
Setelah puas untuk bermain di alun-alun Jogja, keluarga Kaila kembali ke Villa yang mereka sewa. Cia 1 kamar dengan Amanda. Mereka jika bersamaan memang tidak bisa di pisahkan. Andi akan membuat liburan ke Jogja kali ini sangat menyenangkan untuk keluarganya. Keesokan harinya mereka akan pergi ke candi prambanan.
"Mah, Ayah, aku langsung ke kamar sama Cia yah." Amanda meminta izin kepada kedua orang tuanya.
"Besok bangun pagi yah, jangan sampai telat," ucap Andi.
"Iya Ayah sayang." Wajah Amanda terlihat sangat bahagia.
"Sepertinya tadi pagi kamu nggak semangat, sekarang terlihat semangat. Wajah kamu berseri-seri lagi." Andi mengamati perubahan sikap Amanda.
"Perutnya kenyang Ayah, tadi Kak Manda makan banyak. Kelaparan kali waktu kuliah, apa aja di beli sama Kak Manda." Amanda melotot matanya ketika Cia mengatakan itu.
"Bukan aku Ayah tapi Cia tuh makannya banyak sekarang, terlihat gendutan Cia. Iya kan Mah, Ayah," cibir Amanda.
" Apa Kak Manda aku gendut." Cia tidak terima. Amanda langsung berlari dan tertawa, ia masuk ke dalam kamar. Cia mengejar sambil mulutnya tidak berhenti dengan ocehannya.
Kaila menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri-putrinya.
"Ayah, punya 2 putri yang sudah kuliah, tapi tingkahnya seperti anak-anak," ucap Kaila.
"Sama seperti Mamahnya, yang suka manja seperti anak kecil sama Ayah." Andi menyengir menatap Kaila. Bibir Kaila sudah mengerucut karena ucapan Andi. Tapi di mata Andi hal itu membuat ia gemas, dan langsung mengecup pipi Kaila di depan ke empat anaknya.
Caca, Cinta, Adam dan Rafiq tersenyum melihat kemesrahan kedua orang tuanya. Wajah Kaila memerah karena ia merasa malu di tonton oleh anak-anaknya.
"Apa sih Ayah, main nyosor aja." Kaila menepuk lengan Andi.
Sedangkan di dalam kamar, Amanda sedang memandangi cincin yang diberikan oleh Emir. Ia memakai di jari manisnya, ia foto lalu dikirim ke whatsapp Emir.
...Terima kasih yah, pas di jari manisku....
"Sudah lebih lega kan Kak hari ini?" tanya Cia. Amanda langsung memeluk Cia dengan erat. "Terima kasih adik Kakak yang cantik, aku senang banget. Kok Emir bisa di Jogja Cia?" Amanda penasaran, Emir tiba-tiba sudah ada di Jogja.
"Kerjaannya Kak Juna. Kak Juna langsung membelikan tiket pesawat untuk ke Jogja. Dia katanya juga kangen sama aku." Cia nyengir menjawab pertanyaan Amanda.
"Sepertinya hubungan kalian berkembang cepat yah, mentang-mentang 1 fakultas kedokteran," ucap Amanda.
__ADS_1
"Aku dan Kak Juna sudah buat komitmen Kak. Ketika ia sudah resmi jadi dokter, Kak Juna akan langsung melamar aku," ucap Cia malu-malu.
"Jadi kalian pacaran sekarang?" tanya Amanda.
"Bagaimana yah Kak sebutnya. Di bilang nggak pacaran tapi seperti pacaran. Di bilang pacaran tapi kami masih menjaga jarak ketika bertemu. Kalau ada yang deketin Kak Juna, aku juga marah lalu Kak Juna akan bilang sama yang deketin dia. Bahwa aku calon istri Kak Juna," ucap Cia.
"Ih...so sweet banget sih kalian. Nggak seperti hubungan aku dan Emir, yang nggak jelas Cia." Amanda memainkan cincin yang diberikan oleh Emir. Iya memutar-mutarkan cincin yang sedang ia pakai di jari manisnya.
"Kak Amanda ngaco kalau ngomong, Ini apa? Ini kan jelas Kak Manda. Kak Emir sangat sayang sama Kak Manda." Cia menunjuk cincin yang dipakai oleh Amanda.
Amanda tersenyum ketika melihat cincinya kembali. Mereka berbaring bersama di atas 1 ranjang yang sama dengan perasaan yang berbunga-bunga, karena sudah bertemu dengan pujaan hati mereka masing-masing. Walaupun pertemuannya hanya sangat singkat karena Amanda dan Cia takut ketahuan kepada kedua orang tuanya, tapi cukup untuk mengobati hati yang rindu. Mereka diam-diam bertemu dengan pujaan hati mereka.
Pagi menyongsong Cia dan Amanda sudah siap untuk berangkat ke Prambanan dengan keluarganya. Cia berpenampilan sangat sederhana tapi tetap anggun dengan jilbab berwarna pink dan dress senada dengan warna jilbabnya sedangkan Amanda rambutnya iya kepang belakang karena rambutnya cukup panjang memakai celana jeans dan blus berwarna biru, Amanda terlihat sangat cantik. Mereka keluar dari kamar dengan bergandengan tangan dan menghampiri kedua orang tua beserta keempat adik-adiknya, yang sudah siap bertamasya bersama keluarga ke Candi Prambanan.
