
Adi menceritakan kepada Kaila dan semua keluarganya tentang apa yang dibicarakan oleh Amanda. Cia sangat terkejut dengan keputusan Amanda karena Amanda tidak pernah cerita tentang Alif kepada Cia. Setahu Cia, Amanda selalu mencari informasi tentang Emir, tapi memang satu tahun ini tidak ada kabar dari Emir.
"Jika laki-laki itu memang cinta dengan Amanda. Insya Allah Ayah, Amanda akan mendapatkan pria yang baik karena Amanda langsung mengajak untuk menemui Ayah," ucap Kaila.
"Aku pikir juga seperti itu Mah. Perkataan Amanda itu, memang benar. Daripada pacaran lebih baik laki-laki itu menemui aku untuk meminta Amanda. Tapi ini belum pasti Mah, apakah laki-laki itu berani atau tidak untuk menemuiku. Inilah bukti atas rasa cinta laki-laki itu kepada Amanda," ucap Andi.
"Cia kamu kenapa kok diem aja? Kamu nggak senang Kakakmu akan dilamar oleh seorang laki-laki?" Kaila memperhatikan wajah Cia yang sangat pendiam ketika mendengarkan Andi berbicara.
"Ah tidak Mah, tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja, ternyata kak Amanda duluan daripada aku." Cia berusaha untuk menyembunyikan apa yang ada di hatinya.
Kebetulan Cia sedang berada di rumah kedua orang tuanya karena setiap weekend akhir bulan ia akan pulang berkumpul bersama keluarganya. Setelah perbincangan selesai dengan kedua orang tuanya, Cia masuk ke kamar dan ia langsung menghubungi Amanda. Ia ingin menanyakan kenapa Amanda memutuskan ini sangat cepat.
Cia langsung melakukan video call dengan Amanda, kebetulan Amanda baru selesai mandi dan langsung menerima video call dari Cia.
"Assalamu'alaikum Cia, ada apa nih? Tumben kamu video call duluan. Biasanya juga Kakak yang duluan," ucap Amanda di depan layar handphonenya.
"Wa'alaikumsalam Kak, aku baru dengar dari Ayah. Benar Kakak memutuskan untuk laki-laki lain menemui Ayah untuk meminta Kakak?" Cia langsung menanyakan Amanda perihal tentang lamaran yang telah diperbincangkan sebelumnya oleh Andi.
"Cia, aku sudah menunggu 1 tahun. Emir tidak ada kepastian, aku sudah mencari informasi ke temannya Emir, ke sana, ke sini, menelepon, selalu buka Facebooknya kali dia menulis status di sana. Tapi tidak ada Cia, jika ia mencintaiku, seenggaknya dia harus memperjuangkan aku di depan kedua orang tuanya, dan bilang secara jujur bahwa dia mencintai aku. Tapi buktinya selama 1 tahun ini, dia tidak muncul. Ada laki-laki selama 2 tahun ini telah mendekatiku, berkali-kali aku menolak dia, tapi dia tidak menyerah. Dia pun sangat perhatian, aku luluh dan merasa nyaman jika berdekatan dengan dia. Tinggal aku belajar untuk mencintai dia," jawab Amanda.
"Kakak jangan jadi pelarian loh laki-laki itu." Cia sangat takut jika sang kakak hanya untuk pelarian akan rasa cintanya dengan Emir.
"Tidak Cia, tidak sama sekali. Aku sudah memikirkan ini dan aku bertanya kepada hatiku sendiri. Perempuan jika sudah merasa nyaman dengan laki-laki, maka artinya aku sudah mulai menyukainya," jawab Amanda dengan senyuman di depan layar handphonenya.
"Aku setuju dengan keputusan Kakak itu. Apapun itu, yang penting Kakak bahagia. Aku tak mau Kakak menangis, aku tahu selama ini Kakak diam-diam menangis kan. Maaf Kak, aku tidak ada di sampingmu." Cia sangat menyesal karena jarak yang jauh antara dia dan Amanda.
"Iya Cia tidak apa-apa, kamu adik aku yang paling baik. Aku doakan hubungan kamu lancar ya dengan Juna. Aku tahu kamu sangat mencintai Juna." Amanda terus tersenyum. Ia melihat wajah Cia yang sedikit bersedih.
"Hei kenapa kamu bersedih? Aku tersenyum ini?" tanya Amanda.
"Nggak tahu Kak, aku merasa sedih aja," jawab Cia
"Ya sudah, aku tutup ya video call-nya karena aku baru selesai mandi. Ini aku ingin salat ashar," ucap Amanda.
"Iya Kak Amanda, miss you. Bye, assalamu'alaikum." Cia melambaikan tangannya di depan layar handphonenya.
"Miss you too Cia, wa'alaikumsalam." Amanda pun melambaikan tangannya, lalu mengakhiri video call mereka.
