
Sepulang Kaila dari sekolah, ia langsung mencari Amanda dan Cia di kamar mereka. Pertama Kaila menuju kamar Cia tapi ketika membuka pintu Cia tak ada. Kaila beralih ke kamar Amanda, ketika ia ingin mengetuk pintu ada suara Cia di dalam kamar Amanda yang sedang curhat. Kaila mengurungkan diri untuk membuka pintu kamar Amanda.
"Lengan kamu bagaimana Cia, sudah pakai gel untuk memar?" tanya Amanda.
"Sudah Kak," jawab Cia.
"Yah sudah kamu istirahat aja, mau istirahat di sini?" tanya Amanda.
"Kak, A...aku..." ucap Cia, terlihat ingin berbicara tapi dia tampak ragu.
"Kalau mau curhat, curhat aja. Tentang Juan?" tanya Amanda, langsung menembak Cia.
Cia mengganggukan kepalanya, Amanda menghela nafasnya.
"Tahan Ci...kita masih sekolah, masih SMP. Katanya mau jadi dokter, jadi dokter itu harus belajar yang giat," ucap Amanda.
"Iya Kak, aku tahu. Tapi rasa ini susah Kak...wajah Juan selalu terbayang-bayang. Aku sudah berusaha untuk melupakannya. Apa aku terima dia aja yah, jadi pacarku. Aku jadi nggak konsen Kak buat belajar." Cia mengakui bahwa dirinya sudah jatuh cinta dengan Juan.
"No Cia, aku juga janji nggak ada kata pacaran sebelum aku kuliah. Jadi kita berdua nggak punya pacar. Kamu pikir aku nggak suka dengan cowo, aku suka seseorang Ci tapi aku pendam sendiri. Lihat mata Kakak," Amanda memegang bahu Cia. Cia menatap mata Amanda.
"Kamu bisa melakukannya, belum saatnya. Kasian Mamah, jangan buat ia kecewa. Kamu tahu sendiri kehidupan Mamah sebelum bertemu dengan Ayah. Mamah sudah menderita dengan ayah biologismu." Amanda menasehati Cia dengan sangat bijak.
Cia menundukkan kepalanya, ia tahu betul bagaimana perjuangan mamahnya. Cia pun paham, dia akan memendam rasa suka dengan Juan, walaupun menurut dia sangat berat untuk melakukan itu. Karena setiap hari mereka bertemu di sekolah. Sedangkan Kaila yang mendengar curhatan anaknya itu menjadi tahu apa penyebab guru BP menelepon dia. Kaila juga bangga dengan Amanda yang berpikir sangat dewasa sehingga bisa menasehati Cia.
Kaila mengurungkan diri untuk berbicara dengan kedua putrinya itu, ia melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membersihkan dirinya karena sebentar lagi Andi akan pulang. Sesangkan Andi, sehabis menguruai kedua putrinya, ia balik kembali ke kantor.
Di dalam kamar Kaila berpikir, anak-anaknya sudah remaja sekarang, sudah menyukai lawan jenisnya. Kaila selalu berdoa agar anak-anaknya tidak mendapatkan laki-laki yang seperti ayah biologisnya. Setelah selesai membersihkan diri Kaila menuju ke ruang keluarga dan ia menonton TV, di sana Amanda dan Cia pun ikut bergabung dengan Kaila yang sedang menonton TV. Kaila memperhatikan Cia yang wajahnya sedikit murung, lalu Kaila memanggil Cia agar duduk di samping dia.
"Cia, kamu kenapa wajah kamu terlihat murung?" tanya Kaila.
"Nggak apa-apa Mah," ucap Cia.
Kaila melihat lengan Cia yang sudah memar, dia langsung mengelus-elus lengan Cia. Kaila menghala nafasnya karena kejadiannya sama dengan Amanda ketika Amanda kelas 6 ada yang mencengkram lengan Amanda sampai memar.
__ADS_1
"Sudah dikasih obat lenganmu? kalau ada apa-apa cerita sama Mamah jangan dipendam," ucap Kaila.
