
Sejak Kaila hamil anak kelima ini, perasaannya sangat sensitif dan sangat manja kepada Andi. Entahlah ini apa? bawaan bayi dalam kandungannya karena ketika dia hamil dari anak pertama sampai anak ke-4, dia sama sekali tidak bermanja dengan suami pertamanya. Tapi kini dengan pernikahan yang kedua, ia sangat manja dengan Andi apalagi Andi malah ingin memanjakan Kaila sebagaimana ratu di dalam hatinya.
Setibanya Kaila sampai di rumah, sehabis mengajar di sekolahnya. Cia menghampiri Kaila, dia menceritakan tentang apa yang terjadi di sekolah dan yang paling mengejutkan bahwa Rangga datang ke sekolah untuk menemui Cia dan Caca. Ayahnya ingin mengajak main Cia dan Caca sehabis pulang sekolah, tapi Cia menolak dengan mentah-mentah begitupun dengan Caca mereka tidak mau pergi dengan Rangga Ayah biologisnya. Tidak lama setelah itu sopir yang biasa menjemput mereka itu datang ke sekolah mereka, akhirnya mereka langsung pulang ke rumah.
Kaila yang mendengar cerita tentang Cia dan Caca itu sangat kesal sekali. Akhirnya Kaila menelpon pihak sekolah bahwa jika ada yang bernama Rangga menjemput kedua anaknya jangan diizinkan. Kaila bilang dia adalah orang yang jahat yang mengaku-ngaku sebagai ayahnya. Iya memang Rangga adalah orang jahat yang tidak mau membiayai anak-anaknya.
Kaila geram dengan kelakuan Rangga, ke mana saja dia selama ini? dia tidak ada untuk anaknya. Untuk biaya sekolah pun Kaila yang banting tulang untuk mencari uang.
"Kamu kenapa? wajah kamu cemberut," tanya Andi.
"Mantan suamiku datang ke sekolah Cia dan Caca. Aku sebel Mas, kenapa dia baru datang sekarang? selama 5 tahun ini ke mana? aku yang membanting tulang untuk biaya sekolah mereka. Dia itu hanya menanam benih di rahimku saja, tapi tidak tanggung jawab kepada anak-anaknya," ucap Kaila yang sangat marah.
"Sudah sayang, jangan marah ya. Kamu sedang hamil, jaga kehamilan kamu. Kamu sudah menelpon pihak sekolah agar anak-anak jangan sampai ketemu tanpa sepengetahuan kamu?" tanya Andi.
"Alhamdulillah Mas, tadi aku langsung telepon pihak sekolah. Jika Rangga datang untuk menjemput Cia dan Caca maka jangan diizinkan, karena aku bilang dia adalah orang jahat," ucap Kaila.
"Kamu sebenci itukah dengan dia?" tanya Andi.
"Mas? kalau aku masih cinta sama dia ngapain aku punya anak sama kamu? aku lebih baik benci sama dia. Karena itu lebih bagus 'kan daripada cinta dengan dia. Aku juga ogah Mas dengan laki-laki yang nggak bertanggung jawab seperti dia," ucap Kaila.
Kaila berkata dengan sangat emosi dan berapi-api karena dia mengingat apa yang Rangga lakukan dengan dirinya dan juga dengan anaknya. Ketika dulu pernah meminta uang untuk biaya sekolah anaknya, Rangga mentah-mentah untuk menolaknya. Dia bilang Kaila saja yang mengurus anak-anaknya, sekarang mereka sudah mulai besar dia mau mendekati anak-anaknya. Kaila tidak ikhlas dengan hal itu.
Untuk meredam amarah Kaila, maka Andi langsung memeluk Kaila dan mengusap-ngusap punggung Kaila.
"Sayang, istighfar. Sabar ya jangan marah-marah. Nanti akan terpengaruh dengan janin di dalam sini sayang," ucap Andi sambil mengusap-ngusap perut Kaila yang masih rata.
"Iya suamiku tersayang, terima kasih sudah selalu ada di sisiku dan selalu bisa menenangkan hatiku," ucap Kaila.
"Itu harus sayang karena aku ini suamimu. Jika kamu tidak nyaman denganku maka keluarga kita akan bercerai berai," ucap Andi.
"Aku tidak suka Mas, dengan mantanku itu. Laki-laki nggak mau bertanggung jawab, suka menanam benih saja. Anak-anakku sudah besar. Bahkan Cinta sudah masuk TK, jangan harap dia menemui Cinta," ucap Kaila dengan emosi yang meletup-letup.
