
Bel berbunyi tandanya sudah pulang sekolah, sopir sudah menunggu di gerbang sekolah. kelas Cia terlebih dahulu keluar, ia langsung menuju ke gerbang sekolah dan masuk ke dalam mobil menunggu Amanda yang akan segera keluar dari kelasnya. Cia agak takut ketika dia menunggu Amanda di depan kelasnya, ada laki-laki yang suka dengan Cia, takut laki-laki itu mendekatinya, untuk menghindarinya dia langsung masuk ke dalam mobil.
Sekitar 10 menit Amanda keluar, biasanya dia menunggu di depan kelas, tapi untuk hari ini Amanda sedikit bingung karena Cia langsung masuk ke dalam mobil. Sebelumnya dia mengirim pesan bahwa dirinya sudah berada di dalam mobil.
"Kamu kenapa nggak nungguin aku di depan kelas?" tanya Amanda.
"Maaf Kak di kelas kamu itu ada cowok yang naksir aku, aku menghindar aja," jawab Cia.
Cia jangan menghindar, tapi hadapkan. Kalau kamu menghindar terus seperti itu, malah kamu dikejar. Bilang aja terus terang, kamu nggak mau pacaran kan gitu lebih jelas," usul Amanda.
"Aku takut Kak, seperti tadi. Aku nggak mau kejadian yang tadi itu," ucap Cia.
"Justru ketakutan kamu menjadi senjata untuk membully kamu, jangan takut tapi lawan pembullian dengan cara cerdik," ucap Amanda.
"Ah Kakak mah enak nggak pernah di bully," ucap Cia.
"Kata siapa Kakak nggak pernah dibulli? waktu SD malah Kakak udah pernah dibulli, dikunciin di toilet sampai pulang, kamu tahu siapa yang membantu Kakak waktu itu?" tanya Amanda.
"Siapa Kak?" tanya Cia balik.
"Mamah, makanya Kakak menjodohkan mamah sama ayah. Alhamdulillah kita jadi bisa bersaudara, aku punya adik-adik," ucap Amanda.
"Aku juga senang punya saudara seperti Kakak," ucap Cia.
"Itu kamu bawa bungkusan apa?" tanya Amanda.
"Baju aku yang kotor tadi," ucap Cia.
"Buang aja sih Cia, itu ngapain sih dibawa pulang," protes Amanda.
"Kak, kata mamah, benda yang masih boda dipakai jangan dibuang mubazir," ucap Cia.
"Ya Allah Cia, itu nyucinya susah Cia. Nanti kalau mamah tahu gimana?" tanya Amanda.
"Justru itu Kak, aku ingin numpang cuci baju ini di kamar Kakak, kamar Kakak 'kan ada kamar mandinya," jawab Cia.
"Ya Allah Cia, nanti kamar mandi Kakak bau dong," protes Amanda.
"Aku bersihin deh Kak, seperti biasa lagi. Pokoknya wangi tenang aja sih Kak," ucap dia.
"Ya udah deh terserah kamu aja," ucap Amanda pasrah.
Mobil yang membawa Amanda dan Cia berjalan secara perlahan, Cia melihat ke arah jendela, ada temannya yang dijemput oleh ibunya menggunakan motor. Dia ingat dahulu waktu dia kecil. Mamanya lah yang berjuang untuk membiayai hidupnya dan ketika pulang sekolah ia akan dijemput oleh kakeknya. Cia tak akan lupa dengan situasi itu. Terlebih lagi dengan kelakuan ayah kandungnya yang tidak memperdulikan dia dan adik-adiknya. Ketika itu Cia kecil, di dalam hatinya bersumpah bahwa dia akan belajar dengan rajin, ia mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter. Dia ingin membuat bahagia mamahnya dan tidak mau bertemu lagi dengan ayahnya. Cia memendam dendam kepada ayahnya karena dia berpikir ayah kandungnya telah menelantarkan dirinya juga adik-adiknya.
Untuk saat ini Cia sangat bersyukur karena mamahnya sudah menikah dengan ayah Andi. Sejak menikah, mamah terlihat bahagia dan ayah Andinya pun sangat menyayangi mamahnya. Cia juga bersyukur mempunyai saudara seperti Amanda, Kakak yang baik yang bisa membantu dia ketika dia kesulitan.
Setibanya di rumah suasana masih sepi. Kaila belum pulang dari mengajar, dia akan tiba di rumah sekitar pukul lima sore sedangkan Andi akan pulang sebelum maghrib. Cia langsung pergi ke kamarnya, begitupun juga Amanda. Setelah berganti pakaian, Cia langsung membersihkan pakaian yang kotor di kamar mandi Amanda, setelah selesai semuanya, Amanda mengajak Cia untuk masak bersama.
__ADS_1
"Cia kita masak yuk, mamah 'kan pasti capek tuh pulang sekolah. Bagaimana kalau kita masak buat makan malam?" ucap Amanda.
"Memang Kak Amanda bisa masak?" tanya Cia.
"Nggak bisa masak," jawab Amanda.