"Kak Hari ini aku punya kejutan untuk Kak Manda," bisik Cia di telinga Amanda.
"Kejutan apa Cia?" tanya Amanda dengan rasa penasaran.
"Jika aku bilang sekarang itu namanya bukan kejutan Kak, sabar ya Kak pokoknya surprise untuk Kakak." Cia membuat Amanda semakin penasaran, apa yang dilakukan oleh Cia di Candi Prambanan?
Andi menyewa mobil untuk seminggu di Jogjakarta, dia yang menyetir sendiri. Hanya satu mobil yang Andi sewa untuk semua keluarganya, mereka di dalam mobil sambil bernyanyi karena memang sangat jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti ini. Pernikahan Kala dan Andi sudah 10 tahun lamanya, Andi hanya sesekali mengajak mereka ke mall, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah membuat acara barbeque, bakar-bakar jagung atau kegiatan yang lainnya yang hanya dilakukan di dalam rumah mereka. Kini semua keluarga Andi sangat senang sekali melihat pemandangan yang berbeda dari Jakarta.
"Ini Kak kejutan untuk Kakak, double date." Cia tersenyum lebar menatap Amanda.
Amanda sedikit kesal dengan Cia, tapi juga ia senang karena melihat Emir. Kesal karena sebenarnya dia tidak mau pacaran dan hanya ingin langsung menikah tapi kejadian ini mereka seperti sedang berpacaran.
"Kak Manda jangan berpikir pacaran ya, aku mempertemukan Kakak dengan Kak Emir itu agar kalian bisa berbicara untuk hubungan kedepannya," ucap Cia.
Emir mendekati Amanda, Cia dan Juna agak menjauhi mereka berdua. Agar mereka bisa bicara, Cia akan menahan Mamahnya agar tidak terlalu mencari keberadaan mereka.
"Emir, aku minta sama kamu. Agar kedua orang tuamu menerima aku. Kamu bisa kan meyakinkan kedua orang tuamu?" tanya Amanda.
"Tujuan kedua orang tuaku menjodohkan aku adalah sebuah bisnis, agar bisnis ayahku bisa berkembang. Aku tahu prinsip ayahmu Amanda, anak bukan untuk bisnis. Ayahmu akan menolak pernikahan kita nantinya karena bisnis," jawab Emir.
"Lalu bagaimana hubungan kita selanjutnya Emir?" tanya Amanda.
__ADS_1
"Aku ingin membangun bisnis dengan jerih payahku. Aku sedang belajar jika beli saham dari tahap rendah dahulu Amanda. Kamu mau menungguku, aku tidak bisa memastikan waktu kapan aku bisa melamarmu. Jika bisnisku bisa berkembang cepat maka aku akan melamarmu cepat pula." Emir menatap mata Amanda.
"Kamu tidak memerlukan harta, asal bisa hidup bahagia denganmu Emir," ucap Amanda.
"Ayahmu tak akan rela itu Amanda. Aku laki-laki, jika aku menjadi suamimu maka aku akan tanggung jawab atasmu," ucap Emir dengan penuh wibawa.
Amanda menangis, kisah cintanya kedepan akan rumit. Jika Cia sudah tahu kapan akan di lamar oleh Juna, tapi Amanda tak tahu kapan Emir akan melamarnya. Bisnis dari nol akan memerlukan waktu, bukan waktu yang singkat tapi waktu yang sangat panjang. Emir menghapus air mata Amanda dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis kekasih hatiku, jika kamu menangis, aku merasakan sesak di hatiku." Tiba-tiba Amanda memeluk Emir dengan erat. "Aku sangat mencintaimu Emir."
"Sayang aku mau dong di peluk sama kamu," ucap Juna dengan tersenyum ke arah Cia.
"Sabar Kak, jika sudah halal. Kakak bisa peluk aku sepuasnya." Juna langsung cemberut, Cia langsung mengambil foto Juna yang sedang cemberut.
"Hapus nggak Cia," ucap Juna. Cia berlari dan Juna mengejar Cia. "Wajah Kak Juna jika cemberut gemesin, lumayan buat takut-takutin kecoa di tempat kosan aku."
kring...kring...
Handphone Amanda berdering, Amanda terkejut. Ia lekas melepaskan pelukannya.
"Cia...Juna...stop....jangan berisik, mamah telepon," teriak Amanda.
Kaila \= ["Amanda, kita mau foto keluarga. Mamah dan Ayah sudah menunggu kalian di taman prambanan."]
Amanda \= ["Iya Mah, aku dan Cia akan segera ke sana."]
"Aku pergi dulu yah," ucap Amanda kepada Emir. Emir menganggukan kepalanya.
,
"Kak Manda, sebelum pergi kita foto bersama dulu," ucap Cia.
Mereka berfoto berempat dan juga berfoto dengan pasangan masing-masing mereka.
Bersambung
__ADS_1
Di tunggu like dan komennya para reader.
Love you sekebon karet ❤❤❤❤