
Cie dan Amanda sudah sampai di rumah, mereka masing-masing masuk ke kamarnya. Hati Cia masih dongkol terhadap Juna yang hanya mengandalkan emosi semata. Memang perasaan kepada Juna masih belum hilang sepenuhnya, tapi melihat Juna ya emosinya menggebu-gebu seperti tadi ia menjadi tidak ingin melihat wajah Juna kembali. Ia sangat marah, benci dengan Juna. Sebelumnya cinta menjadi benci, tiba-tiba ada notifikasi handphone. Handphone Cia berdering, ia melihat nomor yang tidak dikenal. Cia pun mengabaikan telepon tersebut, tapi ada notifikasi WhatsApp yang masuk. Sebuah video yang membuat Cia tercengang melihatnya.
"Maafkan aku Cia, bisakah kita seperti dahulu lagi? bisakah kamu memberi aku senyuman kembali Cia? aku sangat mencintaimu sejak SMP perasaan ini tidak berubah. Maaf aku berbuat salah kepadamu, bukan maksudku menyakitimu tapi sungguh ketika aku jadian dengan Ilma, ingin rasanya aku membunuh perasaanku terhadapmu. Tapi semakin aku berusaha, semakin aku tak bisa melupakanmu, malah perasaan ini makin bertambah. Aku tidak tahu jika kamu masuk ke sekolah yang sama denganku. Maafkan aku."
Setelah video permintaan maaf, Juna tak berkata apa-apa lagi. Dia hanya memperlihatkan pergelangan tangannya yang ia iris dengan karter. Juna tersenyum dan memperlihatkan darahnya yang terus keluar semakin banyak. Video itu berdurasi 5 menit dan terkirim ke WhatsApp Cia.
Setelah Cia melihat video tersebut, dia takut jika Juna tidak bisa tertolong lagi. Cia langsung berlari ke kamar Amanda dan mengetuk pintu kamar Amanda dengan keras.
"Kak Amanda... Kak... cepat buka Kak..." Cia mengetuk pintu dengan panik.
Amanda membuka pintu, "apa sih Cia gedor-gedor seperti itu? kamu ketok-ketok pelan-pelan juga bisa 'kan."
Ci dengan wajah panik memberikan handphonenya kepada Amanda untuk melihat video Juna yang sedang mengiris lengannya. Amanda melihat video itu, ia pun langsung menutup mulutnya karena terkejut.
"Kak bagaimana ini Kak? kalau terjadi dengan Kak Juna gimana Kak? kalau ia meninggal bagaimana Kak?" tanya Cia dengan gemetar.
"Coba kamu telepon Juna," ucap Amanda.
Cia menelpon ke nomor yang mengirim video tersebut, tapi nomornya tidak diangkat, notifikasi berdering, Cia pun semakin panik dengan situasi itu.
"Kamu punya nomor Emir? coba kamu telepon," ucap Amanda. Cia tangannya gemetar ia tidak bisa mengucapkan apa-apa terhadap Emir, akhirnya Amanda lah yang menelepon Emir.
Emir \= ["Halo assalamu'alaikum Cia, ada apa?"]
Amanda \=["Wa'alaikumsalam Emir, ini Amanda. Juna mengiris nadinya. Cia dikirimkan video ketika Juna mengiris lengannya. Kamu tahu kan rumah Juna di mana?"]
Emir \=["Apa? Juna mengiris nadinya? iya aku tahu, aku langsung ke rumah Juna sekarang."]
Amanda \=["Tolong kabari ya, ini Cia sangat mengkhawatirkan Juna."]
Emir \=["Iya nanti aku kabari."]
Cia sangat ketakutan, dia tidak menyangka Juna akan nekat seperti itu, padahal umurnya masih muda, tetapi pikirannya kenapa dangkal. Kenapa karena Cia yang marah, Juna sangat nekat berbuat bodoh seperti itu. Amanda paham akan perasaan Cia, ia langsung memeluk Cia.
"Kamu tenanglah, Emir langsung ke rumah Juna. Yakinlah Juna akan baik-baik saja," ucap Amanda.
Cia terus saja menangis karena ia teringat ketika Juna yang mengiris lengannya dan darahnya yang keluar sangat banyak. Cia dan Amanda menunggu kabar dari Emir. 1 jam berlalu dan Emir menelepon Cia.
Cia \=["Halo Assalamu'alaikum Kak Emir bagaimana keadaan Kak Juna?"]
Emir \=["Waalaikumsalam, Juna masih belum sadar Cia, kamu bisa kemari enggak? Juna mengigau menyebut nama kamu. Aku mohon ya datanglah menemui Juna. Kesampingkan dulu amarahmu terhadap Juna."]
