
Cia akhirnya menelepon Juna, karena dirinya tidak bisa berbohong kepada Kaila. Kaila terus mendesak dengan siapa Cia datang ke rumah sakit, karena Cia tidak mungkin untuk pergi sendiri dengan jarak yang cukup jauh. Cia pasti diantar oleh seseorang dan Kaila menebak seorang itu yang Cia sukai.
Cia \=["Kak Juna, Kak Juna disuruh ke kamar di mana Mamah dirawat. Mamah ingin bicara dengan Kak Juna kamar 245 ya Kak VVIP"]
Juna \=["Apa Mamah kamu mau ketemu sama aku? Kamu bilang bahwa kamu diantar oleh aku?"]
Cia \=["Tidak Kak, aku tidak bisa berbohong oleh Mamahku karena Mamahku tahu kebiasaan aku yang tidak pernah pergi sendiri, apalagi jaraknya jauh. Ya sudah Kak, Kakak ke sini aja."]
Juna \=["Ya sudah aku ke sana ya."]
Cia sudah berpikir macam-macam, takut mamahnya marah kepada Juna. Karena hubungan mereka sebenarnya sudah Cia bicarakan dengan Juna baik-baik, bahwa Juna harus menunggu sampai Juna menjadi seorang dokter dan Cia pun sangat menjaga jarak dengan Juna. Mereka berkomunikasi melalui WhatsApp untuk menanyakan perihal kegiatan sehari-hari, itu pun hanya sebatas sewajarnya.
Tok Tok Tok
Suara pintu diketuk, Kaila mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk. Akhirnya Juna memberanikan diri untuk masuk, ia melirik Cia yang sedang menundukkan kepalanya. Juna langsung menghampiri Kaila dan menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Kaila.
"Assalamualaikum Tante, Tante gimana keadaannya sekarang? Sudah mulai membaik," tanya Juna dia ingin terlihat sopan di hadapan Kaila.
"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah. Tante sudah mendingan, nama kamu siapa Nak?" tanya Kaila.
"Alhamdulillah kalau Tante sudah mendingan nama saya Juna tante," jawab Juna.
"Kamu menyukai Cia Juna?" jantung Juna berdetak kencang karena Kaula langsung to the point apa yang ingin ia tanyakan.
"Iya Tante. aku sangat menyukai Cia," jawab Juna.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu menyukai Cia?" tanya Kaila.
"Sejak aku kelas 2 SMP Tante."Juna berkata jujur kepada Kaila. Kaila langsung menatap Cia. Cia pernah mengatakan bahwa ia menyukai seseorang ketika dirinya kelas 2 SMA, Cia tak berani menatap Kaila.
"Sampai sekarang kamu menyukai Cia? Kalian pacaran?" tanya Kaila.
"Sampai sekarang aku menyukai Cia Tante, tapi kami tidak pacaran. Aku dan Cia sudah berkomunikasi, Cia menolak untuk pacaran dan ia bilang jika ingin bersamanya maka menyuruh aku untuk melamarnya, tapi dengan syarat ketika aku sudah lulus di Kedokteran dan menjadi seorang dokter." Kaila menganggukkan kepalanya itu artinya Cia sangat berkomitmen. Apa yang ia katakan kepada Kaila ketika Cia mengungkapkan rasa menyukai lawan jenis.
"Juna jika kamu menyukai Cia, maka jagalah dia. Jangan sampai melewati batas-batas agama, kami di keluarga tidak memilih siapapun yang menjadi pasangan anak-anak kami. Tapi memang kami menekan agar mereka tidak pernah pacaran, tapi langsung lamaran. Untuk sebab itu Tante mohon, jika kamu bersedia menunggu, maka tunggulah dengan sabar karena buah kesabaran itu orang manis rasanya ketika kamu petik dan jikalau kamu bersedia tolong jaga Cia dari kejauhan karena Cia ngekos sekarang, Tante tidak bisa menjaganya ketika seperti di rumah." Juna sangat lega mendengar perkataan Kaila artinya Kaila menyetujui jika Juna menyukai Cia dan Juna paham kenapa Cia tidak mau pacaran, memang di keluarganya tidak memperbolehkan.
"Insya Allah Tante, aku akan menjaga Cia dengan kasih sayangku, aku akan menjaga dari jarak jauh. Tapi Tante harus tahu kami berkomunikasi melalui WhatsApp. Percakapan kami di WhatsApp itu sangat wajar. Apa Tante mau melihat HP saya untuk melihat percakapan saya dengan Cia?"