"Terus, nggak bisa masak lah kenapa Kakak mau masak?" tanya Cia.
"Belajarlah Cia kita ini perempuan harus bisa masak jadi kita harus belajar dari sekarang ibarat kata nih kita praktek percobaan, masakan kita mamah dan ayah yang makan," ucap Amanda.
"Nanti kalau nggak enak gimana Kak?" tanya Cia khawatir.
"Ih kamu Cia, banyak mikir deh udah yuk lagi pula ada YouTube, kita bisa nyari dong di YouTube. Kita lihat bahan di kulkas lalu kita pikirkan mau bikin apa kita. Berselancar Di YouTube udah bismillah aja," ucap Amanda.
Cia dan Amanda kini sudah ada di dapur tidak lupa juga handphone dan ia mencari YouTube untuk content memasak, mereka sedang memotong-motong sayuran. Mereka ingin membuat capcay, wortel dipotong-potong dan sayuran semuanya pun dipotong-potong semua. Amanda dan Cia memperhatikan bumbu-bumbu yang harus dihaluskan mereka masak satu persatu, setelah selesai masakan satu maka masakan kedua mereka buat, ada Mbak juga di situ. Mbak ikut juga membantu mereka. Setelah selesai mereka membuat 3 menu yaitu capcay, ikan goreng, dan ayam goreng tidak terlalu susah karena ayam dan ikan sudah diberi bumbu terlebih dahulu oleh Mbak. Jadi mereka tinggal goreng. Setelah selesai semua makanan yang mereka masak ditaruh mesin penghangat makanan.
"Alhamdulillah jadi masakan kita Cia," ucap Amanda.
Mereka tos bersama sungguh kompak mereka, walaupun hanya saudara tiri bukan saudara kandung tapi serasa saudara kandung.
Kaila pulang ia melihat Amanda dan Cia dari arah dapur dan ia memanggil anak-anaknya itu.
"Assalamualaikum Amanda Cia" ucap Kaila.
"Waalaikumsalam, eh Mamah sudah pulang," ucap Cia.
" Hari ini Mamah nggak usah masak, Amanda dan Cia sudah masak," ucap Amanda percaya diri.
"Ah yang bener anak Mamah nih yang masak? Cia dengan Amanda?" tanya Kaila tak yakin.
"Ih Mamah nggak percayaan banget sih bahwa Cia dan Amanda yang masak," protes Amanda.
" Ih cemberut gitu wajahnya, jadi jelek loh. Senyum dong Mamah kan cuma nanya sayang," Kaila mengusap wajah Amanda.
"Ya udah Mamah ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih dulu mau mandi juga," ucap Kaila.
"Iya Mah," ucap Cia.
Kaila tersenyum ketika Amanda dan Cia memasak untuk keluarga ini, dia bangga kepada anak-anaknya karena selain akur juga memikirkan sesuatu yang membuat Kaila senang. Kaila memasuki kamar ia bersih-bersih, mandi setelah itu baru ia menemui anak yang paling kecil yaitu Faqih.
Faqih merupakan anak Kaila dengan Andi, Kaila langsung menggendong Faqih karena seharian Faqih tidak bertemu dengan Kaila. Ia hanya dengan babysitter. Kaila menciumi Faqih yang sudah mandi dan Ia bermain sebentar dengan Faqih, tak lama Andi pun pulang. Kaymula langsung menyambut Andi sambil menggendong Faqih. Kaila meraih tangan Andi lalu mencium punggung tangan suaminya tersebut.
"Sini Ayah tasnya biar aku saja," ucap Kaila.
"Nggak usah biar aku aja, kamu 'kan lagi gendong Faqih. Yuk kita ke kamar," ajak Andi.
Andi membersihkan diri, dia belum melihat anak-anaknya yang lain karena mereka di kamar mereka masing-masing, karena mereka sudah beranjak remaja. Terkadang mereka mempunyai privasi sendiri, terlebih lagi Amanda dan Cia.
__ADS_1
Makan malam pun tiba, Amanda dan Cia melayani keluarganya, ketika Andi memakan capcay buatan Amanda dan Cia, mereka melihat wajah Andi. Reaksinya seperti apa kalau nggak enak pasti Andi wajahnya kan berubah, tapi setelah dimakan Andi malah tersenyum.
"Enak nggak Ayah? tanya Kaila.
"Enak seperti biasa," ucap Andi.
"Nggak biasa lah Ayah, ini spesial Ayah. Tahu siapa yang buat?" tanya Kaila.
"Kamu kan yang buat?" ucapan Andi.
"Bukan aku, hari ini aku nggak masak. Ini semua ya masak itu putri Ayah, Amanda dan Cia," ucap Kaila.
"Wah kalian masak pinter juga, putri-putri Ayah. Enak masakannya. Makasih ya sudah masak hari ini kalian tuh the best," ucap Andi.
Dipuji oleh ayahnya, betapa senangnya Cia dan Amanda.
Bersambung
βββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet β€ππ
__ADS_1