"Iya Mah, Cia baik-baik aja kok. Tadi ada masalah sedikit di sekolah, maafin Cia Mah buat ayah dipanggil di sekolah," ucap Cia yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Cia itu tidak salah, tadi ayahmu sudah bercerita sama Mamah," ucap Kaila.
Cia merasa bersalah karena telah membuat ayahnya keluar pada saat jam kerja. Cia memeluk Kaila dengan erat dia menangis dalam pelukan Kaila. Kaila mengelus kepala Cia dengan penuh kasih sayang. Kaila tahu Cia merasa bersalah, ia juga sedang memendam rasa dengan temannya di sekolah. Pasti sangat berat seusia dia yang baru beranjak remaja dan baru merasakan rasanya jatuh cinta.
"Kok nangis sayang?" tanya Kaila.
"Nggak Mah, aku sedih aja. Aku merasa bersalah banget karena aku membuat masalah di sekolah," ucap Cia.
"Cia anak Mamah yang cantik, kamu nggak salah sayang. Amanda sini peluk Mamah juga. Terima kasih sudah menjaga Cia di sekolah yah," ucap Kaila sambil tersenyum dan menatap Amanda.
Sejak kejadian itu Cia menjauh dari Juan, setiap Juan mendekati dirinya dia selalu menghindar. Cia pun jarang ke kantin, ketika istirahat ia hanya diam di dalam kelas, sekedar baca-baca buku pelajaran ataupun mengobrol dengan sesama temannya.
***
Dua tahun kemudian, Kaila dan Andi sedang menghadiri pelepasan siswa siswi di sekolah Amanda. Amanda mendapatkan nilai yang memuaskan, dia mendapatkan nilai tertinggi di angkatannya. Andi sangat bangga dengan nilai yang di hasilkan oleh Amanda. Dengan nilai tersebut Amanda berhasil masuk di salah satu SMAN favorit di Jakarta. Amanda sangat cantik, ia menggunakan kebaya berwarna pink. Sangat anggun sekali.
"Ayah, Mah, aku mau foto-foto dulu yah di pojokan saya. Aku mau foto sama Cia juga," pinta Amanda.
"Yah sudah jangan lama-lama, acara sudah selesai. Kita akan pulang, nanti malam kita akan makan malam di luar sebagai perasayaan atas prestasi kamu," ucap Andi.
Amanda menganggukan kepalanya, ia menarik tangan Cia. Amanda mengajak Cia untuk bertemu dengan Juna. Juna sedang berfoto- foto dengan teman-temannya. Ketika Cia melihat Juna, ia membalikkan tubuhnya untuk tidak ke tempat di mana Juna berada, tetapi Amanda tidak mengizinkan Cia untuk pergi ke mana-mana.
"Juna, boleh minta tolong nggak? tolong foto kan aku dengan Cia," ucap Amanda.
Juna yang tidak melihat Cia sebelumnya, menoleh karena suara permintaan Amanda. Juna pun memfoto Amanda dan Cia untuk berfoto dengan background layar buku-buku. Setelah Amanda puas berfoto bersama dengan Cia, Amanda memanggil Juna kembali.
"Juna, sebentar deh. Sepertinya memory card aku penuh. Mau foto-foto lagi tapi sudah gak bisa. Boleh pinjam hp mu buat foto? nanti kirimkan ke WA aku," ucap Amanda.
Juna pun meminjami hp nya, dan Amanda meminta Juna untuk mendekat dan berdiri di samping Cia. Amanda langsung memfoto Juna dan Cia dengan wajah syok mereka karena Amanda tiba-tiba memfoto mereka berdua.
__ADS_1
"Jun, itu kenang-kenangan dari aku. Tunggu Cia sampai kuliah, temui Cia kembali," ucap Amanda sambil memberikan hp Juna kembali.
Cia ingin memberikan ucapan selamat, tapi lidahnya terasa kaku. Akhirnya ia hanya tersenyum kepada Juna. Amanda menarik lengan Cia kembali karena rencananya sudah sukses.
"Ayo Cia kita pulang." Amanda melambaikan tangan kepada Juna. Cia menundukkan wajahnya ia hanya pasrah ketika Amanda menarik lengannya dan menjauh dari Juna.
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞💝