
Sukma mendapatkan telepon dari adik kandungnya di kampung. Sukma langsung menangis ketika mendengar adiknya berbicara, berita buruk terjadi kepada ibu kandung Sukma yang telah meninggal dengan mendadak, dikabarkan ibu sukma mendadak muntah darah sehingga ibu kandung Sukma mengalami kekurangan darah, penyakitnya itu sudah menyebar sangat cepat sehingga ketika dibawa ke dokter ibu kandung Sukma tidak bisa ditolong dan akhirnya meninggal dunia. Ini adalah perjanjian Sukma dengan jin yang ia nikahi, ketika tumbal tidak didapati maka akan berbalik kepada keluarga Sukma dan bisa terjadi kepada Sukma sendiri. Sukma sangat terpukul atas meninggal ibu kandungnya. Ia juga sangat geram karena gagal menjadikan Cia sebagai tumbalnya.
"Kenapa harus ibu kandungku yang terkena? Seharusnya tumbal itu berhasil kepada Cia. Sepertinya setiap aku mengirimkan guna-guna keluarga Kaila maka akan berbalik kepadaku lagi," ucap monolog Sukma.
Sukma menunggu Rangga karena weekend Sabtu dan Minggu Rangga akan ke Bandung, ketika hari biasa Rangga berada di Serang Banten. Karena kantor mereka kini sudah terpisah. Sukma yang masih berkantor di pusat Bandung sedangkan Rangga dipindahkan kantornya ke Serang Banten.
"Rangga ke mana ini? Kok nggak datang. Aku ingin pulang kampung, ingin melihat wajah ibuku yang terakhir kali sebelum dikebumikan," gumam Sukma ketika menunggu Rangga di pintu luar.
Karena Sukma sudah menunggu lama ia akhirnya menelepon Rangga.
"Rangga kamu ada di mana? Aku nunggu kamu kenapa belum datang?" tanya Sukma di ujung telepon.
"Sukma, aku masih ada di Serang Banten. Ayahku sakit jadi aku merawat ayahku," jawab Rangga.
"Kenapa kamu tidak menelepon aku sih? Kalau kayak begini aku tidak akan menunggumu kamu. Kamu tahu ibuku meninggal. Aku ingin lekas pulang kampung, percuma aku menunggu kamu niatnya aku ingin pulang kampung bersamamu untuk melihat wajah ibuku yang terakhir kali sebelum dikebumikan." Sukma marah dia langsung menutup teleponnya secara sepihak.
Dengan hatinya yang sangat marah dan juga sedih Sukma akhirnya pulang ke kampung sendiri, mengendarai mobilnya. Di dalam mobil ia terus menangis karena terakhir pertemuan dengan ibunya, Sukma membentak ibunya, tapi kali ini Sukma menangis karena secara tidak langsung Sukma menjadikan tumbal sampai ibunya meninggal.
Tiba di kampung, Sukma langsung menatap ibunya yang sudah terbujur kaku. Sang ibu sudah dimandikan dan sudah dikafani. Anehnya di kuping ibu kandung Sukma keluar darah segar sehingga para pelayat yang melihatnya menjadi iba dan juga sangat ketakutan.
Di depan jenazah sang ibu, Sukma tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Dek cepat dimakamkan saja ibu," pinta Sukma kepada sang adik.
"Iya Teh, ini makam sedang digali tunggu sebentar lagi Teh," jawab adik Sukma.
Sekitar 10 menit, makam sudah siap dan jenazah sang ibu di bawah untuk menuju makam. Ada kejadian-kejadian aneh ketika di perjalanan ke pemakaman. Tubuh sang ibu menjadi berat yang seharusnya 4 orang menggotong sudah kuat, ini harus digotong dengan 10 orang seperti mayat sang ibu bukan hanya satu mayat tetapi beratnya seperti membawa 5 mayat. Sukma melihat langsung pemakaman sang ibu yang sangat menderita. Bersyukur ketika sudah berada di pemakaman, ibunya bisa langsung di makamkan.
Pada malam harinya Sukma mengadakan tahlilan di rumah, para tetangga hanya sedikit yang datang entah kenapa tersebar gosip bahwa ibu Sukma meninggal tidak wajar, sehingga mereka takut untuk datang dan memakan besek yang dibawa dari rumah mendiang ibu kandung Sukma.