Amanda menghela nafasnya dan mengeluarkannya sangat panjang. Ia tahu keputusan ini pasti dipertanyakan oleh Cia karena perjalanan vinta Amanda diketahui oleh Cia. Mereka bersama-sama untuk saling membantu ketika menggapai cinta mereka, Cia dengan Juna. Amanda dengan Emir. Ingatan Amanda juga masih terasa setahun yang lalu ketika keluarganya berwisata di Jogja, mereka berempat kencan singkat tapi nasib percintaan Amanda kandas tidak jelas akan keberadaan Emir.
Sudah 5 hari Amanda membicarakan itu dengan Alif. Sejak itu Alif tidak pernah menghubungi Amanda. Amanda pun berpikir bahwa Alif tidak berani untuk menemui ayahnya, tapi pemikiran Amanda itu salah. Setelah hari keenam Alif menghubungi Amanda, bahwa kedua orang tuanya akan datang menemui ayah Amanda di Jakarta. Waktunya sudah ditentukan yaitu ketika liburan semester Amanda yaitu 2 minggu lagi.
__ADS_1
Alif membicarakan kepada kedua orang tuanya tentang Amanda, dan mereka juga sudah tahu wajah Amanda karena Alif memperlihatkan foto Amanda. Mereka pun sangat setuju karena mereka tidak masalah jika Alif menikah muda. Keluarga Alif itu ternyata juga pengusaha walaupun usahanya itu lebih besar Andi. Andi sudah mempunyai perusahaan yang sangat besar dan berkembang.
Keesokan harinya Amanda dan Alif berjanji untuk bertemua. Mereka merencanakan untuk memilih cincin untuk pertunangan mereka sebagai tanda bahwa Amanda sudah diikat oleh Alif.
***
Alif sudah menunggu di luar kost Amanda. Amanda langsung keluar dari tempat kostnya. Amanda tersenyum ketika bertemu dengan Alif. Alif langsung membukakan pintu mobil di jok depannya dan Amanda langsung masuk.
"Kamu mau makan dulu nggak?" Alif bertanya kepada Amanda.
"Aku belum sempat sarapan sih Kak tadi," jawab Amanda.
"Yah sudah kita sarapan dulu ya. Kebetulan juga aku belum sarapan." Alif melajukan mobilnya ke sebuah rumah makan yang biasanya dikunjungi oleh dirinya. Sedangkan Amanda baru mengunjungi rumah makan itu.
"Kamu mau makan apa? Kamu pilih aja deh." Alif memberikan buku menu kepada Amanda. Amanda memilih dan akhirnya ia memilih ikan bakar. Alif memanggil waiter ia memesan apa yang Amanda mau.
" Mbak untuk minumnya teh manis hangat yah dan kopi." Amanda tersenyum ketika Alif memesan teh manis hangat. Ia masih ingat dengan kesukaan Amanda.
Alif memperhatikan Amanda ketika Amanda sedang makan. Amanda tampak tak enak ketika Alif memandang dia.
"Kak, jangan lihat aku seperti itu dong, aku malu. Nanti aku keselek loh," protes Amanda.
"Kamu cantik," kata Alif. Membuat pipi Amanda memerah.
Selesai mereka sarapan, Alif langsung mengarahkan mobilnya ke toko emas. Di sana Amanda disuruh memilih sendiri bentuk yang ia sukai.
"Kamu pilih aja?" ucap Alif.
"Bolehkah kamu yang memilih? Pilihkan yang menurut kamu cocok untuk aku," ucap Amanda.
"Pilih berdua aja yuk. Biar kamu juga nggak terlalu kecewa nanti, takutnya aku pilih sendiri kamu kecewa." Amanda pun setuju, mereka memilih cincin di antara beberapa cincin. Amanda menunjuk salah satu cincin.
"Kak ini gimana menurut kamu?" Alif melihat, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Cocok buat kamu, pasti cantik di jari kamu." Alif langsung mengambil cincin itu dan dibayarnya.
Mereka pun langsung pergi dari toko emas itu dan merencanakan untuk kencan pertama mereka sebelum mereka berpisah dan bertemu 2 minggu lagi di acara lamaran. Alif mengajak Amanda ke suatu tempat di mana tempat itu adalah taman bunga. Amanda sangat suka dan ia sangat senang sekali. Alif membisikkan sesuatu di telinga Amanda.
"Panas ya?" Amanda hanya menganggukkan kepalanya.
"Karena sudah pukul 12.00.Kamu tahu nggak apa bedanya pukul 12.00 sama kamu?" tanya Alif.
__ADS_1
"Kalau pukul 12 siang panas bagi Kakak, tapi kalau aku adem jika aku di samping kakak." Amanda tertawa kecil begitu juga Alif.
"Tapi jawaban yang aku maksud bukan itu," ucap Alif.
"Lalu apa Kak?" tanya Amanda.
"Kalau pukul 12 kesiangan, tapi kalau kamu kesayangan." Wajah Amanda langsung memerah ketika Alif mengatakan itu.
Bersambung
❤❤❤
Baca juga yuk cerita novel saya yang lain nggak kalah seru loh....
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar (on going)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan (On going)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