Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Curahan hati Cia kepada Kaila


__ADS_3

Cia langsung dibawa ke rumah sakit, dia langsung mendapatkan pengobatan. Tangannya diinfus karena suhu tubuhnya sangat panas sehingga dia mengigau menyebut nama Juna.


"Mah, Juna suruh ke sini," ucap Andi.


"Aku coba telepon dia," ucap Kaila.


Kaila menelepon Juna, Juna terkejut karena mendengar Cia sakit dan sekarang di rawat. Kaila memberikan alamat rumah sakit kepada Juna.


"Cia, maafkan Mamah sudah menampar kamu. Mamah tidak bermaksud seperti itu. Cepat sehat lagi sayang." Kaila membelai rambut Cia.


"Mah, Cia pakaikan jilbab. Takutnya Juna ke sini," ucap Andi.


Kaila langsung memakaikan jilbab instan di kepala Cia. Benar apa yang dikatakan Andi bahwa Juna langsung menuju ke rumah sakit setelah Kaila telepon, 45 menit kemudian Juna sudah ada di berada di kawasan rumah sakit untuk menjenguk Cia.


Suara pintu diketuk, Kaila dan Andi mengizinkan seseorang yang mengetuk untuk masuk, karena mereka tahu yang datang adalah Juna. Juna langsung menghampiri ranjang Cia. Wajah Cia terlihat sangat pucat.


"Cia sakit apa? Tante, Om kemarin dia baik-baik saja. Kenapa sekarang dia sakit?" tanya Juna.


"Ia tidak menerima bahwa lamaran kamu ditolak. Ia takut jika dua tahun lagi kamu tidak ingin melamarnya. Cia takut kehilangan kamu, lalu dia pergi dari rumah kemarin ternyata Cia berada di rumah kakek neneknya. Kakek. neneknya menelepon bahwa Cia sakit demam," ucap Andi.


"Apa alasannya kamu melamar Cia?" tanya Andi.


"Yang pertamabaku mencintai Cia Om, kedua aku ingin ada ikatan halal jadi kami tidak terjerumus kepada hal yang negatif yang bertentangan dengan ajaran agama Islam," jawab Juna.


"Memang aku belum mempunyai kerjaan. Mungkin aku akan meminta bantuan kepada kedua orang tuaku selama aku masih belum bekerja. Aku akan menjadi dokter yang hebat melindungi Cia. Aku pun sama dengan Cia tak sanggup kehilangan Cia. Makanya aku minta kedua orang tuaku untuk melamar Cia. Jujur Om, orang tuaku sangat sibuk. Mereka jauh-jauh dari Amerika ke Indonesia hanya untuk melamar Cia, tapi aku sedikit kecewa dengan penolakan Om. Padahal aku sudah meyakini kedua orang tuaku bahwa Om akan menerima lamaran aku." Juna mengeluarkan semua isi hatinya.


"Om hanya tidak mau Cia hidup susah, Om sayang Cia seperti putri kandung Om. Kemarin Cia berkata bahwa Om pilih kasih. Bukan itu maksud Om," ucap Andi.


"Juna...jangan tinggalkan aku," ucap Cia. Ia terus mengingau walaupun Juna sudah ada di sampingnya.


"Cia, aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Juna.

__ADS_1


"Om akan menerima lamaran kamu Juna, Om nggak bisa lihat Cia sakit seperti ini," ucap Andi.


"Kedua orang tua aku sudah ke Amerika Om. Sangat sulit untuk meminta kembali agar datang ke Indonesia." Juna tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua orang tuanya memang tinggal di Amerika. Mungkin mereka baru sampai.


Dokter masuk dan memeriksa keadaan Cia.


"Dok, anak saya sakit apa?" tanya Kaila.


"Tifus Bu," jawab dokter.


"Anak saya masih mengigau Dok," ucap Kaila.


"Obatnya baru masuk Bu, jangan khawatir. Demamnya Insha Allah akan turun." Dokter menjelaskan agar Cia bisa beristirahat jadi yang menunggu di dalam ruang rawat inap hanya 1 orang saja.


Juna di suruh pulang, begitu juga Andi. Kaila menjaga Cia di rumah sakit.


"Tante, besok saya ke sini lagi," ucap Juna.


