal untuk mendapatkan tumbal, seharusnya Caca lah yang menjadi tumbal, tapi karena gagal dia harus mengorbankan Rangga karena jika tidak ada tumbal maka hidup Sukma akan celaka. Dia sedang memikirkan, siapa lagi yang akan ia tumbali, siapa yang akan dia tumbalkan dari keluarganya.


Sukma semakin lama semakin susah karena dia harus mencari tumbal sebagai kepuasan hidupnya di dunia, walaupun di dunia itu kehidupan tidaklah kekal abadi. Manusia memang ketika sudah diberi kenikmatan itu semakin lama semakin menjauh dari Allah. Ia akan lupa, akan keberadaan Allah yang Maha Esa. Sekecil apapun perbuatan pasti nantinya akan didapat ganjaran. Padahal kepuasan yang ia dapat itu adalah Rizki dari anak keturunan. Dia yang ambil lebih dahulu dengan Sukma. Ia tidak sadar telah terjerat perjanjian yang harusnya tidak dia disetujui.


Rangga tidak bisa menemui anaknya lagi karena terbukti telah membuat Caca menjadi syok. Semua hak asuh anak jatuh di tangan Kaila karena memang sudah terbukti bahwa Rangga sudah tidak memberi nafkah kepada keempat anaknya. Rangga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia tidak bisa membawa anak-anaknya lagi tanpa persetujuan dari Kaila. Itulah perjanjian yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak di pengadilan.


***


Di kediaman Andi dan Kaila mereka sangat senang sekali dengan keputusan pengadilan, bahwa hak asuh anak jatuh di tangan Kaila. Kaila bisa merasa lega karena Rangga tidak bisa membawa seenaknya anak-anaknya, ketika ada di sekolah. Ia membeberkan bukti yang memberatkan Rangga, sehingga Rangga tidak bisa berbuat semena-mena lagi terhadap anak-anaknya.


"Alhamdulillah aku bisa tenang hatiku, karena hak asuh anak jatuh di tanganku, terima kasih Mas," ucap Kaila.


"Aku pun ikut senang, jika istriku senang maka aku juga akan senang karena ketika kamu senang maka hari-hari yang dijalankan bersamaku akan terpengaruh," ucap Andi.


Kaila dan Andi yang sedang berkomunikasi mendadak didatangi oleh Cia dan Amanda. Mereka ingin membicarakan sesuatu, dari wajah mereka tampak serius untuk membicarakan hal ini.


"Ada apa? kalian mau bilang sesuatu dengan Ayah dan Mamah?" tanya Andi kepada Cia dan Amanda.


"Ayah, Mamah, kami mau ikutan klub pencak silat boleh?" tanya Cia.


"Oh boleh itu bagus untuk menjaga diri kalian, Ayah setuju," ucap Andi menyetujui mereka.

__ADS_1


"Kalau Mamah bagaimana? setuju nggak?" tanya Amanda.


"Mamah juga setuju dengan kalian, punya bela diri Insya Allah untuk menjaga kalian nanti di luar sana, tapi ingat jika sudah mahir jangan sombong, keahlian kalian jangan digunakan untuk yang tidak tidak," pesan Kaila


"Iya Mah, Insya Allah kami tidak akan menggunakan ilmu bela diri itu, dengan sembarangan niat kami memang untuk menjaga diri," ucap Amanda.


Cia dan Amanda tampak senang karena diizinkan untuk mengikuti ke pencak silat.


"Kak, alhamdulillah. Kita bisa belajar pencak silat, kalau ada cowok ada yang jahilin kita, kita tendang Kak hahaha," Cia tertawa.


"Ih kamu Cia, niatnya buruk banget," protes Amanda.


"Aku nggak mau di-bully lagi Kak, bikin nyesek," ucap Cia.


"Cia kenapa kamu tertawa? Amanda kenapa kamu bisik-bisik?" tanya Andi.


"Eh enggak Ayah, kami hanya bercerita tentang sesuatu yang lucu tadi di sekolah. Udah ya kita balik ke kamar. Terima Kasih Ayah,Mamah sudah mengizinkan kami," ucap Amanda.


"Mereka seperti sedang menyimpan sesuatu Mah," ucap Andi.


"Namanya juga anak remaja Ayah. Cia dan Amanda bukan anak kecil lagi," ucap Kaila.


***


Sudah 3 bulan setelah penculikan Caca, kini kehidupan rumah tangga Kaila sudah tenang. Anak-anak di rumah pun di datangi guru ngaji, agar mereka tidak kosong dengan ilmu al quran. Amanda dan Cia juga sudah bisa 2 jurus dalam pancak silatnya.


"Cia...cia...tunggu sebentar dong. Kenapa lari sih?" tanya ketua osis bernama Juna, yang mengejar Cia. Walaupun Cia sudah menolak Juna berkali-kali. Lengan Cia di tarik.


"Aduh Kak, lenganku sakit," rintih Cia.


Juna melepaskan lengan Cia, "maafkan aku Cia."


"Kak bukankan sudah aku katakan dengan jelas. Aku tidak suka denganmu dan aku tidak mau jadi pacar Kakak," ucap Cia.


"Tapi Cia, aku benar-benar suka kamu," ucap Juna.


"Suka bukan berarti harus pacaran kan Kak, kita bisa temanan aja," ucap Cia.


"Tapi aku mau jadi pacar kamu," ucap Juna.

__ADS_1


"Kak, apa sih manfaat pacaran? bisa pegang aku? bisa jalan sama aku? bisa cium aku? pikir Kak Juna seperti itu?" tanya Cia.


Juna hanya terdiam ia tidak menjawab.


"Itu tindakan jika sudah menjadi suami istri Kak seperti itu, kalau Kakak suka aku jangan rusak aku. Dan kalau Kakak benar-benar cinta sama aku, tunggu aku dewasa setelah aku menjadi dokter nanti, Setelah Kakak sukses nanti. Datang ke orang tuaku, lamar aku. Permisi Kak." Cia langsung melangkahkan kakinya menjauhi Juna yang terdiam.


Pemikiran Cia, memang sangat dewasa. Kedewasaannya itu Ia dapatkan dari keadaan kedua orang tuanya yang bercerai.


Bersambung


✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan di diri kita khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet ❤💞💝

__ADS_1


__ADS_2