"Ya Allah padahal semasa hidup Ibu orangnya sangat baik kepada tetangga, juga selalu memberikan makanan. Kenapa akhir hayatnya seperti ini? Ibu meninggal tidak wajar seperti di teluh oleh seseorang. Siapa orang itu yang telah mencelakai ibu? ucap adik Sukma ketika berbicara dengan Sukma.
"Jangan mendengar perkataan orang Dek, Ibu meninggal karena sudah ajalnya," ucap Sukma agar adiknya tidak berpikir terlalu jauh.
Sukma memberikan uang kepada adiknya untuk tahlilan sampai 7 hari. Ia mengatakan kepada adiknya bahwa dirinya harus bergegas untuk kembali ke bandung karena ia harus kerja.
__ADS_1
"Teteh kembali pulang ke Bandung ya. Jaga dirimu baik-baik Dek," ucap Sukma sambil memeluk adiknya.
"Iya Teh, Teteh juga ya jaga kesehatan Teteh. Sering hubungin aku teh karena di sini aku sendiri, Ibu sudah meninggal," ucap adiknya Sukma.
Sukma menjalankan mobilnya menuju Bandung. Melihat kondisi jenazah sang ibu dirinya sangat prihatin. Ia menyalahkan dirinya, karena dia ibunya telah meninggal. Sukma juga bingung kenapa tumbal itu bisa berbalik. Kenapa tidak bisa menembus ketika sasarannya adalah keluarga Kaila.
'Masa aku harus menumbal keluarga Rangga sih,' ucap batin Sukma.
Ketika sampai di rumah, Sukma hanya sendiri. Menikah tapi berjauhan Rangga. Rangga berada di Serang, dirinya di Bandung. Ia berpikir percuma ketika hidupnya dengan Rangga seperti ini. Sebelumnya dia membayangkan bahwa Sukma terus bersama dengan Rangga, tetapi sebelum Kaila menyetujui perceraian, ia memohon kepada keluarga Rangga agar mengurus mutasi Rangga dari Bandung ke Serang Banten. Keluarga Rangga pun setuju, permohonan mutasi itu disetujui oleh atasannya sehingga Rangga di tempatkan di Serang Banten.
"Lho kok gatal banget sih?" Sukma menggaruk-garuk tangannya, ia terkejut ada bintik merah di tangannya dan juga sekujur tubuhnya.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi denganku?" tanya monolog Sukma ketika di dalam rumah sendiri.
*** Noveltoon***
Cia berangsur sudah sembuh kembali. bercak merah yang berada di kulitnya sudah tak ada lagi. Ia siap untuk kembali ke kampus untuk belajar kembali.
Ketika sudah berada di kampus ,ia mencari keberadaan Juna. Cia tidak memberitahu bahwa dirinya sudah bisa masuk kuliah kembali. Mamang sengaja, Cia melihat Juna dan berlari untuk menghampiri Juna.
"Kak Juna," teriak Cia.
"Mau kasih surprise buat kamu Kak," ucap Cia.
"Aku senang sekali, kamu sekarang sudah bisa belajar kembali jadi aku bisa melihat wajahmu setiap hari." Cia tersenyum mendengar ucapan Juna.
"Aku kangen Kak sama kamu," ucap Cia jujur.
"Ah manisnya calon istriku, aku jauh lebih kangen sama kamu cantik." Juna memegang kepala Cia yang tertutup jilbab.
"Makan siang bersama yuk Kak nanti," ajak Cia.
"Boleh, nanti aku mau jemput ke kelas kamu atau langsung ketemu di parkiran?" tanya Juna.
"Langsung di parkiran aja deh Kak," jawab Cia.
__ADS_1
"Oke sayang, aku masuk kelas dulu yah." Cia menganggukan kepalanya dan Juna masuk ke dalam kelas.
"Ah senyuman Kak Juna, manis," gumam Cia ketika melihat punggu Juna masuk ke dalam kelas. Cia pun bergegas masuk ke dalam kelasnya, dia punya mata kuliah di pagi hari sama dengan Juna. Mereka sama-sama tahu jadwal kuliah mereka makanya Cia mengajak Juna untuk makan siang bersama karena Juna sudah tidak ada kelas setelah makan siang, begitu juga dengan Cia.
Bersambung
❤❤❤❤
Baca juga yuk cerita seru di novel yang lainnya karya author.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar(Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