Retak Akad Cinta

Retak Akad Cinta
Cia


__ADS_3

Dokter masuk dan membawa hasil dari pemeriksaan.


"Dokter bagaimana dengan anak saya? Kenapa anak saya batuk muntah dan kulitnya bercak merah seperti itu?" tanya Kaila sangat panik.


"Bu, kami sudah memeriksa anak Ibu dengan seksama bahkan sudah 3 kali kami ulang pemeriksaan. Tapi kami tidak menemukan penyakit dalam tubuh anak Ibu." Dokter pun bingung dengan hasil yang mereka dapatkan.


"Tidak ada penyakit bagaimana sih Dok, anak saya batuk darah seperti itu. Bisa habis darah anak saya," ucap Kaila penuh dengan emosi. Andi menenangkan Kaila agar jangan emosi.


"Ayah lepaskan aku, pindah rumah sakit Mah. Aku nggak mau melihat Cia tersiksa seperti itu." Kaila sudah menangis, dia ikut lemas karena melihat Cia sangat tersiksa.


Dokter sudah angkat tangan, mereka tak tahu sumber penyakit Cia. Juna terus menemani Cia, ia pun tak tega melihat Cia yang terus-terusan batuk mengeluarkan darah.


"Mah...aku lelah," ucap Cia dengan lirih.


"Sayang, sabar yah." Kaila memeluk Cia dengan erat, air matanya tak henti keluar dari matanya.


"Mah, kita bawa ke guru ayah di Sukabumi. Ini bukan penyakit biasa tapi penyakit kiriman," ucap Andi.


"Ayah, aku ikut. Aku tidak tenang jika tidak melihat Cia," pinta Juna.


"Kita langsung saja bawa ke Sukabumi sekarang. Juna tolong ambilkan kursi roda," ucap Andi.


"Mah, aku bayar administrasi dulu," sambung Andi.


Kaila menemani Cia, tubuh Cia sudah sangat lemah. Mengangkat tangan saja dia tak mampu. Juna mendorong kursi roda yang akan ia duduki. Andi menggendong Cia untuk di dudukan di kursi roda. Juna mendorong kursi roda Cia. Sesampainya di parkir mobil, Andi bergegas mengambil mobilnya dan berhenti tepat di depan Cia. Cia di gendong dan di masukkan ke dalam jok mobil belakang di temani oleh Kaila. Juna duduk di jok depan dekat Andi.


"Uhuk...uhuk... Mah Cia nggak kuat, maafkan Cia selama ini Cia membangkang dengan Mamah dan Ayah," ucap Cia lirih.


"Cia, apa yang kamu katakan, kamu harus kuat sayang." Kaila menangis memeluk Cia, bibirnya tak henti-hentinya beristigfar meminta pertolongan kepada Allah. Juna yang mendengar Cia hatinya sangat sedih, tubuhnya pun menjadi terasa lemas. Perempuan yang ia cintai saat ini sangat lemah.


Kaila menggenggam tangan Cia, lengannya menjadi bantalan untuk kepala Cia. Cia menatap mata Kaila lalu tersenyum. Ia mencoba untuk mengelus pipi Mamahnya.


"Mah...Mamah...uhuk...uhuk...." ucap Cia dengan suara lemah.


"Cia...bangun Cia...sayang...." Kaila panik, karena Cia pingsan. Juna menoleh ke jok belakang, ia menangis melihat keadaan Cia.


"Ayah, Cia pingsan. Mah bacakan surat Annas dan Alfalaq tiup ubun-ubun kepalanya. Juna ikut bantu doakan Cia yah. Tenang Mah, jangan panik," ucap Andi.


Perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi memakan waktu 5 jam lamanya. Karena masuk Sukabumi bagian dalam. Selama perjalanan Cia tidak sadarkan diri. Sesampainya di pesantren Andi langsung menggendong Cia. Kaila tak henti-hentinya menangis.


"Assalamu'alaikum Kiai, tolong putri saya. Ia terkena sihir," ucap Andi membawa ke rumah gurunya.


"Wa'alaikumsalam, Andi bawa putrimu masuk ke kamar santriwati," ucap kiai.

__ADS_1


Andi langsung meletakkan tubuh Cia di atas ranjang, baju Cia sudah penuh darah yang ia keluarkan dari mulutnya. Kiai langsung menanggani Cia, tanpa menyentuh Cia. Kiai hanya menatap dan membaca doa. Mata Cia sudah terbuka dan ia merintih kepanasan di dalam tubuhnya.