"Aku paham perasaanmu, anak-anak pasti dia tidak akan mau, jika diajak oleh ayahnya. Mereka sudah bisa menilai sendiri," ucap Andi.
Sejak kejadian itu, Kaila meminta Andi untuk memperketat penjagaan anaknya. Sopir harus sampai sebelum bel berbunyi sehingga tidak ada kesempatan untuk Rangga menemui kedua anaknya. Untuk Adam Rangga tidak akan berani untuk menemui Adam karena Adam bersekolah, yang sekolahnya itu merupakan tempat Kaila mengajar.
***
__ADS_1
Rangga merasakan rasa kecewa dengan apa yang terjadi di siang hari. Ia tidak menyangka penolakan oleh kedua anaknya Cia dan Caca yang menolak diajak pergi oleh ayahnya. Padahal Rangga sudah mengiming-imingkan uang dan mainan untuk mereka, tapi mereka tidak mau menerima pemberian dari Rangga dan mereka langsung pergi ketika sopir Andi sudah tiba di sekolah.
Sejak kejadian itu Rangga menjadi uring-uringan. Dia merasa bahwa hidupnya ini seperti sendirian tanpa anak-anak, dia baru menyadari akan kehilangan orang-orang terdekat. Anak yang masih duduk di SD sudah berpikir bahwa ayah biologis mereka sudah mereka hapus dihati mereka karena perlakuan sang ayah lah yang membuat mereka melakukan hal itu.
Sukma yang melihat Ranga uring-uringan karena penolakan anaknya, mendatangi orang pintar lagi/dukun. Agar Rangga lupa kembali dengan anaknya.
"Mbah tolong buat suami saya benci dengan anak-anaknya," ucap Sukma.
"Dengan apa kamu membayarnya?" tanya mbah dukun.
"Berapapun akan saya bayar Mbah," ucap Sukma.
"Tapi jin yang ingin melakukan ini, menginginkan lebih dari sekedar uang," ucap mbah dukun.
"Lalu apa yang jin itu mau?" tanya Sukma kembali.
"Dia inginkan kamu menjadi pengantinnya," jawab mbah dukun.
Sontak Sukma terdiam, di dalam hatinya sangat terkejut. Otaknya berpikir sejenak, ia sudah jauh melangkah. Dan ia sangat mencintai Rangga. Apalagi jika terbayang dengan permainan ranjang Rangga, dia tidak mau melepaskan Rangga. Tanpa berpikir kembali Sukma langsung menyetujuinya.
"Baik Mbah saya setuju," jawab Sukma.
"Saya yakin mbah," jawab Sukma dengan keyakinannya.
"Setiap malam jum'at kliwon kamu harus melayani jin yang sudah membantumu," ucap mbah dukun.
"Dimana saya melayaninya?" tanya Sukma.
"Kamu datang ke sini, setiap malam jum'at kliwon dengan pakaian serba kuning membawa kembang kamboja dan kemenyan," jawab mbah dukun.
"Baik Mbah, saya akan lakukan itu," ucap Sukma.
"Ada satu hal lagi syaratnya," ucap mbah dukun.
"Apa itu Mbah, katakanlah," ucap Sukma.
"Aku akan mengambil darahmu, sebagai tanda kamu sudah menjadi pengantin jin yang membantumu," ucap mbah dukun.
__ADS_1
"Baik Mbah ambillah darahku," ucap Sukma.
Mbah dukun berkomat kamit mulutnya, dia mengambil keris berukuran jari telunjuk. Dia mandikan keris itu di dalam bunga 7 rupa dengan membaca mantra-mantra pemanggil Jin. Tangan sukma di ambil, lalu ia mengambil keris itu. Jari tengah Sukma di tusuk oleh keris tersebut dan tetesan darah Sukma di teteskan kepermukaan keris. Setelah selesai keris itu dipegang oleh mbah dukun dengan dua tangannya yang menangkup, ia naikan keris itu ke atas kepalanya, mulut mbah dukun masih komat kamit. Tiba-tiba keris itu menghilang dari tangan mbah dukun.
"Sekarang kamu sudah resmi menjadi pengantinnya," ucap mbah dukun.
Sukma mengambil segepok uang dan diberikan oleh mbah dukun lalu ia pergi meninggalkan rumah dukun tersebut.
Bersambung
βββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