Kaila berpikir bahwa laki yang menyukai Cia ini sangat sopan dan pengertian. Ia mendoakan agar nasib Cia tidak sama seperti dirinya. Kaula menikah dengan temannya ketika di satu universitas. Terlihat baik ketika kuliah tapi ketika Kaila mempunyai anak tiga, pernikahannya retak karena ada orang ketiga yang merusaknya.
"Tidak usah Juna, Tante percaya denganmu. Tante berikan kepercayaan Tante kepadamu, tolong jaga Cia. Tante berpesan sekali lagi, jangan lewati aturan agama kita," pesan Kaila.
"Tante menyetujui kamu karena Cia juga menyukai kamu. Cia mengakui bahwa dia menyukai kamu. Ngomong-ngomong buah Slsiapa yang beli?" tanya Kaila. Kaula melirik Cia dan Juna.
"Yang beli Kak Juna Mamah," jawab Cia.
"Terima kasih ya sudah bawakan oleh-oleh untuk tante." Kaila melihat jam di dinding rumah sakit, "sebaiknya kalian pergi, bukan Tante mengusir ya, karena sebentar lagi Ayahnya Cia akan datang kemari. Tante takut jika Ayah Cia datang dan melihat kalian berdua dia akan marah, karena Ayahnya Cia sedikit keras. Jika anaknya itu berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, tapi sudah berani berduaan." Cia paham dengan maksud Kaila. Cia langsung mengajak Juna untuk pergi.
Sebelum pergi Juna berkata, "Tante tenang ya, saya duduk di jok bagian depan dan Cia duduk di jok bagian belakang. Kami selalu menjaga jarak. Kami permisi dulu Tante. Assalamualaikum." Cia dan Juna mencium takzim punggung tangan Kayla dan mereka pun pergi dari ruang rawat Kayla.
***
__ADS_1
Juna dan Cia masuk ke dalam mobil, tepat mereka masuk, Cia melihat mobil Ayahnya baru masuk ke parkiran.
"Kak tunggu Kak, jangan jalan dulu. Itu mobil Ayahku baru masuk, nanti dia melihat aku di dalam mobil." Juna melihat mobil yang ditunjuk oleh Cia.
Setelah Cia memastikan bahwa ayahnya sudah masuk ke dalam rumah sakit, Juna pun menjalankan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Alhamdulillah, kamu tahu nggak jantungku deg-degan ketemu calon Mamah mertua," ucap Juna dengan tersenyum.
"Kakak mengucapkan Alhamdulillah karena memang deg-degan atau Kakak senang karena sudah diberi lampu hijau dengan Mamah?" tanya Cia yang sedang ngeledek Juna.
"Ih kamu meledek aku ya, kamu juga senang kan Mamah kamu kini sudah tahu dan dia menyerahkan untuk menjaga kamu. Insya Allah aku akan menjaga kepercayaan Mamahmu." Cua tersenyum ketika mendengar ucapan dari Juna.
"Mamahmu masih cantik ya, sama cantiknya sama kamu Ternyata memang keturunan cantik," ucap Juna.
"Ih Kakak gombal deh kamu," ucap Cia malu-malu.
"Nggak apa-apa kan gombal dengan calon istri masa depan." Cia pipinya memerah, jika Juna melihatnya Cia pasti langsung membalikkan badannya. Tapi sekarang Cia duduk di jok belakang, jadi Juna tidak melihat pipi Cia yang sudah memerahkan karena malu.
Perjalanan pulang ke Salemba menjadi suasana yang hangat karena percakapan di antara mereka terjalin. Juna sangat senang ketika melihat Cia yang selalu tersenyum. Juna tidak pernah merasakan sedekat ini dengan Cia. Selama ini mereka hanya berpapasan dan saling senyum menyapa.
Tapi kini lain, mereka sangat dekat di dalam satu mobil mobil. Juna berhenti di pekarangan tempat kos Cia. Cia langsung membuka pintu bagian belakang sebelum Juna membukakannya.
"Terima kasih Kak, sudah mengantarkan aku dan terima kasih juga buahnya ya," ucap Cia.
"Dimakan ya buahnya, biar kamu sehat. Aku permisin dulu assalamu'alaikum Cia," ucap salam Juna.
__ADS_1
"Waalaikumsalam kakak Juna." Juna pun menghidupkan mobilnya kembali, meninggalkan pekarangan kos tempat Cia. Cia berdiri dan tangannya melambai ke arah Juna. Juna melihat di kaca spion, ia tersenyum melihat Cia di kaca spionnya.
Bersambung