"Ayah, Cia," ucap lirih Kaila. Andi memeluk tubuh Kaila.


"Tenang Mah, Kiai sedang mendoakan Cia," ucap Andi.


"Panas...panas..." teriak Cia.


Kiai terus membacakan doa selama 1 jam, Cia penuh dengan keringat. Ia sudah tak merasakan hawa panas lagi. Kaila di diperbolehkan untuk masuk, ia langsung menghampiri Cia dan mengeringkan keringat Cia. Nafas Cia sudah teratur.


"Andi jika putrimu sudah bangun, minumkan air ini." Kiai memberikan botol yang berisi air doa. Juna menatap wajah Cia yang masih menutup matanya. Tak berapa lama mata Cia mulai terbuka.


"Mah...haus," ucap Cia. Andi memberikan air yang diberikan oleh kiai. Cia meminum air tersebut. Cia sudah tidak batuk darah lagi, bercak merah pada kulit nya berangsur hilang walaupun belum hilang seluruhnya karena perlu proses. Semua yang melihat Cia saat ini mengucapkan syukur.


"Mah, aku mau bertemu Kiai dulu yah," izin Andi. Juna yang masih di depan pintu di izinkan untuk ke dalam menemui Cia.


Andi menemui gurunya.


"Kiai, siapa yang mengirim ini?" tanya Andi.


"Nanti kamu akan tahu sendiri, tapi teluh itu akan berbalik mencari tumbal dari pihak pengirim. Yang mengirim ini sudah membuat perjanjian dengan jin," jawab kiai.


"Anak saya bisa terkena sihir lagi kiai?" tanya Andi.


"Siapapun bisa, makanya kita membentengi diri kita agar terhindar dari sihir. Dengan apa? Dengan meminta perlindungan kepada Allah, kamu boleh langsung pulang. Amalkan zikir yang sudah saya ijazahkan kepada kamu," ucap kiai.


"Bawa aja ke sini," ucap kiai.


Andi kembali ke kamar, ia menyuruh Juna menemui kiai. Juna diberikan ijazah dari kiai.


"Cia, kamu bisa berjalan? Atau ayah gendong?" tanya Andi.


"Kita tidak bermalam di sini Ayah?" tanya Kaila.


"Kiai menyuruh kita pulang Mah," jawab Andi.


"Aku bisa jalan sendiri Ayah," jawab Cia.


Mereka berpamitan kepada kiai. Keluarga Cia langsung masuk ke dalam mobil kembali untuk pulang ke Jakarta.


"Kita mampir di restoran padang yah, Cia pasti lapar," ucap Andi.


"Ayah, Mah, Kak, terima kasih yah," ucap Cia. Cia tidak mau lepas dari Kaila. Ia sangat bersyukur kepada orang-orang yang sayang dengan dirinya.

__ADS_1


Mobil Andi diparkirkan di salah satu restoran padang. Mereka memesan apa yang mereka mau.


"Mau aku suapin?" tanya Juna.


"Nggak usah Kak, biar aku makan sendiri saja," jawab Cia.


"Cia, Juna, apakah kalian mau mempercepat pernikahan kalian? Agar Juna bisa tinggal sama kamu Cia, jadi Juna bisa menjaga kamu." Andi ingin yang terbaik untuk Cia. Ia bertanya kepada mereka.


"Aku mau disamakan aja Ayah dengan Kak Amanda. Agar nanti jika kita anniversery bisa barengan jadi lebih seru," ucap Cia.


Juna yang melihat Cia sudah biasa kembali, ia bisa bernafas dengan lega. Juna sangat cemas ketika melihat Cia yang batuk darah, ia tidak bisa membayangkan jika Cia meninggalkannya. Sesekali Juna melirik Cia dan tersenyum dalam diam. Bagi Juna, Cia adalah perempuan yang spesial. Di dalam hatinya ia berjanji, tidak akan menyia-nyiakan Cia seperti Emir menyiakan Amanda dan kini Emir masuk ke penjara. Ia merasa tak percaya Emir bisa melakukan hal yang sekeji itu.


Bersambung


❤❤❤❤


Baca juga yuk cerita seru di novel yang lainnya karya author.




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar(Tamat)




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan


__ADS_1



Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2