"Jangan mengucapkan terima kasih Tante, saya sayang sama Cia jadi tanpa Tante minta aku akan ke sini untuk melihat keadaan Cia." Juna sangat menunjukkan bahwa ia sangat mencintai Cia.


Andi dan Juna berjalan bersama untuk menuju parkiran.


"Juna, Om yang akan menemuai kedua orang tua kamu di Amerika. Om nggak mau Cia beranggapan bahwa Om pilih kasih sama dia," ucap Andi.


"Om yakin?" tanya Juna. Juna sangat terkejut ketika Andi berkata seperti itu.


"Sangat yakin, tunggu Cia lebih baikkan dulu, baru Om akan merencanakan ke Amerika," ucap Andi. Juna hanya menganggukan kepalanya. Mereka berpisah masuk ke mobil mereka masing-masing.


***


Pukul 9 malam, Cia tersadar. Ia melihat sekeliling dan di ujung ranjang nya ada Kaila yang tertidur dengan kepala diletakkan di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Mamah..." Cia memanggil Kaila dengan suara yang sangat lirih. Kaila terbangun ia melihat Cia yang sedang menatapnya.


"Cia, kamu sudah sadar sayang?" tanya Kaila.


"Aku haus Mah," pinta Cia. Kaila langsung mengambilkan minum untuk Cia dan membantu Cia untuk meminum air tersebut.


"Cia, Mamah minta maaf sama kamu telah menampar kamu. Mamah sangat menyesal." Kaila memegang lengan Cia.


"Cia juga minta maaf Mah sudah berbicara kasar sama Mama dan Ayah," ucap Cia.


"Tadi Juna kemari sayang, besok Insya Allah dia kemari lagi untuk menjenguk kamu. Dia sangat khawatir sama kamu, kamu jangan takut ya, dia tidak akan meninggalkan kamu. Dia sangat mencintai kamu," ucap Kaila.


Cia menghala nafasnya. Ia tahu bahwa kedua orang tua Juna itu sudah bersusah payah melonggarkan jadwalnya untuk melamar Cia.


"Kenapa kamu kok wajahnya seperti sedih seperti itu?" tanya Kaila.


"Ayah kemarin sudah menolak lamaran Juna, aku nggak tahu 2 tahun lagi atau lebih keluarganya akan melamar aku karena kedua orang tuanya sangat sibuk Mah. Kemarin kedua orang tuanya membatalkan janji kepada rekan bisnisnya, mereka Kehilangan banyak uang karena pulang ke Indonesia untuk melamar aku, itu yang membuat aku syok ketika Ayah kemarin menolak lamaran Juna." Cia menundukkan kepalanya.


Kaila langsung memeluk tubuh Cia.


"Jodoh itu tidak akan tertukar, kamu percayalah jika memang tulisan takdir Juna adalah jodohmu maka ia akan menjadi suamimu, apapun rintangan itu," ucap Kaila.


"Mamah tahu aku tidak pernah pacaran Mah, dan aku juga menahan diri agar tidak berpacaran dengan Kak Juna, hanya kita sudah membuat komitmen untuk menikah. Aku berpikir bahwa untuk menunggu menjadi dokter itu sangat panjang jalannya. Waktu kita tidak tahu, maka aku putuskan untuk membicarakan dengan Juna agar ia segera melamarku kemarin. Juna pun setuju, tapi ya sudahlah Ayah sudah menolak dan aku harus menjaga jarak dengan Kak Juna karena sejujurnya aku malu bertemu dengan dia." Cia menitipkan air mata, ada suatu hal yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa kamu mesti malu dengan Juna? Kalian tidak berbuat sesuatu yang melanggar. Percayalah bahwa jika kalian jodoh kalian akan segera bersatu baik dalam waktu cepat ataupun lama." Kaila menggenggam tangan Cia.


"Itu dia mah waktu itu yang membuat aku sangat bimbang karena waktu itu tajam Mah. Bagaikan pisau dengan dua sisi yang berbeda ada sisi tumpul dan wisi tajam sewaktu-waktu akan menusuk aku. Aku memang takut kehilangan Juna karena aku sangat mencintai dia," ucap jujur Cia.


Baru kali ini Cia menceritakan semua isi hatinya dengan Kaila. Kaila baru sadar bahwa Cia selama ini memendam semua rasa untuk berpacaran. Kaila juga merasa menyesal telah ikut setuju dengan penolakan lamaran Juna.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2