Cia \=[Iya Kak, aku akan ke sana dengan Kak Amanda. Tolong alamat rumah sakitnya Kak."]
Tak lama Emir pun mengirim alamat rumah sakit tempat Juna dirawat, kemudian Cia dan Amanda langsung bergegas untuk ke rumah sakit diantar oleh pak sopir. Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di rumah sakit. Cia dan Amanda langsung mencari kamar rawat inap Juna, di sana mereka bertemu dengan Emir.
"Kak Juna bagaimana Kak?" tanya Cia.
Emir menggelengkan kepalanya, "belum sadar Cia dan tadi di rumah dia sendiri, kedua orang tuanya sedang ada bisnis di luar negeri. Jika aku terlambat sedikit mungkin Juna sudah..." ucap Emir terpotong.
__ADS_1
Emir menggantungkan ucapannya karena Cia langsung menangis, Amanda memeluk Cia dengan erat.
"Kak ini salahku sehingga Kak Juna berbuat nekat seperti itu," ucap Cia dengan isakan tangisnya.
"Tidak Cia, ini bukan kesalahan kamu. Juna itu bodoh. Ngapain dia melakukan seperti itu? jika ia ingin mengambil hatimu seharusnya dia terus berjuang," ucap Amanda.
Emir yang mendengar perkataan Amanda tersenyum di dalam hatinya ia berkata, 'aku pun akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu Amanda.'
Cia pun masuk ke dalam ruang rawat Juna di sana Juna terus memanggil nama Cia.
"Cia... cia... maafkan aku Cia... cia... aku sangat sayang kamu," Mata Juna terpejam tapi mengeluarkan air mata.
"Kak Juna, aku di sini." Cia berbisik di telinga Juna.
Tetapi Juna masih belum sadar dia terus memanggil-manggil nama Cia. Cia ingin menggenggam tangan Juna, tapi dia ragu karena dia tidak pernah menyentuh laki-laki manapun. Akhirnya dia hanya duduk di samping ranjang. Juna terus memanggil-manggil namanya.
"Cia pulang yuk, Kakak takut mamah dan ayah cariin kita, tadi kan mereka nggak tahu kalau kita ke rumah sakit," ucap Amanda.
"Sebentar Kak, Kakak bisa keluar dulu nggak sama Kak Emir?" pinta Cia.
Amanda dan Emir keluar dari ruang rawat inap. Cia membuat video di handphone Juna.
Kak Juna aku datang ketika Kak Juna belum sadarkan diri, jangan berbuat bodoh seperti ini lagi Kak. Aku nggak suka, Kak tahu nggak Kak? jantungku seperti copot dari ragaku melihat video kakak yang mengiris tangan Kakak sendiri. Jujur aku takut kehilanganmu. Tolonglah mengerti posisiku aku tidak akan membencimu Kak. Aku masih menyukaimu, percaya padaku. Aku tidak pernah pacaran oleh siapapun, aku hanya mengaku suka terhadapmu tidak ada laki-laki lain. Tapi kamu membuat aku kecewa aku mau memaafkanmu Kak. Aku minta Kakak jangan buat bodoh seperti ini lagi.
***
Di luar ruang rawat inap Amanda dan Emir duduk bersebelahan. Amanda tak berkata apapun, dia gugup ketika duduk bersebelahan dengan Emir.
"Gombal kamu Emir, baru juga kita ketemu," ucap Amanda.
"Kok gombal sih? aku jujur loh mengucapkan ini. Memang kenyataannya kamu cantik kok," ucap Emir.
Amanda hanya tersenyum ketika mendengar Emir memuji kecantikannya.
"Amanda, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucap Emir.
"Iya katakan saja, mau ngomong apa Emir?" tanya Amanda.
"Manda, aku...." ucapan Emir tergantung karena Cia keluar dari ruang rawat inap Juna tampak wajah Cia yang sangat sedih dan selalu menghapus air matanya.
"Kak ayo pulang," ajak Cia.
"Emir kami pulang dulu ya," ucap Amanda.
"Kak Emir, jika Kak Juna sudah siuman. Tolong disuruh lihat galeri videonya ya Kak," ucap Cia.
"Ia Cia, terima kasih ya kamu sudah melihat Juna. Walaupun Juna tidak tahu kamu datang," ucap Emir.
"Iya Kak, sama-sama kami permisi dulu assalamualaikum," ucap Cia.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," ucap Emir.
Emir sedikit kecewa karena dia belum mengatakan sesuatu tentang perasaannya. Amanda pun tersenyum melambaikan tangannya ketika ia melangkah keluar dari rumah sakit.
Perkenalan khayalan wajah tokoh Cia, Amanda, Juna dan Emir.
Cia
Juna
Amanda
Emir
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞💝